Cinta Berselindung Risau

Cinta Berselindung Risau
wisata religi bersama Ummi Isti


__ADS_3

Hari-hari yang di jalani Maryam setiap kali suami tak di rumah memang kerap membuatnya jenuh. Walaupun, Ummi sering mengajaknya pergi untuk merefresh pikiran serta suasana.


Tetap saja rindu pelukan hangat sang suami di malam hari tak mampu ia hilangkan hanya dengan mencari angin di luar.


Hampir satu pekan terlewatkan, Ummi mengajaknya pergi, melayari langit mengunjungi tempat-tempat religius.


Healing kalau kata anak-anak muda jaman sekarang bilang...


walau perjalanan yang di ambil Ummi masih banyak berkaitan dengan agama. Justru bisa membawa ketenangan dalam jiwa Maryam. Karena, wisata religi memang paling baik untuk menguatkan iman, dan bisa di jadikan Shifa bagi jiwa-jiwa yang butuh ketenangan dari hiruk-pikuk dunia. Asal dalam niat yang baik.


Ya, Ummi Isti memang senang sekali mengunjungi pondok pesantren, masjid-masjid agung, atau mungkin ke tempat makam para ulama besar terdahulu yang memiliki peran penting dalam penyebaran agama Islam di tanah Jawa.


Saat ini di Minggu pagi, mereka berdua mendatangi makam seorang rahimahulloh. Yang di kenal dengan makam Habib Ali Kwitang. Yang terletak di daerah Jakarta Selatan.


Tempat tersebut cukup ramai dikunjungi peziarah, lebih-lebih ada kajian rutin minggu pagi. Namun, karena mereka tiba sudah agak siang. Keduanya tidak dapat mengikuti kajian yang telah usah sejak satu jam yang lalu.


"Ambil air wudhu dulu, sebelum kita memanjatkan doa," pinta Isti pada menantunya. Wanita itu tak turut serta karena masih dalam keadaan bersuci. Merr segera mengangguk, dia sendiri belum mampu seperti ibu mertuanya. Yang bahkan bisa sholat ashar menggunakan whudu Sholat Dzuhurnya.


Selesai mengambil air wudhu, keduanya duduk. Turut dalam doa bersama yang di pimpin oleh pengurus makam.


Karena kebetulan sedang ada beberapa yang tengah berziarah di sana.


Di tempat tersebut, ada aturan ketat saat berziarah ke makam Habib Kwitang yang berada di dalam bangunan Masjid Al Riyadh. Bahkan pesan tertulis itu merupakan pesan dari rahimahulloh Habib Kwitang sendiri semasa hidupnya; bagi siapa saja yang akan menziarahi makamnya mereka dilarang menaruh kotak amal. Maksudnya adalah peziarah dilarang memberikan atau meletakkan uang dimakamnya


Melarang memberikan kemenyan, membawa dan menaruh air di area atau di atas makam. Maksudnya adalah almarhum tidak ingin dikultuskan atau disucikan, karena jika  umat Islam melakukan kekeliruan dalam berziarah, maka rahimahulloh akan ikut menanggung dosanya.


Kalau ingin memberikan hadiah kepada shohibul maqom berupa bacaan surat Al Fatihah atau surah Yasin. Maksudnya adalah biar bagaimanapun rahimahulloh masih mengharapkan bantuan ummat, agar almarhum mendapat ampunan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. 


Seiring waktu yang bergulir, kini hanyalah tersisa beberapa orang. Termasuk Isti dan juga Maryam yang masih melanjutkan doanya di sana. Selesai berdoa mereka berjalan pelan menikmati suasana tenang di area makam.


"Berziarah itu, yang paling utama adalah agar kita senantiasa mengingat kematian," gumam Isti sembari melangkah, tatapannya terarah pada jalan yang ia pijak. "Kita tidak boleh mengkeramatkan makam, dengan cara berdoa meminta rezeki dan kesehatan. Dia juga makhluk, yang kita sendiri tidak tahu seperti apa nasibnya di alam kubur."


Merr mengangguk, dan sangat mengagumi tatacara berziarah disini. Benar-benar menjaga agar terhindar dari bid'ah serta syirik yang jarang di sadari manusia.


"Kamu sudah lelah, belum?" tanya Isti seraya menoleh.

__ADS_1


"Lumayan, tapi kalau Ummi mau ajak aku ke mana lagi? Aku nggak akan nolak," jawabnya bersemangat. Isti tersenyum dengan tangan mengusap lembut lengan menantunya.


"Ini 'kan sudah agak siang, kita ke Monas sebentar habis itu Dzuhurnya di Istiqlal, gimana?"


"Wah mau, Ummi. Udah lama nggak ke masjid Istiqlal."


"Emmm... kayanya sehabis Dzuhur ada tabligh Akbar juga, di sana."


Merr mengangguk, "kita kesana sekarang?"


"Hayuuuk..." Isti memegangi lengan menantunya sembari tertawa bersama. Lantas, melanjutkan langkahnya menuju lokasi mobil Maryam terparkir.


***


Di Monas, mereka tidak lama hanya melihat-lihat sebentar. Karena memang suasananya sedang ramai, jadi Isti merasakan sedikit pening ketika tersengat teriknya matahari.


Dan di pukul sebelas siang, mereka sudah berada di dalam masjid agung Istiqlal. Menghabiskan sisa waktu hingga masuk waktu shalat Dzuhur. Ummi Isti saat ini sedang memuroja'ah hafalan Maryam, walaupun sedikit lebih canggung ketimbang saat muroja'ah dengan Bilal. Tapi Isti yang lembut tutur katanya itu seolah membuat Maryam cepat merasa enjoy saat membaca ulang surat Al-Muzzammil yang terdiri dari dua puluh ayat.


Ada beberapa yang salah, itupun Isti membantu memperbaiki dengan candaan. Sehingga kekehan tawa keduanya seolah menambah kehangatan. Isti memang ibu mertua yang jika pergi berdua itu tak pernah membuat Maryam merasakan canggung. Sikap mudah berbaur justru membawanya pada kesan friendly.


"Nggak papa, kan pelan-pelan," jawab Isti. Merr tersenyum, setelahnya terdiam sejenak.


"Ummi..."


"hemm?"


"Surat ini kalau di lihat dari nama suratnya berartikan selimut. Memang ada apa dengan kata selimut itu?"


Isti tersenyum. " Sebab, kandungan surat ini berisi tentang petunjuk yang harus diikuti Rasulullah. Petunjuknya berupa bangun di malam hari untuk menunaikan ibadah sholat tahajud , membaca Al-Quran dengan tartil, bertasbih, bertahmid, serta perintah agar bersabar terhadap celaan orang-orang yang mendustakan kerasulannya."


"Begitu, ya?"


"Iya... awal mula dakwahnya Rasulullah Saw kan nggak mudah. Rasul di hina, di caci, bahkan di fitnah pula. Intinya pada saat itu Rasulullah Saw pulang dalam keadaan lelah fisik dan pikiran. Jadi pada saat itu Beliau memilih langsung tidur, namun Allah SWT meminta Rasulullah Saw untuk bangun dan mengistirahatkan hatinya dengan sholat malam. Surat ini juga dulu diturunkan di Mekkah, Merr."


"MashaAllah, istirahatkan hati dengan sholat malam."

__ADS_1


Isti mengangguk. "Istirahatnya hati itu bukan tidur. Melainkan kaya sholat malam, ikut taklim di masjid, mengingat kematian. Itu istirahat qolbu."


"Ya Allah... pantas orang-orang salih tetap terlihat tenang walaupun mungkin banyak masalah yang menerpa mereka."


"Benar... karena jiwa yang sehat itu adalah yang senantiasa dekat dengan Sang Maha Pencipta. Jadi mau diterpa gulungan ombak beban hidup berkali-kali pun, tidak akan mengikis hatinya."


"MashaAllah..."


"Tadabbur surat itu, ya. Pelan-pelan aja."


"Iya Ummi inshaAllah," Merr tersenyum senang, ia pun kembali melanjutkan muroja'ah-nya hingga waktu mulai memasuki Dzuhur.


–––


Setelah selesai Maryam keluar lebih dulu. Sebab ibu mertuanya masih dalam dzikir panjangnya. Maryam sendiri memilih untuk melihat-lihat bagian luar. Bangunan yang indah, sangat membuatnya terpesona.


"Maryam–" seorang pria memanggilnya. Wanita itu seketika menoleh.


"Pak Raffi?" Ia mengenali sosok pria tinggi yang masih gagah Walaupun usianya sudah lebih tua darinya lima tahun. Wanita itu memberikan senyum amat tipis menjawab salamnya.


"Kita ketemu disini, kamu sama siapa? Suami kamu?"


"Enggak Pak, suami saya sedang keluar kota."


"Aaah, iya. Pasti Beliau sibuk sekali dengan kegiatannya. Sampai lupa punya istri cantik di rumah. Kalau saya jadi Dia, mungkin akan lebih betah di rumah nemenin kamu. Kamu sih, dulu nggak mau sama saya," katanya blak-blakan.


Maryam yang sedikit risih hanya menanggapi dengan senyum sekenanya.


"Maaf pak, saya..."


"Hei, kamu sudah isi belum? Pasti belum, ya?" Pria itu tertawa pelan. "Merr, kamu menikah sama bujangan itu udah salah. Suatu saat Dia pasti akan nuntut anak dari kamu, sekarang sih belum. Kamu masih muda, masih cantik, masih seger. Nggak tau nanti... coba dulu sama saya, anak saya kan udah banyak. Nggak bakal saya nuntut anak dari kamu."


Tatapan wanita itu seketika berubah tidak suka, ia pun memilih meninggalkan pria yang menjabat sebagai direktur di salah satu kantor penerbit, tanpa berpamitan.


"Merr– nggak sopan sekali. Saya kan sedang bicara." Laki-laki paruh baya itu menyentuh ujung hijab bagian belakang Maryam membuatnya sedikit tertahan. Kebetulan suasana masjid yang sudah mulai sepi membuat tempatnya berdiri tak di lalui orang. Mungkin itu alasan yang membuat Pak Raffi lebih berani.

__ADS_1


__ADS_2