Cinta Berselindung Risau

Cinta Berselindung Risau
perkara besar


__ADS_3

Malamnya, Nia belum tidur. Ia hanya tiduran dengan posisi miring sembari memeluk si bungsu. Air matanya masih mengalir seiring kesedihannya.


Ia masih tak menyangka, Akhri mempunyai sikap yang menurutnya kurang baik sebagai seorang ulama. Bukankah Dia seharusnya paham, batas untuk memaklumi suatu rasa kehilangan?


Ini sudah berjalan bahkan lebih dari lima tahun. Apa Akhri benar-benar masih belum bisa menerima sepenuhnya? Nia menyeka air matanya. Sudah sangat letih mata itu menangis sendirian. Sebab, setelah pertengkarannya tadi, Akhri keluar rumah tanpa berpamitan.


Nia meraih ponselnya, lalu membuka akun sosial media. Menulis caption dalam story dengan di lampirkan foto sebuah tangan yang tertumpuk. Ya, tangan dirinya yang sedang memegangi tangan Akhri.


[Bertahun-tahun menjalani pernikahan dengan seorang ulama rupanya tak melulu indah. Dulu saat masuk... aku mungkin pernah menjadi yang kedua. Namun, penyesalan terbesarku. Kenapa aku dulu mau menjadi yang kedua, hanya karena kekaguman.


Sementara Dia yang sudah mendapatkan haknya malah tak berterimakasih, justru semakin memikirkan si wanita yang sudah di ceraikannya bertahun-tahun karena suatu kekurangan. Halal kah masih memikirkan mantan istri...?


Seharusnya Dia yang berilmu lebih paham. Dan untuk si penulis hebat yang tengah naik daun itu, sepertinya beruntung karena masih di cintai mantan suami... tanpa sadar menabur garam di atas luka orang lain setiap harinya.]


Tanpa pertimbangan Nia langsung memposting tulisannya. Hati yang sedang panas membuatnya tak berpikir jernih.


Nia tak menyadari, ketikan jempolnya akan membawa masalah besar setelah ini. Followers di akunnya mungkin tak sebanyak punya sang suami yang sudah mendapatkan tanda centang biru. Namun Dia sendiri justru tak menyadari bahwa di akunnya pula ada banyak followers wanita yang mengagumi kajian ustadz Akhri. Dan menyukai keromantisan mereka berdua di setiap postingan fotonya.


Cklaaak... suara pintu kamar terbuka. Nia masih sengaja tak menoleh, ia tahu itu pasti suaminya. Nia segera mematikan ponselnya dan memilih untuk memejamkan mata.


Benar saja, pria itu kini berjalan mendekatinya lalu duduk di sisi pinggir, dekat punggung Nia.


"Dik, keluar sebentar, yuk... kita bicara di luar. Anak-anak sudah tidur, kan?" Nia tak menjawab selain derai air mata yang semakin deras membasahi pipi. "Dik?"


Nia hanya beranjak lalu berjalan lebih dulu meninggalkan Akhri yang masih duduk memandanginya. Setelah itu menoleh sejenak ke anaknya. Di ranjang itu hanya ada Alma, dan Husnah anak ke tiga Akhri sementara Hussein sudah ada kamar sendiri.


Akhri mencium kening dan pipi kedua anaknya, lalu keluar menemui sang istri.


Beliau yang sedang menutup pintu kamar menoleh ke arah sofa, di lihat Nia masih sesenggukan seraya mengusap matanya. Ia pun segera mendekati dan duduk di sebelahnya.


"Dik?"


"Abang mau ngomong apa? Langsung aja, hiks... Abang mau ceraikan, Nia? Hiks... si–silahkan! Nia sudah pasrah..."

__ADS_1


Akhri hanya memandangi Nia tanpa menjawab, membiarkan Dia bicara sepuas hatinya.


"Nia tahu... sampai kapanpun juga nggak akan bisa di cintai Abang seperti Abang mencintai Cece," ucapnya tak begitu jelas karena diselingi tangis.


"Nia sadar kok, Bang! Nia sama Dia lebih cantikan Dia. Sekarang apalagi? Nia lebih gemuk daripada Dia. Semakin membuat Abang nggak bisa nerima Nia. Berbeda dengan Dia yang masih cantik dan lagi, mandiri...! Tapi, apa salahnya jika Nia pengen Abang move on dari Dia. Keinginan Nia nggak banyak, Bang! Nia pengen di cintai Abang. Nia pengen di sayang, pengen merasakan di hargai oleh suami Nia sendiri. Biar Nia bisa sepenuhnya menghormati serta melayani Abang, tanpa tersiksa batin. Nia tahu, selama ini mungkin Nia udah salah sama Cece. Nia juga nggak mau ngomong kaya tadi lagi, Nia cuma geregetan sama Abang! Sakit Bang–"


Akhri langsung merengkuh tubuhnya, memeluk Nia yang semakin menjadi tangisnya.


"Abang mau menceraikan Nia? Silahkan... Nia udah nggak bisa kaya gini," sambungnya dalam pelukan Akhri.


"Abang nggak akan menceraikan kamu. Abang tahu, Abang salah. Abang sering membuatmu kecewa. Tapi diamnya Abang bukan karena kangen, tapi Abang lagi berusaha untuk nggak mikirin masa lalu lagi."


"Tapi ini udah lebih dari lima tahun! Segitu susahnya kah melupakan Dia? Lagipun dari kurun waktu selama itu Abang sudah berkali-kali berhubungan dengan Nia... apa itu belum bisa menghapus jejak Dia di hati Abang? Abang itu keterlaluan!"


"Iya Nia, Abang minta maaf... Abang salah, Abang akan berusaha keras lagi untuk mengerti kamu. Tapi Abang cuma minta satu, kalau Abang lagi capek kamu jangan mancing emosi Abang. Tunggu dulu Abang tenang, baru ajak bicara. Kamu paham, kan?"


Nia mengangguk. Rasanya sedikit lega, ketika masalah sudah mulai mereda. Padahal ia sempat khawatir suaminya akan mendiami Dia seperti dulu pada saat awal perceraiannya dengan Maryam.


.


.


Berselang esok hari...


Selepas dari masjid Akhri sedikit terkejut, karena tiba-tiba banyak notifikasi masuk.


Beliau yang masih duduk di atas ranjang, membuka aplikasinya. Rupanya ratusan orang menyebut nama beliau menggunakan komentar mereka di salah satu postingan yang beliau sendiri belum tahu apa.


Segera ia menekan salah satunya. Sontak matanya terbelalak, membaca story di akun sosial media Kania.


"Astagfirullah al'azim, Nia!" Akhri geleng-geleng kepala. Beliau benar-benar geram, bisa-bisanya sang istri membuka aib masa lalu rumah tangganya. Beliau pun beranjak namun sebelum itu beristighfar lebih dulu sebelum memanggil Nia masuk ke dalam kamar mereka.


Nia yang masih belum menyadari bergegas ke kamar, setelah Akhri memanggilnya dengan nada yang cukup tinggi di atas tangga. Bahkan dua orang asisten rumah tangga sampai saling tatap, baru kali ini ia mendengar panggilan keras dari seorang Akhri untuk istrinya.

__ADS_1


"Ada apa, Bang? Kenapa sampai teriak manggilnya?" Nia sedikit takut, namun juga bingung. Padahal pikirnya semalam masalah sudah selesai. Tapi kenapa pagi ini Akhri seperti marah sekali.


"Kamu nulis apa? Bikin story apa kamu?!"


"Story?" Nia mengingat-ingat, lantas terbelalak. "Ya Allah– itu..."


Praaaaaakkk!!


"Aaaa... Astagfirullah al'azim, Bang." Nia terkejut bukan kepalang. Saat Akhri tiba-tiba membanting ponselnya sendiri di hadapan Nia sampai hancur. "Ampun, Bang. Nia minta maaf, Nia nggak sengaja... Nia nggak sadar." hendaknya meraih tangan Akhir, namun secepatnya di tepis.


"Ya Allah... Nia, kok bisa sih kamu tega buka aib Abang di media sosial?" Akhri menghela nafas, setelah berusaha menahan amarahnya yang sudah sangat ingin meluap-luap. Hingga akhirnya ponselnya sendiri ia korbankan. "Bukan masalah Abang tidak mengakui kesalahan, apalagi takut kehilangan followers. Tapi kamu kan tau adab berumah tangga. Abang pakaian mu dan kamu pakaian Abang? Tapi kenapa malah justru kamu membukanya...!"


"Bang– Nia minta maaf. Nia benar-benar nggak sengaja. Itu semua karena semalam Nia tuh lagi kesel-keselnya."


"Bagus! Karena kesel jadi halal begitu buka aib suami sendiri?"


"Maafin Nia, Bang."


"Soal maaf itu gampang! Masalahnya Abang itu pendakwah, dan ini tulisan kamu udah masuk ke publik. Liat! Ratusan orang tag Abang buat tanya kebenarannya...! Bahkan akunnya Maryam juga turut kena serang pertanyaan mereka."


Ya, entah mengapa ada beberapa orang yang mulai mengaitkan dengan cerita sang penulis. Sehingga banyak opini yang tiba-tiba muncul mencocokkan.


Nia sendiri nampak gemetaran, ia tidak percaya akan secepat ini postingannya menyebar.


"Allah... Nia, Aib itu di simpen, punya masalah itu di simpen Nia, bukan di sebarluaskan. Kalau nggak kuat ya curhatnya sama Allah bukan curhat lewat status. Ini lebih parah, malah buka aib pasangan di sosial media? Mau cari simpati manusia, biar bisa kondang? Kamu pikir itu nggak jadi bumerang buat kamu sendiri!!"


Nia masih menunduk tak bisa menjawab, air matanya menderas. Selama ini ia bisa menahan untuk tidak menceritakan masa lalu mereka. Namun entah mengapa, panasnya hati dan pikiran membuatnya tak tahan untuk mencurahkan isi hatinya.


"Nia... Nia... kurang apa Abang didik kamu! Bisa-bisanya bawa-bawa kata penulis yang lagi naik daun segala. Heran beneran Abang sama kamu. Bener-bener keterlaluan kamu jadi istri!"


"Bang, Nia beneran minta maaf. Nia bakal hapus postingan Nia. Dan bikin ucapan permintaan maaf."


"Serah! Abang udah terlanjur kecewa banget sama kamu." Akhri bergegas keluar dari kamar itu, meninggalkan Nia yang masih duduk di atas ranjangnya seraya menangis tersedu-sedu.

__ADS_1


__ADS_2