
Paginya, sebelum pergi Akhri mengunjungi Maryam.
Ia meminta maaf karena tak menepati janjinya untuk datang. Namun ia berjanji, akan datang lagi setelah pulang dari Tasikmalaya malam nanti. Maryam mengangguk mengiyakan.
Benar saja, tanpa izin lebih dulu pada Kania. Akhri langsung pulang ke rumah Maryam.
Malam itu ketika hujan turun dengan lebatnya, kilatan petir menyambar. Bersahut-sahutan dengan guruh yang menggelegar.
Maryam baru saja menjalankan ibadah Shalat isya. Walaupun di bawah ada ruangan Shalat, ia tetap menjalankan ibadah sholatnya di kamar.
Bukan tanpa alasan, mungkin karena Dia sekarang lebih sering tinggal sendiri. Membuatnya lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kamar. Terlebih pekerjaannya yang seorang penulis.
Sebuah klakson mobil terdengar, Maryam menoleh ke arah dinding kaca yang tertutup gorden putih. Ia pun beranjak lantas mendekati dengan perasaan bahagia.
Di sibaknya gorden putih itu, di mana ia melihat mobil milik suaminya. Senyum hangat tersungging pelan, ia sangat bahagia. Akhri menepati janjinya, terlebih perasaannya yang amat merindukan beliau setelah satu Minggu tak mengunjunginya.
Secepatnya ia melepaskan mukena putih yang membalut tubuhnya, melipat dengan rapi serta bersamaan dengan sajadah yang masih terbentang di lantai.
Setelah selesai membenahi alat Shalat tersebut ia pun bergegas mendekati cermin menata rambut panjangnya, serta memberikan lipstik berwarna natural di bibirnya, bodyparfum di bagian lengan dan lehernya, terakhir parfumnya.
“Sudah cukup, untuk menyambutnya.” Maryam tersenyum senang, ia segera keluar dari dalam kamarnya. Dan baru saja ia hendak turun, sang suami sudah berdiri di ujung tangga paling bawah, sembari memberikan senyum penuh kehangatan.
Iya, beliau selalu bawa kunci lain. Jadi jika Maryam tidak di rumah, ia bisa masuk tanpa menunggu di luar.
“Assalamualaikum.”
“Walaikumssalam, Bang...” Maryam mempercepat langkahnya, menghambur pada sang suami. “Merr kangen.”
“MashaAllah. Abang juga sayang... Maaf ya, Abang jadi jarang kemari.”
Tersenyum kecut, sembari mengangguk, ia paham dan memang harus di paksa untuk paham. Karena Bang Akhri punya dua istri sekarang. Apalagi istri ke-duanya sudah ada anak. Maryam melihat tas di sebelah sang suami berdiri.
“Abang benar-benar baru pulang langsung kesini?” tanya Maryam sembari mengangkat kepalanya.
__ADS_1
“Iya, Abang habis dakwah di Tasik langsung kesini. Abang bawa oleh-oleh juga loh.”
“Wah... terimakasih Bang.” Maryam menerima bungkusan yang di berikan oleh Akhri. Sementara Akhri langsung tersenyum, ia mengecup kepala Maryam lembut.
“Wanginya istri ku.”
“Hehehe... Bang, sudah makan malam, belum?”
“Sudah tadi, makan sama si Yasdi.”
“Oh... jadi mau istirahat langsung?”
“iya Dik ... tapi Abang mau mandi dulu.” Melingkari pinggang Maryam. Maryam pun tersenyum, mata keduanya saling bertemu. Memancarkan aura cinta yang benar-benar kuat, hingga Akhri mendekati wajah Maryam, mendaratkan kecupan di bibir dengan lembut. “Abang kangen,” gumam Akhri, setelah melepaskannya.
Maryam hanya tersipu. Terlebih ketika ibu jari sang suami mulai mengusap-usap bibir ranum milik Maryam yang benar-benar sudah menggodanya sekali.
“MashaAllah, yuk lah naik. Sambung di atas,” ajak Ustadz Akhri sembari melangkahkan kakinya naik dengan tangan masih melingkari pinggang Maryam.
“Abang menginap berapa malam?”
Maryam yang mendengar itu merasa senang. Karena memang itu sudah haknya Akhri untuk adil, bukan? Dan semoga saja Nia tidak menghubungi suami mereka secara tiba-tiba seperti biasanya.
***
Di dalam kamar...
Maryam mengganti busananya. Pakaian dinas istri untuk memanjakan suami, adalah syarat wajib yang harus di kenakan seorang istri jika mendapati sinyal dari sang suami sedang ingin di layani. Sembari menunggu, ia duduk dibibir ranjang.
Hingga getar ponselnya membuat Dia menoleh. Nama Kania tertera di layarnya.
Nia nelfon aku?
Ragu-ragu ia menerimanya, lalu mendekatkan ponsel itu ketelinga.
__ADS_1
"Hallo, assalamualaikum."
"Walaikumsalam, Cece. Aku mau tanya, apa Bang Akhri pulang kerumah Cece. soalnya hp Bang Akhri nggak bisa di hubungi."
Maryam terdiam, ia ingin menjawab tidak. Namun bukankah bohong itu dosa?
"I–iya. Beliau baru pulang, dan saat ini sedang mandi."
"Ce tolong suruh Abang pulang, ya. Husein rewel terus," pintanya.
"Tapi kan, kamu bisa untuk menenangkan sendiri."
"Cece kok gitu, sih? Aku memang bisa menenangkan sendiri anak ku. Tapi kan tetap saja, aku butuh bang Akhri, jangan egois dong!"
"Nia, aku bukannya egois. Tapi Bang Akhri baru sampai. Lagi pula saat ini hujan deras."
"Itu nggak bisa buat alasan. Tolonglah Ce. Aku butuh bang Akhri. Suruh Dia pulang ke rumah ku."
"Apakah harus kamu seperti ini? Bukankah Waktu yang di berikan untukmu lebih banyak. Bang Akhri hanya mendatangiku seminggu dua kali. Sementara kamu?"
"Ce, Cece itu harus sadar kondisinya antara kita itu berbeda. Aku punya anak, sementara Cece tidak!"
Deg... Maryam menyentuh dadanya, hatinya amat sakit ketika Nia melontarkan kalimat itu kepadanya.
"Karena aku punya anak, jadi aku butuh waktu lebih banyak. Aku repot Ce. Lagipula anakku itu butuh pengawasan Abinya selama dua puluh empat jam. Kalau dalam seminggu bang Akhri mendatangi Cece selama dua hari, belum lagi kalau sedang ada dakwah di luar kota. Waktu untuk anak-anak akan sempit. Bukankah itu adil?"
Adil bagimu Nia, tapi tidak untuk ku.
Maryam menitikkan air matanya. Ia tidak bisa menyanggah lagi ucapan itu dari Nia.
"Cece harus memahami, inilah konsekuensinya ketika Cece memintaku untuk menikah dengan bang Akhri...! Sebagai bayaran, karena Cece tidak bisa memberikan anak untuk Beliau." Telak, kata-kata itu menikam sangat dalam kehati.
Maryam menghapus air matanya, tatkala mendengar suara kunci kamar mandi yang terdengar. Sepertinya bang Akhri sudah selesai mandi.
__ADS_1
"Baiklah, nanti akan ku bujuk bang Akhri untuk pulang kerumah mu. Sekarang aku harus menutup panggilan ini lebih dulu." Maryam mematikannya dengan cepat, lalu berusaha sekuat tenaga menahan tangisnya. Meletakkan ponselnya keatas meja setelah itu menggantinya dengan Novel.