Cinta Berselindung Risau

Cinta Berselindung Risau
tertikam fakta 2


__ADS_3

Bang Akhri keluar seraya tersenyum. Lalu berjalan mendekatinya, duduk di sebelah sang istri.


Tatapan itu semakin asing, atau mungkin karena tidak hanya untukku. Jadi aku merasa Abang sudah sedikit berbeda.


Maryam selalu berusaha menepis segala pikiran buruk yang kerap hadir dalam benaknya. Tapi, seolah selalu kalah dengan fakta yang ada. Karena memang, Bang Akhri kian berubah seiring bertambahnya usia pernikahan Beliau dengan Kania.


Ya Allah, aku berlindung dari segala prasangka buruk terhadapnya. –segera Maryam memperbaiki. Berharap memang benar, semua itu hanya perasaannya saja yang mulai lelah.


"MashaAllah– istri Abang memang selalu cantik, dan tidak pernah memudarkan senyumnya," puji Akhri sebelum mengecup kening wanita yang sedang menggigit ujung bibirnya menahan sesak dan tangis yang seolah tidak bisa di tampungnya lebih lama.


Apakah Abang tahu? senyuman ku ini mengandung kesedihan. (Maryam)


"Abang, bagaimana kabar Hussein?" Merry mencoba untuk menanyakan lebih dulu keadaan anak suaminya itu dari Nia.


"Baik– Alhamdulillah. kenapa? Kamu kangen, Dia?" Mengusap lembut pipinya.


"Sangat–" masih berusaha tersenyum, namun suaranya tak bisa berbohong. Serta hidung yang memerah membuat Akhri terdiam sejenak. Lalu mengusap ekor mata sang istri.


"Dik, kamu habis nangis, ya?"


"Nggak, Bang." Maryam menjawab tidak, namun bulir bening yang menetes dari netranya lolos begitu saja, seolah memberitahukan yang sebenarnya.


"Ya Allah. Istri Abang nangis, kenapa?"


Aku ingin menjawab karena ulah istri keduamu. Namun aku tidak ingin Abang murka terhadapnya.


Maryam ingat betul, Akhri pernah marah pada Nia ketika ketahuan menegur Maryam dengan kata sedikit memaki. Ketika tempo hari memberikan camilan khusus anak enam bulan keatas. Bagi Nia, Maryam salah karena memberikan camilan sebelum anaknya makan makanan intinya yang sedang di siapkan Nia.


Wanita itu terkekeh, ia menggeleng lalu menyentuh pipi suaminya, dan mengecup di pipi yang sebelahnya.


"Dik ... bilang sama Abang, kamu kenapa?"


"Nggak papa. Tadi Merr itu cuma baca novel yang isinya sedih, gitu. Jadi nangis..." Terkekeh lirih.


"Ya Allah, kirain kenapa?" Mengusap kepalanya. Maryam langsung memeluk erat lingkar pinggang suaminya.


"Kangen–" gumamnya bernada manja, membuat Akhri tertawa gemas.


"Manjanya istriku, ini..."


"tidak salah kan? Kalau ingin bermanja-manja sama suami ku sendiri? Terlebih ini sudah satu Minggu, Merr tidak bertemu–" serasa ada yang mengganjal di kerongkongannya. "Abang–" beratnya ucapan itu membuat, kata Abang ia ucapakan amat lirih kemudian.


Akhri pun memeluknya erat, seperti rasa bersalah kembali muncul. Berkali-kali ia mengecup kening sang istri.

__ADS_1


"Maaf ya, maafkan Abang. Abang kurang adil membagi waktu untuk mu. Maaf sayang."


"Abang–" Maryam melepaskan pelukannya, ia menggeleng. "Bukan begitu maksudnya, Merr tidak bermaksud menyinggung hal ini."


"Tapi pada kenyataannya itu benar."


Maryam tersenyum. "Itu wajar, karena Hussein lebih membutuhkan waktu Abinya, ketimbang Ummi Maryam yang tidak memiliki sesuatu wajib untuk di prioritaskan."


Akhri tertohok. "Kamu jangan berbicara begitu. Tetap kamu memiliki hak yang sama, untuk Abang prioritaskan."


Benarkah demikian? Ku rasa tidak, Bang.


Maryam tak menjawab. Selain tatapannya yang mengandung kerinduan, serta perasaan tak ikhlas nya untuk membiarkan sang suami pergi dari rumah ini.


Aku ingin egois, aku ingin murka padanya. Ingin menentang pula keinginan Nia. Tapi?


Maryam menunduk... Akhri yang merasa bersalah kembali mengangkat wajahnya, lalu mendekati bibir ranum istri pertamanya itu. Menyatukan sembari merebahkan tubuhnya.


Aku ingin di sentuh seperti ini setiap hari, olehnya. Aku ingin Dia hanya melakukan ini padaku...


Maryam memejamkan matanya, menikmati sentuhan lembut sang suami.


Aku ingin tidur di atas ranjang ini bersamanya setiap malam seperti dulu... Walaupun sendiri sesekali, tak masalah. Asalkan perginya, Dia? Hanya karena pekerjaan berdakwah. Bukan karena bersama istri yang lain.


Semakin dalam sentuhan itu terasa. Membuat Maryam ingin menangis tersedu-sedu.


Maryam mendorong dadanya, melepaskan kecupan Akhri yang sudah pindah kebagian dekat telinganya.


"Bang?"


"Hemmm..."


"Setelah ini, Abang pulang ya. Ke rumah Nia," pinta Maryam dengan berat, manakala sang suami kini sedang memberikannya sentuhan lagi diarea lehernya. Beliau pun mengangkat kepalanya, memandangi sang istri.


"Abang kan lagi sama kamu, kenapa malah nyuruh Abang pulang ke rumah Nia?"


Maryam tersenyum, lalu meraih wajah suaminya mendekatkan lagi. Ia tidak jadi bicara, biarlah ia layani hasrat sang suami lebih dulu hingga selesai. Barulah dia akan menyuruhnya pulang.


Seolah ingin waktu berhenti berputar, Maryam merasakan kenyamanan yang amat menyesakkan dada. Ia tidak ingin kemesraan ini cepat berakhir, tidak ingin Akhri pulang kerumah Nia.


Hingga sampai beberapa menit berlalu, Akhri memberikan kecupan di kening sang istri. Saat sampai pada puncak kenikmatan dalam hubungan mereka.


"Bang?"

__ADS_1


"Ya?" Membelai lembut, rambut di bagian kening Maryam.


"Jujur saja, sebenarnya tadi Nia telfon aku."


Kening Akhri berkerut. "Nia, telfon?"


"Iya, Dia bilang Hussein rewel terus."


"Astagfirullah al'azim." Bang Akhri beranjak duduk. Nia benar-benar tidak kehabisan akal. Sengaja ku matikan ponselku. Dia malah menghubungi Maryam. (Akhri)


"Itu kenapa tadi Merr, minta Abang langsung pulang kerumah Nia setelah ini. Khawatir kalau Husein ternyata sakit," tuturnya amat berat.


Akhri menoleh kebelakang, dilihat sang istri masih tertahan dengan posisinya. Rebahkan di kasur. Dengan tubuh tertutup kain selimut.


"Tapi, masa Abang harus meninggalkan mu? Kita kan baru bertemu."


Maryam tersenyum kecut. "Nggak papa, Husein lebih membutuhkan kehadiran Abinya."


Akhri mengusap wajahnya, ia merasa bingung. Di sisi lain beliau khawatir dengan Hussein. Namun disisi lain juga, ia tak tega meninggalkan Maryam yang baru saja ia gauli.


Maryam, beranjak meraih kain handuk yang teronggok di lantai. Lalu menyerahkannya pada Akhir.


"Abang mandi lagi saja. Habis itu, baru pulang ya. Lagi pula hujan sudah mulai reda."


Perlahan tangan itu meraihnya, Akhri menatap dengan sendu.


"Kamu bagaimana? Masa Abang langsung ninggalin kamu."


"Nggak papa, buruan mandi sana. Kasian loh Nia. Pasti sudah menunggu Abang lama."


"Ya Allah, Dik– dengan cara apa Abang menebus segala luka yang pasti tengah kamu tahan saat ini?"


Maryam terkekeh sesak.


"Abang ngomong apa sih, sana– mandi."


Perlahan Akhri pun turun dari ranjang itu, lalu menutupi area pinggang hingga ke lutut dengan handuknya, setelah itu berjalan menuju kamar mandi.


Maryam yang kembali lemas, dengan perlahan meraih piyama handuk untuk menutupi tubuhnya.


Mengusap air matanya sesekali, sembari menguatkan tali di pinggangnya.


Duduk memandangi hujan yang sudah mulai mereda di luar.

__ADS_1


Tahu dirilah Maryam... Jadilah wanita yang tahu diri, jangan egois. –menyeka lembut air matanya, lagi.


Sampai kapan semua ini Dia terima? Sampai kapan ketidakadilan ini ia rasakan. Maryam menghela nafas panjang, lalu menghembusnya sedikit kasar. Geram pada Nia, geram pada Akhri, namun lebih geram lagi pada dirinya sendiri yang bodoh dan mau saja mengalah.


__ADS_2