
Suatu kejutan yang hadir di saat Maryam mulai bisa menerima takdirnya. Padahal sudah cukup lama, tidak lagi dia membahas perihal ketakutannya jika Bilal akan menyerah darinya.
Ya, sebab laki-laki itu berkali-kali meyakinkan dengan tindakan manis yang ia lakukan, demi mendapatkan kepercayaan bahwa cintanya benar-benar tulus.
Bilal bahkan pernah berkata. Tujuan awal aku menikahimu bukan untuk anak Merr. Aku tahu kekuranganmu, itulah kenapa aku siap jika seumur hidupku tak memiliki keturunan. Cuman tak ada salahnya jika kita berikhtiar? Hari ini belum, besok pun belum. Tidak masalah!
Namun, kalau kita punya keyakinan dan usaha terus.... siapa yang tahu, kalau tiba-tiba Allah SWT mengabulkan disaat kita sudah mulai lupa dengan keinginan itu. Kita itu hanya mahluk bodoh yang tidak tahu apa-apa. Sementara Allah itu jauh lebih memahami yang terbaik untuk hamba-hamba-Nya.
***
Ketika langit sudah mulai terang, Maryam berjalan pulang dari masjid dengan hati yang lebih berbunga-bunga dari biasanya. Isti sendiri bahkan terheran-heran, apa sebenarnya yang terjadi pada menantunya itu.
"Kamu terlihat senang sekali, sampai nular loh auranya ke Ummi." Isti tersenyum lebar.
"Alhamdulillah..."
"Alhamdulillah apa?"
"Alhamdulillah aja, Mi. Merr emang lagi bahagia."
"Wah-wah, penasaran nih Ummi jadinya. Memang apa yang membuatmu bahagia?"
Maryam hanya menutup mulutnya tertawa. "Maaf Ummi, Merr belum bisa kasih tahu. Tunggu seseorang, ya."
"Loh kok gitu? Beneran nih. Ummi jadi penasaran."
"inshaAllah, hanya nunggu dua hari lagi sampai A'a pulang. Nanti Ummi pasti tahu." Keduanya berdiri di depan teras rumah, Merr segera melepaskan sandalnya. Wanita bercadar itu masih memandangi sang menantu sebelum ia berbalik menghadapnya. "Ummi maaf, aku duluan ke kamar, ya. Merr masih kurang enak badan."
"Iya, nak. Istirahat saja, ya..." titahnya yang di balas dengan anggukan serta ucapan terima kasih.
Ummi mengulum senyum, seperti tengah menerka-nerka sesuatu. Dan semoga dugaannya benar.
Merr pun bergegas masuk ke dalam. Pelan-pelan kakinya menaiki anak tangga, sementara tangannya mengusap lembut perutnya.
__ADS_1
Hati-hati Merr. Karena sekarang ada janin mungil dirahimmu. –Maryam terkekeh tanpa suara, hingga sampai pada puncak tangga, berjalan sedikit hingga ke dekat pintu kamarnya.
Pokoknya sebelum A'a yang dengan kabar ini duluan, aku akan menyimpannya rapat-rapat. Dan A' Bilal juga harus tahu langsung, bukan dari telfon apalagi pesan chat. –Maryam senyum-senyum, tangannya lantas menekan handle pintu, membukanya, sebelum akhirnya masuk kedalam kamar.
––
Hari berjalan semakin siang, kali ini Merr mendatangi toko aksesori. Melihat-lihat tumpukan kotak kado yang manis dengan berbagai warna juga motif. cukup lama dia berdiri menghadap rak tinggi tersebut, hingga pilihan jatuh pada kotak kecil berwarna biru dengan gambar awan, mentari, dan pelangi.
"Lucu..." gumamannya, sembari membolak-balik kotak tersebut. Merr bergeser, ke bagian lain. Mencari sebuah kartu ucapan yang akan ia tulis sendiri nantinya. Setelah cukup ia membayarnya lantas berpindah lokasi mencari barang lainnya. Yang akan jadi pembuka sebelum benar-benar menunjukkan testpack miliknya.
Ya, toko peralatan bayi. Lihat-lihat aja dulu. Sambil ngecek harga. Begitu pikirnya.
Di bagian deretan baju, Maryam merasa gemas. Ukurannya yang mungil membuatnya tidak tahan untuk memilih-milih serta membelinya.
MashaAllah, lucu-lucu. Aku akan beli sama A'a nanti kalau sudah cek ke dokter. –ia tidak berpikir itu terlalu dini. Rasa bahagianya ketika akhirnya bisa memiliki anak membuat Maryam tidak sabar untuk berbelanja pakaian bayi.
Kembali langkahnya terayun, melihat-lihat seluruhnya yang ada di sana. "Waaaah... kaos kaki bayi." Maryam menghentikan langkahnya lantas menyentuh salah satu bungkusan berisi sarung tangan serta kaos kaki bayi. "Aku ambil ini lah, buat di masukin ke kotak kado untuk A'a."
Mungkin aku akan seperti itu. Nggak sabar rasanya. –Batin Maryam sembari menyentuh perutnya dengan bibir mengulum senyum.
.
.
.
Esoknya di tempat lain.
Bilal terjaga karena merasakan sensasi tak nyaman pada tubuhnya. Beliau mengusap bagian dadanya pelan, lalu beranjak duduk.
Ya, semalam Bilal hanya tidur kurang dari tiga jam, sebab acara selesai pukul setengah satu belum lagi mengobrol sebentar dengan beberapa orang sehingga baru sampai hotel sekitar pukul dua dan tidur pukul setengah tiga.
Setelah terjaga ia merasa tubuhnya semakin tidak nyaman. Dadanya mendadak sesak, dan panas hingga kebagian kerongkongan.
__ADS_1
"Astagfirullah, kayanya asam lambung ku naik." Ia duduk sejenak, menghela nafas panjang pelan-pelan akibat rasa terbakar serta sakit di bagian ulu hati.
"Afwan, Bib. Mau mandi dulu?" tanya kang Beben yang tidur satu kamar dengan Beliau. Kang Beben sendiri juga sepertinya baru bangun. Nampak dari tangannya yang sedang mengusap lembut kedua matanya.
"Iya, Kang," jawabnya sembari memijat dada di bagian tengah, lantas beristighfar lirih.
"Bib, kenapa?" Beben turun dari ranjangnya mendekati, sebab Bilal sedari tadi meringis seperti menahan sakit. "Habib sakit?"
"Nggak. Cuman, asam lambung ku naik."
"Minum obatnya, Bib," ucap Kang Beben sedikit panik karena Bilal benar-benar menahan sakitnya, ia sendiri sampai tidak bisa berbicara. "Tas Habib mana, ya?" Menoleh ke kiri dan kanan, mencoba membuka laci meja di samping ranjang.
"Nggak ada obatnya, Kang. Ka–kan, ketinggalan di Jogja." Bilal membungkukkan badan, mengatur nafas yang semakin sesak.
"Astagfirullah al'azim, kemarin mau mampir ke apotek kelupaan. Ya Allah Bib, maaf..."
"Coba Kang, cari ke anak-anak." Bilal meringis sejenak. "Kira-kira ada yang punya obat Maag, nggak? Kalau ada mintain ya... seenggaknya bisa mengurangi sensasi sakitnya."
"Iya, Bib. Sebentar..." Kang Beben bergegas keluar, mencoba mencari obat Maag. Ia mengetuk satu persatu pintu rekan-rekan Hadroh. Mereka semua berkumpul di depan kamar, beberapa lainnya menghampiri Habib Bilal untuk melihat kondisinya.
Sebagian besar mereka memang tidak ada yang memiliki riwayat sakit Maag, makanya tidak ada yang membawanya. Namun sepertinya ada salah satu yang membuat Beben mampu bernafas lega.
"Saya ada, Kang. Obat lambung juga... sebentar saya ambil dulu," kata salah satu dari mereka. Kang Beben pun bersyukur Beliau lantas kembali ke kamar Bilal.
"Bagaimana, Mir?"
"Kang? Mending Habib kita bawa ke rumah sakit saja. Beliau kesakitan... bahkan sudah tidak mampu merespon ucapan saya," kata pria bernama Amir.
"Ya Allah– Bib. Habib dengar saya, istighfar Bib. Kita ke rumah sakit sekarang, ya?"
Bilal saat ini ada pada posisi tidur miring, matanya sayu. Menahan sakit luar biasa di dadanya.
"Bantu angkat, kita ke rumah sakit!" Titah Beben kepada beberapa orang yang sigap memapah tubuh Bilal untuk bangun. Belum juga Beliau berdiri, tubuhnya sudah tidak sanggup menahan sensasi hebat di dada. Tubuh Beliau limbung hingga akhirnya tak sadarkan diri.
__ADS_1