Cinta Berselindung Risau

Cinta Berselindung Risau
nasi kuning


__ADS_3

Selang beberapa hari setelah acara empat bulanan. Bilal masih di rumah, karena jadwal di kosongkan hampir seminggu. Jadilah ia lebih santai, walau lusa harus berangkat lagi ke Surabaya.


Kebetulan hari ini Ummi dan Hafiz tidak di rumah. Baru saja beberapa jam yang lalu mereka jalan mengendarai mobil menuju Rangkasbitung. Berkunjung ke rumah kerabat mereka dari almarhum Abi Ustman. Katanya, untuk menghadiri sebuah acara keluarga yang rutin di selenggarakan setiap satu bulan sekali. Biasanya Maryam selalu ikut, namun untuk hari ini dia tidak bisa ikut karena satu dan lain hal. Jadilah ia bersama Bilal berdua saja di rumah.


Langit di luar nampak gelap, padahal waktu masih menunjukkan pukul satu siang. Ya, pertanda akan turun hujan.


Maryam berdiri di depan pintu, membayangkan sesuatu di luar sembari menggigit ujung jarinya.


"Yank, ngapain di sini?" Bilal yang baru selesai membersihkan aquarium di ruang tamu mendekati. Kaos oblongnya masih sedikit basah, belum sempat ganti.


"A'... pengen makan."


"Ya udah makan lah–" jawab Bilal.


"Tapi aku nggak pengen makan sayur di rumah."


"Terus maunya apa?" Bilal mengibaskan pakaian di bagian perutnya. Mungkin sedikit risih karena basah.


"Pengen nasi kuning yang pakai sambel kacang. Mie-nya bihun, sama itu... kasih balado telur." Maryam nyengir. Tenggorokannya menelan ludah tanda ia benar-benar ingin makan nasi kuning tersebut.


"Allah– jam segini mana ada nasi kuning, Yank?"


"Tapi pengen–"


"Ya dimana nyarinya? Kalau pagi masih lumrah. Kalau siang begini, kayanya jarang. Nanti malam aja, ya? Kadang malam 'kan suka ada."


"Aku maunya sekarang. Udah dari dua jam yang lalu aku nahan keinginanku ini, kok." Merr memasang tampang memelas.


Bilal menghela nafas sembari berkacak pinggang. Sebenarnya selama hamil baru sekarang Maryam menginginkan sesuatu yang sampai tak tertahankan seperti ini. Selama ada Beliau di rumah.


"Duh, cari dimana ya?" gumam Bilal setelahnya.


"Itu yang di gang bahari suka ada, A'... kayanya enak. Coba cari di sana–"


"Masa sih? Perasaan di sana nggak ada tukang nasi uduk atau kuning yang buka tengah hari begini."

__ADS_1


"Coba cari aja dulu. Kali aja ada, 'kan?" Merr merengek.


"Ya udah nanti A'a cari pakai motor. Tapi kamu di rumah aja, ya."


"Yees..." Maryam mengangguk semangat.


"Kamu masuk, biar A'a jalan. Tapi mau ganti baju dulu. Yang ini basah soalnya."


"Iya A'..." jawab Maryam sembari melangkah masuk kedalam rumah.


Selang beberapa menit, selepas mengganti kaos lengan pendek menjadi pakaian berlengan panjang juga berpamitan pada Maryam. Beliau kini sudah duduk diatas motornya bersiap pergi demi menuruti keinginan sang istri.


Dilihat tumpukan awan semakin tebal. Angin pun sudah berhembus kencang. Seolah air yang tertampung itu sudah siap untuk jatuh. Meski demikian, Bilal tetap tak mengurungkan niatnya untuk mencari nasi kuning demi ibu hamil yang sedang ngidam katanya.


"Bismillahirrahmanirrahim–" Beliau menyalakan mesin motornya. Kemudian melaju dengan kecepatan pelan keluar dari pelataran rumahnya yang luas.


Sembari bersholawat, ia menyusuri jalan. Menoleh ke kiri dan kanan dengan teliti. Kali-kali beneran ada penjual nasi uduk atau nasi kuning yang ia jumpai. Masuk dari satu gang ke gang yang lain.


Bahkan sesekali bertanya pada warga yang masih beraktivitas diluar. Sebagian besar menjawab tidak tahu, karena nasi kuning memang biasa di jual pagi hari atau mungkin malam hari.


Kemana lagi cari nasi kuning? Gumamnya dalam hati. Matanya memandangi hujan yang kian membesar. Namun was-was juga saat terdengar kilatan petir. Khawatir dengan Maryam yang sendirian di rumah.


"Jalan lagi aja, deh. Kalau nggak nemu ya pulang! Kasian Merr kalau sendirian di rumah." Beliau melanjutkan perjalanannya setelah jas hujan terpasang sempurna di tubuhnya. Kembali menyusuri jalan, hingga memasuki salah satu gang. Matanya menangkap papan bertuliskan nasi uduk Bu Bibah.


Bibirnya tersenyum lega. Akhirnya yang ia cari ketemu juga. Motornya pun segera menepi menghampiri warung tersebut.


MashaAllah– mungkinkah Maryam pernah ke sini? Rupanya di gang bahari ada. Batinnya sebelum berjalan memasuki warung makan yang seperti warteg itu dengan helm masih terpasang di kepalanya.


"Silahkan Mas–" seorang ibu-ibu mempersilahkan untuk meng-order makanannya.


"Bu, di sini cuma jual nasi uduk aja, ya?" Bilal mengusap wajahnya yang basah terciprat air hujan.


"Nggak mas, nasi kuning juga ada. Di sini bisa pilih menu lauknya."


"MashaAllah–" Bilal sedikit terperangah dengan beberapa lauk yang banyak. Bertengger di dalam etalase panjang. "Minta dua bungkus, nasi kuning. Yang satu lauknya pakai telur balado, banyakin bihunnya, sama itu sambal kacang. Yang satunya kasih ayam goreng, mie, orek tempe, sama?" Melihat-lihat lagi. "Ah... sambal cumi."

__ADS_1


Si ibu tersenyum sembari mengangguk. Menyuruh Bilal menunggu sejenak sementara dia menyiapkan pesanan.


Bilal berjalan sedikit sampai ke tepi pintu. Dilihat warung itu ramai, untungnya tidak ada yang mengenali karena Beliau masih memakai jas hujannya.


––


Di rumah...


Maryam berdiri di depan jendela ruang tamu. Memandangi hujan yang deras dengan perasaan was-was. Sebab Bilal belum juga kembali.


"Ya Allah... jadi nyesel minta nasi kuning sampai kaya tadi. A'a seharusnya istirahat tadi, apalagi hujan deras begini." Merr menunggu, memandangi gerbang yang terbuka sedikit. Berharap ada motor A'a muncul di sana. Namun, hingga hampir satu jam berdiri A'a belum juga terlihat. Merr pun kembali duduk, kakinya mulai pegal akibat terlalu lama berdiri.


Matanya masih tertuju ke jendela, berharap agar Bilal pulang saja. Walaupun tak membawa apa-apa.


Tak berselang lama, motor sang suami nampak. Terdengar juga suara Beliau menutup pagar rumah setelah memarkirkan motornya.


"Alhamdulillah–" Maryam bergegas mengambil handuk yang sudah ia siapkan lalu membuka pintu. A'a tersenyum sembari mengucap salam yang langsung di jawab oleh istrinya.


"Lihat! A'a nemu nih..." Bilal mengangkat bungkusan itu tinggi-tinggi. Disisi lain sang istri langsung meletakkan handuknya di atas kepalanya.


"Ya Allah– kamu jadi basah," ucapnya sembari mengeringkan kepala sang suami.


"Nggak basah banget, cuma dikit di bagian depan. Karena A'a nggak tutup kaca helmnya. Tahu nggak aku sampai muter-muter nyari nasi kuning."


"Maaf ya... seharusnya kalau nggak nemu, ya nggak usah di cari lagi. Kamu udah berusaha keluar juga aku udah seneng banget."


"Nggak papa. Aku yang nggak nurut kamu untuk langsung ke gang bahari. Padahal ketemuannya di sana juga. Nih, ambil–" Bilal menyerahkan bungkusan itu.


"Terima kasih, A'..." Maryam yang senang langsung menerimanya. Ia mengintip isi kantong keresek tersebut kemudian. "Ada dua?"


"Iya, satu buat aku. Habis tadi makannya menggoda banget. Tempatnya ramai, berkah hujan mungkin, jadi bisa cepet karena lagi nggak antri banget."


"Wah– makasih sekali lagi." Maryam mencium pipi suaminya dengan senang.


"Sama-sama. Demi Dede juga–" Bilal mengusap perut sang istri lembut.

__ADS_1


"Makan sekarang yuk," ajak Maryam yang di jawab dengan anggukan kepala lantas menutup pintu serta menggandeng tangan Maryam kemudian sebelum melangkah lebih masuk ke dalam rumah.


__ADS_2