
Waktu terus saja berlalu. Meninggalkan momen demi momen yang tak akan pernah terulang.
Sudah masuk bulan ke-tiga semenjak dirinya melahirkan anak pertamanya itu. Merr justru semakin merasakan warna-warna lain dalam kehidupannya yang pernah monokrom.
Pagi pertama saat Bilal baru saja pulang sehabis perjalanan keluar kota. Ia mengajak istri dan anaknya berjalan pagi menikmati udara yang masih sejuk.
Bilal mendorong stroller bayi, sementara Maryam hanya jalan saja mengikuti di sisinya. Angin pagi berhembus cukup segar, sementara seberkas sinar mentari pagi mulai nampak menyilaukan.
"Jajan apa ya, enaknya?" Bilal masih melanjutkan langkahnya memasuki area taman kota.
"Baru juga nyampe," kata Maryam sembari tangannya membenahi penutup bagian atas stroller-nya.
"Iya tapi pengen jajan–" mata Bilal membidik gerobak-gerobak yang berjajar di pinggir taman. Pandangannya tertuju pada olahan jagung yang di rebus. "Jasuke, yank..."
"Hemmm?" Merr menoleh kearah yang di tunjuk.
"Duduk sana dulu, yuk. Nanti A'a mau beli itu," katanya sembari melanjutkan langkahnya mendekati kursi taman. Merr di sana hanya mengikuti lantas duduk di bangkunya sementara Bilal bergegas menjauh guna mendekati gerobak penjualan jagung rebus yang di campur susu kental manis, dan keju tersebut. Menunggu sejenak, Bilal pun kembali dengan dua cup jasuke.
"Ini yank, enak tau..."
Merr meraihnya dengan senang hati. "Makasih..."
"Sama-sama," jawabnya. Bilal mengucapkan bismillah sebelum memasukkan satu suapan jagungnya. "Yank, bagaimana di rumah?"
"Baik, A'..."
"A'a mau tanya, kira-kira kamu masih nyaman, nggak? tinggal di rumah Ummi?" tanya Bilal. Merr sendiri mengangguk.
"Kenapa tahu-tahu tanya seperti itu?"
"Ya, A'a ada pikiran untuk mengajakmu pindah dari rumah Ummi."
Merr tercenung. "Kok tiba-tiba? Apa ada sesuatu?"
__ADS_1
"Nggak ada sih. Cuman, kamu tahu rumah pak Handoko, nggak? yang berada di sisi kanan rumah Ummi, berjarak tiga rumah lainnya?"
Merr mengangguk. "Yang cat hijau?"
"Iya sayang... rumah itu di tawarkan ke A'a. Karena Beliau dan istrinya mau pindah ke kampung halamannya. Makanya rumah yang di sini di jual untuk membangun rumah di sana."
"Begitu, ya?" Merr mengingat rumah itu pula berlantai dua. Walaupun tak sebesar rumah Ummi Isti. Namun sepertinya tempatnya nyaman. Karena istri pak Handoko sangat mencintai kebersihan juga kerapian.
"Jujur saja, selama ini A'a tuh selalu mikirin tempat tinggal untuk istri dan anak-anakku nantinya, karena mau bagaimanapun juga? Kita harus mandiri supaya privasi kita lebih terjaga juga," kata A'a menjelaskan.
"Iya sih– sebenarnya aku sendiri nggak masalah kalau kita tinggal di sana terus. Mengingat, Hafiz juga mulai sering ikut A'a. Pasti Ummi akan kesepian kalau sendirian di rumah. Lagian, Ummi juga baik. Nggak pernah sekalipun menyinggungku. Kalaupun ada, ya? emang karena aku yang salah. Masih wajar lah..."
Bilal tersenyum. "MashaAllah... gini sayang. Ummi itu semakin tua. Aku hanya ingin Ummi nyaman, dan terhindar dari kebisingan anak-anak apabila ingin istirahat. Cuman, A'a tuh pengenya, ya...kita pindah nggak jauh. Yang masih deketan sama rumah Ummi lah. Nah...qadarullah-nya, pak Handoko mau pindah. Tapi karena anak-anaknya juga udah pada punya rumah sendiri-sendiri jadilah rumah tersebut akhirnya di jual. Lumayan juga bisa untuk tambah-tambah membangun rumah di kampung halaman Beliau, katanya. Itulah kenapa A'a itu tertarik untuk menerimanya, karena masih amat dekat dengan rumah Ummi. Kamu sendiri bagaimana?"
"Aku setuju sih, karena rumah pak Handoko terkesan rapi dan nyaman."
"Alhamdulillah... aku diskusikan dulu ke kamu karena kamu kan nanti ratunya di rumah itu. Jadi semua bergantung sama kamu. Kalau kamu setuju nih, nanti malam A'a langsung kerumah Beliau untuk meneruskan muamalah-nya."
Merr bersemangat. "Aku ratunya? Berarti aku boleh mengatur dekorasi rumahnya, dong?"
"MashaAllah, makasih A'... aku nggak nyangka loh akhirnya bisa merasakan punya tempat tinggal sendiri lagi."
Bilal terdiam sejenak. Kalau dipikir-pikir sebelum Merr menikah dengan dirinya. Wanita itu memang selalu hidup berkecukupan. Terlebih saat hidup dengan pria sebelumnya. Yang mungkin jauh lebih mampu memberikan apapun untuknya.
Seperti rumah pemberian Beliau yang sekarang sudah beralih fungsi menjadi rumah singgah.
"Yank..."
"Ya?" Maryam menoleh kearahnya dengan mata berbinar.
"Maaf ya, A'a baru kasih kamu istana. Karena mau bagaimanapun juga, A'a harus nabung. A'a nggak bisa langsung belikan kamu rumah. Kalaupun mampu, A'a masih memikirkan Ummi."
"Astagfirullah al'azim, apa aku salah bicara A'... Wallahi, aku tetap senang kalaupun kita di rumah Ummi. Cuman, kamu tahu wanita sangat menyukai sandang dan papan. Jadi saat A'a bilang mau beli rumah, dan aku berkesempatan untuk menatanya seolah aku langsung kaya bahagia sekali. Tapi bukan berarti aku nggak betah di rumah Ummi."
__ADS_1
"Aku tahu itu, tenang aja. A'a nggak mikir macem-macem, kok."
Merr meraih tangan suaminya. "Maaf ya, A'..."
"MashaAllah. Iya sayang–" Bilal menumpuk tangan satunya di atas punggung tangan Merr. Berusaha untuk menghalau pikiran macam-macam yang berusaha meracuninya.
***
Malam setelah bertemu dengan Pak Handoko. Ia kembali kerumahnya sembari mengabarkan hal ini pada Ummi-nya.
Mereka duduk berdua di kamar Ummi Isti. Bilal pula mengatakannya dengan amat hati-hati. Khawatir sang ibu menjadi sedih karena keputusannya untuk pindah dari rumah itu.
"Ummi tidak pernah melarang kamu dan Merr untuk mandiri. Cuman, apakah sudah di pikirkan matang-matang?"
Bilal mengangguk. Beliau sendiri duduk bersila di lantai. Sementara ibunya duduk di atas ranjang.
"Bilal sudah memikirkan ini jauh-jauh hari, Mi. Tapi belum nemu yang dekat. Makanya saat Pak Handoko menawarkan, Bilal langsung mau. Karena jaraknya yang sangatlah dekat."
Ummi Isti termenung. Dimana perasaan sedihnya seolah memberatkan. Ya, walaupun tidak jauh tapi kan tetap saja berbeda rumah.
"Mi?"
Ummi Isti memandangi wajah Bilal yang penuh permohonan itu.
"Iya– semoga baik untukmu dan istrimu."
"MashaAllah, Ummi setuju?"
Ummi mengangguk sembari tersenyum. "Iya, anak Soleh, ku."
"Allah..." Bilal mencium tangan ibunya. "Terima kasih, Ummi."
"Iya, ini karena dekat. Setidaknya Ummi bisa tiap hari nengokin Yahya, dan juga Merr."
__ADS_1
Bilal terkekeh. "Merr pasti tiap hari yang kesini. Nemenin Ummi."
"Iya..." jawabnya turut tertawa.