Cinta Berselindung Risau

Cinta Berselindung Risau
berselindung risau


__ADS_3

Hari kembali berganti, Arshila mengunjungi Merr dan berniat untuk menginap malam itu dengan Daffa. Tentunya wanita itu sudah izin lebih dulu dengan suaminya. Karena Dayat sedang ada tugas lebih dari satu Minggu di Pekanbaru. Jadilah, beliau membolehkan Shila menginap satu malam di rumah sahabatnya.


Setelah tiba di rumah maryam. Merr sudah siap, karena mereka berniat hendak berbelanja bersama ke salah satu departemen store terdekat. Seraya mendorong troli, Arshila dan Maryam memilih-milih bahan makanan yang akan mereka masak untuk santapan makan malam nanti.


"Senangnya, aku bisa belanja sama kamu. Dan bisa menghabiskan malam sama kamu lagi." Antusias, Shila meletakkan dua bungkusan jamur Enoki, juga satu wadah jamur sitake.


"Ya, bersyukurlah karena suami kamu baik, membolehkan kamu untuk menginap di rumah ku. Besok kita ikut kajian yuk."


Arshila manggut-manggut. "Merr, ambil Snack keju juga, buat teman kita ngobrol.


"Okay..." Mereka berjalan lagi mendekati rak para Snack dari berbagai merek. "Segini cukup?" Maryam mengangkat dua bungkusan besar.


"Mantap!" jawab Arshila, sementara Maryam langsung meletakkan dua bungkus Snack-nya kedalam troli.


setelah berbelanja, mereka langsung pulang, karena waktu sudah hampir masuk waktu Dzuhur.


–––


Selesai sholat dan makan siang, Merr membuat sesuatu di dapur. Es jeruk peras, kesukaannya dan juga Shila dulu saat masih gadis dan tinggal berdekatan.


"Wuiiihhh... es jeruk." Wanita berambut keriting itu tiba-tiba sudah berdiri di sisi kiri Maryam.


"Anakmu udah tidur?"


"Udah, Dia mah gampang kaya bapaknya. Apalagi tadi udah agak rewel."


Maryam tersenyum, ia menuangkan sedikit ke dalam gelas lalu menyodorkannya pada Arshila yang langsung menerima, lantas meminumnya.


"Enak nggak?"


"Enak, seger banget. Aseeem... juga."


Maryam tertawa "Aku tambahin jeruk nipis..."

__ADS_1


"Wah, pantesan tambah seger Merr." Meminumnya lagi sampai habis. "Jadi ingat waktu pulang dari kampus kita suka metik jeruk ini di belakang rumah ku. Demi nggak jajan es sebagai penghilang dahaga saat panas terik."


Maryam mengangguk- angguk semangat. "Kita minum ini di samping rumah, yuk. Di sana tempatnya sejuk."


"Hayuuuukkk..." Semangat, Shila membawa kue, dan Maryam membawa teko berisi es jeruk peras dan juga dua gelas kosong.


Di samping rumah, terdapat teras dengan dua bangku yang di tengah-tengahnya ada meja kecil. Pohon yang rindang membuat panas tak mampu menerpa langsung. Sebaliknya, angin yang berdesir sepoi-sepoi. Membuat hawanya menjadi sejuk.


Mereka tak memakai hijab, karena area itu tertutup. Lagipula tidak ada orang lain di rumah itu, jadi tidak perlu khawatir.


Anak rambut yang lolos dari kuncirnya milik Shila bergoyang di permainkan angin semilir. Ia menengguk lagi, es jeruknya terasa nagih.


"Merr, kamu betah ya? Bisa tinggal sendirian gini, selama bertahun-tahun?" Arshila meletakkan gelasnya. "Maksudnya, lebih ke rasa berani. Nggak takut kalau malam, gitu?"


"Takut apa? hantu? inshaAllah aku selalu setel murrotal Al Baqarah setiap hari. Lagipun setan takut dengan orang yang dekat sama Allah, 'kan?"


"itu benar, tapi tepatnya bukan itu sih... lebih ke? Kalau ada orang jahat, bagaimana?"


"inshaAllah, aku percaya Allah senantiasa melindungi aku Shil," jawab Maryam. Shila pun tersenyum, terdiam sejenak sebelum melanjutkan pembicaraan.


"Merr?"


"Aku dengar, kamu menolak lamaran orang lain lagi, ya?"


Alis Maryam terangkat. "Tahu dari mana?"


"Dari Ummi Suci, kemarin kan aku ke panti. Nggak sengaja jadi ngobrolin kamu. Tapi jangan salah sangka, ngobrolinnya itu lebih ke hal respect sama kamu. Kita itu sayang sama kamu, Merr..."


Maryam tersenyum lantas menganggukk pelan, sekali. Menandakan ia percaya pada sahabatnya itu.


"Kamu kenapa sih, masih takut aja buat nikah lagi? Jangan gini dong Merr... aku tuh pengen deh, dengar kabar bahagia tentang kamu."


"Aku bukannya takut Shil... lebih ke tahu diri. Lagian aku selalu kasih tau kamu, kalau aku benar-benar bahagia dengan status ini. Memang itu nggak cukup, ya?"

__ADS_1


"Jelas nggak cukup lah, Cantik. Iiih... gemesnya!" Shilla bersungut, membuat Maryam tertawa. "Maksudnya, coba lah untuk berpikir kedepan. Jangan ke masa lalu terus. Kamu itu butuh pendamping, Merr. Masa mau seumur hidup, sendirian?"


Maryam terdiam, menikmati jeruk dalam gelasnya.


"Merr, bahagia mu tak akan cukup kalau hanya sendiri. Iya aku tahu, kamu selalu bilang. 'aku tak sendiri, Shil! Ada Allah..' tapi kan kamu itu wanita, harus punya pendamping juga. Agar tak menjadi fitnah terus menerus."


Maryam masih terdiam. Memikirkan entah apa, yang jelas ia hanya mendengarkan ucapan sahabatnya itu.


"Merr?" Shila menyentuh tangannya, membuat Maryam menoleh. "Ayo dong, buka hati kamu. Untuk siapa gitu... berdamai lah dengan masa lalu. Agar hidupmu jauh lebih berwarna lagi."


"Aku sedang berusaha, tapi belum bisa."


"Ya udah, terima saja yang menurutmu paling pantas."


Maryam tertegun, memang sih ada benarnya dengan apa yang di katakan Arshila. Namun kembali, ia belum ada niatan untuk menikah lagi. Masih menikmati saja, kesendiriannya saat ini. Yang menurutnya membuat ia jauh lebih tenang.


***


Malamnya Merr menatap lekat layar ponselnya. Membaca rentetan kata yang tersusun indah. Sebuah DM (Direct message) dari pria yang memiliki gelar Habib, membuat Maryam seketika tertegun.


Aku berterima kasih serta meminta maaf karena secara tidak sopan meminta dua orang untuk berbicara dengan mu, ukhti. Bukankah itu cara baik, mencari perantara untuk menyampaikan niat baikku terhadapmu.


Aku sudah mendengar jawabannya, dan tidak mempermasalahkan keputusanmu itu. Ya... semua orang berhak memilih serta memutuskan apa yang akan ia ambil di dalam kehidupannya. Apalagi masalah jodoh...


Ukhti saya ingin berbicara... tak banyak sih. Hanya ingin berbagi satu ilmu tentang menerima takdir dengan cara berprasangka baik.


Berprasangka baik bukan hanya ridho menerima kekurangan atau mungkin takdir yang buruk. Itu sudah baik, memang. Tapi bukan pula membuat mu terus meratapi itu dengan menganggap kekurangan adalah sebuah hal yang cacat, sehingga tak berhak mendapatkan kebahagiaan


Allah tak pernah gagal dalam menciptakan sesuatu. Baik Dia tak normal dalam bentuk fisik ataupun psikis sekalipun. Terkadang, dari kekurangan itu rupanya malah justru membawa hikmah baik untuk kita. Jadi, jangan pernah berpikir; kekurangan mu akan membawa kembali pada keterpurukan yang sama. Manusia tidak akan pernah terjatuh ke lubang yang sama, jika Dia yakin Allah senantiasa menyertainya.


Maryam menghela nafas, ia tersenyum melihat stiker nyengir yang di kirim Bilal di akhir.


Sangat konyol di rasa. Sebab di usianya yang sekarang, ia sadar akan tidak pantasnya Dia untuk merasakan baper hanya karena satu rangkaian kata dari seorang pemuda.

__ADS_1


Ya, pemuda yang baik... Merr memuji dengan jujur. Karena selama ia kenal, walaupun sekilas-sekilas pria itu memang selalu memberikan kesan sopan terhadap siapapun terutama wanita. Ia nampak menghargai sekali seorang wanita, apalagi wanita dari kalangan lansia.


Merr keluar dari aplikasi tersebut, dirasa ia tak perlu membalas, Karena pasti habib pun paham. Jika berbalas pesan dengan yang bukan muhrimnya itu tidak baik.


__ADS_2