Cinta Berselindung Risau

Cinta Berselindung Risau
kedatangan Debby


__ADS_3

Awal hari yang penuh kehangatan. Merr pagi ini memasak hidangan untuk sarapan. Sementara A'a mendapatkan jatah memandikan Yahya. Karena usianya sudah hampir satu tahun, tentunya bapak muda itu tak kesulitan. Hanya bedanya, mandi bersama Abi akan lebih lama.


Kembali ke dapur, sudah hampir setengah jam suaminya belum turun. Merr mencicipi sedikit, memastikan rasa masakannya sudah pas setelahnya mematikan kompor sebelum memindahkan panci yang terbuat dari kaca tahan panas itu ke atas meja.


"Pasti belum kelar nih mandiinnya... A'a kebiasan." Ia melepaskan sarung tangan anti panasnya lalu berjalan menuju tangga guna menghampiri sang suami di kamar.


Di dalam kamar, Merr mendapati sang suami sedang memakaikan baju untuk anak mereka. Terlihat senyum hangat di tunjukkan pula untuknya.


"Eh, Ummu Yahya–" Bilal menyapa setelah selesai memasangkan celana untuk sang buah hati. Merr sendiri menghela nafas.


"Kenapa pake celana itu, A'? Pasangannya kan ada..."


"Tadi, pas udah A'a pasang celananya? lupa belum di pakaikan Diapers. Nah pas mau di pasangin malah pipis duluan untung masih di atas matrasnya."


"Ya ampun, ini kamu yang kelamaan. Lagian mandi dari jam berapa, kenapa baru selesai?" Merr menggendong anaknya yang terlihat anteng-anteng saja.


"Habis dianya yang nggak mau berhenti main," jawabnya beralasan. Merr hanya melirik sekilas dimana ia melihat senyum secerah mentari itu di tunjukkan untuknya. "Masak apa hari ini?" Tanyanya, sengaja mengalihkan.


"Sop bakso kasih mie soun."


"Wah... kesukaan A'a. Sambalnya gimana?"


"Ku buatin juga," jawabnya.


"Yes! Sarapan yuk." Ajaknya antusias.


"Abu Yahya!" Panggilannya pada pria jangkung yang sudah siap untuk keluar kamar. Bilal kembali menoleh. "Ingat ya? makan sambal jangan banyak-banyak."


Bilal nyengir. "Porsi biasa, tenang aja."


"Janji...?"


"Janji, Yank! tambahin dikit."


"Hmmm, ya udah sana."


Bilal tersenyum senang. "Kamu nggak ikut turun?"


"A'a turun duluan. Aku mau ganti baju dulu, keringetan soalnya."


"Perlu di bantu nggak?"


Merr mendelik. "Apanya? Nggak usah macam-macam deh..."


"Ya Allah... su'udzon nih, maksudnya itu bantu pegangin Yahya. Kamu mikirnya di bantu yang lain nih pasti?" Ledeknya sembari menghindari pukulan gemas Maryam sembari tertawa. "Ampun, yank..."


"Bercanda terus nih."


"Enak bercanda dari pada banyak besengut?"


Merr geleng-geleng kepala. Terserah kamu deh A'a. Bersama mu bikin aku awet muda, bawaannya pengen sayang-sayangan terus.

__ADS_1


"Sini mau di pegangin nggak, Yahya-nya?"


Sejenak berusaha meredam tawa. Ia mencium pipi anaknya sebelum menyerahkan Yahya pada Abinya.


"Kok masih disini? Aku mau ganti–"


"Oh iya... kirain mau di temenin. Hehehe... canda Yank!" Bilal buru-buru berjalan keluar setelah mendapat cubitan sayang di pinggangnya.


"Dasar suami...!" Merr geleng-geleng kepala, dengan bibir masih tersungging.


–––


Di ruang makan...


Suasana meja makan penuh dengan ketenangan. Merr fokus menyuapi anaknya. Sementara Bilal menyantap hidangan paginya. Karena biasanya mereka akan bergantian selama tidak ada ibu asisten rumah tangga. Sebab sudah dua hari ini yang membantu Maryam di rumah tengah cuti pulang kampung ke Indramayu.


"Bu Ning jadi balik sore ini, kan?" tanya Bilal. Merr mengangguk tanda mengiyakan. "syukurlah soalnya besok kan A'a jalan ke Ponorogo."


"A'a berangkat jam berapa?"


"pagi yank, habis subuh seperti biasa."


"Ooo..."


"Bu Ning kasih tahu nggak, mau naik apa?"


"Katanya kereta A'..."


"Iya," jawab Maryam lagi masih fokus menyuapi sang anak. "Oh iya, nanti siang Debby dan Rumi mau kesini."


"Wah, jam berapa?"


"Nggak tau deh, sekitar ba'da Dzuhur sepertinya."


"Baiklah... tadinya A'a mau ke tempatnya Kang Beben. Ku tunda aja ntar malam deh," ucapnya sembari memegangi gelas berisi air yang hendak ia minum. Maryam sendiri kembali mengangguk.


***


Pukul 01:38...


Mobil yang di kendarai Rumi telah tiba. Habib Bilal segera menyapa, membukakan pintu pagar di depan.


"Assalamualaikum, Habib–" Rumi menyapa dengan ceria sebelum membawa mobilnya lebih masuk ke dalam.


"Walaikumsalam warahmatullah," jawabnya masih pada posisi memegangi pagar rumah. Setelah Rumi dan Debby keluar, Beliau mendekati memberikan pelukan hangat untuk Rumi. "MashaAllah tabarakallah..."


"Sehat, Om Habib?" Ledek Rumi yang di balas dengan tawa renyah Habib Bilal.


"Alhamdulillah, sehat keponakan!" jawabnya mengundang tawa semua yang di sana. Bersamaan itu Merr keluar menyambut Debby dan juga Alzah yang langsung berlari masuk ke dalam. Setelahnya mengajak mereka semua untuk turut masuk juga.


Di dalam ruangan tengah. Mereka berkumpul, berbincang kesana kemari membahas hal-hal seperti pekerjaan dan sebagainya.

__ADS_1


Pandangan Bilal tertuju pada anak usia enam tahun yang sedang asik bermain Lego yang ia bawa sendiri dari rumah.


"Alzah, kemarin habis dari rumah Opah, ya?" tanya Bilal penuh kelembutan.


"Iya–" jawabnya.


"Di sana ngapain aja?"


"Main sama Kak Andreas..." jawabnya lagi sembari mengotak-atik mainannya. Bilal manggut-manggut saat Merr memberitahu, bahwa Andreas itu anak dari kakaknya Debby. Sejujurnya beliau sendiri memang agak kurang hafal nama anak-anak kecil yang bisa di anggap sebagai cucuknya juga. Sebab dia jarang turut berkumpul dengan keluarga di Bandung. Di samping sibuk karena pekerjaan, Beliau sendiri sejatinya memang kurang nyaman dengan busana yang biasa di pakai keluarga Merr. Maklumlah, beliau paling tidak bisa melihat aurat wanita.


"Umma– Umma..." Alzah menarik-narik tangan ibunya yang berada dekat dengannya. Debby menoleh. "Umma? Kenapa kakak Andreas itu kalau berdoa nggak seperti Alzah?"


"Kan Alzah tahu, Kak Andreas dengan Alzah itu berbeda."


"Kak Andreas sama seperti opah? Berbeda juga?"


"Iya, sayang."


Anak itu terdiam nampak sedang berpikir. "Kata Umma, Opah itu Abinya Umma, kan?"


"Iya..."


"Terus kenapa Umma berbeda? Apa nanti kalau Alzah udah segede Abi bakal berubah juga?"


"Emmm?" Debby menoleh kearah suaminya, kadang-kadang ia sendiri bingung untuk menjawab pertanyaan kritis anaknya.


"Nak– kamu akan sama seperti ini, seperti Abi juga," jawab Rumi.


"Pakai peci, solat di masjid?" Tanyanya polos.


"Iya..."


"Kenapa Opah nggak ke masjid? Katanya Opah itu Abinya Umma. Umma aja ke masjid?"


Bilal yang mendengar itu tertawa lirih. Namun diam-diam menjadikannya PR juga untuknya nanti jika pertanyaan itu muncul dari bibir Yahya.


"Nanti kamu akan paham, kalau sudah besar," jawab Rumi menutup semua pertanyaan sang anak. Alzah mengangguk, walaupun ia masih penasaran dan akan terus melontarkan pertanyaan berulang.


"Dia suka gitu, tanya hal yang kadang bikin aku susah jawab apalagi kalau di sana lebih dari seminggu."


"Ya itulah PR untuk kita sebagai orang tua, memberi pemahaman sebaik mungkin untuk anak kita tentang lakum dinukum waliyadin, ketika tengah berada di dekat sodara yang berbeda keyakinan," jawab Bilal.


"Iya, Om."


"Omong-omong, kalian udah makan siang?"


"Sudah kok tadi di rumah," jawab Debby.


"Kok udah makan sih? kalau mau main harusnya jangan isi perut," ujar Bilal membuat semua yang di sana terkekeh pelan.


"lain kali ya, Dek. Kita kalau kesini harus dengan perut kosong." Rumi menimpali sembari tertawa.

__ADS_1


__ADS_2