Cinta Berselindung Risau

Cinta Berselindung Risau
pertemuan


__ADS_3

Seiring berjalannya waktu, hidup Akhri dan juga Merr sudah mulai bisa melangkah dengan normal.


Akhri dengan keluarganya yang sekarang, sudah memiliki kebahagiaan baru. Kania hamil anak kedua mereka.


Maryam yang mendengar itu turut senang dan berdoa yang baik untuk mereka. Barulah setelah itu, ia meminta pada Arshila untuk tidak lagi membahas Akhri. Ia ingin tutup buku dengan masa lalunya. Sekarang saatnya hidup dengan caranya, meskipun sendiri.


Ya, saat ini Koh Yohan jadi turut marah besar saat tahu perceraian dan poligami yang di lakukan Akhri, tak menyurutkan semangat Merr untuk terus berjalan di garis takdirnya.


Ia percaya, Allah senantiasa ada. Menemani setiap langkah manusia yang menggantungkan harapan pada-Nya.


***


Waktu berputar semakin cepat, tiga tahun sudah Beliau terjun di dunia dakwah dan sholawat.


Bilal yang sempat bekerja beberapa bulan akhirnya berhenti karena panggilan untuk memimpin sholawat semakin banyak.


Hari ini, lelah nampak terpancar di wajahnya yang teduh. Menatap langit yang menguning dari kaca depan mobilnya.


Beliau yang duduk di samping supir sesekali memejamkan mata. Pandangannya terus-menerus redup terbawa efek kantuk yang berat.


"Bib, sudah Maghrib. Mau mampir dulu ke masjid?"


"Emmm?" Bilal terperanjat, lalu mengusap kedua matanya yang pedih. "Ya, langsung cari masjid ya... Sekalian cuci muka sama istirahat, ngantuk banget rasanya."


Pria yang akrab di panggil Kang Beben oleh beliau lantas terkekeh.


"Maklum saja... Habib cuma tidur dua jam, semalam. Sampai sekarang belum tidur lagi."


Bilal menguap, "astagfirullah, mata berat banget. Cari yang terdekat ya, Kang."


"Siap, Bib." Dari kejauhan, nampak sebuah kubah. Beben segera mengambil jalan tengah untuk menyebrang. Setelah itu mobil pun terparkir mulus di pelataran masjid.


Seorang ustadz berusia di atas empat puluh tahun yang baru tiba melebarkan senyumnya. Merentangkan kedua tangan, memeluk Habib Bilal. Setelah sebelumnya mencium tangan beliau.

__ADS_1


"MashaAllah, barakallah... hari ini bisa bertemu Sayyid..."


"MashaAllah..." Bilal membalas pelukannya sembari tersenyum.


"Bib, Antum saja yang mengimami," pinta beliau dengan sopan.


"Eh... MashaAllah, biar saya jadi makmum saja."


"Nggak bisa begitu, saya hanya Ustadz lulusan pondok pesantren. Beda dengan Antum yang lulusan Tarim. Bukankah adab menjadi imam harus yang lebih berilmu, memahami kitabullah, serta lebih faham sunnah-sunnah."


Bilal tersenyum tipis. Akhir-akhir ini nama Bilal memang tak asing terdengar di kalangan para ulama. Bahkan beliau pun tak jarang masuk ke sebuah acara televisi, untuk melakukan sesi wawancara.


"Ayo, silahkan Bib." Memajukan sedikit tangannya, untuk mempersilahkan Bilal jalan lebih dulu. Pria itu lantas menyerahkan tasnya pada Beben lalu melangkah kedepan.


Di mihrabnya... Bilal meminta para jamaah untuk merapatkan safnya. Membaca doa dan niat, lalu bertakbir.


Tiga reka'at sudah selesai di jalankan, dzikir pun sudah. Hanya tinggal beberapa orang yang masih di sana. Berbincang sebentar dengan Bilal, karena tubuh yang sudah amat lelah membuatnya lantas berpamitan segera.


Dalam langkahnya, Bilal memijat sedikit area T di tengah kedua matanya. Pusing sedikit, efek kurang tidur mungkin. Sehingga membuatnya tidak menyadarinya ada bayangan seorang wanita yang hendak keluar dari bilik saf wanita.


"Tidak apa-apa, saya yang salah. Tiba-tiba keluar nggak lihat-lihat," jawab Maryam sembari tersenyum. Bilal pun tersenyum tipis.


"Maaf sekali lagi... saya permisi dulu. Assalamualaikum." Bilal jalan lebih dulu, meninggalkan gumaman di bibir Maryam menjawab salam. Mata peri Maryam memandangi sejenak, lalu menghela nafas setelah memastikan beliau sudah keluar barulah Maryam melanjutkan langkahnya.


Dan dari pertemuan itu, seolah membawa takdir. Tanpa di sadari, mereka jadi sering bertemu lagi di kesempatan berikutnya. Di momen yang berbeda.


–––


Di rumah Habib Bilal...


Farah menghampiri kakaknya yang baru saja pulang sehabis acara seminar yang menjadikannya narasumber bersama seorang penulis wanita yang sedang naik daun.


"A'a! A'a kok nggak bilang kalau hari ini A'a bertemu Maryam?"

__ADS_1


"Assalamualaikum..." Bilal memotong ucapan Fara dengan salam.


"Walaikumsalam warahmatullah. A'a...?" mencium tangan kakaknya kemudian.


"Maryam siapa, sih?" Berjalan dengan letih masuk ke rumah mereka, di susul dengan Farah juga.


"Yang penulis itu... ini Novelnya." Farah menunjukkan bukunya. "A'a gitu, nggak ngomong-ngomong. Kalau ngomong kan aku minta ikut, tadi."


Bilal terkekeh, melepas kaos kaki hitamnya yang masih terpasang. "Oh, ya mana A'a tahu kalau kamu ngefans sama Dia. Lagian A'a nggak kenal Maryam. Kalau tahu juga pasti akan ajak kamu."


"Kapan, ya? A'a ketemu lagi, ada jadwal nggak? Pengen foto bareng..."


Bilal geleng-geleng kepala. "Segitunya banget ngefans sama orang. Nggak baik loh..."


"Ya nggak berlebihan, hanya mengagumi." Farah nyengir. Bersamaan dengan itu, Ummi keluar membawakan segelas air putih untuk putranya yang baru pulang.


"Kalau A'a baru pulang, di ambilin minum dulu baru ngajak ngobrol."


"Hehehe, tapi udah nggak sabar Ummi pas tahu A'a ada acara bareng penulis kesayangan."


"MashaAllah..." gumam Bilal, sembari menerima gelas berisi air dari tangan ibunya. Tak lupa Bilal mencium tangan ibunya lebih dulu.


"Ummi tahu nggak? Fara rasa nih, kisah yang di tulis disini, itu mengisahkan tentang kehidupan Dia. Soalnya setahu aku, Maryam pernah menikah dengan seorang ustadz. Sama persis dengan yang ada di bukunya."


Bilal turut mendengarkan setelah itu mengucap hamdalah selepas minum.


"Kalau benar, iya... Kasian banget, ya? Menjanda karena nggak bisa punya keturunan, sebab nggak kuat di poligami."


"Duh, kamu itu jangan suka asal menyimpulkan, ya?" Ummi Isti mengusap kepala anak perempuannya itu.


"Nggak asal, banyak kok yang berpikiran sama. Semenjak novelnya di angkat ke layar lebar."


Bilal masih terdiam, ia jadi ingat cerita Maryam di sesi tanya jawab tadi. Tentang dirinya yang membenarkan bahwa itu adalah kisah nyata. Namun saat di tanya apakah itu kisahnya sendiri?

__ADS_1


Maryam tersenyum lantas menjawab dengan tenang; saya bukanlah wanita sempurna. Jadi untuk apa, kisah hidup saya di angkat ke sebuah buku novel?


Bilal menggeleng cepat, kenapa pula jadi mengingat wanita itu. Ya, semua sebab celoteh Farah yang menyebabkan pikirannya terpengaruh.


__ADS_2