Cinta Berselindung Risau

Cinta Berselindung Risau
keinginan A'a


__ADS_3

Dalam perjalanan pulang selepas dari rumah Ustadz Irsyad. Bilal meraih tangan sang istri dengan tangan kirinya.


Merr yang merasakan sang suami menciumi tangan itu hanya bisa menoleh dengan heran.


Belum lagi saat suaminya berta'awudz, sebelum membaca basmalah dan beberapa ayat dalam Al-Qur'an. Merr hanya mendengarkan, dengan hati yang tenang. Bilal membacakan ayat dengan suaranya yang indah dan menyejukkan.


"Kamu tahu nggak, itu surat apa?"


"Maryam?" Tanyanya, karena ia mendengar kata Maryam dan Zakaria. Jadi ia berpikir jika itu adalah surat Maryam. Bilal sendiri tersenyum lalu menggeleng.


"Bukan sayang, Itu surat Ali Imran. Di surat itu, ada kisah ibunda Maryam juga, bersamaan dengan Nabi Zakaria. Kisah yang membuat A'a kembali yakin, kalau kita pasti akan punya keturunan."


Merr memandang wajah suaminya dengan tatapan yang entah apa.


"Setiap habis sholat, kita perbanyak doa ini ya. Rabbi hab lii mil ladunka zurriyyatan taiyibatan innaka samii'ud du'aaa'* nanti A'a catat deh di kertas."


*(Ya Tuhanku, berilah aku keturunan yang baik dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.)


Merr menghela nafas lesu, "A'a udah pengen banget punya anak, ya?"


Bilal terdiam, fokus pada jalan di depan dan memilih menepi sejenak. Kemudian menoleh sebelum meraih tangan sang istri.


"Setiap laki-laki yang menikah, pasti pengen punya anak dari istrinya, Merr," jawabnya hati-hati membuat Maryam tersenyum kecut. Seolah hatinya kembali tercubit. Mengingat memori masalalu.


Mungkinkah A'a sedang menunggu aku agar menawarkan Dia, untuk menikah lagi demi bisa punya anak? (Maryam)


"Sayang, mikir apa?" tanya Bilal memecahkan lamunan sang istri. Maryam pun menggeleng.


"A'a tahu aku tidak bisa memberikan hak keturunan untuk mu, sejak aku memutuskan untuk menerima kamu dulu..." jawabnya lirih. "Aku tidak mau merasakan sakit seperti pernikahan sebelumnya."


"Merr... kamu pasti salah tangkap. Maksudku bukan begitu."


Maryam masih mengarahkan pandangannya kepada sang suami. Entah mengapa tiba-tiba ia merasa kesal. Padahal Bilal hanya membahas ayat saja. Namun entahlah, akhir-akhir ini wanita itu memang semakin sensitif jika di singgung soal anak.


"Kamu 'kan tadi mengiyakan, kalau kamu pengen punya anak?"


"Keinginan yang manusiawi, sayang," jawabnya dengan sabar.


"Aku tahu keinginan yang manusiawi, aku pun sama... tapi mau gimana, aku m*ndul A'a," lirihnya menimpali. Seolah tidak bisa membendung air matanya, Merr pun menangis.


"Merr, istighfar. Coba deh kita bahas ini dengan kepala dingin. Kamu sekarang jadi sensitif sekali. Sebelumnya nggak gini, 'kan?" Bilal berusaha untuk tenang, menghapus air mata yang mengalir di kedua pipi istrinya.


"Habis kamu mulai ingkar sama janji awal pernikahan kita."


"Astagfirullah al'azim, di sisi mamanya, sayang? Wallahi aku nggak punya niatan untuk ingkar sama kamu."

__ADS_1


"Kamu sadar, nggak? Kalau akhir-akhir ini sering bahas perihal keturunan. Aku kan jadi stress..."


"Baiklah. Aku minta maaf. Kalau memang aku membuatmu tidak nyaman karena hal itu," Bilal mengalah.


Merr mengusap air matanya sendiri, mengalihkan diri dari tatapan hangat sang suami.


"Aku semakin menua, sudah otomatis harapan punya anak semakin tipis. Usiaku hampir masuk empat puluh tahun, sedangkan suamiku masih muda dan segar. Banyak penggemar! Bahkan nggak sekali dua kali di tawarin guru kamu buat menikahi seorang wanita. Belum lagi jama'ah yang bejibun meminta di jadikan istri kedua, ketiga, keempat! Bagaimana aku tidak semakin khawatir dengan ini. Emangnya mereka tidak melihat aku itu istri kamu?" rancaunya kesal.


"Udah dong, jangan jadi merembet kemana-mana." Bilal menahan senyumnya, saat melihat Maryam kesal.


"Mau bagaimana, selama ini aku udah memendam kesalku, tuh! ini meluap karena kamu tambahin aja..."


"Ya Allah... kan aku cuma baca ayat."


Merr menghela nafas kasar, tidak bisa menjawab lagi. Bilal pula kembali membaca ulang sepenggal ayatnya.


"Qoola Rabbi annaa yakuunu lii ghulaamunw wa qad balaghaniyal kibaru wamraatii 'aaqirun qoola kazaalikal laahu yaf'alu maa yashaaa'..." Bilal membaca ayat itu dengan intonasi suara yang sedikit tinggi, membuat Maryam terdiam dengan tatapan sedikit tunduk mengarah pada suaminya. "Dia (Zakaria) berkata, 'Ya Tuhanku, bagaimana aku bisa mendapat anak sedang aku sudah sangat tua dan istriku pun m*ndul?' Dia (Allah) berfirman, 'Demikianlah, Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.'... itu surat Ali Imran ayat 40."


Merr masih tak mampu berkata-kata, selain memahami arti ayat yang di bacakan Bilal tadi.


"A'a bahas itu agar kamu yakin akan kuasa Allah SWT. A'a hanya percaya kamu bakal bisa kasih Aku anak, Merr. Menerima itu bukan berarti pasrah... paham, nggak?"


Maryam mengangguk pelan.


"Iya A'..." jawabnya lirih.


"Dengerin A'a... kita ikhtiar semampu kita. Dan A'a minta kamu ingat ini. Kalau kita punya anak, entah laki-laki ataupun perempuan. A'a akan didik dia, kalau laki-laki A'a bakal kasih nama Dia Yahya, agar memiliki hati yang lemah lembut dan Soleh seperti Nabi Yahya as. Jika Dia perempuan, A'a akan kasih dia nama Fatimah..."


"Aamiin, Aamiin ya rabbal alamin," gumam Maryam.


"A'a minta, kamu jangan meragukan kondisi mu sendiri. Tetap kuatkan keyakinan, agar doa yang kita panjatkan tidak mental kembali," ucap Bilal, Merr pun mengangguk, seraya tersenyum. "Udah nggak kesel lagi 'kan sama A'a?"


Merr menggeleng, "nggak mau lanjut kesel, takut kamu-nya yang balik marah."


"Hahaha... astagfirullah al'azim." Bilal menyentuh kedua pipinya lalu mengecup kening sang istri lembut. "Maaf... maaf. Tapi janji jangan berprasangka buruk lagi, ya? Dengerin kalau suami ngomong tuh, jangan di simpulkan sendiri."


"Iya, A' Bilal."


"Pinter!" Gumamnya dengan bibir tersungging sembari tangannya bekerja memutar kontak mobil demi menghidupkan kembali mesin mobilnya.


***


Esok harinya...


Sebelum subuh Merr mulai sibuk menyiapkan koper dan keperluan lain milik suaminya. Bilal sendiri beranjak setelah melakukan sholat Sunnah. Beliau sudah mandi sejak pukul dua tadi sholat dan berzikir hingga pukul tiga pagi ini.

__ADS_1


"Cepet banget jamnya," gumam Beliau sembari duduk dan menengguk minuman sereal-nya.


"Waktu memang terasa cepat sekali," jawabnya. Bilal kembali meletakkan gelas di dekat meja lalu menarik istrinya pelan agar duduk di hadapannya. Memeluk pinggang sang istri dari belakang.


"Maaf ya, ku tinggal agak lama kali ini."


"Iya nggak papa, aku ngerti kok. Walaupun jujur aja kalau kamu perjalanan jauh gini suka sedih."


Bilal tersenyum, menanggapi ucapan sang istri dengan kecupan lembut di bahu.


"Mau minta apa nanti pulangnya?"


"Nggak minta apa-apa. Yang di inginkan kamu kasih aku kejutan karena tahu-tahu pulang lebih awal."


"MashaAllah... tapi jadwal sudah di atur. Nggak mungkin bisa pulang awal, sayang."


"Iya sih," Merr menoleh lalu mencium pipi sang suami. "Belum pergi tapi aku udah kangen, aja..."


"Masa?"


"Iya..." Cium lagi dan lagi.


"Jangan cuma pipi, dong."


"Sama apa?"


"Ini..." Bilal menunjuk bibirnya sendiri.


"Mau itu?"


"Iya," jawabnya sembari memejamkan mata sementara bibirnya tersenyum manis.


"MashaAllah..." Merr mencium bibir suaminya yang sigap di tahan Bilal sembari memegangi kepala bagian belakang Maryam hingga tubuhnya terdorong. Bilal dan Maryam tertawa, saling menatap. "Aku sayang kamu, A'... sehat-sehat ya di sana. jaga mata, jaga hati dari setan wanita..."


Bilal yang berada di bawah tertawa. "Iya, istriku. Aku juga, Merr. Sayang sama kamu. Jaga diri dari fitnahmu selama A'a nggak di rumah, ya..."


Maryam mengangguk. Tak lama terdengar ketukan pintu di luar kamar mereka. Ummi Isti memanggil keduanya, karena Beben sudah siap di luar.


Di teras, Maryam mencium tangan suaminya. Sementara Bilal menyentuh keningnya berdoa.


"Aku jalan dulu, Assalamualaikum."


"Walaikumsalam warahmatullah. Hati-hati, ya A'..."


"Iya–" Bilal melangkahkan kakinya mendekati mobil sebelum masuk ia menoleh sejenak ke arah istrinya lalu tersenyum dan kembali mengucap salam sembari membuka pintu mobil kemudian masuk. Mobil pun melaju pelan, lalu menghilang dari balik pagar rumah. Maryam menghela nafas, ia harus paham pekerjaan suaminya, dan berharap suaminya senantiasa berada dalam lindungan Allah SWT.

__ADS_1


__ADS_2