Cinta Berselindung Risau

Cinta Berselindung Risau
pertemuan dengan orang masa lalu


__ADS_3

Bertahun-tahun sudah ia menjalani kehidupannya tanpa teman hidup. Jangan di tanya apakah tidak ada yang mau mempersunting Maryam setelah selesai masa idahnya? Tentu saja banyak, bahkan tak terhitung.


Entah dari golongan sesama penulis yang ia kenal dari forum literasi. Atau mungkin dari kalangan ulama seperti mantan suaminya. Semuanya mendekati Maryam dengan berbagai cara.


Beromba-lomba membawa kesan baik untuk menarik hatinya agar jatuh ke pelukan salah satu dari mereka. Namun, kembali kerisauan selalu membelenggu jiwa Maryam untuk kembali membina rumah tangga. Hingga ia harus menolak halus mereka yang memiliki niat baik untuk melindunginya.


Baginya; untuk apa menikah, jika tidak bisa memberikan hak keturunan untuk suami? Tidak mungkin lagi ia memutuskan, meminta sang suami mempoligami dirinya lagi. Dia tidak sebodoh itu.


Maryam hanya yakin, dengan dirinya yang semakin Istiqomah menggenggam ketaatan kepada Allah SWT. Ia akan mampu hidup bahagia walaupun tanpa pasangan hidup.


–––


Wanita itu tersenyum lebar, memberikan tanda tangannya di buku pada seorang penggemar wanita.


"Terimakasih, Kak..." Bersemangat memeluk novelnya.


"Sama-sama... jangan lupa datang saat gala premiere filmnya, ya." Maryam menutup bolpoinnya. Wanita di hadapannya mengangguk senang, lalu pergi.


Maryam menghela nafas, ia tersenyum pada Debby yang sudah bertepuk tangan tanpa suara.


"Tante ku memang, the best!" Mengacungkan ibu jarinya.


"Alhamdulillah," gumam Maryam, seraya tersenyum senang. Bahunya menyandar lelah di bangku setelah menandatangani puluhan buku hasil guratan penanya sendiri.


Di sela-sela perbincangan antara Debby, Maryam, dan juga seorang panitia acara. Seorang pria mendekati seraya memberikan Merr bunga. Ya, seorang direktur dari salah satu perusahaan penerbit.


"Selamat untukmu, Maryam."


Maryam tersenyum. "Terimakasih, Pak Rafi."


"Sama-sama... ngomong-ngomong, setelah ini ada agenda kemana?"


"Tidak kemana-mana, hanya ingin makan dengan keponakan saya. Setelah itu pulang."


"Oh... kalau begitu, bisa saya mengantar kalian."


Maryam melirik Debby, dimana anak itu udah tersenyum jail padanya. Sementara Dia hanya merespon biasa saja lalu kembali menoleh kearah pria dihadapannya tanpa menatap langsung.


"Terimakasih banyak, Pak. Tapi maaf, saya bawa kendaraan sendiri."


"Begitu ya..." Nampak sedikit kecewa, pria itu tetap memberikan senyumannya.


"Emmm, maaf Pak Rafi. Sekali lagi saya mengucapkan terimakasih, Anda berkenan hadir. Namun maaf, saya harus bergegas pergi."


"Iya, lain kali? Bisa ya ... menyempatkan waktu untuk saya ajak makan malam."


Maryam tersenyum. "Mohon maaf, saya menghargai setiap ajakan Bapak. Cuman, saya hanya menjaga syari'at saja. Jika laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim; tidak baik pergi berdua," Maryam menolak dengan halus. Karena Dia tahu, pria yang usianya lebih tua lima tahun darinya itu sudah berkali-kali mengajaknya untuk pergi bersama. Bahkan tidak jarang ia mengatakan dengan jujur keinginannya menikahi Maryam.


Dengan iming-iming harta, serta kedudukannya yang seorang direktur tak membuat Maryam lantas kepincut.


"Masa hanya keluar saja nggak Boleh? Kalau begitu dengan keponakan mu, deh..."


"Dia sudah bersuami, jadi nggak bisa setiap kali menemani saya bepergian."


"Tuh, Dia saja sudah bersuami. Kamu kapan? Kalau sama saya, kan? Jadi tidak sendiri lagi." Tatapan genit itu terarah padanya. Debby yang tadinya nampak senang karena melihat kesan baik di awal menjadi geli.


"Maaf Pak, kami duluan ya... Assalamualaikum." Maryam menggandeng tangan Debby keluar. Tanpa menanggapi lebih jauh. sebab, sudah biasa baginya yang menyandang predikat janda selalu di salah artikan oleh pria-pria berduit seperti Pak Rafi.


Pria itu tersenyum kecut. Seperti sudah sangat ingin memiliki wanita itu, namun mau bagaimana lagi. Maryam selalu saja menolaknya untuk di nikahi.


Di luar, Debby masih terheran-heran. Ia menganggap tampang polos laki-laki itu adalah orang yang benar-benar baik dan santun.


"Haduuuuh, jangan sampai Tante menikah sama Dia."

__ADS_1


"Udah lah nggak usah di bahas lagi. Udah masuk Ashar. Kita ke Masjid dulu aja," jawab Maryam yang tidak ingin membahas tentang laki-laki tadi.


"Iya, Tante." Mempercepat laju langkah keduanya, berjalan menuju masjid terdekat.


***


Selepas beribadah, keduanya berniat langsung pulang. Sembari memasang kaos kaki, mereka bersenda gurau bersama.


Hingga suara seorang wanita yang baginya seperti tak asing menyela. Maryam bergeser sejenak saat tubuhnya sedikit menutupi sepatu milik wanita tersebut.


"Nia–" gumamnya lirih, hingga perempuan itu menoleh. Sepasang mata perinya beradu pandang dengan mata yang syarat akan tanda tanya.


Mungkin ia terheran-heran, setelah bertahun-tahun tak bertemu ia bisa bertemu dengan mantan istri pertama Akhri di masjid ini. Kebetulan yang sangat sulit di cerna, apakah Maryam tinggal di dekat sini?


"Cece... Ce Maryam, di sini?"


Maryam melihat wanita itu sedang hamil. Ia pun langsung tersenyum dan lantas berdiri.


"MashaAllah... apa kabar, kamu?"


"Baik Ce... alhamdulillah. Cece sendiri bagaimana?"


"Aku pun baik, alhamdulillah."


"Syukurlah..." Nia mengambil sepatunya, memegangi itu sebelum sempat ia pakai.


"Kamu sedang hamil lagi?" Tanya Maryam ramah.


"Ah... iya, alhamdulillah. Ini anak ketiga ku dengan Bang Akhri." Seolah bangga ia menyentuh perutnya sendiri yang membuncit.


Debby mendengar itu nampak tercengang. Pasalnya ia jadi tahu, seperti apa istri kedua Omnya itu. Bibir Maryam sendiri semakin melebarkan senyumnya.


"Wah... selamat ya." Tangannya gemetar menyentuh perut Kania. Bang Akhri tidak salah lebih memilihnya. Karena dengan Kania? Abang jadi bisa punya anak, bahkan sekarang mau tiga.


"Terimakasih. Cece sendiri bagaimana? Apakah sudah menikah lagi? Atau mungkin sudah punya anak?" Hunusnya langsung tanpa menimbang-nimbang.


"Aku belum menikah lagi, jadi tidak mungkin aku sudah punya anak," jawabnya sembari memaksakan senyum.


"Oh... Begitu, ya. Kenapa tidak secepatnya menikah lagi... Cece kan masih cantik, masih muda lagi. Tidak mungkin mengharapkan kumbang yang sudah tak ingin hinggap lagi di bunga yang Cece miliki, kan?"


Astagfirullah al'azim... Nia– Maryam membeku.


Debby yang masih mendengarkan mulai gerah. Tatapannya terhunus gusar. Sembari berpikir; Wanita itu Berhijab, tapi sepertinya ucapannya tidak enak sekali pada Bibinya. Walaupun dengan senyum tersungging.


"Hei– Tante yang sedang hamil anak ketiga! maaf, ya?" Menuding wanita di hadapan mereka.


"Deb...." bisik Maryam sembari memegangi tangannya, dan menurunkan pelan. Menahan apapun yang akan di lakukan Debby, karena Dia paham... seperti apa keponakannya itu.


Hingga seorang pria berdiri lumayan jauh dari mereka bertiga, memanggil.


Maryam mematung seketika, saat mendengar suara pria di belakangnya.


suara itu? Panggilan itu? –batin Maryam, ia pun menyentuh dadanya. Masih dalam posisi membelakangi, tidak berani menoleh kebelakang.


"Sudah selesai? Ayo pulang." Ajaknya pada, Nia.


Nia yang saat itu masih menjinjing sepatunya di tangan tersenyum seringai, lantas bergegas melangkah mendekati sang suami.


"Bang... jadi ke toko peralatan bayi?" Tanyanya bernada manja.


"Iya. Tapi sebelum ini kita makan dulu ya. Abang lapar, pengen makan lontong sayur..."


Abang masih sama... Halus dan baik hati. Juga masih suka lontong sayur. –bibir Maryam tersenyum. Matanya mulai berkaca-kaca.

__ADS_1


"Sebenarnya yang hamil aku apa Abang, sih? Makan terus, bawaannya?"


"Hahaha... nggak tahu ini."


"Ya sudah deh .... di warung X yang biasa, ya."


Deg...!


Maryam mengingat, itu adalah tempat favorit dirinya dan Akhri dulu, ia meremas kain hijab di bagian dadanya. Tiba-tiba saja dadanya terasa kembali sesak.


"Sebenarnya agak kejauhan, tapi iya deh." Mengusap-usap perut Nia lembut. "Pelan-pelan jalanya, nanti anak Abi ini lelah gara-gara ikut jalan-jalan terus..."


Ucapan Akhri walaupun lirih tapi masih bisa terdengar samar oleh Maryam.


"Hahaha... yang ada aku yang lelah, Bi."


"Ya kalau lelah nanti Abi pijitin... kasian istri ku. Yuk jalan."


ya Rabbi...


Maryam mengusap matanya, ia benar-benar tidak berani menoleh sedikitpun. Amat berharap Akhri tidak tahu jika itu dirinya, dan merasa bersyukur saat mereka berdua pergi dari tempat itu.


Setelah yakin, Maryam baru berani menoleh. Mereka sudah tidak nampak karena belok arah.


Syukurlah, Abang sudah bisa mencintai Nia sepenuhnya. Mereka sudah bahagia, sekarang.


Sungguh Debby merasakan geram sekali. Jika saja tidak di tahan Maryam, mungkin dia sudah memaki-makinya.


"Dasar tidak tahu diri...!" umpat Debby, gusar.


"Istighfar Deb," titah Maryam yang kembali memakai sepatunya.


"Tante, kenapa diam saja? Tadi Itu sengaja sekali loh. Ya ampun... akhlak wanita itu tidak ada sepertinya. Seharusnya 'kan? Sebagai istri dari seorang Ustadz, musti punya etika bertutur kata dengan baik!"


"Dia juga kan manusia biasa."


"Tante belain aja terus– kesel banget deh rasanya."


Maryam terkekeh, "bukan belain... cuma untuk apa di pikirkan, nggak penting juga."


"Ya tapi kan kalau di diamkan jadi tambah ngelunjak. Nanti Dia jadi nggak bisa menghargai Tante. Dasar! Sombong banget sih keliatannya..."


"Biarkan saja... Ayo, kita pergi." Maryam sudah beranjak, dan melangkah pelan lebih dulu, yang di susul Debora.


"Tante... dulu Dia seperti itu juga sama Tante?"


Maryam hanya tersenyum. Melanjutkan langkahnya. –apa yang Dia lakukan, lebih dari apa yang kamu lihat saat ini, Deb.


"Tante! Kenapa diam saja, sih?"


"Memang Tante harus apa... marah-marah, gitu?"


"Mungkin! seenggaknya kasih pelajaran lah, sama mulutnya itu. Nadanya halus tapi penuh sayatan. Sangat nggak bisa di jadikan panutan! Hiiiih– gerah rasanya."


Maryam yang mendengar itu hanya tertawa, sembari memegangi lengan keponakannya.


"Nggak mencerminkan istri Ustadz... wanita Solehah gadungan itu namanya."


"Astagfirullah al'azim... jangan gitu, Deb."


"Habis... Debby tuh kesel!"


"Udah biarin sih. Itu sudah bukan urusan Tante lagi. Ayo cepetan jalannya, kita kan mau makan dulu... yuk... yuk..."

__ADS_1


"Haaaaah... nggak ngerti lagi deh sama Tante."


"Hehehe... udah... udah. Tante aja woles, kok." Maryam semakin membawa anak itu menjauh dari lokasi tersebut. Menuju mobil miliknya terparkir.


__ADS_2