
Harusnya A'a lebih sabar untuk memeriksa kondisi Maryam. Namun, keingintahuannya tentang kondisi sang calon anak membuat Bilal dan Maryam sudah berada di depan poli kandungan.
Untunglah, pagi tadi dokter membolehkan perawat untuk melepaskan jarum infus yang tertancap di pembuluh darahnya. Setelah memeriksa, Bilal pun dinyatakan boleh pulang. Sementara kang Beben berbenah dan setelah itu menanti Bilal juga Merr di parkiran. Mereka menunggu antrian untuk di panggil ke dalam.
Setelah dua wanita hamil masuk, tiba giliran mereka. Nampak wajahnya antusias, tersenyum lebar menunggu perawat mengoleskan gel ultrasonic.
"Sudah nahan buang air kecil, ya?" tanya seorang dokter wanita di sisi ranjang.
"Iya, sudah. Tapi jadi nggak nyaman, kebanyakan minum airnya." jawab Maryam sembari terkekeh.
"Nggak papa, justru supaya cepat terasa keinginan buang air kecilnya. Kalau nggak gitu, nggak akan kelihatan, bismillah..." Dokter mulai menempelkan alat untuk USGnya ke permukaan perut bagian bawah. "Wah... ini kantung janinnya."
"MashaAllah–" Bilal terharu, walaupun wujudnya belum jelas. Hanya seperti bulatan biasa.
"Alhamdulillah, sehat. Nggak ada masalah apapun."
"Alhamdulillah..." Maryam bergumam, tangannya yang di genggam Habib semakin mengerat. Keduanya fokus menatap layar besar di depan. Sementara sang dokter berbicara menjelaskan.
––
Tiga puluh menit kemudian, Bilal dan Maryam keluar dengan membawa hasil USG-nya. Mereka berjalan dengan wajah berseri-seri mendekati mobil mereka yang terparkir.
"Sudah, Bib?"
"Sudah..." jawabnya sembari tersenyum.
"Alhamdulillah, kalau begitu kita ke hotel sekarang?"
"Iya... tapi, Kang Beben keberatan nggak, kalau harus menginap semalam lagi?"
"Enggak, kok. Saya udah kasih kabar ke istri juga, dan dia paham."
"Terima kasih ya Kang... maaf sekali lagi."
__ADS_1
"Nggak papa, yang penting kan Habibnya sehat dulu. Sama Teteh juga. Pokoknya selamat lah, atas kehamilannya. Semoga semuanya berjalan lancar."
"Aamiin, Kang." Maryam dan Bilal mengamini dengan perasaan bahagia.
***
Malam harinya, setelah Bilal dan Maryam melakukan panggilan video dengan Ummi Isti mereka sudah bersiap untuk tidur. Namun, hal yang biasa mereka lakukan adalah sebuah percakapan di atas bantal.
Bilal mengusap perut istrinya, dengan penuh kasih sayang. Seperti tidak percaya, ketika akhirnya di berikan karunia terindah yaitu anak yang sedang berada dalam kandungan sang istri.
"Dokter bilang sudah masuk usia hampir delapan Minggu. Berarti mau dua bulan?"
Maryam mengangguk-angguk, "iya..."
"Kok bisa sih, kita baru tahu?"
"Karena aku menunda untuk periksa. Takut kecewa, A'..."
"Saat A'a bilang mau ke Solo. Terus pamer dimsum ke aku. Aku kan juga lagi pengen banget makan kuotie. Terus akhirnya aku makan sama Debby, setelahnya jadi muntah-muntah. Nggak tau berapa kali aku muntah-muntah sampai lemas."
"Ya Allah–" Bilal mengecup tangan istrinya.
"Paginya aku lihat alat tes kehamilan itu di lemari gantung. Habis itu aku cek, hanya iseng. Rupanya ada garis dua." Maryam terkekeh senang.
"MashaAllah– tapi Alhamdulillah. A'a bersyukur banget. Akhirnya doa kita di dengar."
"Itu yang aku herankan. Vonis dokter menyatakan aku sembilan puluh sembilan persen m*ndul. makannya aku bilang kemungkinan untuk punya anak hampir tidak ada. Tapi, rupanya hari itu aku melihat kuasa Allah SWT yang tak terduga."
Bilal tersenyum, mengusap wajah Maryam. Wanita itu lagi-lagi menitikkan air matanya.
"A... pasti ini doa kamu. Terima kasih, ya?"
"Doa kamu juga, Yank..."
__ADS_1
"Tapi sepertinya lebih kuat kamu. Kamu kan seperti yakin terus, bahkan mendorong ku untuk yakin juga. Dan sekarang, semua terjawab. Aku bahagia A'... setelah sekian tahun, akhirnya akan ada yang benar-benar memanggilku Ummi. Yang benar-benar keluar dari rahim ku."
"Sudah bisa percaya 'kan? Vonis mahluk tidak akan bisa menandingi kuasa Allah SWT? Doa dengan keyakinan itu, bisa mendatangkan Rahmat yang akan mendahului takdir kita. Itulah kenapa kita di minta untuk yakin saat berdoa."
"Iya A'... aku jadi terharu lagi. Saat Ummi nangis ketika di beri tahu kabar kehamilan ku."
"Iya, Ummi bahagia sekali. Cuman jadi khawatir karena kamu ke sini."
"Yang penting kata dokternya kan nggak papa... aku sehat, janinnya juga."
"Iya, Yank. Pokoknya sekarang, kita berusaha menjaga amanah ini. Kamu lebih banyak membaca Al Qur'an, ya. Perbanyak lagi khatamnya dalam sebulan."
"Iya sayang... akan di usahakan."
"Setelah ini stop nulis, fokus istirahat."
"Jangan gitu, kan nulis hanya untuk sampingan."
"Tetap aja kadang kamu-nya ngeforsir. Suka begadang juga, 'kan?"
"Hehehe... nggak setiap hari, yank."
"Kamu kalau A'a ngomong?"
"Iyaa... iya... inshaAllah, Merr nurut."
"Sama seminar di luar. Pokoknya batasi deh. Jangan terlalu banyak kegiatan."
"Siap suamiku," jawab Maryam, di mana Bilal langsung memberikan kecupan di kening. Sembari mengusap perut sang istri. Bergumam memanjatkan doa, lantas di tutup dengan kecupan di perut.
"Sehat-sehat, ya istriku. Terima kasih, sudah Sudi untuk menumbuhkan bibit yang ku tanam," ucapnya lembut. Maryam mengangguk sembari tersenyum.
Perlahan Bilal mendekati wajahnya, lalu mendaratkan kecupan di bibir dengan lembut dan penuh cinta. Rasa rindu membuat mereka betah, bercumbu di ruangan kamar yang remang-remang. Walaupun hanya sebatas itu, namun dengan intensitas waktu yang cukup lama. Sampai Maryam merasa mengantuk, Bilal baru menghentikan aktivitasnya. Kembali menutup dua kancing di bagian dada sang istri.
__ADS_1