Cinta Berselindung Risau

Cinta Berselindung Risau
umroh


__ADS_3

Kota Mekkah...


Di malam hari, udaranya jauh lebih sejuk. Tidak seperti siang tadi dimana suhu udara bahkan mencapai 43 derajat Celcius. Hal itu pula yang membuat Bilal memilih waktu lain untuk menjalankan tawaf-nya di hari pertama mereka menginjakkan kaki di Mekkah.


Selepas shalat isya nampak banyak jamaah yang memenuhi kawasan sekitar Ka'bah. Bangunan berbentuk kubus yang nampak berwibawa membuat mata Merr berlinang.


Sebenarnya ini sudah kali ke empat dirinya melihat bangunan tersebut. Namun selalu saja membuat dirinya takjub akan kiblat umat Islam seluruh dunia.


Merr berlutut, di jarak yang tak begitu dekat dari para jama'ah. Ia masih belum mampu menghentikan tangis harunya.


Ya Allah, aku datang...


Merr bergumam dalam hati, sembari sesekali mengusap air matanya. Tubuhnya yang terbalut busana serba hitam dengan niqab yang menutupi hidung dan matanya sesekali tertiup angin yang berhembus. Sesaat ia mengingat sosok lain, yang sudah tiga kali membawanya kesini. Pria yang pernah mengisi hari-harinya. Berbagi cinta dengannya di masa lalu. Teman berdoa bersama, meminta keinginan yang amat besar yaitu seorang momongan.


Aku sudah tiga kali memohon tentang anak di sini. Namun aku tidak ingin berprasangka buruk tentang doa yang tak akan terkabul. Hanya saja, Allah SWT lebih paham. Apa yang terbaik untuk ku.


Merr menoleh kearah kanan, pria lain yang kini sudah ia percaya untuk meletakkan hati. Pendar cahaya di area sekitar Ka'bah membuat pesona sang suami semakin terpancar.


Matanya pula tak berkedip memandangi Dia yang turut bersimpuh di sebelah Maryam. Mengucapkan doa syukurnya karena bisa di beri kesempatan untuk kembali ke tempat ini setelah terakhir bersama Ummi dan ke-dua adiknya.


Nampak helaan nafas, Bilal mengusap wajahnya. Setelah itu menoleh pula kearah wanita yang ia cintai.


"Kita tawaf sekarang?" tanya Bilal, Merr pula menjawab dengan anggukan semangat. Mereka pun berdiri dan mulai mengelilingi Ka'bah. Mencoba untuk mendekati hajar Aswad setiap kali melewatinya. Merr bersyukur bisa mencium hajar Aswad di putaran pertama dan kedua. Namun makin kesini, jamaah semakin ramai, membuatnya lebih kesulitan untuk mendekati Ka'bah.


Banyaknya jama'ah laki-laki membuatnya enggan untuk turut berdesakan. Jadi sebagai cara lain yang di anjurkan, ia hanya melambaikan tangan di setiap kali sampai pada titik hajar Aswad tersebut. Tawaf satu sampai ke tiganya memang di anjurkan untuk berlari kecil, namun setelahnya bisa berjalan normal.


Walaupun sedikit ngos-ngosan di awal, namun Merr senang. Karena baginya, mau ibadah apapun memang pastinya melelahkan. Dan kata Bilal; lebih baik lelah di dunia. Kita masih bisa istirahat, sementara lelah akhirat? Nauzubillah... kekal di sana.

__ADS_1


Selama tawaf Merr senantiasa menengadahkan kedua tangan berdoa dengan khusuk dengan bimbingan dari Bilal langsung. Sesekali ia juga memanjatkeduanya mendekati keran-keran berisi air zam-zam. Bilal menyuruh Merr duduk sementara Beliau mengambil airnya.


"Ini, minum. Jangan lupa bersholawat dulu ya."


"Iya A'..." Merr berdoa sejenak, bersholawat, setelah itu menyibak sedikit cadarnya, barulah meminum air tersebut.


"Lagi, nggak?" Tanya Bilal yang sedang mengalirkan air ke dalam gelasnya sendiri. Merr menganggukk.


"Aku isi sendiri saja–"


"Baiklah." Bilal mengusap kepala Maryam. Lalu bergumam doa sebelum meminumnya.


"A' pengen ke Masjid Nabawi. Pengen ke makam Rasulullah Saw dan dua sahabatnya."


"Boleh! kita ke Madinah besok, ya. Tapi pintu masuk antara laki-laki dan perempuan di bedakan. Kita nggak bisa sama-sama. Juga ada aturan baru, perempuan agak sulit untuk masuknya harus izin dulu."


"Nggak papa, mudah-mudahan bisa. Dan lagi kita bisa ketemu di ujung, kan?" tanya Maryam tangannya terarah mengambil sesuatu yang menyangkut di rambut suaminya.


"Kamu pasti paham apa yang ku harapkan, A'..."


Bilal manggut-manggut. "Aku mau ngomong sama kamu."


"Apa?" Kerlingan mata indah Merr membuat Bilal bergumam MashaAllah. Entah mengapa istrinya nampak lebih cantik selama di sini.


"Jika kamu mengharapkan sesuatu setelah pulang dari sini?" Bilal meraih tangan sang istri. "Anak misalnya..."


Merr tersenyum, karena yang di tebak suaminya itu benar.

__ADS_1


"A'a cuma mau, kesabaran kamu masih terjaga. Jangan pula merasa sedih kalaupun kita masih belum mendapatkan jawaban doa itu setelahnya."


Binar mata Merr semakin berkilau. Ia pun mengangguk.


"pokoknya A'a cuma minta itu. Sabar! kalau belum di kasih. Jangan pula berpikir yang aneh-aneh."


Aku sudah belajar dari masalalu. Tidak akan aku melakukan kebodohan yang sama.


Merr mengangguk lagi. "inshaAllah... Aku akan tetap bersabar. Karena aku percaya, juga selalu berpegang pada janji A'a. Tentang tujuan menikahi ku, ya untuk menerima ku yang seperti ini. Itu salah satu hal yang membuat ku tenang selama menjadi istri A'a."


"Syukurlah... A'a lega dengarnya." Bilal mengusap kepala sang istri, setelah itu menatap kearah langit lalu bergeser ke arah para jama'ah di depan yang masih melakukan tawaf mereka. "Sudah semakin malam. Sekarang A'a antar kamu dulu ke penginapan. Kamu istirahat, setelah itu A'a mau balik ke sini," ucap Beliau. Merr sendiri paham di rumah saja beliau sering tahajud dari pukul satu dini hari sampai menjelang subuh apalagi di sini ia pun menuruti.


Malam ini amatlah indah, rasanya masih betah di kawasan ini. Karena suasananya yang semakin ramai. Membuat mereka tidak sadar jika malam sudah amat larut.


*


*


## pengumuman!!


Assalamualaikum warahmatullahi wabbarokatuh.


maaf teman-teman aku update sedikit karena banyak kerjaan di dunia nyata.


Oh ya, aku izin libur lagi sampai hari senin. Sebab ada kegiatan di luar kota. Jadi mohon maaf ya, kalau on going belum bisa lanjut.


Aku berterima kasih kepada semuanya yang masih setia membaca novel ini. Semoga sampai akhir tidak mengecewakan kalian. mudah-mudahan Selasa atau Rabu kita bisa ketemu lagi.

__ADS_1


wassalamu'alaikum 😘😘😘


🥰🥰


__ADS_2