Cinta Berselindung Risau

Cinta Berselindung Risau
istri dalam rumah tangga


__ADS_3

masih di waktu yang sama. Merr menoleh dadakan. Membuat bibir Bilal menempel di pipinya.


"Aah!" Merr menutup mulutnya sendiri, spontan beringsut merasa malu-malu.


"Genitnya–" cibir Bilal.


"Nggak sengaja." Maryam terkekeh.


"Ngomongnya nggak sengaja, padahal trik tuh."


"Trik apa? Beneran nggak sengaja. Lagian wajahmu dekat banget."


"Halah! Bilang aja minta di cium pipinya, kalau jujur kan enak. Dengan senang hati juga pasti A'a kasih–" ledeknya membuat Maryam tertawa manja belum lagi ketika Bilal mencium bahunya gemas. "Besok aku ada webinar, Yank."


"Oh, ya? Ngambil gambarnya dimana? Katanya masih libur..."


"Di rumah kok. Di ruang kerja. Nanti crew-nya yang kesini," jawabnya. Maryam sendiri manggut-manggut.


"Membahas tema apa memangnya?"


"Istri dalam rumah tangga."


"Loh, memang peserta Zoom-nya Akhwat semua?"


"Iya, kajian online ini khusus Akhwat."


"Huuuh..."


"Kenapa lagi ini?" Menarik pipi istrinya.


"Ceweknya pasti muda-muda semua?"


"Campur-campur lah. Namanya juga kajian online. Nggak cuma anak muda, nenek-nenek juga pasti ada. Lagian nggak tatap muka ini, masa mau cemburu, sih?"


Merr diam saja, lantas mencium pipi suaminya. Membuat Bilal tersenyum jail.


"Kok enak sih, lagi dong."

__ADS_1


"Nggak, satu aja!"


"Satunya nanti iri...." Bilal menepuk-nepuk pipinya sendiri dengan jari telunjuk.


"Kalau iri kasih permen."


"Mana ada sih permen yang lebih manis dari kecupanmu," pujinya membuat Maryam tertawa.


"Ya Allah– susah emang! Buat jengkel sama suami tukang gombal," cibirnya membuat Bilal terkekeh.


"Tapi benar, kan? Aku sampe geli sendiri loh ngomongnya." Mereka tertawa bersama dalam kehangatan kamar itu. "Ayo kasih lagi makanya, sama depan sekalian biar pas."


Maryam terkekeh, "bisaan banget kamu, ya!"


"Bisa lah, kan aku." kembali ia menunjuk pipinya sendiri. Maryam pun geleng-geleng kepala lalu mencium lagi pipi yang satunya setelah itu terakhir di bibir. Hanya sebatas menempel saja. Itupun sebentar.


"Mood booster banget kalau kaya gini. MashaAllah..." Bilal mengusap-usap dadanya sendiri. Membuat Maryam senyum-senyum.


"Laki-laki itu enak ya, A'..."


"Enak bagaimana, maksudnya?"


Bilal tersenyum. "Kenapa mesti iri, padahal para istri aja lebih mudah masuk ke surga tanpa terlalu banyak beribadah."


"Masa?"


"Duh, bukankah A'a sering bilang. Wanita itu hanya perlu sholat dengan baik, sedekah, dan puasa Ramadhan. Habis itu tinggal berusaha membuat suaminya ridho, udah! Kalian para istri tinggal milih pintu surga mana yang akan kalian masukin. Karena ridho suami membukakan delapan pintu surga untuk kalian."


Maryam termenung sejenak. "Membuat suami ridho itu yang seperti apa? Aku butuh penjelasan... karena selama ini aku khawatir, aku belum membuatmu ridho terhadapku."


"Cukup membuat suami merasa senang karena sebaik-baik istri itu yang senantiasa sedap di pandang."


Merr menggenggam tangan suaminya. "Tapi A'... nantinya pasti aku akan sulit merawat diri seperti biasa. Karena sudah ada anak."


Bilal kembali menyunggingkan senyum. "Nggak perlu dandan yang berlebihan, berusaha saja untuk bersih dan wangi. Paling utama tebarkan senyum di pagi hari dan ketika suami baru pulang kerja. Itu dampaknya luar biasa, loh. Mau secapek apapun di kantor, kalau pulang kerumah melihat istrinya sumringah, pasti ilang beban di tempat kerja. Hati jadi adem, Yank. Intinya ciptakanlah rumah menjadi selayaknya surga."


"Yakinkah hanya sebatas memberikan ketenangan untuk hati suami bisa membuat suami ridho? Walaupun sejatinya istri itu semakin menua dan mungkin akan kalah dengan wanita-wanita muda diluaran sana?"

__ADS_1


Bilal mengangguk. "Kamu mau tahu ibunda Khadijah itu tak secantik Aisyah, tak secantik Maria Qibtiah, tak secantik Hapsah, tak secantik istri-istri nabi setelahnya. Namun, ibunda Khadijah lah, satu-satunya yang memenangkan hati Baginda Rasulullah Saw. Dan pernah ada riwayat, Rasulullah Saw sampai menegur Aisyah ketika ia cemburu dan mengatakan bahwa tidak sepatutnya Rasulullah Saw mengingat wanita tua yang bahkan sudah lama wafat. Kenapa bisa seperti itu, yank?" Bilal membelai rambut Istrinya. Merr sendiri menggeleng pelan.


"Karena akhlak serta ta'atnya ibunda Khadijah kepada suaminya itu tak akan tertandingi oleh semua istri-istri nabi Muhammad Saw yang lain."


"MashaAllah..." gumam Maryam kagum.


"Makanya, jihad tertinggi wanita itu bukan ketika ia bisa ikut berperang. Karir tertinggi seorang istri juga bukan ketika ia mendapatkan jabatan EO, CEO, Presdir, atau bahkan komisaris. Namun ketika seorang istri itu mampu berkhidmat sebisa mungkin menundukkan hati suaminya, mengalahkan rasa egonya, perasaannya, nafsunya sebagaimana seorang wanita pada umumnya. Sampai sang suami benar-benar bisa Rhido. Maka Allah SWT akan bayar kontan itu semua. Dimana delapan pintu surga akan memanggil namanya. Sebagai wujud kecintaan Allah SWT untuk para wanita yang tunduk dan taat pada suaminya. Sampai disini paham, kan?"


Merr mengangguk, ketika Bilal mengecup kepalanya. "Iya, A'..."


"Tapi, camkan nih. Bukan berarti ketika seorang istri dikondisikan harus mendapatkan ridho dari suaminya maka sang suami langsung bangga seolah mendapatkan angin surga. Nggak gitu sayang... seorang suami itu, justru ketika memutuskan untuk mengambil anak orang untuk dijadikan isterinya itu memberikannya komitmen yang berat. Yang akan ia tanggungjawabkan dunia dan akhirat."


"MashaAllah..." gumam Maryam.


"Dan kalaulah, semua laki-laki paham itu? Maka kami akan bingung, bagaimana caranya nanti mempertanggungjawabkannya dihadapan Allah SWT. Karena detik dimana seorang laki-laki menghalalkan seorang wanita. Maka detik itu pula semuanya dari hal pakaian, makanannya, tempat tinggal, perbuatan yang di lakukan istri dari yang terkecil sampai yang terbesar. Seluruhnya tanpa terkecuali itu siapa yang di hisab, yank? Kita para kaum suami."


Merr termenung, memandangi wajah Bilal yang saat ini tengah menatapnya serius.


"Makanya, saking besarnya tanggung jawab seorang suami terhadap istrinya. Hingga akhirnya Allah SWT meletakkan keberkahan seorang istri itu berada pada ridho suaminya. Itu kunci berkahnya hidup seorang istri ketika ia mendapatkan keridhaan suaminya."


"Allah..." tangan Merr terangkat menyentuh pipi Bilal, lalu mengusapnya. "A'a, aku minta maaf. Kalau terkadang masih membuatmu susah, masih egois, masih kurang mentaatimu."


Bilal tersenyum. "Nggak juga kok, kamu masih bisa di bilang normal. Dan baik untuk A'a. Intinya kamu nggak kufur terhadapku."


Merr tersenyum. Ia memberikan kecupan cinta di pipinya. Entah memangapa setiap kali dirinya mendapatkan ilmu dari sang suami, maka bertambah pula rasa cintanya.


"Alhamdulillah... nih, salah satu alasan yang membuat A'a betah di rumah? Selain karena rumah itu tempat A'a istirahat, kamu juga royal banget kasih A'a cium."


"Hahaha– karena aku sayang banget sama kamu."


"MashaAllah, iya kah?" Bilal meraih dagu istrinya mengangkat sedikit. Merr tersenyum amat manis lalu mengangguk.


"Iya, sayang..."


"MashaAllah." Bilal tak sanggup untuk menahan, ia segera mendekati wajah Maryam ingin segera menyatukan bibirnya.


"Oeeee..." Seketika bibir yang hendak menyatu itu batal padahal hanya tinggal beberapa senti lagi. Karena tangis Yahya membuat Merr reflek mendorong dada suaminya.

__ADS_1


"Anak kita nangis, aku cek dulu." Merr beranjak cepat dimana Bilal sendiri hanya diam saja lalu menghela nafas kemudian.


"Duh Yahya... Abinya jadi ngerasa tanggung, nih." Protes Bilal yang sontak membuat Maryam tertawa, sembari meraih bayi mereka yang menangis itu keluar dari ranjang bayinya.


__ADS_2