Cinta Berselindung Risau

Cinta Berselindung Risau
pertimbangan hati


__ADS_3

Pagi yang di penuhi dengan harapan baru. Pun mentari seolah tersenyum. Memburatkan cahayanya yang hangat menyengat wajah cantiknya yang menjadi kemerahan.


Maryam menyirami tanaman di depan, hari ini tugas mengerjakan pekerjaan rumah selesai dengan cepat. Seperti ada sesuatu yang mau datang, karena sejak sehabis subuh tadi dirinya langsung bergerak membawa peralatan bebersih.


Dia juga baru saja selesai masak, namun tidak langsung sarapan. Sebab tanaman di luar seolah memanggilnya meminta untuk di siram lebih dulu.


Hari ini aku mau beliin sesuatu untuk Debby dan Rumi. Tapi apa, ya?


Sebuah notifikasi rutin setiap bulan di pukul satu malam yang membuat Maryam senantiasa bersyukur. Ya, honornya baru saja masuk ke rekening. Tepat di tanggal pernikahan Debby dan Rumi.


Niatnya siang nanti ia akan ke departemen store membeli sesuatu. Entah kue atau berupa barang? Yang jelas ia ingin membelikan sesuatu untuk dua keponakan tersayang.


Tidak... tidak... semua keponakan ia sayang, seperti anak dari Margaretha dan juga Antoni, dan lagi Gallen kakaknya Debby.


Merr mematikan keran airnya lalu menggulung selang agar tidak berserakan. Menyeka peluhnya sebentar di kening sembari menatap lagi tetesan air dari ujung-ujung dedaunan yang basah. Semuanya nampak segar. Maryam tersenyum sebelum akhirnya masuk ke dalam rumah.


–––


Pukul satu siang, Isti memandangi jalan ibu kota yang tak terlalu macet membawa tekad dengan optimisme tinggi. Sesekali ia mengobrol dengan Ummi suci di sebelahnya. Karena beliau meminta Ummi Suci untuk mengantarnya ke rumah Maryam.


Perasaan deg-degan muncul, tangannya memeluk satu wadah tertutup yang terbuat dari plastik yang aman untuk makanan berisi asinan. Ia jadi ingat saat Bilal hendak pergi pagi tadi, ia berpesan untuk tetap membawa asinan untuknya.


"Semalem kamu menertawakan Ummi gara-gara bilang mau bawa asinan. Sekarang malah nyuruh buat bawa beneran," Kata Isti terheran-heran setelah Bilal memintanya untuk tetap membawa asinan buah itu.


"Nggak papa, bawa aja. Kali aja Dia suka..." Bilal menjawab dengan tersenyum. Aura bahagia terpancar di wajahnya. Berharap Ummi membawa pulang kabar baik.


–––


Maryam duduk dengan kikuk, rasanya sudah seperti di berikan kejutan luar biasa. Tiba-tiba kedatangan tamu yang menurutnya istimewa.


"Maaf ya, nak. Ibu menghambat perjalanan kamu yang hendak pergi," kata Isti membuat kedua tangan Maryam terangkat sampai ke dada lantas menggeleng.


"Enggak, Kok Bu Anisa. Saya cuma mau keluar beli sesuatu. Malah saya bersyukur bisa bertemu lebih dulu sebelum pergi."


Isti tersenyum, "berarti memang jodoh. Alhamdulillah kalau begitu."


"Hehehe." Maryam terkekeh.

__ADS_1


"Nak Maryam, ibu mau bicara pada-mu. Boleh?"


"Boleh, Bu."


Isti tersenyum, ia pun menyerahkan sesuatu. "Ini dari Bilal, Dia minta Ummi tetap bawa ini."


"Ya ampun, Ibu. Tidak perlu repot-repot begini." Maryam menerimanya dengan bingung.


"Nggak repot, kok. Hanya asinan..."


"Asinan?" Maryam pun mengingat chat DM dari Bilal semalam– Kamu mau asinan?


Ya ampun, di bawakan beneran. Pipi Merr bersemu. Bibirnya menerbitkan senyum manis yang amat tipis.


"Kamu suka nggak, ibu bawakan itu?"


Maryam tersenyum semakin ceria. "Saya suka sekali, terimakasih banyak Bu Anisa."


"Alhamdulillah..." Mereka semua tertawa. Sementara Maryam meletakkan kotak itu di atas meja, Isti pun mulai kembali berbicara. "Langsung aja ya saya ngomongnya."


"Iya Bu...."


"Nak, Bu Anisa itu benar-benar serius ingin menjadikanmu menantunya. Habib pun tulus hendak menikahi mu. Jadi untuk apa khawatir lagi," Bu Suci menimpali.


"Masalahnya disini, apa saya yang pernah berkeluarga layak bersanding dengan beliau yang masih bujangan? Saya tidaklah Solehah Bu. Saya pun tidak ada keturunan ulama."


"Nak, saat kami memutuskan ini. Sudah pasti penuh dengan pertimbangan. Jadi hanya tinggal pada dirimu."


Maryam terdiam sejenak. "Saya boleh mengambil waktu lagi. Untuk memberikan keputusan."


Anisa melebarkan senyumnya ia menoleh kearah Bu Suci yang juga nampak turut bahagia lalu mengangguk.


"Tentu saja boleh, berapa lama kamu akan memberi jawaban?"


"Secepatnya satu bulan," jawab Maryam.


"MashaAllah. Iya, Nak... boleh." Mereka pun melanjutkan obrolan hingga lebih dari satu jam setelah itu Anisa memeluknya sebelum akhirnya pulang.

__ADS_1


Tinggallah Maryam sendiri di ruang tamu, matanya tertuju pada kotak yang berada di dalam paper bag. Ia mengambilnya membawa ke atas pangkuan.


Aroma segar langsung tercium saat tutupnya terbuka. Maryam meletakkan Sejenak kotak berisi asinan tersebut lalu berjalan ke dapur dan kembali lagi dengan membawa sendok.


"Bismillahirrahmanirrahim..." Menggigit mangga-nya lebih dulu. "MashaAllah, enak sekali."


Di siang yang terik itu, Merr menunda sejenak perjalanannya untuk pergi. Ia memilih untuk menikmati asinan buatan ibunda dari Bilal yang menurutnya amat lezat, bahkan tanpa sadar habis lebih dari separuh isinya.


***


Langit sudah mulai gelap, perjalan pulang Habib sedikit terhambat karena macet di depan.


Beliau yang duduk di tengah sendirian karena Hafiz duduk di depan nampak termenung. Ia tak ingin menghubungi ibunya, karena khawatir mendengar penolakan lagi darinya. Jadi ya sudah menunggu saja nanti di rumah.


Bilal merenggangkan tubuhnya, seharian duduk membuat pinggangnya terasa pegal.


Hingga satu notifikasi pesan masuk. Bilal menghela nafas, meraih ponsel tersebut dan membukanya.


Maryam: [Assalamualaikum, Habib. Saya mengirim DM ini ingin mengucapkan terimakasih atas kebaikan Habib dan Ibu Anisa. Saya menghargai kedatangannya juga pemberiannya. Saya suka dengan asinan buatan beliau.]


"MashaAllah..." gumam beliau sembari tersenyum. Sikunya bertumpu jendela, telapak tangannya mengepal menopang kepalanya yang miring ke kanan.


Maryam: [Bib, saya ingin bertanya dengan serius. Apa sebenarnya yang habib lihat dari saya?


Bukankah mencari wanita yang masih gadis itu banyak. Habib masih muda, apa tidak sayang, ketika memilih saya yang tua ini.]


Bilal menghela nafas, lalu mengetik sesuatu.


Bilal: [Ada ketentuan, kah? Kalau laki-laki harus menikahi wanita yang lebih muda dari usianya. Kalau begitu? Apakah Nabi Muhammad Saw salah menikahi ibunda Khadijah dan juga Ummu Salamah?]


Di sisi lain Maryam terdiam, membaca berulang chatnya. Hingga masuk satu pesan susulan.


Bilal: [Saya tak pandai merangkai kata. Namun perlu ukhti tahu, pernikahan bagi saya adalah sesuatu yang harus saya pikirkan matang-matang sebelum melakoninya. Bukan hanya sekedar mencoba, karena berpikir bisa menikahi lebih dari satu wanita. Saya serius hanya ingin punya satu permaisuri dalam hidup saya. Dan, jika Ukhti bersedia menjadi Khodijah ku... saya akan datang, lalu kita menikah sebelum ramadhan nanti.]


Maryam membungkam mulutnya, Dia nyaris menjatuhkan ponselnya. Tangannya gemetar, jantungnya seolah mau rontok setelah membaca kalimat terakhirnya.


"Ramadhan, tiga bulan lagi, 'kan?" jantungnya semakin berdegup tak beraturan. Maryam memilih untuk meletakkan kembali ponselnya tidak sanggup jika melanjutkan pesan chatnya dengan pria di sebrang.

__ADS_1


Kembali pada Bilal yang masih menunggu balasan. Nafasnya berhembus amat berat, Bilal kembali memasukkan ponselnya kedalam tas kecil yang melingkar di depan dadanya. Sayup-sayup terdengar suara adzan isya membuatnya meminta Beben untuk mencari masjid lebih dulu sebelum pulang.


__ADS_2