Cinta Berselindung Risau

Cinta Berselindung Risau
kekasih halal


__ADS_3

Hari-H tiba. Pernikahan yang di gelar di masjid dekat rumah berjalan lancar. Tak ada halangan apapun.


Para saksi sudah mengesahkan mereka sebagai sepasang suami istri. Maryam sendiri menangkap binar bahagia di wajah pria yang sudah sah menjadi suaminya.


sedari tadi pria itu nampak menyentuh dadanya sendiri, karena debaran jantung yang amat kuat. Nafas Bilal pula terdengar berat, sementara senyumnya nampak indah mengembang sempurna di hadapan bidadari cantiknya.


Hari baru untukku, kembali menjadi seorang istri.


Merr meraih tangan Bilal, pria yang usianya lebih muda darinya semakin terlihat bahagia ketika Maryam mendaratkan kecupan di punggung tangannya untuk yang pertama kali. Bilal sendiri lantas menyentuh keningnya, membaca doa. Setelah itu berbisik pelan.


"Kamu kado terindah di tanggal cantik ini, bidadari ku."


Kepala Merr terangkat, memandangi wajah tampan sang suami, setelah itu tersenyum malu-malu sebab bisikan lembut yang ia dengar dari Bilal. Ya, kata-kata manisnya bisa ia dengar langsung sekarang, bukan dari DM lagi melainkan dari bibirnya yang tipis dan manis.


–––


Di malam hari, selepas shalat Sunnah Bilal memutar tubuhnya menghadap Maryam. Tangannya bertopang dagu, memandangi wajah yang sudah halal untuk di nikmati keindahannya.


"Jangan melihatku seperti itu, bikin aku salah tingkah," Maryam menyentuh pipinya lalu memalingkan wajah yang sedang tertawa kecil.


Bilal menghela nafas, setelah itu menyentuh pipi sang istri. Mengusap lembut dengan ibu jarinya.


"kemarin, aku dengar kamu sempat sakit. Sekarang bagaimana?"


"Sebenarnya tadi masih agak nggak enak badan, tapi menjelang siang udah agak mendingan kok," jawab Merr, sementara Bilal manggut-manggut.


Bilal terdiam sejenak, lalu ia pun mendekati hanya untuk memberikan kecupan pertama di kening dengan waktu yang cukup lama. Sementara tangan satunya menggenggam kuat tangan Maryam yang masih terlukis hena.


"Dengar nggak?" Kata Bilal, setelah melepaskan kecupannya.


"Dengar apa?"


"Aku deg-degan banget, Merr. Ya Allah..." Bilal menepuk-nepuk dadanya sendiri. Sementara Maryam tertawa, karena apa yang ia rasakan sama.


"Habib..."


"Kok, masih Habib manggilnya?"


"Terus panggil apa?"


"Apa aja, asal jangan nama. Kalau nama nanti jadi kaya bukan suami," Bilal memutar tubuhnya lagi lalu merebahkan kepalanya di atas pangkuan Merr yang sedang tersenyum. Tangan halus Maryam sigap menyentuh peci yang masih berada di kepala Bilal, melepaskannya sejenak sebelum mengusapnya lembut.

__ADS_1


"Aku mau panggil kamu, kaya Hafiz dan juga Farah, boleh?"


"Boleh– kayanya kalau di panggil A'a sama kamu akan lain."


"Lain bagaimana, A'?"


"Tuh kan lain rasanya, bikin ser-seran di dada. MashaAllah..." Bilal menatap ke atas, memandangi Merr yang kembali tertawa dengan suaranya yang menurutnya sangat imut. Ia termenung mengagumi wajah mungil Merr yang benar-benar tak nampak sudah berusia di atas tiga puluh lima tahun, ia masih kelihatan muda bahkan jika mengaku usianya masih sekitar di bawah dua puluh lima juga orang pasti percaya.


"A'a, kenapa nggak ngirim DM lagi setelah lamaran? Kan aku nungguin setiap minggunya." Tanya Maryam.


Bilal mengangkat tangan Merr hanya untuk menciumnya sejenak setelah itu menempelkan kembali di dadanya sendiri. Dengan sesekali mengusap punggung tangan mulus itu.


"Ada alasannya, waktu belum lamaran A'a masih bisa nahan untuk nggak ngegombalin kamu. Setelah lamaran itu guncangan di dada semakin tak terkendali, makanya A'a nggak berani DM kamu. Takut kebablasan... tau-tau nanti jadi kangen, gimana?"


"Ya di tahan, lah..." Maryam terkekeh, sementara sang suami langsung kembali bangun.


"ya nggak bisa dong, sayang..." panggilan sayang itu sontak membuat dada Maryam berdesir.


"kenapa kok nggak bisa?"


"karena laki-laki dan perempuan itu berbeda. seorang laki-laki mungkin bisa menahan amarahnya bahkan sampai empat puluh hari. tapi syahwat dan cinta? laki-laki itu nggak bisa menahan perasaannya walaupun hanya sehari. berbeda dengan perempuan. kamu mungkin bisa menahan perasaan juga hasrat mu terhadap laki-laki, namun kalau soal amarah? sebagian besar wanita tidak bisa menahannya walaupun cuma sehari."


"iya, dan bagi A'a menghindari komunikasi untuk sementara waktu adalah jalan satu-satunya menahan hasrat untuk bertemu. Kalau sekarang 'kan enak nggak perlu DM buat nunjukin rasa sayangku. Langsung aja pakai tindakan... seperti ini–"


Maryam terperanjat saat pipinya tiba-tiba di cium oleh sang suami. Ia pun memukul dada Bilal pelan. Tawa Bilal langsung pecah.


"Pelanggaran itu, nggak pake ijin dulu."


"Loh ngapain izin, kan udah halal..." Bilal masih tertawa, setelah itu mengusap kepala Maryam yang masih tertutup kain mukenah.


"A'a, kenapa nikahnya buru-buru? Kenapa nggak habis lebaran aja? Waktu itu A'a janji mau kasih tahu."


"Ooh... simpel sih. Aku mau tanya? Kalau misal kamu sudah lapar banget mau makan, dan di meja makan itu udah tersaji makanan favoritmu. Namun bersamaan dengan itu suara Adzan berkumandang. Mana yang kamu dulu kan?" Bilal mencium kening Merr lagi, lalu bertopang dagu memandangi mata yang sedang membalas tatapannya sembari berpikir.


"Mungkin sholat dulu. Kan wajibnya sholat."


"Itu bagus, pilihan yang baik. Tapi yakin bisa khusyuk, nggak bakal mikirin hidangan yang bakal kamu santap nanti setelah sholat?" Bibir Bilal tersungging senyum, karena kembali Merr seperti sedang berpikir. Dan ekspresinya itu sangat membuatnya gemas


"Kayanya tetap bakal mikirin, sih."


"Itu udah pasti, makanya Rasullullah Saw menyarankan untuk makan lebih dulu. Karena apa? Ketika kita makan tapi ke inget belum sholat itu lebih baik daripada lagi sholat tapi keinget lauk yang akan kita makan."

__ADS_1


"MashaAllah..."


"Itu pula alasanku menikahi kamu sebelum ramadhan. Karena aku mau fokus ibadah ramadhan, tanpa riweuh mikirin pernikahan. Bisa-bisa setan menembus benteng hatiku, membuat aku terbayang wajah kamu dan membayangkan hal apa yang akan aku lakukan setelah menikah dengan kamu. Aku nggak mau merusak ibadah ku... paham sekarang?"


Maryam mengangguk, seraya tersenyum kagum saat pipinya di cubit pelan oleh Beliau.


"MashaAllah, udah puas belum tanya-tanya-nya?"


"Belum– ada satu lagi," Merr menatap penuh harap.


"Apa?"


"A'a tahu kekuranganku, tapi kenapa keukeuh untuk bersama ku. Kenapa nggak memilih yang lebih baik."


Bilal menggaruk kepalanya. Sebenarnya ia menghindari pertanyaan itu karena baginya hal itu tidak baik untuk di bahas terus.


"Kebahagiaan pernikahan bukan hanya sekedar bisa punya anak, Merr."


"Itu sekarang, kalau suatu saat nanti A'a pengen punya anak?"


"Merr, ada banyak hal yang bisa kita lakukan walaupun hanya berdua, tanpa harus pusing mikirin anak, anak, dan anak. Itu sudah A'a pikirkan matang-matang. Jadi berusahalah untuk mengubur masalah itu, ayo rajut semuanya dengan hati yang ikhlas. A'a cuma mau kita bahagia untuk saling mengasihi dan menerima kekurangan masing-masing. Karena kalaupun seumur hidup kamu cuma mikirin masalah kekuranganmu, selamanya kamu tidak akan bisa membahagiakan dirimu sendiri. jatuhnya zholim loh. Ngerti nggak maksudnya?"


"Iya, A'... Merr ngerti."


"Lagipun, anak ku udah banyak. Nggak cuma di panti asuhan milik yayasan Abdul Aziz. Tapi banyak yayasan... salah satunya, yayasan khusus anak penderita sindrom down dan autis. Ada juga yayasan anak-anak penderita kanker. Besok-besok kita ke sana deh. Akan A'a tunjukkan, supaya kamu bisa lebih bersyukur lagi dengan hidupmu yang sekarang."


Maryam mengangguk, ia sendiri baru tahu rupanya sang suami tidak hanya menjadi donatur di salah satu yayasan.


sebenarnya kalau dilihat-lihat, keluarga Bilal tidak sekaya keluarganya Ustadz Akhri. Dan, entahlah. Mungkin ini yang di sebut harta yang berkah, atau mungkin memang keluarga Bilal tidak pernah menunjukkan kepemilikannya. Dan bersembunyi di balik kesederhanaan.


"Sekarang masih ada yang mau di tanya lagi nggak?" sambung Bilal, membuat Maryam menggeleng.


"Nggak ada, udah cukup."


"Alhamdulillah. kalau begitu, Ayok..." Bilal beranjak sembari menarik kedua tangan sang istri.


"Ayok kemana?"


"Kemana, yaaaa...?" Bilal membantu Maryam bangun. "Udah jalan dulu aja, nanti kita tentukan mau ke tikungan surga yang sebelah mana..."


"Hahaha, A'a..." Merr memukul bahunya gemas. Mereka memang belum langsung bersenggama, di samping Bilal yang masih canggung menyentuh Merr. Ia juga tidak tega melihat wajah sedikit pucat wanita yang baru di nikahi itu. Sehingga memutuskan untuk menunda, dan menghabiskan waktu sebentar hanya untuk bercumbu kecil di atas ranjang pengantin mereka. menikmati cinta halal yang sedang mereka rakit bersama.

__ADS_1


__ADS_2