Cinta Berselindung Risau

Cinta Berselindung Risau
pernikahan tak di inginkan


__ADS_3

Akhri menoleh ke salah satu sudut, tempat di mana Maryam duduk. Cukup jauh dari tempat para saksi.


Senyum Maryam mengembang sempurna, ia mengangguk sekali padanya. Sementara Akhri, pria itu mulai menitikkan air matanya. Tidak sanggup untuk melakukan ijab qobulnya.


Setelah itu kembali menggeser pandangannya pada Hamid kakak tertua yang menjadi wali nikahnya Kania.


Akhri pun menjabat tangan sang penghulu mulai bergumam bismilah lalu berikrar.


"Bismillahirrahmanirrahim... Qobiltu Nikahaha..."


Allah... Maryam merasakan satu sayatan dalam di dada. Namun ia masih belum bangkit dari posisinya duduk.


"wa Tazwijaha alal Mahril Madzkuur wa Radhiitu bihi, Wallahu Waliyut Taufiq."


Pandangannya semakin kabur. Gamang memandangi semuanya. Maryam pun beranjak dari tempatnya setelah semua saksi berseru 'Sah'.


Langkahnya limbung, tangan kanannya menutup rapat mulutnya yang tengah terisak.


Ia mencari tempat kosong, untuknya menyendiri setelah itu menyandar di tembok. Perlahan merosot turun, Maryam berjongkok.


Bang Akhri, selamat untukmu. Semoga kebahagiaan menyertai ... kita semua. Aku menangis bukan karena sedih, atau menyesali. Aku bahagia ... sangat bahagia. Seperti apa yang ku inginkan, Abang akhirnya bisa menikahi wanita lain demi mendapatkan keturunan.


Maryam sesenggukan sendiri, di samping masjid yang sepi. Sembari membodohi dirinya. Dia tahu, suara hatinya turut berbohong. Hanya untuk menenangkan dirinya sendiri. Yang justru tak membawa efek apapun.


Hingga sebuah tangan menyentuh bahunya. Maryam terkesiap, ia sempat mengira itu Bang Akhri.


"Arshila?" gumamnya lirih. Bergegas Arshila memeluk tubuh sahabatnya, turut menangis sesenggukan.


"Kamu itu gimana, sih? Aku sudah bilang, jangan lakukan ini. Jangan turuti kemauan Uwa, ku. Sekarang kamu seperti ini?"


"Aku nggak apa-apa."


"Jangan bohongi aku, Merr. Aku kenal kamu. Aku kenal seperti apa sakitnya jadi kamu."


Maryam semakin menumpahkan tangisnya di pelukan Arshila. Hingga pelukan hangat kedua datang merengkuh mereka. Bu Karimah membuat Maryam dan juga Arshila menoleh.


"Ibu?" Maryam beralih, ia menghambur pada ibunya Arshila.


"Ibu tidak tahu harus bicara apa lagi. Sekarang sudah terjadi. Akhri sudah sah dengan gadis itu. Pertanda hak kalian akan sama," tutur Bu Karimah, mengusap lembut punggung Maryam yang berguncang. "Ibu hanya bisa berharap, kamu menerima ini dengan ikhlas. Kalau kamu ikhlas, maka surga menantimu, sayang."


"inshaAllah, Maryam akan berusaha."


"Ummi, kenapa Uwa Nyai egois sekali, sih?"

__ADS_1


"Mau bagaimana lagi? Kamu tahu status Uwa Nyai, kan? Ummi tidak mungkin bisa membatu Maryam untuk berbicara."


"Ck!!"


"Sudah Arshila. Aku nggak papa. Cuman, aku butuh waktu untuk sendiri. Aku izin pulang dulu, ya."


"Ku anterin!" Sigap Arshila menawarkan.


"Nggak usah. Aku bisa sendiri, kok. Lagian, kasian Daffa nanti nyariin Ummi-nya."


"Dia lagi sama Abinya. Nggak masalah kok, aku nganterin kamu sebentar. Lagian Bang Dayat pasti paham."


"Iya, Merr. Kamu biar di antar Arshila, ya," bujuk Bu Karimah.


"Iya, Bu." Maryam beranjak, dengan di bantu Shila yang memegangi kedua tangannya. Setelah itu menggandeng tangan Maryam erat. "Bu, nanti kalau Abang tanya; 'Merr dimana?' Tolong bilang, Merr pulang duluan. Agak nggak enak badan."


Bu Karimah tersenyum tipis. "Iya, nanti ibu sampaikan."


"Ya sudah Maryam pulang dulu. Assalamualaikum." Tubuhnya masih sedikit lemas. Pikiran yang tak karuan itu membuatnya tak memiliki energi untuk berjalan.


***


Selepas shalat Sunnah di kamar bawah bersama Kania. Akhri tergugu, ia tidak bisa merasakan apapun selain perasaan bersalahnya pada Maryam. Tidak ada bahagia, apalagi berdebar.


"Bang, Abang kenapa diam saja?" Tanya Kania, menatap sang suami yang tengah duduk berhadapan dengannya di atas alas sujud.


"Apa?"


"Abang pengen ke kamar atas. Nengok Maryam."


Kania terdiam, sebenarnya Dia tak ingin suaminya keluar dari kamar mereka. Ia khawatir, sang suami tidak jadi tidur bersamanya malam ini.


"Hanya menengoknya, kok. Abang belum ketemu lagi selepas ijab Kabul kita tadi. Abang belum tahu seperti apa Dia sekarang."


"Tapi, Cece tadi baik-baik saja. Bahkan menyambut kita dengan senyuman. Apa itu tidak cukup?"


Akhri kehilangan kata-kata. Membuatnya bingung, bagaimana caranya untuk menemui Maryam.


"Abang tidak bahagia, ya? Apa sebenarnya Abang terpaksa menikah dengan ku?"


Akhri menggeleng. "Enggak, Dik. Abang hanya merasa bersalah. Jadi izinkan Abang ke atas sebentar saja. Cuma ingin berbicara. Setelah itu Abang janji, akan kesini lagi. Tidur sama kamu."


Aku sebenarnya tidak mau Abang ketemu Cece. Tapi ya sudah lah...

__ADS_1


Kania mengangguk pelan. Membuat Akhri tersenyum lega. Ia mengusap kepala istri keduanya, setelah itu beranjak. Keluar dari kamar mereka.


"Dia bahkan belum melihat wajahku tanpa hijab, tapi sudah pergi. Aku mau Abang yang melepaskan mukenah, ku." Kania sedikit kesal, ia segera melepaskan mukenanya sendiri.


–––


Di dalam kamar utama.


Maryam mengetik sesuatu di laptopnya. Sebuah catatan yang ia rangkai sejak satu tahun belakangan.


Pernikahan yang sudah berjalan hampir empat tahun, kini sudah berubah. Aku tak bisa berbohong.


Aku sakit. Siapa yang sudi menjalani pernikahan yang seperti ini. Tapi aku bisa apa...


Gerakan jari tangannya terhenti, Maryam mengusap air matanya. Lalu menangkup wajahnya sendiri.


Sedikit terkesiap, bergegas menyeka air matanya. Saat mendengar pintu kamarnya di buka.


"Abang, ngapain kesini?" Tanya Maryam. Sementara Akhri tak menjawab, ia segera menghampiri istrinya lalu memeluk tubuhnya. "Bang?"


"Abang nggak bisa seperti ini. Abang nggak bisa seperti ini..." rancaunya sembari menangis. Setelah itu menurunkan tubuhnya memeluk kaki Maryam. "Maafkan Abang, tolong maafkan Abang."


Maryam yang kembali menangis, mencoba memegangi bahu sang suami. Ia turut turun memeluknya.


"Abang sudah, jangan seperti ini. Merr nggak papa."


Akhri meraih wajah Maryam, menciumi pipinya tanpa henti. "Abang mencintaimu, sangat. Tapi Abang malah justru menyakiti kamu."


"Abang sudah–" Maryam sudah tidak tahan. Ia benar-benar menangis lagi.


"Maafkan Abang. Maaf, Dik."


"Abang, dengerin aku. Jangan seperti ini, kita sudah janji untuk saling menerima. Merr akan tetap jadi istri Abang. Akan tetap mendampingi Abang, dan Abang pun pasti bisa berlaku adil terhadap aku dan juga Nia."


Akhri kembali memeluk tubuhnya. Tidak peduli tangan Maryam mencoba melepaskan. Yang jelas? Ia hanya butuh ketenangan hati, sebelum kembali kekamar bawah menghampiri Kania, dan melakukan kewajiban pertamanya memberikan wanita itu nafkah batin.


Ya ... berat memang. Namun, itulah jalanya. Tidak tahu sampai kapan kapal mereka akan berlayar, di tengah gempuran badai yang menghempas keras. Hanya berharap, iman menjaga hati mereka. Supaya mahligai ini tak karam.


.


.


.

__ADS_1


###


mohon bersabar untuk bab-bab ini ya. Dikit lagi kok. Kembali ke masa Maryam sudah menjadi janda. Nih ... ku kasih bonus bab biar cepet hehehe. 🥰🥰 terimakasih buat yang masih bertahan baca.


__ADS_2