
Di sebuah kebun yang di penuhi banyak pohon kurma. Bilal memetik salah satunya.
Tenang saja seluruh pengunjung kebun di persilahkan memetik buah di sana sesuai arahan sang pemandu wisata.
Asal tidak merusak, mereka para turis di perbolehkan mencicip kurma di sana.
Bilal mengucapkan doa, cukup panjang lantas menoleh kearah Maryam. Menyibak sedikit sebelum memasukkan tangannya kedalam cadar. Namun Merr menahannya.
"Ini kan belum matang, A'..."
"Nggak papa, cobain deh."
"Aku udah pernah coba yang kaya gini, tapi kayanya yang ini lebih sepat rasanya."
"Tapi lebih segar... cobain dulu. Ucap bismillah sebelum memakannya," ucapnya, Merr pun mengangguk. Ia mengucap bismillah lalu menggigit sedikit kurma tersebut. "Bagaimana rasanya?"
"Rasanya tidak terlalu manis dan emang masih ada sedikit sepat seperti buah sawo yang baru di petik dan belum matang sempurna. Tapi lumayan sih..." katanya sembari mengunyah.
"Ini namanya kurma Ruthob sayang, kurma yang masih muda. Dipercaya bisa meningkatkan kesuburan bagi wanita."
"Oh ya?" Merr menatap buah-buah kurma yang bergelantungan banyak sekali.
"Bismillahirrahmanirrahim, Wa huzzi ilaiki bijiz'in-nakhlati tusaqit 'alaiki rutaban janiyya." Bilal membacakan satu ayat yang membuat Merr kembali menoleh kepadanya.
"kalau nggak salah, itu ada di surat Maryam, ya?"
"MashaAllah... iya, sayang. Ini ayat ke 25 di surat Maryam. Yang artinya Allah SWT memerintahkan ibunda Maryam melalui malaikat Jibril agar ibunda Maryam menggoyangkan pangkal pohon kurma itu ke arahnya, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang belum terlalu masak kepadanya. Bisa di bayangkan pada saat itu ibunda Maryam baru saja melahirkan Nabi Isa as."
"MashaAllah... pasti lagi lemas-lemasnya. Nggak bisa membayangkan mengguncangkan pohon sebesar ini di saat baru saja melahirkan, apalagi berusaha menjatuhkan buah yang masih belum masak, apakah ada yang jatuh?"
__ADS_1
"Tetap ada, kan kuasa Allah..." jawab Bilal.
"MashaAllah, iya juga... ya? Memangnya fungsinya apa? Apakah hanya untuk menahan lapar sehabis melahirkan?" Tanya Maryam.
"Bukan hanya itu justru buah kurma yang belum terlalu masak itu bagus untuk wanita yang sedang nifas. Dan itu atas petunjuk Allah SWT langsung. Lalu Menurut Alif Kurma, ternyata kurma ruthob mengandung hormon biostin yang akan membantu agar tidak terjadi pendarahan pada rahim saat proses melahirkan. Baik juga untuk produksi ASI bagi ibu menyusui dan pertumbuhan anak," jelas Bilal panjang, lebar. Bahkan mengalahkan penjelasan sang tour guide di sisi lain. Karena mereka berdua memilih memisahkan diri dari rombongan walaupun tidak begitu jauh.
"Allahu Akbar..." Merr menyentuh buah itu, semakin takjub dengan kuasa Allah. "Benar-benar, Allah SWT itu memberikan banyak kebaikan di sekeliling kita."
"Iya sayang, makanya banyak-banyaklah tadabbur Al Quran agar lebih banyak kebaikan Allah yang kita ketahui. Sehingga membuat kita bersyukur karena Allah memelihara kita, menjaga kita, bahkan dari hal paling sepele sekali pun Allah SWT memperhatikannya untuk kita."
"Subhanallah, walhamdulillah, lailahailallah, Allahu Akbar..." Merr bergumam penuh haru dan takjub dengan buah-buah kurma yang selama ini ia sempat berpikir biasa saja, bahkan tak terlalu suka memakannya karena tekstur yang terlalu lembek dan rasa yang amat manis.
"Ini makan lagi... buah kurma itu kaya akan berbagai mineral penting yang baik untuk meningkatkan kesuburan pada wanita. A'a akan bawa banyak nanti pulangnya. Karena manyantap 7 butir setiap pagi dan dibarengi dengan 1 sendok makan madu organik, katanya bisa meningkatkan kesuburan secara signifikan. Jadi kita harus ikhtiar terus...."
Merr mengangguk cepat bersamaan dengan matanya yang semakin menyipit karena senyum. Ia pula meraih tangan Bilal lalu memasukkannya lagi kedalam cadar, memakan itu hingga tersisa bijinya.
"Pelan-pelan, ini masih banyak." Bilal terkekeh karena bibir Maryam mencium jari-jarinya membuat Bilal merasa geli sekaligus gemas. "Kesayangan..." gumamnya sembari mengusap kepala sang istri dengan tangan satunya.
"Modus–" jawab Bilal yang langsung tertawa sembari mencubit pipinya yang membuat Merr juga turut tertawa. Karena suaminya langsung memetik buah itu lagi lalu berdoa untuk sang istri sebelum memakan kurma muda tersebut. "Bilang aja pengen disuapin kaya gini terus."
"Iya dong... tapi A'a suka kan ngelakuinnya."
"Emang bisaan sekarang, ya? padahal mah kamu yang seneng kalau A'a yang suapin."
"Loh beneran, seperti yang aku selalu bilang. Apapun yang A'a lakukan akan menjadi lebih enak dan bagus. Contohnya saat beberes."
"Apa hubungannya nyuapin sama beres-beres?"
"Ya ada lah, itu contoh lain A'... jadi A'a tuh sebenernya lebih bersih dan rapi ketimbang aku. Pada saat beres-beres."
__ADS_1
"Hemmmz..." Bilal memajukan sedikit bawah bibirnya, mencibir. Setelah itu memalingkan wajahnya.
"Beneran A'..." Merr tertawa gemas. Bilal sendiri kembali menoleh kearah istrinya.
"Pantesan waktu sebelum berangkat tuh, A'a minta buat beresin koper tak kunjung di kerjain. Rupanya menunggu A'a yang beresin?"
Merr kembali tertawa ketika Bilal mencubit hidungnya. "Yang penting aku sudah menyetrika. Kerja sama yang baik, 'kan?"
Bilal menghela nafas kalah, lalu geleng-geleng kepala, membuat Maryam kembali tergelak.
"Untung gemesin..." gumamnya lirih.
"Apa? Yang kenceng dong ngomongnya, aku nggak dengar," ledek Maryam yang sebenarnya mendengar itu.
"Nggak ada pengulangan kata!" Bilal memegangi tangan Merr di lengannya lalu membawanya ke tempat lain tanpa peduli godaan manja istrinya sembari tertawa.
.
.
Hari-hari terakhir di Madinah...
Setelah selesai melakukan serangkaian Umroh, kini tinggal menyelesaikan salah satu rukun umroh terakhir yaitu Tahallul.
Yang apabila seorang jama'ah umrah telah melaksanakan seluruh rangkaian wajib umrah, kemudian mengakhirinya dengan memotong rambut, maka gugurlah larangan semasa ibadah umrah.
Tahallul dalam umrah adalah mencukur rambut. Dalam umrah, tahallul hanya dilakukan sekali saja.
Bilal sendiri memilih untuk menipiskan rambutnya tanpa membotaki habis hingga licin.
__ADS_1
Setelah itu kembali menutup kepalanya dengan peci sebelum kembali ke hotel tempat mereka menginap.