Cinta Berselindung Risau

Cinta Berselindung Risau
Pesona sang penulis


__ADS_3

Mobil yang di tunggangi Bilal kembali melaju, membawa rasa bahagia yang tiba-tiba saja menerobos masuk tanpa permisi.


Membuat si pemilik hati bingung sendiri, dan tak menyadari datangnya angin halus yang membawa aura positif pada dirinya.


Farah pasti senang, aku tak hanya dapat bukunya. Tapi tandatangan si penulisnya sekalian...


Bergumam sendiri dalam hati. Dia bisa memberikan hal yang pasti akan membuat Farah amat bahagia. Ya... ya... itulah aura positif yang di maksud.


–––


Mobil telah sampai. Ummi menyambutnya dengan penuh kasih seperti biasa.


Anak sulung bukan hanya kesayangan, tapi selalu membuat hatinya merasa sejuk. Lebih-lebih memandang senyuman Bilal benar-benar mirip Abi Utsman.


Tapi jangan salah, jelas Ummi tetap memberikan cintanya dengan adil bagi ketiga anak beliau.


"Bilal, kapan ada waktu senggang lagi? Ummi mau ke panti deh, bagi-bagi makanan di hari Jum'at."


"Emmmm... nggak bisa Jum'at ini, Mi. Mungkin pekan depannya."


"Memang ada acara dimana lagi?"


"inshaAllah di daerah Subang."


"Oh..." jawab Ummi, manggut-manggut.


"A'... Hafiz ikut, ya." Remaja berusia delapan belas tahun itu tiba-tiba keluar dari dalam. Menubruk pembicaraan kakak dan ibunya.


"Iya boleh... tapi ujian udah selesai, kan?"


"Udah, kan besok terakhir UN. Jadi jum'at bisa ikut."


"Boleh deh... bisa buat bantuin, A'a."


"Yes... jalan menjadi the next Abi setelah A'a, mulai terbuka, nih." Hafiz menepuk-nepuk dadanya seraya tersenyum bangga.


"Apaan the next Abi? Kamu bantuin kang Beben buat menyiapkan semuanya. Kaya angkat-angkat tabuh rebana yang gede-gede itu, kan lumayan... lagi pula badan mu yang agak berisi ini pasti menyimpan banyak kekuatan, sudah jelas akan di butuhkan sekali," ledek Bilal yang langsung membuat Hafiz mendelik.


"Dih, Ummi... liat A'a, tuh! Bawa-bawa fisik."


Bilal tertawa, "siapa yang bawa-bawa fisik?"


"Tadi itu apa, bilang tubuhku agak berisi."


"Loh, bener kan Ummi? Agak gumuuk ya," kata Bilal, mengucapkan kata gemuk yang di plesetkan dengan pipi di buat sedikit menggembung. Beliau segera menghindar dengan tawa yang semakin pecah ketika mendapatkan lemparan bantal sofa dari adiknya. Sementara Isti hanya tertawa kecil.

__ADS_1


"Emang Hafiz gemuk, Mi?" Tanya Hafiz. Sebenarnya tidak gemuk banget memang sedikit lebih berisi dari pada Bilal yang kurus.


"Enggak, A'a mu bohong. Sudah-sudah nanti jadi berantem beneran loh."


Bilal meredam tawanya, mengulurkan tangan pada si bungsu. Sementara Hafiz hanya memalingkan wajahnya.


"Fiz, dosa loh kalau nggak terima maaf dari orang yang mau minta maaf dengan tulus."


"Minta maaf sekarang, besok gitu lagi..." runtuknya. Membuat Bilal terkekeh.


"Boba mau?" Bujuk Bilal.


"Nggak!"


"Bakso beranak?"


"Bosen!"


"Okay, apa ya?" Pikir-pikir, karena ada banyak makanan kesukaan adiknya itu. "Oh, mie Yamin?"


"Sama Boba..." jawabnya lirih seketika.


"Tadi katanya nggak mau, Boba?" Senyum jail Bilal tersungging.


"Itu tadi, sekarang mau!" Masih memalingkan wajahnya.


"Dua-duanya A'..."


"Serakah, nih..." ledeknya lagi.


"Nggak mau beliin ya udah, nggak usah minta maaf sekalian."


"Hei– dasar bontot, kang ngambekan! Udah mau lulus MAN, Juga–" Bilal menarik tangan adiknya yang sudah beranjak lalu menjitak kepalanya pelan tanpa menimbulkan rasa sakit. Malah justru sebaliknya Hafiz tertawa terbahak-bahak meminta ampun karena satu tangan Bilal melingkar di lehernya.


***


Dua pekan kemudian...


Maryam mendatangi panti dengan penuh semangat. Pasalnya dalam beberapa bulan terakhir ini honornya naik berkali-kali lipat, membuatnya bersyukur lebih.


Maryam mengadakan syukuran kecil-kecilan. Memborong beberapa makanan dari brand resto ternama, yang akan di bagikan untuk mereka.


Antusias para anak panti terlihat. Mereka amat bahagia dan bahkan bingung ingin memakan yang mana dulu, saking banyaknya pilihan.


Namun sebelum acara makan di mulai, mereka semua mengadakan doa bersama lebih dulu barulah di sambung makan, dan di susul dengan dongeng-dongeng indah yang biasa di ceritakan Maryam pada mereka.

__ADS_1


Ada salah satu anak yang usianya paling muda, merasa betah berada di pangkuan Maryam. Anak perempuan berusia enam tahun, yang tak sama sekali melepas pegangan di tangan Ummi cantiknya. Bahkan tak jarang ia menangis saat Maryam berpamitan pulang, atau apabila tengah merindukan Maryam.


Gadis kecil yang diberinama Zulaikha adalah anak penyandang disabilitas. Dia normal dalam segi akal, kekurangannya ada pada kaki dan tangannya. Kedua telapak tangannya menekuk ke dalam, dengan kelima jari-jari menempel antar satu sama lain. Namun, meskipun kakinya kecil, gadis kecil bermata peri itu masih bisa berjalan.


Jika mengingat kisahnya, Maryam merasa miris dan tak tega.


Sebab ia sebatang kara, orang tuanya entah kemana. Sementara pihak puskesmas setempat lah yang menitipkannya, setelah di temukan oleh warga di dekat bantaran kali yang tak jauh dari panti tersebut. Tidak ada yang mengakui, atau mencari anak itu hingga detik ini.


Dia di biarkan tumbuh di sana dengan cinta kasih para pengurus panti.


Maryam mulai membuka kuis berhadiah, hal yang di tunggu-tunggu para anak panti. Karena ada coklat permen juga mainan yang menjadi kesukaan mereka.


Di sisi lain, mobil keluarga Isti memasuki pelataran panti yang langsung di sambut hangat oleh sang kepala yayasan.


"Sepertinya ramai sekali?" Tanya Isti yang mendengar riuh tawa para anak-anak.


"Iyaa, soalnya sedang ada bidadari cantiknya mereka."


"Bidadari cantik?"


Bu Suci tersenyum tipis, "mari silahkan masuk," ajaknya kemudian seraya merengkuh tubuh Isti.


Bilal dan kedua adiknya turut berjalan di belakang mereka berdua. Sementara kang Beben dan para pengurus pria dari panti tersebut mengeluarkan barang bawaan mereka, yaitu puluhan kotak nasi liwet lengkap dengan lauk-pauknya.


–––


"Anak-anak ada yang tahu, nggak? Siapa sahabat Nabi, yang Rasulullah Saw temukan jejaknya di surga?" Tanya Maryam. Tepat pada saat Isti dan keluarganya melintas di lorong depan ruangan tersebut. Bilal pun menghentikan langkahnya, menoleh ke arah kaca yang di penuhi dengan hiasan gantung terbuat dari kertas manila. Nampak di sana wanita yang beberapa kali ia temui tengah menyapukan pandangan ke semua netra polos di hadapannya yang saling berpikir keras.


Si penulis? (Bilal)


"MashaAllah– Ummi kan udah pernah ceritain... masa udah pada lupa."


Bilal tak melanjutkan langkahnya, Dia masih asik berdiri di sana. Hingga tanpa sadar sudah tertinggal cukup jauh dari yang lain.


"Ummi, aku tahu!" Salah satunya berseru, mengacung jari telunjuk.


Maryam antusias menunggu jawabannya.


"Bilal bin Rabah Radhiallahu Anhu..."


"Sebab apa? Kenapa bisa ada tepak kaki Bilal di surga?" Tanya Maryam lagi, sembari memegangi coklat batangan lumayan besar dengan merek ternama warna ungu.


"Anuuu?" Anak itu sudah sangat senang, ke-dua telapak tangannya tertelungkup matanya melirik kearah langit-langit. Mencoba lagi mengingat-ingat. "Emmm.... karena selalu sholat syukur whudu..." jawabnya ragu-ragu.


"Yeaaaaaayyy... bangun sini, ambil coklatnya." Maryam mengangkat tinggi-tinggi coklat tersebut sembari tertawa saat anak itu segera berlari menghampiri Maryam meraih coklat miliknya setelah itu mencium punggung tangannya.

__ADS_1


Bilal tersenyum, menundukkan kepalanya lagi. Setelah itu kembali melanjutkan langkahnya menyusul mereka yang sudah tak nampak di depannya.


__ADS_2