Cinta Berselindung Risau

Cinta Berselindung Risau
hati yang mulai menyerah


__ADS_3

Aku memang bodoh, jika berpikir terus menerus untuk mengalah dari Nia, sebab makin kesini Dia seperti semakin berani kepadaku. Aku bisa saja melawannya, bagaimanapun juga Dia harus menghormati ku sebagai istri pertama.


Namun aku bisa apa, pangkat ku mungkin sudah jauh turun di bawah wanita itu. Dia sudah mendapatkan posisi terbaik di sisi Ummi, dan juga Abang.


Wanita itu punya banyak hal yang menjadikan Bang Akhri berhak mempertahankannya. Lalu aku?


Apa sudah saatnya untuk menyerah? Baru juga setahun berjalan. Aku sudah tidak tahan. Terlebih tidak sampai sebulan lagi, masuk tahun kelima pernikahanku.


Maryam menyeka kasar air matanya. Sangat ingin ia terlepas dari penjara ini. Penjara yang membuatnya tidak bisa lagi merasakan keceriaan di hari-hari seperti dulu. Melakukan aktivitas apapun, tetap saja ia tidak bisa bahagia.


Andai saja tidak pernah ada masalah pada rahimnya. Atau mungkin ia mengetahui ini lebih awal, pasti Dia lebih memilih untuk tidak menikah saja. Untuk apa menikah jika tidak bisa memberikan keturunan.


Maryam menghela nafas panjang. Sudah cukup! Ini terlalu sakit, namun kenapa kakinya tetap tidak mau melangkah pergi.


Cinta, benar ... aku terlanjur mencintai Bang Akhri. Aku terlanjur mencintainya. Bahkan hingga saat ini aku masih menutupi, poligaminya Bang Akhri dari Koh Yohan. Kalau sampai Kokoh tahu, apa yang akan ia lakukan?


Beberapa menit kemudian...


Akhri keluar, ia bahkan sudah mengganti pakaiannya sekali. Masih memegangi handuknya, mengeringkan rambut.


Ia mendekati sang istri, dengan langkah pelan.


"Dik, maaf ya?"


Maryam hanya mengangguk. Ia mengusap lengan sang suami ke bawah lalu meraih tangan kanannya.


"Terimakasih nafkah batinnya malam ini, Bang? Maryam bahagia, setidaknya rinduku terobati." Mengecup punggung tangan itu kemudian. Tanpa tersenyum.


Allah...


Akhri termenung, ia benar-benar tidak tega. Langsung saja mengecup kepala sang istri lembut, lalu merengkuh tubuhnya langsing Maryam.


"Maaf sayang, Abang benar-benar minta maaf."


Maryam diam saja, sudah tidak bisa lagi Dia mengeluarkan sepatah katapun. Karena jika ia berbicara, usahanya untuk menahan tangis itu akan sia-sia.


"Tidak apa... pulanglah kerumahnya." Lirih Maryam mengatakan itu.


Akhri tahu, nampak mata itu berkaca-kaca saat mengatakannya. Namun ia tidak bisa menolak lagi, jika itu sudah Maryam sendiri yang memintanya untuk kembali.

__ADS_1


Padahal, jika saja Maryam mau menahannya agar tidak pergi. Akhri pasti akan melakukannya, tetap di sini hingga besok pagi. Maryam lantas melepaskan pelukan Akhri. Setelah itu memegangi handuk di tangan Akhri.


"Sini handuknya."


Perlahan, Akhri melepaskannya..


"Maaf ya, Bang? Maryam tidak mengantarkan Abang sampai ke pintu. Maryam mau mandi soalnya. Tolong kunci juga pintu rumah serta pagarnya dari luar."


Akhri mengangguk pelan, ia mengecup lagi kening, kedua pipi, dan terakhir bibir sang istri cukup lama.


Setelahnya beranjak, "Abang pulang dulu ke rumah Nia, ya."


"Iya, hati-hati. Salam sayang dariku untuk Hussein."


"Iya, sayang. Assalamualaikum."


"Walaikumsalam warahmatullah."


Akhri berjalan menuju pintu, ia menoleh sejenak kebelakang sebelum menyentuh gagang pintu kamarnya. Senyum Maryam masih tak memudar kepadanya, ia pun membalasnya kecut.


Astagfirullah al'azim...


Bersamaan dengan pintu yang di tutup, tubuh Maryam merosot turun hingga Kelantai.


Ia membungkam mulutnya dengan kedua tangan.


Menahan cukup kuat, agar tak ada sedikitpun suara yang keluar. Ia takut Akhri masih di balik pintu, yang akan otomatis mendengarnya.


Karena memang benar, sang suami masih di depan pintu. Menunggu untuk beberapa saat, ia khawatir pada istri pertamanya itu.


Tangannya bahkan kembali terangkat hendak menyentuh gagang pintu itu. Rasa ingin kembali amat kuat, namun ponsel dalam sakunya bergetar. Setelah sebelumnya ia nyalakan lagi.


Ia melihat nama Kania di sana. Rupanya istri keduanya telah menelpon dia beberapa kali, hingga puluhan.


Allah. Ampunilah aku, ya Allah....


Akhri melanjutkan langkahnya menjauh dari pintu kamar itu.


–––

__ADS_1


Kembali ke dalam...


Beberapa saat kemudian, suara pagar rumah terdengar.


Maryam pun bangkit, mengintip sedikit.


Nampak sang suami diam sejenak sembari mengarahkan pandangannya ke jendela kamar Maryam.


"Bang Akhri–" Maryam, masih berharap Dia tidak jadi pergi. Begitulah hati yang terkadang tidak sinkron dengan apa yang nampak di luar.


Namun rupanya harapan Maryam pupus. Akhri kembali menghadap pagar, ia membuka gembok itu dan mendorong gerbangnya hingga terbuka luas. Setelah itu melangkah masuk ke dalam mobilnya.


Seperti apa yang di minta Merr. Akhri kembali menutup pintu pagar sebelum kembali masuk dan membawa laju mobil itu menjauh dari rumahnya bersama Maryam. Meninggalkan bunga indah yang satu demi satu mulai berguguran kelopaknya.


Maryam menekan dadanya.


Kenapa pikiran buruk ini selalu datang, kenapa rasanya semakin sesak!


Kenapa harus aku merasa, bagaikan seorang wanita simpanan yang di datangi hanya untuk di tiduri, setelah itu di tinggal pergi. Padahal aku yang menginginkan Dia pergi, aku yang menginginkan Bang Akhri mendua. Aku yang memintanya punya anak dari wanita lain.


Lalu kenapa aku menangis seperti ini...?


Maryam meraung-raung dengan tangisannya. Menarik kain seprai hingga bantal dan selimut yang ada di atasnya berserakan di lantai.


Salah satu dari bantal itu ia ambil dan ia lemparkan ke arah meja rias. Membuat beberapa barang yang ada di atasnya berjatuhan, bahkan vas bunga yang ada di sana pun turut menjadi korban. Terjatuh dan pecah hingga hancur tak beraturan. Tak puas dengan itu, ia juga melempar dua bantal lain secara bergantian ke arah foto pernikahannya dengan Akhri.


PRAAAAANG.... bingkai foto itu pun terjatuh dan hancur.


"Aaaaaaaaarrrhhhh!!! Bang Akhri, kamu jahat Bang....!" Maryam meremas kepalanya, duduk tersungkur di lantai.


Hatinya benar-benar sakit. Sakit yang tidak bisa di jelaskan. Ia ingin kabur dan berlari menerjang hujan di luar. Berteriak-teriak, mengatakan pada khalayak ramai, bahwa Dia sedang berada pada titik terendah dalam hidupnya. Dia marah, namun tidak bisa marah, Dia tersakiti namun di paksa untuk memahami.


Seperti inikah akhirnya?


konsekuensi yang harus aku terima. Dan aku harus memaksa diri demi mematuhi takdir ini.


Maryam menangis tersedu-sedu di dalam kamar itu. Ia benar-benar sudah tidak bisa menahannya lagi. Sudah terlalu sakit, namun bibirnya belum mampu mengatakan dia menyerah pada sang suami.


"Suamiku!! Bang Akhri itu juga suamiku, Nia..." Sesenggukan, Maryam merebahkan tubuhnya di atas kain seprai yang teronggok tak beraturan di lantai. Meremasnya, dengan tangan yang mengepal kuat.

__ADS_1


Entahlah... Dia merasa tidak tahan lagi. Namu masih belum bisa mengatakannya. Karena sebagian hatinya masih belum ikhlas merelakan Akhri seutuhnya untuk Nia.


__ADS_2