Cinta Berselindung Risau

Cinta Berselindung Risau
lamaran


__ADS_3

Hari berganti lagi, suasana bahagia tengah melingkupi rumah Maryam.


Arshila dan Debby sudah sibuk sejak kemarin. Ikut-ikutan panik mencari perlengkapan untuk menyambut keluarga dari habib Bilal. Padahal yang mau di lamar biasa saja, namun sepertinya mereka sangat antusias sampai-sampai Debby sendiri lupa jika Dia tengah hamil besar saat ini.


"Tante udah selesai?" Tanya Debby. Yang melihat Maryam baru saja bangkit setelah berdoa sehabis sholat Dhuha.


"Iya..." Merr melepaskan mukenahnya.


"Sudah saatnya ganti baju. Ini gamisnya, Tante..." Debby mengangkat tinggi-tinggi gamis minim aksen yang cantik dan elegan berwarna biru pastel.


"MashaAllah... cantik sekali." Maryam bergumam, seraya menyentuh gamis yang di beli Debby kemarin.


"Wah... wah... kayanya aku harus belajar fashion dari keponakan kamu deh. Nggak pernah gagal Dia mah..." puji Arshila yang lantas membuat mereka tertawa. "Ayo Merr, buruan ganti bajunya. Udah jam sembilan lebih, nih."


Maryam mengangguk, meraih baju dari tangan Debby dan berjalan menuju kamar mandi. Sementara Arshila kembali mengobrol dengan Debby. Selesai berganti pakaian, mereka mulai membantu memberikan riasan di wajah Maryam.


"Jangan tebel-tebel bedaknya, Deb," pinta Maryam yang memang tidak biasa menggunakan riasan.


"Nggak Tante ini tuh tipis, Tante tenang aja. Akan ku buat senatural mungkin." Wanita itu menghela nafas sejenak, karena posisi duduknya membuat nafasnya agak engap. Bahkan Maryam sendiri sampai berkali-kali mengusap perut buncit Debby dengan gemas. "Tinggal lipstik nih..."


"Jangan terlalu merah, ya!"


"Iya-iya..." Debby mencari-cari lipstik yang pas. "Warna ini, ya? Merah bata..." tanyanya. Maryam pun menjawab dengan anggukan kepala.


Hingga senyum manisnya terpancar indah setelah di poles lipstik dengan warna yang tak terlalu merah namun membuatnya nampak lebih cantik dan segar.


"Uluuuuuuuhhhhh... Tanteku." Debby menangkup kedua pipinya dengan tangannya sendiri.


"Biasa aja ngeliatnya..."


"Nggak bisa biasa aja, Tante. Terlalu waaaw!" Goda Debby membuat Maryam mencubit pipinya dengan gemas.


"Sentuhan terakhir, Merr. Hijabnya..." Arshila sudah siap untuk melakukan pekerjaannya. Maryam pun mengangguk sementara Debby perlahan bangkit memberi ruang untuk Arshila memasangkan pasmina jumbo yang senada dengan warna gamis yang di pakai Maryam.


Setelah semua sentuhan selesai, Maryam nampak lebih sempurna.


"Memang aku masih pantas ya lamaran begini. Aku kan sudah bukan gadis lagi..."


"Pantas kok, kamu pantas mendapatkan ini," jawab Shilla setelah selesai memasangkan hijab.

__ADS_1


Maryamah termenung, memandangi bayangannya sendiri di cermin. Mengingat kisah masa lampau, manakala menikah dengan Akhri. Ia sama-sama berdebar dan bahagia. Namun bedanya yang sekarang kebahagiaan lebih banyak karena ia tidak hanya mempersiapkan ini sendiri dengan keluarga Arshila. Namun semua orang, turut hadir.


Bahkan, Koh Antoni juga istrinya datang, bersama dengan Ce Margaretha beserta suami dan anak-anaknya. Merr menitikkan air mata.


"Merr, kok nangis?" Mengulurkan secarik tissue kepadanya. Maryam menerima sejenak lalu mengusap sedikit.


"Aku cuma bahagia, karena semua keluargaku kumpul. Nggak seperti saat pernikahan ku yang pertama dulu." Maryam mengusap lagi air matanya. "Boleh nggak aku menyimpulkan kalau ini merupakan satu tanda hal baik. Karena sekarang aku mendapatkan restu lebih banyak. Jadi aku harap kehidupan setelah pernikahan kedua nanti lebih banyak bahagianya juga?"


"Aamiin, pasti Merr. Kamu udah banyak menumpahkan air mata. Kamu udah banyak berjuang dan bertahan selama ini. Sekarang saatnya kamu menempuh kebahagiaanmu." Arshila memeluk tubuh Maryam, keduanya menangis haru.


Maryam melepaskan pelukannya, lalu membuka laci di meja rias itu. Arshila sempat terkejut melihat apa yang di pegang Maryam. Rupanya wanita itu masih menyimpan foto pernikahannya dengan Akhri.


"Mulai sekarang aku sudah bisa terlepas dari masa lalu, kan?" tanyanya, Arshila mengusap genangan air di sudut mata Merr.


"Iya Merr..." jawabnya kemudian. Shila memandangi tangan Maryam yang kembali membuka bingkai itu dan mengeluarkan foto di dalamnya.


Abang, terimakasih sudah pernah hadir dalam hidupku. Abang pernah bilang, Merr harus bahagia. Mudah-mudahan, dengannya Merr bisa benar-benar bahagia.


Maryam lantas merobek pelan foto itu menjadi dua, yang ia tumpuk lalu merobeknya lagi.


Tangan Arshila menengadah. "Sini kasih ke aku. Sebaiknya ini di buang."


–––


Pukul sepuluh lewat lima menit. Empat mobil yang membawa rombongan keluarga habib Bilal datang. Yang sebagian besar adalah para ulama dengan ilmu yang mumpuni, Ummi Isti, adik-adik Bilal, serta pak Huda dan keluarganya.


Maryam merasa berdebar, wajahnya yang tertutup kain cadar berwarna putih hanya bisa tertunduk. Sementara Bilal pun sepertinya nampak gugup namun tak bisa menghilangkan kebahagiaannya saat wanita yang akan menjadi kekasih halalnya dengan mantap; mengatakan ia bersedia menikah dengannya.


***


Di masjid Abdul Aziz...


Bu Karimah menemui Akhri, pria yang baru selesai mengimami sholat Dzuhur berjamaah itu duduk bersebelahan dengan Bu Karimah di teras masjid.


"Kamu sudah tahu kabar tentang Maryam?" Tanya beliau.


"Kabar apa? Apa terjadi sesuatu?" Mendadak panik. Namun segera di bantah Bu Karimah, yang segera menggeleng.


"bukan itu, Dia baik-baik saja kok. Berarti kamu belum tahu kalau Maryam sudah di lamar seseorang. Dia akan menikah tiga hari sebelum masuknya bulan ramadhan ini."

__ADS_1


Akhri terdiam sejenak, seolah ada hantaman namun beliau tetap mengemasnya dengan senyuman.


"Iya, kah? Alhamdulillah... aku turut senang mendengarnya."


Bu Karimah menghela nafas, "sebenarnya memang nggak perlu Bibi ngasih tahu ini. Karena Merr sudah menjadi orang lain untukmu."


"Bibi benar, Dia sudah orang lain untuk Akhri," tersenyum kecut.


"Tapi, tujuan Bibi ngasih tahu hal ini selain untuk membuatmu semakin mampu melupakan Dia, Maryam juga menitipkan pesan. Bahwa ia akan mengembalikan rumah pemberianmu."


"Untuk apa di kembalikan, buat Akhri itu sudah hak Dia. Kalaupun Dia mau tinggal dengan suaminya di rumah itu, tidak masalah."


"Masalahnya, pria itu maunya Maryam ikut dengannya. Jadi rumah itu akan di kosongkan."


Akhri menatap kosong, ke depan. Tangannya dengan perlahan melepaskan peci di kepala. Desir Angin semilir pula langsung menggoyangkan rambut beliau.


Sudah lewat lebih dari lima tahun, tapi aku tidak boleh berandai-andai. Menyayangkan yang pernah terjadi. Merr bukan jodohku yang sesungguhnya, itulah yang harus membuatku sadar dan ikhlas.


Akhri menoleh kearah Bu Karimah lagi, setelah menghembuskan nafasnya.


"Tolong sampaikan saja padanya, Bi. Aku tidak akan menerima lagi rumah itu. Kalaupun mau di kosongkan, atau mungkin di jual juga tidak masalah. Itu sudah haknya."


"Yakinkah?"


"Iya, Bi." Akhri mengangguk dengan mantap seraya tersenyum. Bu Karimah pun mengangguk, sembari mengusap bahu keponakannya itu. "Bi, kalau boleh tahu, siapa yang akan menikahinya?"


"Dia seorang Habib yang mungkin kamu kenal?"


"Habib?"


"Iya, Habib Bilal Lutfi Asegaf putra sulung mendiang Habib Utsman."


Nafas Akhri tercekat. Ia melebarkan sedikit bola matanya.


"Ha– Habib Bilal?"


"Iya."


"Allah..." Ekspresi yang tak bisa di tergambarkan oleh kata-kata. Beliau pun menatap langit. "Dia pantas mendapatkannya..." gumamnya lirih. Setelah itu beliau pun berpamitan untuk kembali mengajar kitab di kelasnya.

__ADS_1


__ADS_2