Cinta Berselindung Risau

Cinta Berselindung Risau
rumor yang beredar


__ADS_3

Akhri membuka matanya, ia mendengar suara wanita yang sesenggukan di sisi Sofa. Membuatnya mengangkat kepala lalu mendapati Maryam di bawah sedang bersembunyi.


Akhri pun menyentuh pucuk kepala sang istri, mengusap lembut. Hingga membuat Maryam terkejut, kepalanya terangkat.


"Sini sayang, bangun..."


Maryam beranjak, matanya sembab, hidungnya merah, pipinya pun basah.


Akhri memegangi tangannya, membawa sang istri agar segera duduk di sisinya. Di usapnya pipi itu hingga kering. Lalu diciumi tanpa henti.


Maryam yang kembali menangis segera mendapatkan pelukan hangat.


"Maafkan Abang, ya? Maafkan Abang yang tidak peka dengan kesedihanmu, malah justru marah padamu. Abang memang belum menjadi imam yang baik. Iman Abang juga belum sekuat itu. Maafkan Abang, sayang." Akhri mengusap-usap punggung sang istri. Berbeda dengan Maryam yang belum mampu berbicara, ia masih sesenggukan berusaha mengontrol diri.


Hingga hampir setengahnya jam mereka saling berpelukan. Sampai benar-benar tenang, Maryam melepaskan pelukannya memandangi wajah pria terkasih di hadapannya.


Akhri memberikan kecupan kilat di bibir. Lalu mengusapnya dengan ibu jari sembari tersenyum.


"Bang?" Rengeknya, yang bahkan ingin kembali menangis.


"Sssstt ... jangan bicara lagi. Nggak usah bahas apapun, diem, dan peluk Abang aja."


"Tapi soal tadi, Merr serius."


"Abang bilang nggak usah bahas apapun, diem udah!"


"Abang– hiks, nggak papa. Abang mau ya menikah lagi, demi bisa kasih Ummi cucu."


Akhri menggeleng, ia lantas membungkam mulut sang istri dengan ciuman lembut. Tidak peduli Maryam ingin berbicara apa. Ia sama sekali tidak ada niatan untuk menikah lagi, dengan gadis manapun. Hanya dengan Maryam ia akan beradu kasih, hanya dengan Maryam ia akan di dampingi sepanjang hidupnya.


Karena baginya, Maryam sudah cukup membuatnya bahagia hingga hampir empat tahun ini.


kecupan itu di hentikan, dan berlanjut pada aktivitas intim keduanya setelah Akhri mengajaknya untuk masuk kedalam kamar mereka.


Setelah semua hal yang mengganjal di hati Maryam pun di sampaikan, Akhri yang mendengarkan itu di dalam selimut yang sama langsung memeluknya meminta maaf pada sang istri.


Hingga ia pun berjanji, akan berusaha teguh menolak keinginan Ummi.

__ADS_1


"Maaf sekali lagi, Bang. Merr tidak ada maksud untuk memperburuk keadaan kita. Hanya Merr takut, Abang jadi bertengkar nantinya sama Ummi."


Akhri tertawa gemas, melihat tatapan cemas yang di tunjukkan Maryam membuat ia memberikan kecupan manis di bibir sang istri.


"Abang janji, akan bicara baik-baik sama Ummi. Kamu jangan khawatir, ya. Abang tahu bagaimana memposisikan diri Abang sebagai seorang anak saat berbicara pada beliau. Tolong maafkan Ummi, ya. Ummi hanya khilaf sesaat."


"I–iya. Tapi soal Kania. Sepertinya Dia?"


"Apa? Tidak usah bahas Dia. Abang tidak kenal Dia, dan tidak mau kenal. Cukup kamu buat Abang. Sudah ya, sekarang kita bebersih dulu sebelum tidur."


"Iya, Bang." Mereka beranjak, keluar dari selimut itu dan bergegas masuk ke kamar mandi untuk mandi.


***


Seberapa lama, Bang Akhri bertahan memperjuangkan Maryam sebagai istri satu-satunya beliau.


Sementara Ummi terus saja mendesak, dan bahkan penolakan beliau cukup membuat Ummi marah besar.


Di tambah kabar dirinya hendak menikah lagi, pun malah justru sudah menyebar di pondok pesantren tersebut juga sampai ke telinga Abah.


Bahkan Bang Hamid, kakak Kania juga sampai menghubunginya. Untuk menanyakan keseriusan beliau menikahi adiknya.


"Ya Allah ... Afwan ustadz. Sepertinya memang ada kesalahpahaman. Saya tak pernah sekalipun berniat untuk menikahi adik Antum."


Hamid terdiam, sedikit tercengang dengan jawab Akhri. Karena berbeda dengan ucapan Kania padanya.


"Tapi Kania bilang, Bu Nyai sudah menentukan Dia menjadi istri Antum. Ini bagaimana?"


"Nanti biar saya bicara lagi dengan Ummi, karena sepertinya disini ada miskomunikasi. Atau mungkin saya bicara langsung pada adik Antum, ya. Agar semua lebih jelas. Karena selama ini saya bahkan tidak pernah berbicara empat mata. Bertemu juga sangat jarang."


"Mungkin lebih baik seperti itu, agar Kania juga tidak terlalu berharap besar. Mumpung semuanya belum terlalu jauh."


"Iya Ustadz, terimakasih banyak. Dan mohon maaf sekali lagi."


Ustadz Hamid tersenyum, lalu berpamitan menutup panggilan teleponnya.


–––

__ADS_1


Setelah meminta utusan untuk memanggil Kania ke ruangan milik ustadz Akhri.


Maryam menanti dengan gelisah, sebenarnya Dia tidak ingin bertatap muka dengan gadis itu. Terlebih saat kabar ini semakin menyeruak, membuat hatinya turut tercubit lagi.


Tok... tok... tok...


Sebuah ketukan terdengar, Maryam dan Akhri mempersilahkan gadis ayu itu untuk masuk.


Sikapnya yang amat sopan dan pendiam menampilkan Dia yang hanya bisa menunduk mendengarkan penjelasan Akhri.


"Jadi, mohon maaf, ya. Jika Ummi bicara demikian. Mungkin agak sedikit mengganggumu."


Kania mengangkat kepalanya. "Tapi saya tidak terganggu ko, Ustadz," jawaban Nia membuat Akhri membisu. "Saya tidak keberatan dengan rumor yang menyebar ini, karena saya sudah menyatakan kesedian saya pada Ummi Salma."


Maryam yang mendengar itu langsung seketika terhentak.


"Ya, saya bersedia. Menjadi madunya ce Maryam. Demi bisa memberikan keturunan untuk Ustadz."


Ya Allah, sepertinya aku salah memanggil gadis ini. –Akhri menoleh kearah sang istri yang sama sekali tak bersuara. Ia pun meraih tangannya, menggenggam kuat membuat Maryam menoleh juga kearah sang suami.


"Saya tidak membutuhkan pendamping lain, Dik. Mohon maaf, ini hanya kesalahan." Akhri berusaha lagi menjelaskan. Namun Nia sepertinya tak peduli. Tatapannya masih terarah pada Maryam, yang juga sedang menatapnya.


"Ce Maryam ... benar nggak yang di katakan Ummi? Kalau Cece juga sebenarnya setuju, dengan ini? Cece juga ingin punya anak, 'kan, juga sudah berjanji pada Ummi untuk memberikan cucu." Cecar Kania tanpa basa-basi.


"A–aku?" Tangan Akhri menggenggam kuat. Membuat Maryam tidak bisa melanjutkan ucapannya.


"Dik, nanti kita bahasa ini lagi," Kata Akhri pada Maryam, setelah itu menoleh kearah Kania. "Kamu bisa kembali ke asrama kamu dulu, ya."


Kania yang seperti kecewa pun terpaksa mengangguk, lalu beranjak pelan mendekati pintu keluar. Ia menoleh sejenak kebelakang, lalu memalingkan wajahnya cepat.


Setelah Kania keluar, Akhri bergegas menutup pintu ruangan tersebut serta menguncinya. Berjalan cepat kemudian mendekati sang istri, beliau berjongkok di hadapannya.


"Dik, jangan di pikirkan ya. Ingat, Abang akan setia sama kamu."


Maryam mengangguk.


"Abang tidak akan goyah dengan ini, karena Abang sayang sama kamu. Serius..."

__ADS_1


Maryam tersenyum, walaupun matanya menampung air mata. "Maryam percaya sama Abang."


Akhri segera mengecup kedua tangan istrinya, setelah itu beranjak dan memeluknya erat.


__ADS_2