
Senja yang nampak menguning. Selepas beranjak dari melaku ibadah sholat ashar. Maryam melamun sendirian, di kursi taman.
Rumput-rumput sudah mulai tinggi. Menjulang tak beraturan. Bunga-bunga dalam pot pun sedikit kalah dengan rumput yang turut tumbuh liar di dalamnya.
Ya... semenjak Akhri memiliki anak dari Nia, beliau memang jarang pulang ke rumahnya. Bukan hanya untuk menemui sang istri kedua dan anaknya saja. Namun pekerjaan keluar kota, entah mengapa semakin sering. Maryam menatap miris tanaman yang sudah mulai terbengkalai.
Aktifitas berkebun biasanya di kerjakan oleh sang suami. Namun sekarang mereka tak ada yang mengurusnya.
Maryam berpikir, seperti itukah hatinya. Sebagian besar kering, layu, dan bahkan mati. Sebab kalah dari rumput yang tanpa permisi turut tumbuh di wadah yang sempit?
Mendadak hatinya tercubit, Maryam merindukan Mami, Papi, Koh Yohan. Juga kakak-kakaknya yang lain.
Sebulir air matanya lolos, membasahi pipi.
Aku tidak salah mengambil keputusan ini kan? Atau ini hukuman Tuhan karena aku sudah melakukan sesuatu, dengan kehendak sendiri. Hingga Mami pun berpulang?
Maryam menghela nafas, ia ingin mendatangi ibunya Arshila. Hatinya yang rapuh sedang butuh kekuatan, dan hanya ibu Karimah yang bisa membantunya untuk kuat, setelah mengadu pada Sang Maha Kuasa.
–––
"Di minum, Nak," kata Beliau mengulurkan segelas teh hangat. Maryam tersenyum.
"Terimakasih." Menarik gelas itu lebih dekat, lalu menyeruput sedikit.
"Ibu melihat, kamu semakin hari semakin kurus saja. Kamu makan dengan benar, 'kan?"
Maryam mengangguk pelan. "Aku makan dengan benar, walaupun hanya sehari sekali."
"Itu namanya kamu nggak makan dengan benar. Makan itu sehari tiga kali." Bu Karimah mengusap tangan Maryam lembut. Maryam sendiri hanya tertawa kecil.
"Merr nggak nafsu makan, Bu. Nggak tau, ya? Mungkin karena banyak beban pikiran yang membuat Merr nggak bisa menerima asupan makanan."
"Harus tetap di paksain. Nanti kalau kamu sakit gimana?"
__ADS_1
"Iya, Bu." Maryam menjawab dengan lirih. "Bu, Maryam mau ngomong sesuatu."
"Apa? Katakan saja. Ibu selalu siap untuk mendengarkan."
Maryam bersemu, ia merasa senang. Karena memang hanya Bu Karimah dan juga Arshila. Yang masih membuatnya bertahan, dan yakin akan cinta Allah SWT kepadanya.
"Sejujurnya, Maryam udah memikirkan ini cukup lama. Seiring perjalanan pernikahanku dengan Bang Akhri yang menurutku, sudah tidak ada gunanya lagi untuk di lanjutkan."
Bu Karimah tercenung, mendengar dengan serius. Menatap mata sembab Maryam. Seolah sorot mata sipitnya tak pernah sekalipun memancarkan keceriaan seperti dulu.
Ia bisa memahami, sakitnya menjadi Maryam. Walaupun dirinya tidak pernah merasakan di poligami oleh mendiang suaminya. Namun sebagai sesama wanita, tentu Dia paham. Terlebih tidak adanya buah hati dalam kehidupan Maryam. Itu pasti jauh membuatnya lebih berat menjalani hari-harinya.
"Sebelum kesini, Merr sempat mengirim pesan ke Abang. Kalau Merr ingin mengakhiri semuanya. Aku menyerah, Bu. Aku ingin bercerai saja dengan Abang." Serak, Maryam berbicara dengan air mata kembali mengalir ke pipinya. "Merr udah nggak sanggup, Bu. Nggak bisa lagi Merr hidup seperti ini."
Bu Karimah semakin mendekat, lalu merengkuh tubuh Merr. Memeluknya erat.
"Merr tahu ini kemauan ku sendiri yang bersedia untuk dipoligami. Tapi aku menyesali keputusan terbodoh dalam hidupku. Merr berpikir semuanya akan baik-baik saja. Rupanya enggak. Banyak kesakitan yang tak bisa ku ungkapkan, banyak Bu..." Tangis Maryam kembali pecah, bahunya berguncang. Dia tak bisa lagi melanjutkan perkataannya. Seolah, tidak sanggup untuk menjelaskan. Sesakit apa hatinya saat ini.
Bu Karimah turut merasakan hatinya teriris. Beliau juga tidak mampu untuk menjawab. Mencoba untuk menenangkannya sejenak sebelum memberikan wejangan pada wanita dalam dekapannya.
***
Di rumah...
Setelah mendapatkan pesan singkat itu. Ia bergegas menghampiri istri pertamanya.
Perasaan khawatir seolah berkecamuk. Ia berharap bisa langsung bersimpuh di kaki sang istri, namun yang ia temukan hanya rumah yang sedikit berantakan. Dan lampu yang belum menyala. Padahal langit sudah mulai gelap, Adzan magrib pun sebentar lagi berkumandang.
Dik, kamu dimana?
Akhri kelabakan mencari kesetiap sudut rumah. Lantas kembali ke kamar utama, membuka langsung lemari pakaian.
Nafasnya memburu, terdengar berhembus pelan. Ada perasaan sedikit lega. Karena pakaian sang istri masih utuh, tertata rapi di dalamnya.
__ADS_1
Suara motor terdengar, Akhri tersenyum senang. Bergegas ia berjalan keluar menuruni anak tangga.
Dan belum sampai ke pintu. Ia sudah melihat Maryam tengah lesu melangkah masuk ke dalam rumah mereka.
"Ya Allah, Dik. Abang pikir kamu kemana?" Akhri memeluk tubuh Maryam ketika sang istri sudah memasuki ruang tamu. Maryam yang tak membalas pelukannya hanya diam saja, setelah itu mendorongnya pelan meminta untuk di lepaskan. Namun justru semakin kuat Akhri memeluknya.
"Lepas, Bang." Pintanya lirih.
"Abang nggak akan melepaskan mu. Kamu nggak serius saat mengirim pesan itu 'kan? Maafkan Abang. Abang janji akan memperbaiki semuanya. Maaf sayang."
"Janji lagi? Abang pernah bilang dalam surah Al Baqarah ada ayat tentang orang-orang yang bahkan Allah tidak mau memandangnya. Dialah orang-orang munafik. Salah satunya adalah yang selalu berjanji, namun Dia ingkar!"
Pelan Akhri melepaskannya, beralih memegangi kedua bahu Maryam. Menatap penuh penyesalan.
"Maaf, Abang?"
Maryam melepaskan pelan kedua tangannya. Lalu memilih untuk melenggang pergi, tanpa berniat sedikitpun mendengarkan ucapan suaminya. Dimana Akhri langsung menyusul.
"Dik, Abang minta maaf sama kamu. Abang tahu, Abang salah. Abang menyakiti kamu terus-menerus. Tapi Abang tidak mau kehilanganmu. Abang mau kita tetap bersama."
Maryam menghentikan langkahnya di salah satu anak tangga. Setelah itu menoleh.
"Abang mau sama aku terus? Berati Abang ingin terus mencambuki aku dengan kesakitan ini...!" Air mata Maryam kembali menetes. Ia menyentuh dadanya, memandang bengis ke arah sang suami. "Abang, tahu? Merr itu wanita biasa, harus berapa lama lagi aku bertahan hidup dalam cara Abang yang tidak adil ini?"
Akhri menitikkan air mata, mendengarkan, juga menerima luapan kemarahan Maryam padanya.
"Abang seharusnya paham. Bagaimana sikap Abang sebagai seorang suami yang memiliki dua istri. Walaupun aku tidak punya anak, tapi aku juga butuh waktu bersama. Tidak melulu harus mengerti kondisi Abang dan juga Kania. Aku harusnya tetap punya hak yang sama dengan Nia!"
Akhri tak menjawab, selain menarik tangan Maryam. Memeluknya erat. Sementara Maryam sendiri meronta-ronta minta dilepaskan.
"Maaf, maafkan Abang. Abang telah menzholimi-mu. Abang salah, Dik."
"Aku sudah tidak bisa menerima maaf Abang. Aku ingin kita berpisah, Bang. Aku ingin lepas dari ini semuanya. Merr lelah... Merr sakit, Bang. Tolong lepaskan Maryam." Isaknya, masih berusaha melepaskan pelukan suaminya yang justru semakin erat.
__ADS_1
Di Rumah yang masih gelap itu, Akhri berusaha keras mempertahankan Maryam dalam pelukannya. Hingga tubuh Maryam mulai lelah, meronta dan menangis. Hanya tersisa pukulan lemah di dada sang suami.