Cinta Berselindung Risau

Cinta Berselindung Risau
bertemu Ummi Salma


__ADS_3

Hari ini Merr bersiap, sembari menunggu A'a pulang dari luar kota yang katanya akan mengantar Merr ke rumah sakit untuk memenuhi catatan imunisasi Umar.


Sebenarnya Hafiz pun ada, Merr bisa pergi dengan adik iparnya. Atau mungkin menggunakan taksi online tanpa perlu di antar oleh siapapun. Namun, Bilal tetap bersikukuh. Meminta Maryam untuk menunggunya.


Sekarang masih pukul satu siang, sementara dokter praktek pukul dua. Terdengar sedikit rengekan Umar yang haus, bersamaan dengan langkah cepat Ummi Isti menghampiri mereka sembari membawa botol berisi susu.


"Nih, Nenek bawa susunya–" kata Isti sembari mendekatkan empengnya ke bibir yang reflek langsung terbuka lebar. Farah yang masih duduk di kursi rodanya terkekeh.


"Nggak sabaran sekali," gumam Farah kemudian.


"Begini, kalau sudah haus," jawab Maryam sembari menimang pelan bayi dalam gendongannya.


"Tapi, agak kegerahan nggak sih? Coba di copot dulu aja topinya, Teh."


Maryam menuruti, ia melepaskan topi di kepala Umar. "Duh, keringetan..."


"Sepertinya emang kegerahan nih cucu nenek, ya?" Isti mencium kepala Umar. Setelah itu berbincang sedikit. Bersamaan dengan keseruan mereka, mobil Bilal pun tiba.


Dan tak menjeda waktu lama-lama, keduanya langsung jalan menuju rumah sakit tempat Umar menjalani imunisasi.


––


Di rumah sakit, setelah melakukan pendaftaran ulang untuk mengambil nomor antrian Bilal kembali menuju poli anak.


"Dapat nomor urutan sebelas, nih," kata Beliau.


"Nggak papa lah, nggak akan lama kok."


"Maaf ya, tadi sempat macet soalnya."


"Nggak apa-apa A'... sebenarnya aku itu khawatir, A'a kecapean karena baru pulang dari Pekalongan."


"A'a nggak capek. Malah justru senang, bisa anterin kamu sama Umar." Bilal mengusap pipi Umar dengan gemas. Anak itu nampak membuka matanya, "tumben nggak tidur?"


"Sepanjang perjalanan tadi udah tidur, jadi sekarang minta main mungkin," jawabnya. Bilal sendiri nampak tersenyum gemas memandangi wajah lucu Umar yang seperti tengah menatapnya. "A', mungkin seperti ini rasanya. Kalau kita punya anak."


Bilal menoleh lalu mengangguk. Tak lupa pula tangannya pelan mengusap kepala Maryam.


"Andai tidak ada masalah pada diriku? Kita pasti bisa 'kan, merasakan kebahagiaan yang benar-benar utuh seperti ini?" Merr mengangkat sedikit lalu mencium pipi yang masih kemerahan.


"Sayang...?"


"Tenang, aku nggak sedih kok. Hanya berbicara omong kosong." Maryam terkekeh, baginya memang itu omong kosong yang tak membuatnya merasa sedih. Namun sepertinya Bilal menangkap lain, ia malah justru tidak tega melihatnya. Dan merasakan kesedihan di diri Maryam kembali hadir.


"Ingat selalu pesanku, ya? Bahwa ketaatan akan mengundang kesabaran, sedang kesabaran akan mengundang kebaikan juga keberkahan. A'a percaya keimanan istri ku ini, akan membawamu sampai pada titik kedewasaan serta ikhlas yang lebih besar lagi."


"MashaAllah, A'a ngomong gitu jadi membuatku berkaca-kaca."


Bilal tersenyum, ia mengambil alih Umar. "Katanya nggak sedih?"


"Tadi nggak, sekarang jadi merasa terharu." Keduanya tertawa pelan, Umar pun sudah berada dalam gendongan Bilal.

__ADS_1


"Takdir memang tidak bisa kita ubah, namun Rahmat Allah SWT lebih luas dari yang kita bayangkan..." Bilal tak melanjutkan, ia hanya menoleh ke kanan lalu tersenyum, "A'a nggak mau kamu terlalu memikirkan hal itu. Yang penting sekarang kamu sama A'a bahagia. Masalah anak itu bonus. Bener, nggak?"


Merr mengangguk cepat, "iya A'..."


"Kamu bahagia 'kan sama A'a?" Bisiknya, ketika kepala Maryam menyandar di bahunya.


"Bahagia, sangat bahagia A'..."


"Alhamdulillah–" gumam Bilal sebelum akhirnya terdiam seraya menciumi Umar dengan gemas.


A'a harap kamu benar-benar bahagia. Bahkan lebih bahagia daripada saat dengan Beliau, Merr. Karena Aku benar-benar mencintaimu. –batin Bilal sembari tersenyum.


Bilal mungkin lumayan jarang berucap cinta secara langsung, atau mungkin menunjukan rasa cemburunya seperti Akhri. Namun cinta Beliau sungguhan. Walaupun terkadang menunjukkannya melalui candaan yang membuat Merr merasa Bilal amat kekanak-kanakan sehingga kerap kali membuatnya jengkel. Tapi percayalah, di satu sisi. Ketika sifat dewasa pria itu muncul, tentu saja langsung membuat Maryam tidak bisa berkata-kata sebab terharu dan juga takjub.


Ungkapan kata yang beliau lontarkan sering membuatnya semakin merasakan jatuh cinta kepada pria yang usianya jauh lebih muda di bawahnya itu.


–––


Selesai imunisasi, Merr duduk di taman. Tidak jauh dari area admistrasi. Sementara Umar tengah tidur di dalam stroller bayi. Hilir angin berhembus menyejukkan. Suasana menjelang Ashar memang sangat nyaman. Udara sudah tidak terlalu panas, namun angin berhembus sepoi-sepoi.


"Maryam?" Suara wanita paruh baya yang ia kenal membuat Maryam seketika terperanjat.


"Ummi Nyai?" Gumamnya. Ia segera beranjak lalu membawa stroller bayinya mendekati wanita yang tengah berdiri di lorong rumah sakit. "Assalamualaikum, Ummi apa kabar?"


"Walaikumsalam warahmatullah..." Wanita paruh baya yang tak lain adalah Ummi Salma langsung memeluknya. "Alhamdulillah, Ummi baik. Kamu sendiri bagaimana?"


Merr tersenyum, "Alhamdulillah, seperti yang Ummi lihat."


"MashaAllah, Ummi bisa saja." Merr tersipu malu. "Ummi datang sendirian?"


"Enggak... Ummi datang sama Akhri."


"Bang Akhri?"


"Iya, Ummi habis melakukan rontgen thorax. Bagian paru-paru Ummi ada sedikit masalah. Makanya agak sesak akhir-akhir ini."


"Innalilah..."


"Tapi nggak parah, kok. Alhamdulillah masih bisa di tangani."


"Syukurlah kalau begitu."


"Kamu kesini sama siapa?"


"Sama suami, Merr. Sekarang Beliau sedang mengurus administrasi, setelah dari poli anak."


"Begitu, ya?" Pandangan Ummi Salma tertuju pada bayi di dalam stroller. "Maaf, ini anak kamu?"


Merr tergugu, andai ia bisa menjawab iya? Sayangnya ia hanya mampu menggeleng.


"Dia anak adik ipar saya. Karena ibunya sakit, jadi saya sama suami yang mengurusnya untuk sementara waktu."

__ADS_1


"Ohh..." Bibir Ummi Salma membulat. "Ya, Ummi paham. Semoga kamu selalu sabar menjalani semuanya. Ibu mertuamu yang sekarang pasti lebih baik dari pada Ummi."


Maryam hanya tersenyum tipis. Kemudian sedikit terkesiap saat tangan Ummi Salma meraih tangan kanannya lalu menggenggamnya erat.


"Ummi, minta maaf ya.... dulu mungkin Ummi tidak pernah bersikap baik terhadapmu."


"Ya Allah, Ummi Nyai kenapa bilangannya seperti itu?" Merr merasa tidak enak hati.


Ummi Salma pun menoleh ke kiri dan kanan. Sepertinya Akhri juga masih lama mengantri obatnya.


"Kita duduk di sana saja, gimana?" Ajaknya, yang lantas di iyakan oleh Merr. Mereka pun berjalan memasuki taman rumah sakit.


Di bangku tempat mereka duduk memang cukup rindang. Di bawah pohon yang besar, di tambah angin yang sejuk menerpa. Ummi bercerita banyak hal tentang Akhri yang sekarang.


Hal itu sedikit membuat Maryam miris, ia tidak pernah tahu hubungan Akhri dan Kania yang sudah menghasilkan tiga buah hati rupanya tak berjalan baik.


"Tapi sekarang, sepertinya Akhri sudah mulai bisa menerima Kania sepenuhnya, sih..."


"Syukurlah kalau begitu." Merr merasa sedikit lega.


"Mungkin karena Kania juga lagi sering sakit."


"Sakit? Sakit apa Ummi?"


"Ada benjolan di bagian dada sebelah kanan. Dia sering mengeluh nyeri, tapi kalau mau di lakukan pemeriksaan lebih lanjut, Dianya selalu menolak. Mungkin takut..."


"Astagfirullah..."


"Makanya, Akhri sekarang jarang keluar kota. Dia lebih banyak ambil dakwah yang dekat-dekat. Karena di samping kondisi Kania yang jika sedang kambuh amat memprihatinkan di tambah anak-anak juga butuh pengawasan selain mbak pengasuhnya."


"Ya Allah, Nia," gumam Maryam merasa prihatin. Ummi Salma terbatuk-batuk, Maryam pun menoleh. Lalu mengeluarkan satu botol air mineral dari dalam tasnya setelah itu menyerahkannya ke Ummi. "Minum dulu, Ummi."


Ummi Salma tersenyum seraya menerimanya. "Terima kasih..."


Merr hanya mengangguk, menunggu wanita paruh baya itu menengguk airnya sampai selesai. Tak lama dering ponsel terdengar, Ummi Salma menerima panggilan telepon seluler dari sebrang, setelah berbicara sebentar Beliau lantas menyentuh punggung tangan Maryam yang berada di atas pangkuan Maryam sendiri.


"Ummi harus pergi, Akhri cari Ummi sampai ke parkiran." Beliau tertawa kecil, setelah itu memeluk tubuh Maryam. "Maafkan Ummi, Merr."


Maryam terdiam, namun tangannya mengusap lembut punggung mantan ibu mertuanya.


"Jujur saja, Ummi menyesal. Seharusnya Ummi tidak egois, pasti kamu masih menjadi menantu Ummi sekarang."


"Ummi, ini semua garis takdir kita. Ummi tidak salah."


"Ya, tapi tetap saja. Semua keegoisan ini sudah mengantarkan Ummi pada kenyataan yang bahkan tidak pernah Ummi bayangkan, apalagi diharapkan akan menjadi seperti ini."


Merr melepaskan pelukannya. Ia mengusap air mata Ummi Salma. "Saya tetap menganggap Ummi Salma seperti dulu, layaknya ibuku."


"MashaAllah... terimakasih, cantik." Ummi Salma kembali menitikkan air mata, Beliau mengusap wajah Maryam dengan tatapan penuh sesal. "Ya sudah, Ummi pergi dulu. Kasian Akhri sudah menunggu Ummi di luar."


"Iya..." Merr meraih tangan kanan Ummi Salma lalu menempelkan punggung tangan tersebut ke bibirnya. Bahu Ummi Salma sedikit berguncang, namun seketika ia tahan. Sikap halus dan takzimnya Merr tidak pernah hilang. Beliau pun mengucap salam lalu berpamitan, meninggalkan Maryam di sana.

__ADS_1


__ADS_2