Cinta Berselindung Risau

Cinta Berselindung Risau
kontraksi


__ADS_3

beberapa Minggu kemudian...


Sekitar pukul setengah dua dini hari. Maryam seperti merasakan kontraksi ringan. Ia meringis sembari memegangi perutnya yang terasa sakit. untung lah saat ini Bilal sedang berada di rumah, jadi hatinya lebih tenang.


Ia menggeser tangan suaminya yang sedang memeluknya dari belakang, lalu merubah posisi agar lebih nyaman. Bilal yang sadar langsung terjaga.


"Yank, kenapa?" tanyanya, karena menyadari sang istri seperti tengah menahan sakit.


"Perutku sakit– sepertinya kontraksi."


"Allah..." Bilal beranjak, merubah posisinya duduk. Mengusap perut sang istri pelan. "Sakit banget?"


"Nggak terlalu– masih bisa ku tahan kok."


Bilal turun dari ranjangnya hanya untuk menyalakan lampu setelah itu kembali duduk di sebelah istrinya. Memandangi wajah polos Merr yang sedang tarik nafas pelan lalu membuangnya lewat mulut. Sejenak ia mengingat beberapa jam yang lalu, mereka sempat berhubungan badan membuatnya lebih khawatir lagi.


"Apa yang kita lakukan sebelum tidur tadi berpengaruh, Yank?"


Merr melirik, lalu mengusap wajah suaminya yang nampak tenang namun masih menunjukkan kesan paniknya.


"Bisa jadi..."


"Ya Allah... maaf ya."


"Kenapa minta maaf, nggak papa. Malah kata dokter itu bagus." Merr kembali menyandarkan kepalanya di bantal setelah sensasi kontraksinya mereda.


"Kalau begitu A'a siapkan mobil untuk ke rumah sakit sekarang, ya." Pria itu beranjak namun segera di tahan oleh Merr.


"Nanti A'... aku masih bisa nahan. Takutnya cuma kontraksi palsu. Jadi nanti aja kalau rasa sakitnya udah semakin sering," ujar Maryam yang masih dalam posisi duduk menyandar dengan bantal di punggung sebagai penopang tubuh. Bilal memegangi tangan sang istri kuat, matanya tak terlepas padanya.


"Tapi aku nggak tenang, takutnya kamu benar-benar mau melahirkan sekarang."


"Kalaupun iya, jeda pembukaannya pasti lama. Aku dulu pernah nungguin Almarhumah Nia sampai dua belas jam. Waktu Arshila juga lama walaupun nggak selama almarhumah. makanya A'a tenang aja, aku nggak mau terlalu lama menunggu pembukaan di rumah sakit."


Bilal mengerti, ia mengecup kening istrinya sejenak, "istighfar ya, sayang?"


"Iya, A'..." jawab Maryam.


Perlahan-lahan kepanikan itu mulai mereda, karena Maryam kembali menampakkan ekspresi biasa. Ia hanya tersenyum lalu menarik sang suami untuk lebih dekat.


"Kesinian, lagi..." Rengeknya lirih. Dimana Bilal langsung menggeser pelan, meraih kepala Maryam serta menyandarkan ke dada. Tangan satunya mengusap pipi, sementara yang satunya lagi mengusap bagian perut. Beliau turut berdoa, dan berjaga.

__ADS_1


Pukul tiga...


Sesekali Bilal mengatupkan bibirnya rapat-rapat menahan rasa ingin menguap. Melawan kantuk yang amat berat. Memilih untuk menunggu sang istri yang sedang memejamkan mata sesekali di saat kontraksinya sedang mereda dengan cara memaksa mata untuk terbuka.


"Ssshhh... Astagfirullah–" Maryam kembali meringis saat rasa nyerinya mulai terasa.


"Yank–" Bilal mengusap perut Maryam.


"Hemmm?"


"A'a panggil Ummi, ya? Mending kita ke rumah sakit sekarang."


"Iya–" lirihnya. Bilal memindahkan kepala sang istri ke bantal lalu bergegas turun dan keluar dari kamarnya.


Sembari menunggu suaminya memanggil Isti, ia meraih tasbih yang tergeletak di atas meja lantas menggulirkannya satu persatu. Membaca dzikir yang di ajarkan oleh Habib Bilal.


Tak lama Ummi masuk ke dalam kamar, dengan kepala tak tertutup kain hijab.


"Merr, apa yang di rasa?" Ummi masuk kedalam kamarnya dengan langkah terburu-buru. Wanita itu menoleh dengan mata sayu-nya.


"Bagian pinggang belakang, Mi. Sama perut bagian bawah."


"entah, jam satu kalau nggak salah–" jawabnya asal.


"Kenapa baru panggil Ummi?" Isti mengusap kening sang menantu yang berkeringat. Dimana Maryam tidak menjawab. Masih fokus menahan sakit akibat kontraksinya. Bilal sendiri masih di bawah menyiapkan mobil untuk membawa sang istri ke rumah sakit.


Isti menoleh ke arah meja, mengambil gelas kosong serta menuangkan air ke dalamnya lalu menyerahkannya pada Maryam. "Baca bismillah..."


Merr menuruti ia menengguk air dalam gelasnya setelah mengucap bismillah.


"Ummi, mobil udah siap," ucap Bilal tergesa.


"Ya udah, kamu bantu Maryam ke mobil. Nanti Ummi nyusul," balasannya sebelum melangkah keluar. Sementara Bilal langsung memapah sang istri turun dari ranjangnya.


***


Di rumah sakit...


Dokter langsung memeriksa pembukaannya. Rupanya Maryam sudah masuk pada pembukaan empat. Itu sebabnya rasa sakitnya sudah mulai masuk ke panggul.


"Ini masih harus menunggu lagi, prediksi sih enam sampai tujuh jam. Namun, tetap tergantung pada kondisinya. Bisa lebih cepat atau bahkan lebih lama. Jadi perbanyak ngemil dan minum ya, agar tenaganya kuat saat sampai pada titik persalinan."

__ADS_1


Bilal mengangguk, lantas mengucapkan terima kasih pada bidan yang bertugas di rumah sakit tersebut.


"Yank, banyak berdoa ya... mau minum?" tanyanya bingung saat melihat Maryam hanya mendesis kesakitan, sementara yang tanya hanya menggeleng. "Lalu maunya apa?"


"Nggak mau apa-apa– ini, pinggangnya sakit."


"Yang mana?" Kalang kabut. Bilal benar-benar bingung cenderung ke panik. Jadilah dia salah tingkah.


"Pinggang belakang, sini– pijitin." Rengeknya. Membuat Bilal sigap memutari ranjang. Pindah kebagian belakang, menyentuh bagian yang di tunjuk Merr tadi. "Sakiiit... ya Allah–"


"Istighfar sayang. Banyak berdoa, jangan mengeluh ya... kamu kuat, kamu pasti bisa. Demi bayi yang sudah lama kita tunggu."


Maryam beristighfar sembari menahan sakit. Tak lama Ummi masuk meminta Bilal untuk ke masjid lebih dulu, karena adzan subuh sudah berkumandang.


Bilal mengiyakan lantas mengecup kening sang istri sejenak sebelum keluar. "A'a ke masjid dulu. Kamu banyak berdoa pokoknya–"


"Emmm..." jawab Merr lirih. Dia sendiri sudah tak mampu memikirkan apa-apa lagi. Rasanya sudah tidak sabar untuk mengeluarkan bayi dari dalam perutnya. Manakala rasa panas seolah semakin menjalar keseluruh panggulnya. "Allah..." Gumamnya amat lirih.


Di sana Bilal hanya menjalankan qobliyah subuh serta shalat fardhu subuhnya. Setelah itu bergegas kembali menuju ruang persalinan. Memilih untuk berdzikir di dalam saja karena pikirannya yang sudah tak bisa tenang.


Sementara Ummi bergantian sholat. Beliau kembali mengusap bagian pinggang belakang sembari menggulir tasbih dengan tangan satunya. Nampak yang di depan tenang walaupun sesekali terdengar desisan sakitnya.


Hingga dua jam berlalu. Maryam semakin sering mengeluhkan rasa sakit itu. Bahkan sampai meremas tangan Bilal kuat-kuat sembari menangis.


"Hiks... sakit A'."


"Sabar sayang! Istighfar, ya..." bimbingnya lembut. Dimana sang istri hanya mengangguk.


"Astagfirullah... sakitnya–" Maryam menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya pelan sembari beristighfar.


Bilal sendiri tak mampu berbuat apapun selain memandangi wajah kesakitan itu dengan perasaan bersalah. Ia mencondongkan tubuhnya lebih mendekat ke bagian wajah sang istri. Mengecup kening Maryam cukup lama. Rasanya, ia pun ingin menangis namun di tahan sekuat mungkin.


"Aku hanya bisa membantumu dengan doa sekaligus menenangkan-mu. Aku nggak bisa apa-apa, Yank–" bisiknya setelah mengecup kening Merr yang sudah nampak lemas menahan sakit. "Kuat, ya– istriku."


Maryam lagi-lagi tak menjawab. Pikirannya sudah melayang kemana-mana. Antara hidup dan mati. Ia pun sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi pada dirinya. Hingga sesuatu ia rasakan...


"A'... seperti ada yang pecah," katanya polos.


"Apanya?" Bilal beranjak cepat, tanpa berpikir panjang ia menyibak tirai-nya lalu memberitahukan pada bidan. Beberapa perawat serta dokter spesialis kandungan pun mendekati. Lalu memeriksanya.


"Bayi akan segera lahir. Ibu bersiap ya... Habib tolong bersiap juga. Bantu istrinya agar kuat mengejan," ucap sang dokter sembari memasang sarung tangannya. Bilal mengangguk cepat mengambil posisi, sesuai protokol seorang perawat. Mereka pun bersiap-siap, menyambut hadirnya seorang bayi yang akan terlahir kedunia ini.

__ADS_1


__ADS_2