
Di luar mentari bersinar cukup terik. Waktu yang pas untuk beristirahat. Mengerjakan sunahnya manusia, yaitu beristirahat tidur siang.
Seorang pemuda tengah berdiri dengan semangat di depan cermin seraya memasang pecinya. Bersiap untuk berangkat ke salah satu masjid agung di daerah Jakarta pusat.
Di hari Minggu ini walaupun matahari sedang garang-garangnya, tak mengurungkan semangat Bilal untuk memimpin sholawat di salah satu acara tabligh Akbar bersama dua Ustadz kondang saat ini.
Satu kehormatan baginya, yang di beri kesempatan langsung bertemu mereka. Dan menjadi bagian dari acara tersebut.
Seraya keluar, tangan beliau berkutat dengan salah satu lengan bajunya. Memasang kancing di area pergelangan tangan. Seolah paham kakaknya kesulitan, Farah segera mendekati.
"Sini aku bantuin, A'," kata Dia. Bilal tersenyum, dan langsung mengulurkan tangannya. Yang dengan sigap di pasangkan. "Susah ya kalau masang sendiri? Kalau ada yang masangin, 'kan enak..."
"Iya kamu benar."
"Satunya..." pinta Farah setelah selesai memasang yang satu. Bilal kembali menukar dengan tangan satunya lagi.
"Okay, pelan-pelan, dan... selesai!"
"Makasih, ya. Adikku yang Solehah..."
"Sama-sama." Farah tersenyum lebar. Habis itu mengacungkan kedua ibu jarinya. "A'a ganteng, Soleh, plus baik hati... ada yang bisa Farah bantu lagi nggak hari ini? Farah bawain tasnya, ya."
Bilal terkekeh. "Nggak beres nih... mau minta apa, kamu?"
"su'udzon, tuh..." jawabnya dengan pipi yang bersemu.
"Beneran 'kan...?"
"Iya... iya, cuma mau minta uang tambahan. Buat beli buku novel karya penulis Maryam. Yang season duanya."
Bilal menghela nafas. "Belum lama ini bukannya udah beli, ya?"
"Itu buku yang lain, aku mau yang baru rilis..." Nyengir, dengan kedua telapak tangan bertumpu menghadap ke atas. "Uangnya..."
"Astagfirullah... gini deh, A'a beliin aja, ya. Soalnya sebelum ke masjid agung, A'a mau ke toko buku dulu. Jadi kamu nggak perlu kemana-mana hari ini. Hafiz biar fokus belajar, jangan di ajakin pergi-pergi."
__ADS_1
"Iya deh... Emang, A'a tahu bukunya kaya gimana?"
"inshaAllah... judulnya apa?"
"Judulnya 'Imam sampai ke jannah.' sampulnya warna hijau. Bentar... bentar..." Segera Farah mengeluarkan ponselnya, mencari buku di laman web. "Nih, bukunya seperti ini."
"Oh... iya. Nanti A'a coba cari. A'a jalan dulu, ya."
"Okay, Terima kasih A'... Semoga rezeki A'a selalu lancar. Di tambah dapat jodoh dengan segera."
"Khusus yang terakhir, kamu pengen A'a buru-buru dapat jodoh. Ntar susah loh minta uang jajan lagi..."
"Ku tambahin doanya. Semoga jodohnya A' Bilal wanita yang baik hati dan nggak pelit sama adik-adik dari suaminya."
Bilal bergumam Aamiin sembari terkekeh, lalu geleng-geleng kepala ketika kaki sudah mulai melangkah keluar.
–––
Di perjalanan menuju masjid, tepatnya setelah keluar dari toko buku. Bilal membuka bungkusan yang beliau dapatkan dari toko tersebut. Berisi satu buku yang amat tebal milik Syekh yang cukup terkenal asal Mesir, dan satu buku novel pesanan adiknya.
[Aku terpekur membaca sebuah kata;
'Jodoh mu adalah cerminan dirimu sendiri'. Namun kenapa, di antaranya ada banyak yang tak memiliki kesamaan. Bahkan masuk dalam dua golongan yang berbeda, dan berakhir dengan cara yang berbeda.
Seperti Asiyah dan Fir'aun... mereka memiliki sifat yang berbeda, halusnya hati seorang Asiyah, kenapa harus mendapatkan pasangan zholim seperti Fir'aun? Bahkan tertulis jelas dalam Al-Qur'an, bahwa Fir'aun memiliki gelar laknatullah, yang sudah pasti akan kekal di neraka. Sementara Asiyah di sebut sebagai salah satu dari empat wanita terbaik yang akan menghuni surga.
Dalam benakku bertanya, seperti apa jodohku nanti? Bisakah saat bertemu, dan bersatu di dunia... kita tetap melangkah dengan misi yang sama. Menjadi pasangan yang baik sampai ke surganya Allah. Keraguan ku kerap kali muncul setiap kali ingin membuka hati, sebab aku pernah gagal dari yang pertama...]
Bilal termenung. Memusatkan pandangannya pada rentetan kata di akhir. Membuat ia teringat cerita adiknya. Kalau setiap novel yang di buat wanita itu, sebagian besar berisi kisah sedih perjuangan seorang wanita untuk bertahan dalam kesendiriannya.
Hingga tangannya tanpa sadar merobek plastik tipis yang melapisi buku novel tersebut. Di awali dengan kata pengantar, beliau membaca isi dari novel tersebut.
Fokus... ia terus saja membuka halaman berikutnya, dengan sesekali menarik ujung bibirnya, tersenyum. Karena ada beberapa bait yang menurutnya menarik.
Gaya bahasa ceria, namun halus. Membuat Bilal sedikit mengagumi tulisannya. Mobil terus berjalan, hingga tanpa sadar sudah memasuki kawasan masjid.
__ADS_1
Kang Beben menginjak rem, setelah pas memposisikan mobil yang ia bawa.
"Alhamdulillah," segera di tarik keatas rem tangannya. "Bib, sudah sampai."
Bilal tak menyahut, bibirnya masih tersungging, matanya fokus mengarah ke buku.
"Habib!"
"Hah?" Dengan bibir tersenyum Bilal terperanjat.
"Udah sampai, Bib," ujar beliau lagi sembari tertawa saat melihat wajah bak orang linglung yang di tunjukkan Bilal.
karena Bilal langsung menoleh ke kanan dan ke kiri. "Wah, cepet banget?"
"Cepet gimana, tadi sempet macet loh. Habib tuh... yang terlalu fokus membaca."
Bilal melirik ke buku di tangannya yang sudah hampir tamat ia baca. Hanya tinggal sedikit lagi.
"Astagfirullah al'azim... nggak kerasa loh." Beliau menutup bukunya, seraya memindahkan kertas pembatas buku ke halaman terakhir yang beliau baca. Setelah itu meletakkan lagi ke dalam paper bag.
"Turun sekarang, Bib?"
"Iya... anak-anak udah pada sampai, 'kan?"
"Udah, peralatan juga udah sampai dari sebelum Dzuhur tadi."
"Alhamdulillah... ya udah. Kita langsung masuk aja, jangan lupa bawa tas yang belakangan ya, kang."
"Siap, Bib."
Habib Bilal tersenyum, manakala sudah ada dua orang yang menyambutnya. Membantu memegangi pintu saat beliau hendak keluar. Pelukan hangat pun di dapatkan juga.
"Wah habib datangnya barengan sama Ustadz Akhri," ujar salah seorang panitia acara.
"Oh, ya?" Beliau tersenyum cerah, Karena ini pertama kalinya beliau bertemu dengan Ustadz yang cukup kondang di media sosial. Mereka pun saling jabat tangan, lalu berpelukan. Setelahnya melangkah masuk ke ruangan khusus yang di peruntukan bagi para pengisi acara.
__ADS_1
Di dalam mereka hanya berbicara sebentar, Bilal harus segera bersiap untuk membuka acara pertama. yaitu bersholawat dengan para kelompok Hadrohnya di dalam.