
Hampir satu bulan berlalu... Kania masih tinggal satu atap dengan Maryam. Mungkin ini amat sulit bagi Maryam. Belum lagi melihat sikap yang semakin manjanya Kania pada Akhri. Membuat Dia kadang merasa tidak tahan, terlalu lama berada satu rumah dengan madunya itu.
"Dik, sudah baik-baik saja, kan?" Tanya Akhri sembari memegangi kening Kania. Wanita itu terbaring, tidak enak badan sejak kemarin pagi.
"Masih agak pusing, Bang."
"Ya udah keluar dulu kita makan, ya. Cece udah nunggu di meja makan."
"Aku lagi nggak doyan makan," rengeknya.
"Tetep harus makan ... walaupun sedikit, ya."
Kania menggeleng. Tangannya menggenggam kuat lengan sang suami.
"Ya sudah, Abang keluar dulu. Nanti kesini lagi ambil makanan untuk kamu."
"Abang ikut makan disini sekalian, ya?" pintanya manja.
"Dik, Abang harus temenin Cece makan."
"Tapi kan aku lagi sakit. Abang harus lebih banyak menemaniku." Kania menarik lengan Akhri hingga condong lebih dekat. Setelah itu melingkari leher sang suami.
"Nia, jangan gini. Nggak enak sama Cece, pintunya belum Abang tutup." Akhri yang merasa tak nyaman berusaha melepaskan pelukannya.
"Abang cuma sayang sama Cece."
"Kan, bahasnya gitu lagi?"
"Ya habis, Abang selalu khawatir di lihat Cece kalau kita lagi bermesraan. Tapi tidak khawatir, ketika bercanda sama Cece di depanku?"
"Astagfirullah al'azim. Dik, sudah sering Abang bilang. Untuk nggak ngomong begini, kan?"
"Ya habis Abang gitu sama Nia. Cuma di giniin aja udah risih. Pasti kalau yang kaya gini Cece ke Abang, enggak deh."
"Enggak sayang, Abang itu nggak risih. Cuma nggak enak aja, pintunya belum di tutup."
"Nggak papa, Cece kan di ruang makan. Nggak akan liat."
"Ya udah lepas dulu, Abang tutup dulu pintunya."
"Cium dulu."
"Dik–"
"Aaaa, cium dulu."
"Ya ampun, nanti kalau ada Cece gimana? Lepas dulu."
"Nggak mau, cium dulu!!"
"Astagfirullah al'azim." Akhri menghela nafas. Benar kata Hamid, Nia memang masih suka bertingkah kekanak-kanakan.
Di sisi lain, Maryam sudah terlalu lama nunggu suami dan madunya. Ia bahkan sudah menghabiskan dua gelas air mineral.
"Apa Nia benar-benar masih sakit, ya? Tapi kemarin sore demamnya, 'kan udah turun." Maryam penasaran, sekaligus khawatir. Ia pun beranjak dan berniat menghampiri mereka di kamarnya.
__ADS_1
Sampai di kamar Nia, Maryam menghentikan langkahnya. Tubuhnya membeku di depan pintu yang terbuka lebar. Melihat Akhri sedang bersentuhan bibir dengan Kania.
Ya Allah, Suamiku...
Maryam memalingkan wajahnya. Setelah itu menarik gagang pintunya menutup pintu itu walau tak terlalu rapat. Agar tak menimbulkan suara saja. Perlahan ia meninggalkan kamar mereka. Dengan air mata yang sudah menggenang di sudut matanya.
Kembali ia ke dapur, duduk dengan lemas. Ingatan itu kembali terbesit, membuat Maryam merasa gerah sendiri.
Aku tidak tahu, apakah aku telah salah melakukan ini?
Aku tidak bisa melihat, kemesraan ini lebih lama.
Tidak sekali dua kali, ia tak sengaja melihat kemesraan Kania dengan Akhri. Namun untuk yang saat ini, benar-benar membuatnya tidak tahan.
Abang tidak mungkin sengaja melakukan itu dengan pintu terbuka. Aku tahu Abang pasti lupa belum menutup pintu kamar Nia.
Terdengar suara langkah kaki mendekati dapur yang tersambung dengan ruang makan. Maryam segera menghapus air matanya, lalu tersenyum.
"Dik, maaf Abang lama ya?"
"Nggak papa, Nia gimana? Sudah mendingan, kan?" Maryam berdiri, tangannya sedikit gemetaran mengambil gelas yang tertelungkup di atas nampan. Setelah itu menuangkan air mineral kedalamannya.
"Sudah mendingan, sih. Tapi katanya masih agak pusing."
"Coba bawa ke dokter aja, Bang." Maryam menyerahkan gelas berisi air kepada suaminya. Akhri pun menerimanya, mengucap bismillah lalu meneguknya.
"Niatnya nanti mau Abang bawa ke klinik," jawab beliau setelah minum.
Maryam manggut-manggut. Ia membuka piring di hadapan Akhri. Masih dengan tangan yang gemetaran. Akibat mengingat apa yang ia lihat tadi ... membuatnya tidak sanggup melayani sang suami dengan maksimal.
Akhri menahan tangan sang istri. Setelah itu menggeser kursinya lebih mendekat.
"Kamu kenapa?"
"Kenapa? Apanya?" Maryam tertawa, namun suaranya serak.
Akhri tak menjawab selain mengusap mata sang istri.
Aku sempat khawatir tadi itu Maryam yang menutup pintu kamarnya. Jangan-jangan memang iya.
"Abang mau tanya. Merr tadi ke kamar Nia, nggak?"
"Emmmm?"
"Jawab saja, nggak papa."
"Aku, tadi nggak sengaja lewat."
"Astagfirullah al'azim." Gumamnya lirih. "Dik?"
"Nggak papa. Santai saja, Bang. Tapi lain kali jangan teledor. Tutup pintunya dengan benar, ya." Maryam tersenyum kecut. Dia sendiri sudah tidak nafsu untuk menyantap makanannya.
"Maafkan Abang, ya. Nggak sampai seminggu lagi, rumah untuk Nia siap untuk di tinggali."
"Untuk apa minta maaf, sih. Sudahlah jangan di bahas. Kita makan saja. Keburu dingin nanti." Maryam mengambil nasi untuk dirinya sendiri, setelah itu lauknya.
__ADS_1
***
Malam harinya, lepas pulang dari klinik. Bang Akhri dan Kania nampak berbinar, membuat Maryam merasa bingung.
"Ada apa ini? Keliatannya senang sekali?" Maryam bertanya dengan bibir tersungging turut senang.
Kania memegangi kedua tangan Maryam erat. "Cece, tahu nggak. Aku punya kabar bahagia."
"Oh, ya? Apa?"
Kania tersenyum lebih lebar, melirik Bang Akhri sejenak setelah itu kembali pada Maryam.
"Aku positif hamil," jawabnya spontan.
Maryam membisu sesaat. Setelah itu melebarkan senyumnya. "Be–benarkah?"
"Iya bener, Ce. Ini hasil USGnya." Kania menyerahkan amplop coklat pada Maryam yang sigap menerimanya. Perlahan ia membuka, lalu mengeluarkan foto hasil USGnya. "Tuh, masih kecil. Karena belum ada satu bulan."
"MashaAllah, selamat, ya?" Matanya menganak sungai, antara senang namun juga sedih.
"Selamat juga untuk Cece. Kita akan rawat sama-sama."
Maryam mengangguk, lalu memeluk tubuh Kania. Dengan tatapan mata terarah pada Akhri yang sedang tersenyum juga.
Bang Akhri nampak senang sekali, walaupun Dia tak memperlihatkan langsung. Namun dari binar matanya. Menandakan kamu benar-benar bahagia, Bang.
Maryam melepaskan pelukannya. "Ya sudah, sekarang kamu istirahat, ya. Jangan capek-capek."
"Iya." Kania menggelayut manja kemudian di tangan suami mereka. "Bang, Nia pengen jajan."
"Tadi nggak sekalian?"
"Tadi belum pengen, sekarang pengen."
Maryam hanya memandang getir, dengan senyumnya itu.
"Ya sudah kamu istirahat, nanti Abang cari keluar. Kamu mau apa?"
"Maunya aku ikut. Kita jalan-jalan pakai motor, yuk. Beli bubur kacang hijau. Ayo bang..." Rengeknya.
Akhri bingung sendiri, sebenarnya ini waktunya Dia menemani Maryam. Karena seharian ini sudah menghabiskan waktu dengan Nia.
"Besok saja lagi, ya. Kamu harus istirahat."
"Bang, istirahat bisa nanti. Yang penting aku mau bubur kacang hijaunya."
"Biar Abang yang cari. Kamu di rumah saja."
"Nggak mau, Abang ih ... nggak ngertiin banget, sih."
"Bang, sudahlah. Ajak Nia keluar lagi. Tapi pelan-pelan, ya."
"Tapi?"
"Nggak papa, Merr naik dulu. Masih banyak kerjaan buat deadline besok," tak menunggu jawaban Akhri lagi. Maryam langsung melenggang pergi, seraya mengusap matanya yang basah.
__ADS_1
Akhirnya, Abang bisa punya anak. Aku turut bahagia... Walaupun sejatinya aku iri, karena ingin juga memberikan anak untuk Abang.