
Dua hari kemudian, sebuah tabligh Akbar di gelar. Mempertemukan Ustadz Akhri dengan seorang laki-laki yang menjadi panutannya.
"Guruku, Kyai Irsyad." Beliau mengecup punggung tangan pria tambun yang sudah semakin menua. Di mana pelukan hangat pun di berikan oleh Ustadz Irsyad. "MashaAllah, senangnya bisa bertemu Ustadz. Eh, Kyai."
Ustadz Irsyad tertawa, mempersilahkan pria itu duduk di sebelahnya. Akhri pula menuruti. Beliau duduk dengan sopan di sebelah KH. Irsyad Fadhillah.
"Panggil saja seperti biasa. Nggak papa..." ujar Irsyad dengan logat Jawa yang semakin kental terdengar semenjak Beliau berpindah domisili di Magelang Jawa tengah.
"Nggak sopan kalau saya masih manggil, itu."
"Di bikin santai saja. Kaya sama siapa?" jawab Irsyad humble. "Bagaimana kabar Antum?"
"Alhamdulillah, baik. Kyai."
"Keluarga?"
"Alhamdulillah, Abah, Ummi, anak-anak semuanya sehat. Hanya istri saya yang sedang tidak baik karena sudah beberapa bulan ini menderita sakit."
"Innalilah, sakit apa?"
"Kami belum memeriksanya lebih lanjut. Karena, istri saya termasuk agak susah untuk di ajak berobat. Mungkin takut..."
"Ya Allah, memangnya apa yang di keluhkan?"
"Banyak, salah satunya terdapat pembengkakkan kelenjar getah bening di salah satu organ tubuhnya. Dan itu sakit sekali katanya."
"Innalilah, semoga istri Antum bisa di beri kesembuhan. Dan antum juga di berikan kesabaran saat merawatnya."
"inshaAllah Kyai," jawab Akhri. Keduanya diam sesaat ketika seorang panitia memberikan mereka air mineral. Setelah mengucapkan terima kasih Akhri membukakan botol air mineral tersebut lantas menuangkannya untuk Irsyad. "Silahkan..."
"MashaAllah... matursuwun loh, padahal saya bisa tuang sendiri." Irsyad menerimanya sembari terkekeh.
__ADS_1
"Nggak papa, Kyai. Saya juga hendak minum ini," jawab Akhri yang juga menuangkan air ke dalam gelasnya sendiri. "Afwan Kyai, ngomong-ngomong bagaimana keadaan di Magelang?"
"Alhamdulillah, pondok lebih ramai sekarang."
"Alhamdulillah," gumam Akhri setelah itu mengucap bismillah dan meminum airnya.
"Ya, semakin banyak santri dan juga panggilan dakwah kesana-kemari, jadi kadang agak susah meluangkan waktu ke Jakarta," jawab Beliau. Akhri pula hanya manggut-manggut mendengarkan dengan serius. "Kalau bukan karena cinta saya semuanya ada di sini. Mungkin kejakarta-nya kalau ada jadwal dakwah saja."
"Oh... iya. Anak-anaknya Kyai 'kan di sini semua, ya?"
"Iya, mereka memang disini, dan kadang mereka pula yang datang ke Magelang. Cuman di samping itu, ada kekasih saya yang di makamkan disini. Jadi ke-Jakarta itu tidak hanya melepas rindu pada anak-anak. Melainkan ziarah juga."
"MashaAllah... jujur saya kagum dengan pak Kyai dari dulu saat masih menjadi dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Agama Islam. Antum benar-benar sosok yang memuliakan keluarga."
"Kata siapa saya seperti itu? Memang Antum melihat keseharian saya?" Terkekeh.
"Ya, saya kan juga merupakan salah satu pembaca buku-buku Antum yang banyak membahas ilmu berkeluarga."
"MashaAllah... semakin kagum saya." Mendengar jawaban itu Irsyad kembali tertawa. "Tapi beneran loh. Buku Kyai itu benar-benar bagus. Saya baca semuanya, bahkan banyak belajar dari sana juga," tutur Akhri jujur, sementara Ustadz Irsyad hanya senyum-senyum. "Kadang, sebagai laki-laki. Jujur saya sering merasa gagal. Padahal sudah dua kali membina rumah tangga. Namun sepertinya saya belum bisa memberikan kebaikan seperti apa yang pasangan saya harapkan."
"MashaAllah..." gumam Ustadz Irsyad kembali menuang airnya sendiri. Mendengarkan setiap ucapan yang keluar dari bibir Ustadz Akhri.
"Kadang, bikin saya ingin berhenti berdakwah. Lebih-lebih, Kyai pasti pernah mendengar pemberitaan saya yang sempat viral? Dari sana saya jadi merasa tidak pantas menjadi seorang ulama."
"Astagfirullah...." gumam Beliau. "Tadz, Antum itu tidak perlu melepaskan kewajiban kita sebagai hamba Allah yang pernah menuntut ilmu untuk menyampaikan ilmu ini lagi pada orang lain. Lantas pundung bahkan punya keinginan untuk berhenti berdakwah hanya karena kesalahan yang pernah kita lakukan di masa lalu. Yang terpenting pada saat ini Antum berusaha menjadi jauh lebih baik. Allah sebaik-baiknya penilai, cukup bagi kita Allah yang menilai baik-buruknya kita. Atau bahkan patas tidaknya kita menyebarkan agama Allah."
"Iya, Kyai. Afwan... saya jadi banyak bicara. Karena memang saya merasa tidak pantas memimpin jama'ah, sementara saya saja gagal membimbing satu ma'mum."
Irsyad hanya tertawa kecil lalu menepuk-nepuk pelan pundak Ustadz Akhri. "Nggak apa-apa, namanya hidup berumah tangga tidak ada istilah orang berilmu akan lancar jaya tanpa masalah. Karena normalnya manusia biasa yang jejak hidupnya tidak akan mulus seperti apa yang di ekspetasikan. Berharap indah seperti birunya air laut yang tenang? Namun siapa sangka gelombang-gelombang tinggi sudah menghadang dan siap menerjang. Ini karena Antum membukanya, jadi saya izin menasehati, ya?"
"MashaAllah iya, Kyai. Saya malah justru berterimakasih–" Akhri mengangguk semangat sembari tersenyum.
__ADS_1
"Intinya kita harus selalu ingat. Bahwa sekarang kita itu hidup pada satu zaman yang tidak paham makna inti dari sebuah pernikahan. Yang mereka bahkan kita sendiri membayangkan pernikahan itu adalah madu manis yang senantiasa memuaskan dahaga kita, padahal untuk mendapatkan madu yang manis itu nggak mudah. Sudah pasti kita akan berhadapan dengan amukan para lebah. Dari situ seharusnya kita menyadari, segala sesuatu di dunia ini tidak akan lepas dari kesulitan lebih dulu sebelum mendapatkan kebaikannya."
"MashaAllah, iya Kyai. Saya kadang kurang sabar dalam menghadapi persoalan-persoalan rumah tangga." Akhri semakin menikmati obrolan pribadi ini. Karena mereka duduk di sudut yang hanya ada dua orang itu.
"Nah... sebelum berbicara masalah sabar, Tadz. Tanyakan pada diri sendiri, sudahkah kita memposisikan Allah paling utama dalam apapun aktifitas yang kita lakukan?"
"Astagfirullah al'azim..." gumam Akhri merasa tertohok. "Sepertinya saya lebih banyak menggunakan ego Saya."
"Nah... perlu di ingat, Antum pasti paham mukadimahnya sebuah pernikahan yaitu menyadari satu hal? sejatinya kita kan memang berbeda dengan pasangan kita. Kita sebagai laki-laki akan lebih condong dengan logika ketimbang memakai perasaan. Berbeda dengan pasangan kita sebagai wanita yang lebih mengedepankan perasaannya daripada logikanya. Itu sebab awal, kenapa perempuan lebih merasa cepat jengkel, cepat kecewa terhadap kita sebagai suaminya. Sebab tak merasakan ekspetasi pernikahan yang indah. Sementara laki-laki juga jadi merasa kecewa ketika kehidupannya jadi jauh lebih terkekang semenjak menikah. Dari situlah timbul bibit-bibit masalah yang sejatinya sepele namun menjadi besar. Karena apa? Mereka tidak menempatkan Allah di awal barulah cinta."
"Astagfirullah al'azim..." gumam Akhri merasa apa yang Ustadz Irsyad bilang itu benar-benar menusuk nuraninya, membuka kesadarannya juga.
"Lagi, dampak ketika kita tidak menempatkan Allah sebagai tujuan adanya pernikahan itu? Adalah lemahnya pondasi pernikahan. Karena keduanya akan saling menunjuk kesalahan masing-masing pasangannya, dan membenarkan apa yang ada pada pemikiran kita sendiri. Timbullah rasa tak mau kalah. Yang laki-laki merasa ingin di hormati, sementara perempuan inginnya di hargai. Padahal makna ikhlas karena Allah dalam menjalani pernikahan itu bukan tergantung siapa yang kalah dan siapa pemenangnya. Melainkan siapa yang dirinya paling dominan meminta maaf lantas berusaha memperbaiki diri tanpa menuntut balasan baik dari pasangan."
"Allah..." gumam Akhri semakin merasa tertohok. Karena memang selama ini yang ia lihat dari Nia adalah kesalahan dan kesalahannya saja. Tanpa berpikir bahwa dirinya juga sudah banyak melakukan kesalahan pada Nia.
"Kita itu bodoh, apa yang kita lihat dari pasangan kita itu terbatas, dan begitu pula sebaliknya. Makanya, berikanlah keikhlasan di setiap hubungan berumah tangga, walaupun kasarannya kalau boleh nampar pasangan, nih tangan sepertinya sudah ringan sekali saking tidak bisa menahannya apabila sedang berada pada posisi yang sedang panas-panasnya. Tapi bukan seperti itu Islam mendidik kita sebagai penganutnya. Melainkan diam, dan berusahalah untuk berprasangka baik. Karena apa yang kita lihat buruk belum tentu buruk bagi Allah untuk kita. Sabar... memang tidak ada batasannya. Berharaplah mendapatkan kebaikan dari kesabaran itu."
"MashaAllah, Kyai. Hari baik, saya mendapatkan ilmu. Barakallahu Fiik... Jazakumullah Khairan." Akhri meraih tangan Ustadz Irsyad lalu mencium punggung tangannya berkali-kali.
"MashaAllah... Sama-sama Ustadz." Beliau menepuk pundak Akhri seraya terkekeh lalu melirik kearah pintu saat seorang asisten beliau mengetuk ruangan tersebut. "Afwan, saya harus pulang ini. Sore nanti langsung balik soalnya."
"Buru-buru sekali, Kyai. Jujur saya masih betah ini." Akhri terkekeh, keduanya beranjak dan berjalan pelan beriringan.
"Besok ada acara di pondok. Jadi harus segera kembali."
"Begitu ya? Jadi kapan saja Kyai ada di Jakarta. Kali saja saya hendak berkunjung sembari menambahkan ilmu."
"Hahaha, saya datang setiap dua bulan sekali. mengunapnya gantian kadang di rumah anak pertama setelahnya di rumah anak yang nomor dua."
"MashaAllah, akan saya catat jadwalnya ini. supaya bisa ketemu."
__ADS_1
"Gampang, kita calling-callingan saja..." jawabnya seraya tertawa begitu pula dengan Akhri. Mereka pun berjabat tangan lagi, lalu saling memeluk sebelum mengucap salam dan berpisah.