Cinta Berselindung Risau

Cinta Berselindung Risau
menata hati


__ADS_3

Sebuah taksi online berhenti di depan rumah, kawasan yang cukup jauh dari tempat tinggalnya dulu bersama Akhri.


Rumah ini tak sebesar rumahnya sebelum ini, namun tetap berada di kompleks perumahan yang tertata. Berlantai satu, minimalis, dengan pagar berwarna hitam.


Rumah yang di dominasi warna putih, coklat, dan hitam. Nampak asri dengan beberapa tanaman yang tumbuh subur didepan rumah.


Seperti pohon palem merah juga tanaman pucuk merah. Ada pula tanaman bunga Asoka kuning yang di bentuk seperti pagar pendek mengelilingi pekarangan tersebut.


Rumput yang juga nampak rapi menutupi seluruh tanah yang tak terdapat paving. Sungguh hunian yang nyaman. Begitu pikir Maryam, sebelum ia mengingat wajah sendu itu menyerahkan kunci. Saat mendatanginya setelah sidang mediasi waktu itu.


Maryam termenung, ini memang rumah pemberian Akhri. Kata beliau; sebagai tanda permintaan maafnya yang tak memberikan surga sebagaimana semestinya. Walaupun sejatinya Maryam sempat menolaknya. Karena baginya, sudah hidup bersama Akhri tanpa kekurangan materi sedikitpun selama ini, sudah cukup.


Namun pria itu tetap bersikukuh, memberikan hadiah itu. Sembari meletakkan kunci di atas meja. Beliau lalu berpamitan pergi.


Sempat sebelumnya Akhri menanyakan kepadanya. Tentang keyakinan Merr yang ingin bercerai?


Salah satu alasan ia meminta Maryam tetap berada di rumah itu adalah; masih adanya harapan untuk rujuk. Walaupun kenyataannya tidak. Maryam tetap bersikeras untuk berpisah dari Akhri.


Wanita yang berpakaian serba hitam itu menghela nafas panjang, ia mengeluarkan kunci dari dalam tasnya. Setelah itu membuka Gembok pagar. Lantas membukanya.


Setelah masuk dan kembali menutup, Merr berjalan pelan mendekati pintu utama. Terselip sepucuk surat di handle pintu. Membuat Maryam terpekur cukup lama, memandangi surat tersebut.


Ada perasaan ragu, namun ia akhirnya mengambilnya. Setelah itu memilih untuk duduk di bangku yang sudah tersedia di teras.


Benarkah ini dari, Abang? Kalau aku membacanya, apa tidak akan membuatku menangis lagi?


Maryam menghapus pelan tetesan air mata yang kembali jatuh. Padahal ia baru membaca tulisan didepan.


[Untuk Maryam...]


Tulisan itu sudah jelas, milik siapanya. Guratan pena yang membuatnya hafal, karena memang sejatinya Akhri agak sering menulis surat semenjak beliau menjatuhkan talak pertamanya di rumah mereka.

__ADS_1


Maryam menghela nafas, belum ingin ia membukanya. Karena ia takut, hatinya kembali mendesis lara.


Rindu...?


Jelas Dia rindu. Sesakit apapun, tidak mungkin bisa melupakan segala kebaikan yang pernah ada dari sang kekasih. Tak mungkin pula langsung menghilangkan cinta yang sudah berakar cukup dalam. Mencengkeram kuat hatinya.


selama dua bulan menanti sidang di rumah itu. Bang Akhri memang tak pernah menghampirinya langsung, selain surat-surat yang di titipkan dari orang lain.


Berisi untaian kata indah, berbumbu harapan. Kali saja hati Maryam masih bisa di luluhkan.


Tak sekali dua kali. Merr melihat mobil bang Akhri di depan rumah. Walaupun hanya sebatas berhenti, tak keluar sama sekali.


Itu sudah menunjukkan, beliau masih berusaha untuk mendapatkannya kembali. Sebelum benar-benar kehilangan.


Kembali Maryam menghapus air matanya. Ia penasaran dengan isi surat yang di tuliskan. Segera di buka pula olehnya. Lalu membaca dengan di awali kata bismillah.


[Assalamualaikum, Dik.


Kamu sudah sampai dengan selamat, 'kan? Abang harap begitu...


Kamu yang di sana. Hanya bisa ku titipkan pada Sang Maha Pemelihara. Kamu tidak sendirian, kamu akan tetap ada yang menjaga.


Abang percaya, diantara kita. Tidak ada dendam apapun. Termasuk dirimu... semoga tidak ada dendam atau mungkin rasa yang mengganjal dihatimu. Mohon maafkan Abang, mohon ampuni Abang yang selalu membuat mu terluka.]


Baru sampai di sini, Maryam kembali membungkam mulutnya. Menangis sesenggukan, ia mencoba untuk menenangkan dirinya lebih dulu sembari menggeser pandangannya ke langit-langit teras rumahnya. Setelah itu kembali melanjutkan membacanya.


[Kamu pasti paham... di setiap detik awal kamu hidup bersama Abang, memang Abang sudah memiliki banyak kekurangan itu. Kekurangan yang bahkan sudah ada dari sejak Abang terlahir ke-dunia ini. Namun Abang salut, Merr kuat hidup sama Abang yang masih jauh dari kata sempurna ini. Merr bahkan selalu menutupi banyaknya lubang-lubang di perjalanan kita. Terimakasih, ya!]


"Ya Allah, Abang..." Andai saja beliau mengucapkan ini langsung, dalam kondisi belum bercerai. Maryam sangat ingin memeluknya. Bahkan saat di persidangan tadi pun, hatinya masih di penuhi gemuruh kerinduan.


Maryam pun beristighfar, ia tidak boleh lagi seperti ini. Semua adalah keputusannya sendiri. Entah, hal bodoh keberapa yang ia ambil tanpa berpikir panjang. Dan lebih memikirkan egonya.

__ADS_1


[Abang akan berdoa, dan berharap. Kamu jangan pernah berputus asa dari Rahmat Allah agar tetap taat, dan jangan pernah berhenti untuk mencintai agama ini.


Disini, Abang ingin menegaskan!


Agama Allah sudah benar, beserta segala syari'at-nya. Semuanya baik, Dik. Kesalahan yang Abang buat, itu murni karena sifat Abang yang sebagai manusia biasa. Masih banyak kemungkinan untuk melakukan khilaf. Kamu harus selalu percaya itu, dan genggam lah selalu agama ini. Jangan pundung, jangan menyerah.]


"Iya, Bang. Maryam percaya itu. Dan akan berusaha mempertahankan keislaman ku. Karena Allah," gumamannya dengan air mata yang bercucuran.


[Maryam... jangan jera untuk mencintai seseorang lagi, ya. Nggak semua laki-laki seperti Abang, kok. Masih banyak yang lebih baik di luaran sana.


Dan kalau di hari berikutnya, ada hati yang menjatuhkan pilihannya kepadamu. Jangan lagi menyerah hanya karena kekuranganmu, ya. Tetaplah terima dan pandanglah tatapan itu dengan keyakinan. Bahwa seseorang yang benar-benar mencintaimu, tidak akan menyerah dengan kekuranganmu.


Sekarang Abang sudah kalah dari ujian kita selama ini, itu sudah tanda. Abang bukan yang terbaik untukmu.


Terakhir nih... Jangan nangis sendirian lagi. Hehehe


Kamu harus bahagia. Janji, ya!


Tertanda Bang Akhri.]


Setelah selesai membaca surat itu, Maryam memeluknya erat. Terbayang wajah sang mantan suami yang amat ia cintai. Terbayang pula segala tingkah laku baiknya selama hidup bersama.


Pria yang sering ia peluk dari belakang saat tengah membantunya mengerjakan pekerjaan rumah, seperti mencuci piring contohnya. Pria yang juga cukup sering membuatkan kejutan-kejutan manis di setiap pagi.


Terlepas dari kesalahan beliau, memang tak bisa di pungkiri. Sejatinya Abang adalah pria penyayang istri. Abang sudah berusaha membahagiakan Ku, dan Nia secara adil. Namun aku disini yang salah memposisikan.


*Abang tak sepenuhnya salah, karena bibitnya ini hadir dari pilihan bodoh ku di awal. Namun aku tak mau mencela lagi. Semua sudah terjadi.


Kedepannya?


Aku harus bisa lebih berpikir panjang ketika mengambil keputusan dalam hidup ku*.

__ADS_1


Masih dalam posisi memeluk surat itu, Maryam kembali menguatkan hatinya. Satu keyakinan kuat; mereka pasti akan bahagia dengan jalannya masing-masing. Walau untuk saat ini, langkah mereka masih berat terikat bola besi. Namun ia yakin, yang namanya duka tidak akan senantiasa merantai-nya seumur hidup. Seperti halnya mendung, walaupun hujan badai berhari-hari, pasti akan ada redanya di gantikan dengan mentari yang bersinar cerah.


Ya... itu pasti.


__ADS_2