
Hanya butuh waktu berhari-hari untuk menangis, dan meluapkan kekesalannya. Maryam sudah mulai terbiasa.
Minggu selanjutnya, Akhri kembali banyak alasan sebab tak bisa mendatanginya.
Maryam tahu, sepolos apapun tampang Nia. Tak mampu membuatnya terkecoh, untuk yakin jika tidak ada campur tangan Nia yang berusaha menahan sang suami agar tidak datang.
Aku sudah tidak peduli lagi. Terserah Abang saja.
Maryam tidak ingin berlarut-larut memikirkan semua ini. Dia sudah cukup lelah.
Bahkan dirinya sudah mulai tak peduli dengan pesan chat yang dikirim Nia. Sebab telfonya pun tidak pernah ia terima.
Hingga hari berikutnya. Akhri datang, seperti biasa. Kata maaf berulangkali di ucapkan. Seolah muak, dan bosan. Maryam tak lagi memaksa senyum untuk memaklumi.
Pagi itu, saat tengah sarapan Maryam melirik sang suami. Ia ingin mengatakan sesuatu, namun belum berani.
Berpikir dan berpikir. Akhirnya Maryam mencoba memberanikan diri.
"bang?"
"Ya?"
"Merr mau tanya, kira-kira ... apa saja syarat yang di perbolehkan, seorang istri untuk meminta cerai pada suaminya?" Langsung saja Maryam meluncurkan anak panah pada titik sasarannya tanpa menimbang-nimbang.
Deg...!
Akhri sedikit tercekat. Gerakan mengunyahnya berhenti seketika "Dik, Ke– kenapa bertanya seperti itu? Merr nggak ada niatan untuk?"
Maryam menggeleng, ia memotong perkedel kentang di piringnya. "Hanya ingin tahu saja."
"Dik?" Panggil Akhri penuh kelembutan seperti biasa. Maryam pun kembali mengangkat kepalanya. "Ingin tahu untuk apa?"
"Itu sama saja ilmu, 'kan? Berarti Abang wajib menjawabnya. Kalau Abang memang tahu."
Akhiri terdiam, ia masih memandangi wajah sang istri. Maryam kembali tersenyum, namun sepertinya senyumnya itu lain.
"Abang, kenapa diam?"
"Habiskan saja dulu makanya, ya. Kalau kamu tanya seperti ini. Tiba-tiba Abang jadi tidak berselera."
"Maaf ya, Bang. Sekarang, lanjut saja makanya," ucapnya sembari menyuapkan nasi seujung sendoknya. Sementara pandang Akhri masih terarah pada sang istri.
Ya Allah, akhir-akhir ini. Dia seperti sering membuat story tentang gelapnya kehidupan. Apakah aku sudah benar-benar menutupi sinar mentari-nya?
__ADS_1
Akhri memasukkan nasi ke dalam mulutnya pelan. Kembali melanjutkan makan.
Wanita yang kini lebih banyak diam tak peduli. Ia masih fokus menghabiskan sisa nasi di atas piring.
Ya... tidak bisa di pungkiri, siapa yang mau berada pada posisi ini. Nafkah berupa materi, memang di berikan secara adil oleh beliau.
Namun tentang kehadirannya?
Maryam tidak lebih sering dari pada Nia. Alasan anak selalu menjadikan Maryam semakin terbelakang. Sungguh, penyesalan demi penyesalan seolah terus di tunjukkan Akhri. Namun apa gunanya menyesal, jika tetap berbuat kesalahan itu secara berulang?
Selang beberapa saat. Maryam mengemasi piring-piring kotor sisa makan mereka. Lalu memindahkan makanan sisa ke dalam wadah yang tertutup.
Kraaakk... Kraaakk...
Tak ada senyuman, saat Maryam melakukan itu. Hatinya sudah tidak bisa lagi membendung rasa kecewa terhadap sang suami. Bukankah dia hanya manusia biasa, yang memiliki batasan atas kesabarannya?
Ustadz Akhri masih di sana, memakan emping yang ia ambil dari dalam toples yang tersedia di meja makan. Mengamati wajah sendu sang istri.
Aku memang harus bicara padanya.
Akhri meraih tangan Maryam. Membuat sang istri menoleh.
"Duduk sini, Abang mau bicara."
"Buat nanti. sekarang, duduklah dulu... Duduk sini sebelah Abang." Akhri menepuk-nepuk kursi meja makannya. Dan sebelum di suruh untuk ke-dua kalinya Maryam sudah duduk di kursi. Tepat di sebelah sang suami, bergeser sedikit menghadap suaminya.
"Abang kan nanti malam masih tidur di sini. Adik mau nggak, besok Abang bawa jalan-jalan? Kalau dipikir-pikir, sudah lama kita tidak nonton. Ada film bagus loh di bioskop." Akhri mengecup punggung tangannya. Maryam menatap dengan ekspresi tak terlihat ceria.
"Maaf bang, tapi besok Aku ada seminar."
"Kan? Penting mana, seminar sama Abang?"
Maryam terdiam. Ia khawatir akan gagal.
"Penting seminarnya, kah?" Tanya beliau lagi seraya mengusap lembut pipi istrinya. Maryam pun menggeleng pelan.
"Besok hanya sebagai pendatang saja. Untuk mengikuti kelas literasi," jawabnya lirih. Karena sebenarnya tidak hadir pun tidak apa-apa.
Akhri tersenyum. "Libur ya untuk besok. Kita pergi kencan. Ya, sayang?"
Abang, aku rindu yang seperti ini. Membuat ku tidak bisa melanjutkan perkataan ku yang ingin mengakhiri semua kesakitanku.
Hanya dengan ucapan lembut serta sedikit bujukan sudah mampu membuat hatinya luluh lagi. Berat memang ... terlebih, Bang Akhri sejatinya memang bukanlah suami yang buruk. Tak pernah membentak keras apalagi memukul. Walau jauh, ia pun tak pernah lepas mengirim pesan singkat dengan kata-kata yang indah. Membuat Maryam dihinggapi kegalauan.
__ADS_1
Maryam mengangguk pelan. "Iya Bang."
"Iya apa?"
"Iya mau, jalan-jalannya. Asal Abang janji, nggak batalin seperti biasa."
"inshaAllah, Abang akan berusaha. Ini rahasia, ya. Jangan kasih tahu, Nia."
Maryam mengangguk lagi pelan, setelah itu memeluk lingkar pinggang suaminya. "Terimakasih, Bang."
"MashaAllah, senangnya di peluk bidadari."
"Bidadari apa sih, bang?" Maryam tersipu.
"Bidadari surganya Abang lah." Terkekeh, sama halnya dengan Maryam. Mereka bercengkrama cukup lama, Maryam yang tadinya diam dengan perasaan hati yang mulai tak nyaman perlahan mulai kembali membaik.
Suami memang mahluk yang paling sulit untuk kita benci. Mungkin karena cinta, layaknya air yang terus menyirami bara. Api itu akan sedikit tersulut, namun air tetap mengalahkan. Tidak ada kebodohan kalau sudah membahas tentang cinta, hanya orang-orang yang tak memahami arti tulus lah yang mampu berseru bahwa apa yang Maryam lakukan ini sebuah kebodohan.
–––
Seperti dugaannya, Akhri tak kunjung datang, sampai esok pagi pun ia tak menunjukkan batang hidungnya.
Maryam berkali-kali menghubungi, namun seperti ada yang mematikan ponselnya.
Mungkinkah Nia yang melakukan ini?
Maryam menggeleng, kembali ia mencoba menghubungi Akhri namun tetap tidak bisa.
Pesan lain datang dari, Nia. Yang dengan malas di buka olehnya.
Kania: "Ce, bisa nggak untuk tidak menggangu sebentar! Bang Akhri lagi bantu aku ngurus Husein. Kemarin anak itu jatuh dari tangga."
"Astagfirullah al'azim." Maryam terkejut, ia tak membalas pesan Nia. Namun memilih untuk menelfon Nia langsung. Deru pertama, kedua serta ketiga tak ada jawaban. Maryam kembali memilih mengirimkan pesan balasan.
Maryam: "lalu bagaimana keadaannya, kenapa Abang nggak ngasih tahu Cece?"
Kania: "untuk apa memberitahukan, Cece. Tidak begitu penting juga kan untuk Cece. Husein kan anak aku sama Bang Akhri. Bukan akan Cece!"
Maryam menutup mulutnya. Lantas beristighfar. Benar-benar, semakin kesini Nia semakin menunjukkan ketidaksukaannya terhadap dirinya. Padahal selama ini tak pernah sekalipun Maryam mengibarkan bendera perang padanya. Tapi kenapa semakin kesini, wanita itu semakin tak bersahabat? mungkin karena Maryam terlalu banyak mengalah. membuat Nia semakin berani untuk menindasnya.
Maryam meletakkan ponselnya di atas meja. ia kembali geram pada Akhri. lagi-lagi untuk kesekian kalinya. Dia mengingkari janjinya bahkan ia sendiri lupa, jika hari adalah tanggal pernikahan mereka.
lalu janjinya untuk mengajaknya jalan-jalan, hanya omong kosong belaka. untuk mematahkan sejenak keteguhan hatinya yang hendak memintanya untuk berpisah.
__ADS_1