Cinta Berselindung Risau

Cinta Berselindung Risau
permintaan maaf Kania


__ADS_3

Hari-hari berganti lagi...


Sudah hampir sepekan A'a di Riau. Beliau mengadakan tiga acara di kota yang berbeda-beda. Jadwal yang semakin padat, membuat kebersamaan antara keduanya semakin jarang. Namun, kemesraan tetap tercipta walaupun hanya via telpon.


"Besok pergi jam berapa?" Tanya A'a di seberang. Setelah Maryam meminta izin untuk pergi bersama Arshila dan anaknya ke salah satu taman hiburan.


"Jam delapan, tapi jam dua inshaAllah sudah pulang kok. Di usahakan sebelum A'a sampai rumah aku sudah kembali."


"Baiklah, hati-hati ya. Jangan terlalu lelah. Besoknya kan kita mau jalan-jalan ke Cibodas."


"Iya A'..." jawab Merr. Mereka masih mengobrol hingga jarum jam menunjukkan pukul sebelas malam. Tak lama A'a berpamitan meminta sang istri untuk tidur karena Beliau pun harus segera tidur demi menyegarkan tubuh untuk agenda besok.


***


Esok paginya, Merr berpamitan pada sang ibu mertuanya setelah itu mengambil start dengan membawa mobilnya sendiri menuju kawasan tempat tinggal Arshila. Walaupun lebih jauh namun tidak masalah, itu sebabnya ia mengambil waktu pukul tujuh agar tidak terlalu siang sampai sana.


Sesampainya di lokasi...


"Udah ramai ya, ternyata?" Arshila menengadahkan tangannya di atas alis menghadap bawah. Menghindari sengatan matahari yang menyilaukan.


"Maklumlah hari libur," kata Merr.


"Iya nih."


"Bagaimana Daffa? Masuk sekarang?" Tanya Maryam bersemangat. Anak itu pun mengangguk girang. "Okay, let's go..."


"Let's goooo–" Daffa mengikuti sembari menarik tangan Tante Maryam dan ibunya yang seketika langsung mengikuti sembari tertawa.


Di dalam taman hiburan itu mereka seru-seruan dengan menaiki beberapa wahana yang aman untuk anak-anak. Nampak aktifnya Daffa yang berlarian kesana kemari membuat Arshila dan Merr cukup kewalahan mengejarnya.


Setelah puas bermain, tiba saatnya beristirahat untuk makan siang sebelum masuk waktu shalat Dzuhur. Mereka mengunjungi salah satu kedai food court siap saji disana. Menyantap ayam goreng tepung favorit bocah laki-laki tersebut.


"Ummi, yang banyak saus tomatnya," kata Dia bernada sedikit cempreng khas anak-anak.


"Jangan banyak-banyak, habis kan dulu aja yang ada. Nanti gampang nambah..."


"Hiiissssh mau lagi, yang banyak!" Pintanya bersikeras.


"Hadeeehhh... dasar anak Abi Dayat!" cibir Arshila membuat Maryam tertawa. Ia menyedot minuman bersoda dalam cupnya setelah itu teringat sesuatu.


"Shil, gimana kabar Kania?" Tanya Maryam. Shila pun terdiam sejenak, mengambil air lalu meminumnya.


"Semakin memburuk. Dia bahkan baru menjalani operasi pengangkatan p*yud*ra keduanya kemarin," jawabnya setelah menyedot minuman berkarbonasi miliknya.


"Innalilah..."


"Kalau kamu tahu kondisinya sekarang seperti apa? Kamu akan jauh lebih kasihan melihatnya..."

__ADS_1


"Ya Allah, Kania."


"Oh iya, kemarin saat aku menjenguknya. Dia ada tanya-tanya tentang kamu tuh."


"Tanya-tanya apa?"


"Tentang kabar kamu," jawab Shila sembari sesekali menyuapkan nasi ke dalam mulutnya sendiri. "Dia sempat bilang ingin bertemu denganmu, Merr."


"Bertemu denganku?" tanya Maryam tak percaya. Arshila lantas mengangguk.


"Dia ingin sekali, bertemu denganmu. Tujuannya apa, aku nggak tahu. Tapi Dia udah banyak berubah, mimik wajahnya sudah tidak judes kaya pas sebelum sakit."


Maryam termenung, jujur saja ia sangat ingin mengunjungi Nia. Namun di rumah sakit itu pasti ada Ustadz Akhri. Kalau sama A'a tidak masalah, tapi kalau sendirian apakah tidak akan menjadi masalah nantinya.


"Apakah Nia masih di rumah sakit?"


"Masih di RSCM. Habis ini niatnya aku mau langsung jenguk Dia lagi. Ummiku juga ada di sana, makannya nanti tuh pulangnya aku mau minta di turunin di stasiun MRT."


"Pulangnya kerumah nanti bagaimana?"


"Di jemput, Bang Dayat. Beliau pulang cepat nanti."


Merr berpikir sejenak– sebaiknya aku antar Arshila saja. Sekalian nengok Nia, cuma sebentar A'a pasti mengerti.


"Shilla, aku ikut aja ya. Sekalian ngaterin kamu terus jenguk Nia."


"Boleh, tapi kalau bisa kamu izin dulu sama suami kamu." Arshila mengusulkan yang di balas dengan anggukan kepala oleh Maryam.


Keduanya sampai di pelataran rumah sakit, Merr kembali menghubungi suaminya namun tidak di angkat. Mungkin Bilal masih sibuk atau mungkin di jam satu siang ini beliau sedang berada di atas panggung dengan tim rebananya.


"Udah Merr?" Tanya Arshila sembari memegangi lengan anak semata wayangnya agar tidak langsung berlarian.


Merr kembali memasukkan ponselnya kedalam tas lalu mengangguk.


Nanti saja aku kabarin A'a... –Batinnya. Mereka lantas berjalan bersisian memasuki kawasan rumah sakit.


Karena anak-anak di larang masuk ruang rawat, Daffa di titipkan kepada ibu Karimah yang kebetulan sedang ada di sana menemani Nia, sebab Akhri sedang ada urusan sebentar di luar.


Selama berjalan melewati lorong rumah sakit, hati Maryam dilingkupi kekhawatiran. Antara dirinya yang belum izin dengan suaminya, di tambah respon Nia nanti saat melihat dia. Apakah Nia akan menerima kehadirannya, atau tidak?


Tok.. tok...


Arshila mengetuk pintu kamar tersebut lalu membukanya. Karena di kamar itu hanya ada Kania sendirian semenjak Bu Karimah keluar menghampiri mereka berdua di lobby rumah sakit.


"Assalamualaikum–" Arshila masuk lebih dulu di susul Maryam. "Kania– kamu tidur?"


Wanita itu membuka matanya perlahan. "Walaikumsalam, aku hanya tutup mata," jawabnya. Sesaat dia terdiam saat melihat Maryam yang juga ada di sana. "Cece?"

__ADS_1


Maryam tersenyum, "Assalamualaikum, Nia?"


Bibir Nia bergetar, netranya bergerak-gerak hingga timbul genangan yang mengaburkan pandangannya. Perlahan tangannya terangkat meminta Maryam untuk mendekatinya. Dengan cepat wanita itu menghampiri lebih dekat di mana tangan Maryam langsung digenggamnya.


"Aku senang, bertemu Cece. Aku bersyukur, masih bisa bertemu Ce Maryam." Genangan di salah satu matanya meluap, keluar begitu saja dan mengalir ke pipi. Maryam sendiri tak bisa menahan kesedihannya. Wanita yang dulunya segar dan cantik, kini terlihat kurus dan pucat.


"Maaf, aku baru menjenguk kamu," ucap Maryam mengusap lembut punggung tangan Nia yang tengah menggenggam satu tangannya.


"Nggak papa... aku senang sekaligus malu bertemu dengan Cece dengan kondisi buruk seperti ini." Kembali Nia menitikkan air matanya.


"Malu untuk apa?"


"Karena aku mendapatkan hukumanku... aku kan sering berlaku buruk sama Cece dulu. Aku rebut kebahagiaan Cece, jadi sekarang?"


"Sssssstt... jangan ngomong gitu, Nia."


"Hiks... aku di bayang-bayangi oleh dosa Ce. Pikiranku tertuju pada Cece terus. Aku takut mati dan belum sempat meminta maaf padamu, sangat takut, Ce..."


Bersamaan dengan itu, Akhri datang namun beliau tidak masuk hanya berdiri di dekat pintu yang sedikit terbuka karena mereka tak menutupnya rapat saat masuk sehingga percakapan di dalam terdengar.


"Kamu akan sembuh, jangan bilang seperti itu."


"Jangan menghibur lagi, aku sudah pasrah dengan kondisiku sekarang. Yang ku mau adalah meminta maaf pada mu, apakah Cece memaafkan aku? Dengan segala sifat ku?? Atau mungkin Cece mau membalas cacian ku, dulu?" Isaknya semakin erat menggenggam tangan Maryam.


Merr menggeleng, "aku tidak akan mungkin membalas itu, aku sudah lama melupakan semuanya."


"Yakinkah? Nggak ada sedikitpun yang mengganjal? Aku sudah merebut kebahagiaan Cece, aku sudah menyingkirkan Cece dari sisi Bang Akhri. Tidakkah ada dendam pada diri Cece? Katakan saja, luapkan semuanya padaku. Aku akan menerima itu, bahkan jika Cece mau aku berlutut, aku akan melakukannya. Karena aku sudah serakah menginginkan cinta Bang Akhri sendirian tanpa memikirkan Cece yang sebenarnya punya hak yang sama dulu." Tangis Nia semakin pecah akibat penyesalannya itu.


"Astagfirullah Nggak Nia. Kamu perlu tahu aku tidak pernah sekalipun berpikir buruk tentangmu. Bahkan selepas aku berpisah dengan Bang Akhri." Maryam memeluk Kania... "Percayalah, tak pernah sedikitpun aku menyimpan dendam padamu. Sakit hati mungkin iya karena aku juga manusia biasa, tapi aku sudah melupakan itu semua seiring kebahagiaan baru yang ku dapatkan dari suamiku yang sekarang. Wallahi Nia, aku tidak pernah merasa kau telah merebut Bang Akhri dari ku. Aku hanya berpikir menyerah karena aku memang bukan wanita yang sempurna seperti dirimu."


Akhri menunduk lesu, tangannya mengusap pelan kedua matanya yang basah.


"Hiks... pada kenyataannya sekarang aku jauh lebih tidak sempurna dari pada Ce Maryam. Apakah aku juga harus menyerah dari Bang Akhri?"


Maryam menggeleng cepat. "Untuk dirimu tentunya enggak! Kamu nggak perlu menyerah karena kamu sudah memberikan hak Bang Akhri, ketiga anak kalian? Itu pasti sudah cukup untuk Beliau."


Akhri kembali menghela nafas, Beliau pun memilih untuk menjauhi pintu itu dan berhenti mendengarkan percakapan di dalam.


"Tetaplah optimis untuk kesembuhanmu, ya..." Merr melepaskan pelukannya lalu mengusap air mata Kania.


"Aku tidak mungkin bisa sembuh, Ce. Aku sudah pasrah," jawabnya serak berusaha tersenyum


"Yakinlah dengan Kuasa Allah SWT. Kamu pasti sembuh!"


"Kalaupun sembuh juga percuma. Aku sudah tak memiliki sepasang hal yang berharga bagi seorang wanita."


"Kamu tetap cantik, kok. Aku yakin Bang Akhri akan senantiasa mencintaimu dengan tulus."

__ADS_1


"Hiks..." Nia tak bisa lagi menjawab, selain menangis sesenggukan sembari meminta maaf terus menerus.


# catatan: Terkadang kita menyayangkan sikap kita yang senantiasa mengalah dan menjadikan itu adalah satu kelemahan sehingga mudah orang-orang mengalahkan serta menginjak-injak harga diri kita. Tapi di sini kita harus sadar, untuk menjadi menang bukan berarti harus melawan kemungkaran dengan perbuatan yang lebih jahat lagi. Melindungi diri memang boleh, atau mungkin membalas dengan yang minimal sama. Namun hal yang lebih indah adalah ketika memilih diam. Maka Allah sendirilah yang menunjukkan kuasa-Nya... membukakan pintu hati orang itu dengan cara-Nya.


__ADS_2