
Getir perjalanan pernikahan Maryam memang sudah berlalu.
Berakhir bersama dengan ketukan palu hakim ketua. Memberikan kejelasan status mereka, setelah berbulan-bulan hidup pisah rumah.
Maryam sesenggukan dalam sujud panjangnya. Dalam masjid yang tenang, selepas berdoa.
Seorang wanita paruh baya memandangi tubuh yang berguncang di saf terdepan. Ia pun berpindah posisi. Ke sisi wanita yang hanya tinggal Dia sendirian di deretan itu.
Mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, satu bungkus tissue berukuran kecil yang sudah berkurang isinya. Setelah itu meletakkan di sisi wajah wanita tersebut.
Merasa ada yang meletakkan sesuatu. Maryam lantas beranjak, ia mengusap wajahnya sejenak lalu menoleh kearah wanita bercadar yang sudah dengan ramah memberikannya senyumnya. Merr bisa menebak wanita itu sedang tersenyum karena nampak dari matanya yang menyipit
"Maaf, saya mengganggu ke-khusyukan Mbak dalam berdoa."
Maryam membalas senyumannya. "Tidak apa-apa. Ini, boleh saya ambil?"
"Silahkan, memang sengaja saya letakkan di sini untuk mengusap air mata, Mbaknya."
"Terimakasih," ucapnya sebelum mengambil dua lembar tissue yang terjulur keluar dari wadahnya.
"Mbak, sendirian?" Tanyanya.
"Iya, Bu." Maryam memanggil ibu dengan ragu. Pasalnya walaupun wanita itu nampak sedikit berisi namun dilihat dari bagian matanya yang cantik dan tanpa kerutan, takutnya beliau memang masih seusianya dan tidak menyukai di panggil ibu. Karena sebagian besar wanita biasanya tidak senang di sebut ibu-ibu hanya karena tubuhnya yang tambun.
Namun sepertinya tak ada tanggapan tidak sukanya. Malah sebaliknya wanita itu kembali merogoh tasnya, dan menyerahkan air mineral pada Maryam.
"Ini masih baru, kok. Walaupun sudah di lepas segelnya. Tadi mau minum nggak jadi. Buat mbaknya aja."
"Eh... terimakasih, Bu. Tapi lebih baik buat ibu saja."
"Nggak papa, ambil ini." Wanita itu menyerahkan botol air mineral yang masih utuh ke tangan Maryam.
"Ya Allah, terimakasih banyak, ya Bu."
"Sama-sama." Wanita bercadar di hadapan Merr kembali menutup resleting tasnya. Sementara Maryam sendiri menengguk airnya hingga tersisa separuhnya. "Tuh kan haus."
Maryam menurunkan botolnya, setelah itu tertawa kecil. "Iya, sejak dari pengadilan. Saya menahan haus."
"Pengadilan?"
"Iya, Bu. Saya habis dari sana. Mengikuti sidang putusan perceraian saya hari ini."
"Innalilah ..." bergumam lirih sembari meletakkan tangan di bagian mulutnya yang tertutup cadar. Pantas saja Dia sampai nangis seperti itu. Tatapannya mengatakan seperti itu.
"Begitulah. Ibu dari mana?" Suaranya masih terdengar serak, mengalihkan pembicaraan.
"Habis jalan-jalan dengan keluarga. Tapi ini lagi istirahat dulu sembari sholat."
"Oh..."
"Kamu benar-benar sendirian?" Tanyanya lagi. Maryam pun mengangguk, wanita di hadapannya baru ia kenal. Tapi beliau sepertinya orang yang baik.
"Saya boleh memberikan sedikit ucapan nggak?"
"Ucapan apa?"
__ADS_1
"Seperti untuk penyemangat."
Maryam tersenyum, ia pun mengangguk. Matanya yang semakin sipit akibat tangisnya terkatup rapat sejenak.
Sang wanita bercadar tersenyum juga, ia lantas menyentuh tangannya.
"Siapa namamu?"
"Maryam."
"MashaAllah, nama yang indah."
"Terimakasih, Bu."
"Ya, Ibu hanya ingin memberikan sedikit ungkapan prihatin. Walaupun saya baru kenal kamu, tapi saya melihat kamu menangis seperti tadi. Membuat saya jadi turut tersayat. Mudah-mudahan, semuanya bisa berjalan dengan baik setelah ini. Dan Mbak Maryam bisa mendapatkan jodoh pengganti, yang lebih baik."
Maryam menitikkan air matanya, sembari tersenyum ia mengangguk. walaupun dalam hati ia menjawab mustahil untuk menerima orang lain lagi setelah ini.
"Saya bukan Ustadzah, yang paham agama. Namun kata suami saya, setiap kehidupan manusia tidak akan terlepas dari permasalahan hidup. Itu tanda Allah ingin kita lebih dekat darinya. Makanya kita wajib untuk selalu berprasangka baik kepada-Nya."
"MashaAllah, iya Bu."
"Soalnya suami saya bilang, bahwa berprasangka baik adalah bagian dari ketaatan. Dan Allah paling senang jika hambaNya berprasangka yang baik dalam menyikapi setiap masalah dan takdirnya.
Salah satu sebab utamanya Allah menimpakan kita dengan ujian adalah karena banyak di antara manusia yang mau bertaubat, mau berdoa, mau berzikir dengan perasaan yang khusyuk itu ketika sedang di timpa masalah. Betul nggak?"
"Iya... benar, Bu. MashaAllah," jawab Maryam merasa sedikit tenang.
"Nah... Allah itu tahu, mana diantara hamba-Nya yang tidak bisa bertaubat. Hal ini di sampaikan oleh para ulama, dan ini sahih. Apabila seorang hamba tidak bisa khusyuk dalam taubatnya, namun Allah sudah merahmati Dia. Maka di timpakanlah suatu ujian. Demi apa? Agar dosa-dosanya yang lampau itu terhapus. Itu poin yang mesti kita catat, baiknya Allah pada seorang hamba yang sudah mendapatkan Rahmat dariNya yaitu Allah SWT mampu merontokkan semua dosa-dosa kita tanpa kita minta, dan tanpa kita sadari melewati ujian apapun apabila kita bersabar. Sampai seorang hamba itu bisa kembali kepada Allah dalam keadaan bersih.
Maryam kembali menitikkan air matanya. Ia bergumam 'mashaAllah' tanpa henti. seolah Allah mengirimkannya utusan untuk membuat suasana hatinya menjadi tenang.
"Berpisah itu memang berat, namun hidup tetap harus di jalani. Sedih saat ini, untuk bahagia di esok hari. Fa Inna Ma'al Usri Yusra Inna Ma'al Usri Yusra 'maka sesudah kesulitan itu pasti ada kemudahan' jadi jangan khawatirkan hidupmu setelah ini, kita kan memang terlahir sebatang kara. Biarlah Allah yang memelihara, mu langsung."
"MashaAllah, Bu. Terimakasih banyak. Terimakasih." Maryam mencium punggung tangan wanita itu.
"Sama-sama," jawabnya seraya tersenyum. Matanya lantas beralih, pada gadis di luar pintu kaca. Ia pun mengangguk sekali. "Maaf ya, saya harus pulang."
"Ah ... iya, Bu. Terimakasih sekali lagi. Kalau boleh tahu, nama ibu siapa?"
"Saya Rahma," jawabnya.
"Bu Rahma, saya tidak salah kan manggil ibu?"
"Hehehe, nggak papa. Saya memang sudah ibu-ibu. Punya dua anak yang sudah kuliah." tertawa lirih, bersama dengan Maryam juga.
"MashaAllah, semoga kebahagiaan selalu menyertai ibu dan keluarga. Terimakasih sekali lagi atas wejangan indah tadi."
"Hehehe, saya cuman ngutip kata-kata suami saya. Kalau begitu saya permisi, assalamualaikum."
"Walaikumsalam warahmatullah." Maryam bergumam sembari menyunggingkan senyum. Ia merasa hatinya sudah tidak begitu sesak, malah sebaliknya hatinya mulai lapang. Setelah mengadu pada Sang Maha Kuasa. Di tambah bertemu wanita paru baya baik hati seperti Bu Rahma.
.
.
__ADS_1
.
Di luar, Rahma berjalan tergopoh-gopoh bersama Nuha, menyusul dua pria paling ia cintai.
"Sudah? Tumben lama?" tanya Ustadz Irsyad, meletakkan tangan di atas kepala sang istri karena rintik gerimis nampak kembali turun.
"Iya, tadi ngobrol dulu sama Mbak cantik."
"Oooo." Ustadz Irsyad membuka pintu untuk Rahma.
"bentar, Bi." Rumi menahan, "Biar Rumi aja yang nyetir."
"Serius, nih?"
"Iya, Abi sama Umma di cabin tengah aja. Rumi yang nyetir, kan udah ada SIM," kata Rumi cengengesan.
"Cieee yang baru dapet SIM." Goda Nuha membuat Rumi semakin tersenyum lebar sembari membusungkan dadanya, menepuk-nepuk pelan.
"Udah biar Abi aja, soalnya masih khawatir nih," jawab Ustadz Irsyad kemudian.
"Nggak papa, ini kan tanggal pernikahan Umma sama Abi. Jadi kalian harus jadi raja dan ratu."
"Duh Gusti, baru menjadikan kami raja dan ratu sekarang? dari kalian bangun tidur tadi, kemana aja?" Sindir Abi Irsyad sembari menyerahkan kunci mobilnya. Mereka pun tertawa. "Umma, gimana, nih?"
"Apanya?" Tanya Rahma.
"Kita kan lagi jadi raja dan ratu. Perlu Abi jongkok nggak nih, buat jadiin pijakan Umma."
Umma Rahma tertawa, memukul gemas suaminya. "apaan sih, ngomong gitu. Nggak malu sama anak-anak."
"Ngapain malu, Umma. Abi yang jongkok, Rumi yang pegangin tangan Umma," jawab Rumi.
"nah..." Abi Irsyad menimpali.
"Dede yang pegang payung sambil pegang gamis Umma," serobot Nuha dengan semangat kemudian, tak mau kalah.
"Astagfirullah al'azim." Umma Rahma semakin tertawa lepas.
"Kakak, enak di kamu dong. Kalau gitu kamu yang jongkok. Abi yang pegang tangan Umma," ujar ustadz Irsyad membuat tawa Umma Rahma semakin menjadi.
"Udah-udah. Jangan aneh-aneh. Masuk aja, keburu deras lagi, nih." Rahma masuk lebih dulu di cabin tengah. "kakak hati-hati nyetirnya, ya."
"iya Umma," jawab Rumi kemudian. Sementara Nuha langsung menyusul yang seketika di tahan Rumi.
"Kamu ngapain, De?"
"Masuk lah, kakak kan jadi supir. Nah Dede jadi anak tunggal."
"Dih, enak aja. Depan sini, duduknya. Di tengah biar Abi sama Umma."
"Tapi 'kan Dede mau duduk di tengah-tengah Umma dan Abi." Nyengir.
"Nggak ada, depan pokoknya."
"Yo wes... tengah semua aja sini. Biar sampe besok nggak akan jalan nih mobil." Ujar ustadz Irsyad seraya masuk ke kabin tengah. Sementara yang lain tertawa, setelah itu masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
bersambung...