Cinta Berselindung Risau

Cinta Berselindung Risau
talak yang di ucapkan


__ADS_3

Semenjak sore itu, Akhri berpikir lebih keras, tentang nasib hubungannya dengan Maryam. Ia bahkan jadi lebih sering mendatangi Maryam, yang sudah tak menunjukkan senyum manisnya kepada beliau.


Tekad Maryam sepertinya sudah bulat. Wanita itu benar-benar marah dan kecewa padanya. Hingga Akhri tidak mampu lagi melihat pendar cinta di hati sang istri.


–––


Di rumah Ibu Karimah, Akhri menceritakan perasaan dilema yang tengah beliau alami. Karena hanya Bibinya yang bisa di ajak berbicara perihal Maryam.


"Kamu harus ingat, pelaku poligami harus bisa berlaku adil. Bukan hanya sekedar materi tapi kasih sayang, juga kehadiranmu harus sama rata di antara istri-mu yang lain. Kamu bisa berdosa loh, membiarkan salah satu istrimu memendam sakitnya tanpa pernah kamu ketahui. Bagaimana caramu nanti bertanggungjawab di hadapan Allah?" Bu Karimah menegur Akhri dengan keras.


"Wallahi, Bi. Tidak pernah sekalipun Akhri berniat berlaku tak adil seperti ini dengan Maryam. Akhri tidak menyadari kalau sudah menzholimi-nya. Dan Akhri menyesal."


"Kamu terlalu terbuai dengan kebaikan Merr, sampai-sampai tidak tahu hati istrimu babak-belur. Ketika memaksa untuk mematuhi."


"Astagfirullah al'azim." Akhri menghela nafas. Lalu menghembuskannya. Mimik wajahnya menunjukan beliau amat merasa bersalah.


Bu Karimah memandangi Akhri yang tertunduk lesu di hadapannya. Di sini, beliau sendiri berada pada posisi yang tidak bisa berbuat apa-apa. Di sisi lain, ia tidak tega melihat Akhri, namun Maryam juga sudah banyak menahan kesakitanya.


"Sekarang mau bagaimana? Merr sudah mulai mengurus berkasnya untuk di serahkan ke pengadilan."


Akhri tergugu. Air matanya menetes. "Akhri tidak bisa melepaskan, Dia."


Bu Karimah menghela nafas. Lalu menyentuh pundak keponakannya itu.


"Bibi hanya bisa menyarankan, kamu harus bisa merelakan salah satunya. Daripada mempertahankan keduanya, namun condong sebelah. Lagipula Merr sudah tidak mau di duakan."


"Kalau boleh memilih, Akhri hanya ingin mempertahankan Maryam bukan Nia. Karena jujur saja, perangai Nia amatlah buruk. Membuat Akhri terkadang lepas kontrol. Dan dari pada mengucapkan kata tak baik, Akhri lebih memilih menurutinya. Itu salah satu alasan lain yang membuatku tanpa sadar, jadi berlaku tidak adil pada Maryam. Sebab, ku pikir Maryam lebih banyak mengerti."


"Bibi sering bilang, wanita juga punya batasannya untuk bersabar. Hati tidak melulu bisa menerima. Seperti gunung, tak bisa melulu menyimpan lava dalam perutnya. Pasti Dia akan menyemburkannya juga, walaupun entah kapan."


"Akhri sangat ingin memperbaiki hubungan ini dengan Maryam. Tidak mungkin rela, Akhri melepaskan istri yang amat baik seperti Dia.Tapi, jika melepaskan Nia bagaimana dengan Husein?" Akhri menggaruk kasar kepalanya.


"Banyak-banyak lah beristighfar. Jangan lupa lakukan sholat malam. Supaya pilihanmu bisa tepat. Sebelum semuanya terlambat."


Akhri mengangguk, pelan. Setelah itu berpamitan pulang. Ia masih mencoba terus menahan Maryam, dengan segala hal baik. Sehingga berkas itu pun masih tertahan, belum sampai ke pengadilan.


***


satu Minggu setelahnya.


Desir angin sudah seperti nyanyian lara. Dalam kelengangan, wanita itu menghentikan langkahnya hingga sampai di depan pintu. Setelah satu demi satu kakinya terseret dengan lemas seraya memegangi koper, Maryam kembali tercenung.


Langkahnya seolah di selimuti rasa takut. Ketika memutuskan untuk keluar dari rumah yang penuh dengan segala kenangan manis di tiga tahun awal pernikahannya dengan Bang Akhri.


Aku tidak bisa terus di rumah ini. Semakin aku melihatnya, semakin aku sulit untuk berusaha keukeuh meminta berpisah.


Sebuah taksi online sudah menunggunya, ia akan pergi. Tanpa membawa apapun dari rumah itu, selain pakaian yang ia beli dengan uangnya sendiri.


Bersamaan dengan itu, mobil Akhri juga tiba. Membuat kelopak mata Maryam mengerjap, menjatuhkan bulir beningnya.

__ADS_1


Kakinya membeku. Kenapa harus Akhri datang lebih dulu sebelum dirinya pergi.


Belum juga mesin mobilnya di matikan, Akhri keluar bahkan tak sempat menutup pintunya lagi. Bergegas mendekati Maryam.


"Kamu mau kemana?" Tanyanya, seraya meraih tangan kanan Maryam. Tatapan pasi itu membuat wajah Maryam berpaling.


"Aku, sudah mencari tempat tinggal baru. Dan akan menempatinya," jawabnya dingin.


"Untuk apa, Dik? Ini rumah kamu. Buat apa lagi mencari tempat tinggal?"


Maryam tak menjawab, ia hanya memegangi tangan Akhri, lalu melepaskan genggamannya. Setelah itu mengusap air mata dan melangkah pergi.


"Merr–" panggil Akhri, membuat langkahnya tertahan. "Apa nggak bisa, kasih Abang kesempatan untuk memperbaiki hubungan kita? Katakan saja, Abang siap melepaskan Kania. Demi bisa mempertahankan kamu."


Maryam terdiam, menyentuh dadanya. Meredam tangisnya yang tak bersuara itu dalam posisi membelakangi.


Aku mungkin bisa saja egois, tapi aku tidak mungkin memisahkan seorang ayah dari anaknya. (Maryam)


"Abang tidak bisa melepaskan mu. Kamu lebih berarti dari apapun... tolong beri Abang kesempatan. Kita bicarakan ini baik-baik. Tolong sayang, Abang mohon..." Suara Akhri nampak serak. Membuat Maryam tidak bisa melanjutkan langkahnya, namun tidak bisa juga berbalik arah. "Abang mencintaimu, lebih dari apapun. Andai waktu bisa di putar? Abang tidak akan pernah peduli, dengan keinginan mu. Menikahi wanita lain. Karena ini yang Abang takutkan."


"Bang, Abang itu suami yang baik. Sangat baik." Tuturnya setelah menoleh, bibirnya berusaha tersenyum. "Tapi disini. Aku yang bersalah, aku yang sudah melubangi sendiri kapal kita. Dan aku siap karam sendirian. Abang tetaplah bersama Nia. Hussein, lebih membutuhkan Abinya."


Akhri mendekati, ia langsung menggenggam tangan Maryam erat. "Selalu kamu seperti ini. Meminta tanpa berpikir panjang. Lalu Abang, yang akhirnya harus menenggak hasilnya? Adil nggak, Abang tanya?"


"Maafkan aku, Bang. Aku memang bukan wanita yang baik. Aku terlalu gegabah... dan aku menyesali kekeliruanku ini."


"Kamu wanita terbaik ku. Kamu istri Abang..." Akhri mengguncangkan tangan itu. Membuat Maryam semakin terisak. "Ayo kita perbaiki ini sayang. Jangan tinggalkan Abang. Abang mohon–"


"Kenapa, bukankah tidak hanya Abang yang berjanji, namun kamu juga berjanji untuk tetap bertahan sama Abang? Sekarang kamu mau mengingkari?"


"Hiks, maaf Bang...." Lirihnya, masih berusaha melepaskan cengkraman kuat di pergelangan tangannya.


"Abang tidak mengizinkan Kamu pergi dari rumah ini. Kamu masih istri Abang, sudah sepatutnya kamu patuh dengan perintah Abang." Berusaha kuat Akhri mempertahankan Maryam. Membuat Maryam tidak bisa membantahnya lagi.


Beliau melepaskan tangan Maryam kemudian, hanya untuk mendekati taksi online yang sudah menunggu Maryam. Membayar sesuai tujuannya sebagai ganti, setelah itu menyuruh mobil itu untuk pergi lantas kembali mendekati sang istri.


Akhri sama sekali tak mengucapkan sepatah kata apapun lagi, selain membawa masuk koper Maryam.


Ya Allah.. aku harus bagaimana? Aku sudah tidak mau disini. (Maryam)


"Masuk, Dik." Titahnya lebih tegas dari biasanya. Membuat Maryam tak memiliki pilihan selain menuruti. Melangkah pelan memasuki rumah itu.


Akhri kembali menutup pintunya mengunci rapat setelah itu menarik pelan tubuh Maryam. Membawanya kedalam pelukan hangat.


"Jangan lagi seperti ini, Dik," gumam Akhri, semakin memperkuat pelukannya. Punggung Beliau berguncang. Menangis sesenggukan. "Tolong maafkan Abang, beri Abang kesempatan. Abang tidak mau kehilanganmu."


Maryam tak menjawab, ia hanya bisa menghela nafas panjang. Rasa lelah yang membuncah membuatnya sudah tidak bisa membendung keinginan untuk mengakhiri.


Hingga beberapa saat kemudian, Maryam mencoba kembali melepaskan pelukan Akhri. Lalu meninggalkan beliau tanpa sepatah katapun, naik kelantai dua. Memilih untuk mengurung diri di dalam kamarnya.

__ADS_1


Sudah berjam- jam Akhri mencoba memintanya untuk keluar, membujuknya untuk makan dan sebagainya. Namun Maryam tetap tidak mau.


Langit di luar sudah semakin gelap, belum lagi ponselnya yang berkali-kali bergetar. Puluhan telfon dan pesan chat masuk dari Nia.


Membuat Akhri mematikan ponselnya dan memutuskan untuk menenangkan diri di masjid. Beritikaf sampai subuh menjelang.


Esok paginya, kembali ke rumah Maryam. Posisinya masih sama. Pintu itu tidak di bukanya sama sekali, Akhri pun duduk di balik pintu dengan lemas. Mengetuk-ketuk, membujuknya lagi untuk keluar.


"Dik, maafkan Abang. Abang harus apa? Jangan seperti ini terus." Mengusap matanya yang basah, setelah itu kembali mengetuk pintunya pelan. "Setidaknya makan, Dik. Buka pintunya, ya."


Maryam yang di dalam hanya bisa duduk memeluk lututnya di atas ranjang.


"Maryam, kamu benar-benar serius, sudah tidak mau lagi sama Abang?" Akhri berseru dari luar. "Kamu benar-benar mau kita?"


Akhri tak bisa melanjutkan, selain menghela nafas sembari menyandarkan kepalanya di pintu.


Beliau lantas beranjak berlanjut sholat Dhuha.


Hingga siang dan kembali sore. Akhri semakin khawatir. Istrinya sama sekali tidak mau keluar, Dia bahkan tak makan apapun.


"Abang mohon, Merr ... keluarlah. Ayo kita bicara lagi. Abang mohon, sayang..." Kembali mengetuk pelan, namun baru satu ketukan. Suara kunci yang di buka terdengar. Akhri bernafas lega, ia mundur satu langkah menunggu Maryam muncul.


Dengan matanya yang sembab, Maryam berdiri. Sigap Akhri mengusap pipinya.


"Abang benar-benar minta maaf, sudah membuatmu sampai seperti ini. Abang itu hanya manusia biasa, Dik. Walaupun Abang seorang ustadz sekalipun, tidak akan pernah luput dari kesalahan. Dan Abang mengakuinya." Akhri memegangi kedua pipi sang istri. "Abang minta maaf, cuma itu yang bisa Abang ucapkan padamu."


Maryam hanya menatap dingin, lalu melepaskan cincin pernikahannya. Meraih tangan kanan Akhri lantas meletakkan cincin itu di telapak tangannya yang terbuka.


"Dik, tidak bisakah kita memperbaiki segalanya?"


Maryam menggeleng. "Abang sayang Merr?"


"Sangat, Abang sangat menyayangimu."


"Kalau begitu, tolong lepaskan Merr dari belenggu ini."


Akhri terpekur. Berpikir cukup lama sembari membalas tatapan sang istri.


"Haruskah, kita berakhir seperti ini?"


Maryam mengangguk, bersamaan dengan bulir bening yang mengalir pelan.


"Ceraikan aku, Bang." keukeuh Maryam mengatakannya.


Kembali pria itu menghela nafas. Beristighfar dan akhirnya mengangguk.


"Baiklah... sebelumnya Abang minta maaf, karena belum bisa menjadi imam yang baik serta lebih sering menyakitimu. Abang harap kamu ridho memaafkan Abang." Berat Akhri melanjutkan ucapannya. Beliau lantas memberikan kecupan di bibir Maryam setelah itu melepaskannya, lalu menghela nafas panjang. Menguatkan hatinya. "Mulai hari ini. Abang menceraikan kamu, kamu bukan lagi istri Abang."


Akhri mengusap air matanya, "untuk sementara tetaplah disini. Abang akan mengurus semuanya." Tanpa memandang Akhri pun putar haluan, beliau berjalan cepat menuju tangga dan turun tanpa menoleh lagi.

__ADS_1


"Terimakasih, Bang." Maryam bergumam amat lirih, sesaat setelah tubuh pria jangkung itu tak lagi nampak dari pandangannya. Tubuhnya yang kemas merasakan semakin sesak. Namun ini yang lebih baik, daripada terus menerus memaksa diri menenggak racun yang kian merusakkan hatinya.


__ADS_2