Cinta Berselindung Risau

Cinta Berselindung Risau
lahirnya kebahagiaan


__ADS_3

Dokter memberinya aba-aba di saat-saat Maryam boleh mengejan. Beberapa kali terjeda akibat lemah karena kelelahan.


Tangan Bilal menggenggam kuat ke-dua tangan Maryam. Bibirnya membisikkan terus kalimat-kalimat penguat. Agar istrinya bisa terus berjuang.


Selaput bening itu merabun-kan pandangannya. Maryam menarik nafas dalam-dalam lalu kembali ia mengejan sekuat tenaga hingga kepala bayi mampu keluar seluruhnya. Dokter yang menengadah di bawah tersenyum menunggu kepala bayi itu berputar sejenak lalu menariknya pelan.


"Bayi laki-laki telah lahir!" Seru dokter tersebut. Bersamaan dengan tangis bayi yang terdengar nyaring. Menggentarkan jiwa sepasang suami istri yang masih tercenung bahagia.


"Allahu Akbar–" Bilal mencium kening istrinya, kedua pipi pula tak lupa ia berikan. "Sayang, terima kasih..." Tangisnya baru bisa keluar saat itu juga. Seraya memeluk tubuh sang istri yang masih mengatur nafasnya. Bibir Maryam tersungging senang, matanya terpejam berderai air mata.


Alhamdulillah... akhirnya aku benar-benar menjadi wanita seutuhnya. Aku bisa mengandung... aku juga melahirkan seorang anak.


Maryam membatin, seolah rasa sakitnya tadi hilang seketika. Berganti rasa bahagia yang tak bisa ia utarakan selain mengucap syukur tanpa henti. Hingga seorang dokter meletakkan bayi tersebut di bagian dadanya.


"IMD dulu sama ibunya, ya..." kata sang dokter membuat Maryam membuka matanya langsung, reflek memeluk bayi mungil yang mulai menghisap pucuk dada sang ibu.


"Sayang–" gumamnya dengan suara yang masih lemah menyapa sang anak.


Tangannya gemetaran. Air matanya terus mengalir membasahi pipi. Rasanya masih tidak percaya, bayi yang sedang menyusu padanya adalah anak yang selama ini di idam-idamkan. Berkali-kali Maryam mencium kepala sang bayi, dimana Bilal langsung menutup rapat bagian tubuh istrinya.


Karena, walaupun ruang bersalin di pesan khusus hanya wanita yang boleh masuk. Namun, sebab ruangan yang dingin itu membuat Bilal merapatkan tubuh keduanya dalam balutan selimut.


"Selamat ya, Habib, dan Bu Maryam..." mereka mengucapkan selamat dengan tangan yang tertelungkup di depan dada.


"Terima kasih, Dok, Sus. Atas bantuannya."


"Sama-sama–"


"Asi saya belum keluar sepertinya," kata Maryam lirih.


"Tidak apa-apa, Bu. Itu hanya untuk merangsang saja agar ASI-nya juga bisa cepat keluar."


Maryam mengangguk, lalu membiarkan perawatan dan bidan di sana mengeluarkan plasenta yang masih berada di dalam.


"A'..." Panggilannya lirih, pada sang suami yang masih menutup matanya dengan satu tangan. Beliau tak bersuara sedari tadi. Seolah kelegaan membuatnya tidak bisa menghentikan Isak tangisnya itu. Bilal kembali mencium ke-duanya secara bergantian. Bahunya berguncang saat kecupan itu mendarat di kepala mungil anaknya.


Sejenak, ia berusaha meredamnya. Bersiap untuk mengumandangkan adzan di dekat telinga kanan, lalu Iqamah di telinga kiri. Sembari tangannya mengusap pelan kepala bayinya. Bilal memberikannya kecupan hangat.


"Ya Allah... anak Abi." Memeluk keduanya, kemudian kembali menangis haru. Belum bisa ia membendung Isaknya, hingga Ummi masuk menengok mereka.


"MashaAllah–" Ummi menciumi Maryam, mengucap syukur serta ucapan terima kasihnya, sebab Maryam mau berjuang melahirkan darah daging dari Bilal. Mereka berbicara dengan perasaan senang, hingga seorang perawat memindahkan sejenak sang bayi ke atas meja untuk mengukur panjang dan sebagainya. Setelah bayi terbungkus kain bedong.


***


Waktu berlalu, karena proses persalinan berjalan secara normal. Maryam hanya menginap satu malam saja.

__ADS_1


Di rumah...


Kamar sudah tertata rapi, ranjang bayi pula sudah berada di sana. Di sisi ranjang mereka. Padahal sebelumnya tidak ada, kapan A'a membelinya? Merr hanya bertanya-tanya saja dalam benaknya tanpa mementingkan itu.


"Duduklah secara pelan-pelan. Habis ini langsung makan agar ASI-mu cepat keluar, ya," ucap Ummi yang masih menggendong bayi laki-laki tersebut.


"Iya, Mi." Maryam mengiyakan sembari duduk dengan perlahan.


"Haduh... benar-benar seperti Bilal waktu masih bayi, mukanya, alisnya. Tapi kayanya matanya seperti kamu, rada sipit." Ummi mencium pipi kemerahan itu dengan perasaan sayang. Merr pun terkekeh.


"Masih bayi belum begitu terlihat, Mi."


"Iya sih, nanti kalau sudah di pijat kadang berubah." Ummi menanggapi.


Tak lama Bilal masuk membawa nampan berisi sepiring nasi, semangkuk sayur daun katuk, serta piring berukuran kecil berisi ikan, tahu, dan tempe.


Sementara itu Ummi Isti meletakkan bayi tersebut kedalam rajang bayi. Nampak dia tak terjaga, membuat Ummi tersenyum lalu menutup ranjang itu dengan kelambu.


"Kamu makan dulu, gih... Ummi keluar sebentar mau beresin yang di ruang tamu," katanya.


"Iya, Ummi. Terima kasih."


"Sama-sama. Bilal, istrimu di perhatikan suruh dia makan yang banyak," titahnya membuat Maryam terkekeh.


"Kamu beli ranjang bayi?" Tanya Maryam saat suaminya sudah berjalan mendekati lalu meraih sebelah telapak tangan suaminya.


"Iya kemarin. Pesan ke orang dan langsung di antar sekalian," jawabnya.


"Mahal nggak?"


"Mahal seberapa? Orang untuk anak kita, kok."


"Ya... maksudnya, kan. Ranjang bayi paling kepakainya nggak lama. Sayang aja."


"Nggak papa, kalau nggak kepakai kita bisa kasih ke orang lain. Dan lagi, suatu saat kalau kita punya bayi lagi bisa untuk adiknya."


"Aku nggak yakin akan memberikannya adik."


"Kenapa?"


"Mendapatkan satu saja sudah benar-benar membuatku bahagia. Aku sudah bersyukur di kasih anak dengan kondisi ku ini."


"Tuh, kamu mikirnya selalu seperti itu. Jangan mendahului takdir lah..."


"Nggak mendahului takdir, A'... faktanya memang begitu."

__ADS_1


"A'a yakin, setelah ini kita akan di kasih keturunan lagi. Bahkan lebih dari lima!" ujarnya optimis. Maryam justru tertawa mendengarnya. "Kenapa, nggak percaya?"


"Percaya... percaya..."


"Makanya, aku nggak ngizinin kamu KB. Kita harus punya anak lagi setelah Yahya–" Bilal memberikan ciuman kilat di bibirnya yang masih melebarkan senyum.


"Yahya, A'a masih ingat nazarnya?"


"Harus ingat lah, kan nazar. A'a sendiri yang akan mendidik agamanya nanti. Bukan orang lain."


"MashaAllah–"


"Kamu juga harus menjadi madrasah terbaiknya juga, ya." Bilal mengusap bibir manis sang istri dengan ibu jari.


"inshaAllah–" jawabnya lirih sembari mengangguk.


Bilal tersenyum lalu menoleh ke samping untuk mengambil nasi di piringnya.


"Sekarang makan yang banyak, supaya ASI-mu cepat keluar. Anak ku harus mendapatkan nutrisi baik dari ibunya."


"Iya, iya... tapi suapin, ya."


"Haduh– pakai perintah. Padahal suamimu ini sudah peka tanpa menunggu di suruh."


"Hehehe... iya deh, canda Bapak siaga yang peka." Ledeknya membuat Bilal tertawa menanggapi.


.


.


.


Aku mau kasih visual lagi, biar ngehalunya lebih ngenaaaaaahhh... hahaha.


Habib, keluar sebentar, yuk!👇



Cece juga, ya.👇



Eh, si kecil Yahya. (anggap aja begitu ya 😅) 👇


__ADS_1


__ADS_2