
Senja yang bergelayut di tempat lain. Ketika Akhri baru saja pulang ia langsung menghampiri Kania yang kembali mengeluhkan sakitnya. Rasa panas seperti terbakar, di tambah beberapa cairan berupa nan*h yang mulai keluar dari salah satu p*t*ng dadanya yang terdapat benjolan lunak. Membuat Nia merengek-rengek kesakitan tiada henti.
Menurut asisten rumah tangga mereka, sejak pagi tadi Nia sempat drop. Ia bahkan tidak mau makan, manakala tubuhnya semakin lemas akibat menahan sakit. Akhri sendiri mencoba membujuk sang istri untuk makan, namun Nia tetap tidak berselera ia hanya ingin Akhri tetap di sisinya saja, tidak ingin yang lain.
"Dik, sepertinya kamu benar-benar harus melakukan pemeriksaan lanjutan. Nggak bisa kalau hanya minum obat pereda sakit terus," bujuknya sembari mengusap air mata di pipi sang istri.
Nia menggeleng, air matanya masih bercucuran sebab sakit yang tak tertahankan.
"Dik..." Akhri mengusap keningnya yang berkeringat.
"Nggak Bang! Nia takut," jawabnya.
"Takut apa? Nggak akan terjadi apa-apa. Hanya pemeriksaan saja. Biar cepat di tangani. Soalnya sakit mu sudah berbulan-bulan."
"Hiks, aku nggak mau..."
"Nia, ayolah. Abang tetap akan menemani kamu apapun yang terjadi. Yang penting kamu nurut sama Abang, kita atur pertemuan lagi dengan Dokter, ya."
Nia masih tak menjawab selain mendesis menahan sakit, sembari sesekali beristighfar. Tak lama ibu kandung Nia mengetuk pintu kamar, membawa piring berisi potongan buah.
"Bagaimana Nia? Sudah mau makan?" Tanya ibu mertuanya pada Akhri ketika pintu itu di buka.
"Belum, Ummi," jawab Akhri pelan membuat sang ibu mertua menghela nafas sendu. Sementara dari dalam kembali terdengar teriakan pelan Nia memanggil suaminya. "Ummi masuk saja, Akhri mau nengok anak-anak dulu."
"Anak-anak sedang bermain di ruang tengah. Mereka anteng kok, paling Hussein yang sepertinya sudah paham kalau Ummi-nya sedang sakit... tadi saja Dia menangis tiba-tiba."
"Ya Allah–" gumam Akhri, kemudian.
"Baaaang!!!" Teriak Nia lagi membuat ibu mertuanya segera masuk setelah berucap permisi pada Akhri.
"Nia, makan dulu buahnya. Biar perutmu ada isinya," tutur sang ibu ketika sudah berada di dekatnya.
"Nggak mau Ummi, Nia nggak pengen makan apapun. Sakit, Ummi..." rengeknya. Sorot matanya lantas bergeser pada sang suami yang kembali duduk di sisinya lalu memindahkan kepalanya ke pangkuan. "Bang– Abang jangan kemana-mana, disini aja."
"Abang nggak kemana-mana, Dik. Abang pengen nengok anak-anak dulu niatnya."
"Nanti aja. Tolong Bang..." Nia mengusap bagian dadanya. "Rasanya sakit sekali, panas, kaya kebakar!"
Akhri pun mengusap bagian yang di tunjuk Nia, sembari bergumam. Memanjatkan doa kesembuhan.
"Sambil makan ya Dik, buahnya," bujuk Akhri lagi dengan tutur katanya yang lemah lembut. Dan tanpa menunggu jawaban Nia, pria itu sudah mengambil potongan buah di piring yang masih di pegang oleh ibu mertuanya. "Bismillah, buka mulutnya."
Rasa sakit yang sudah sedikit mereda membuatnya mau membuka mulut untuk menggigit potongan apel dari tangan suaminya.
__ADS_1
Sementara itu ibu kandung Nia nampak menitikkan air mata. Ia tidak bisa melihat anak bungsunya menderita sakit yang sampai seperti itu.
***
Pukul sembilan malam, Bang Hamid datang. Beliau menengok Nia yang sedang tertidur pulas setelah berjam-jam menahan sakit.
Beliau geleng-geleng kepala, menatap sang adik dengan penuh rasa prihatin.
"Kenapa sampai sekarang belum di bawa juga ke spesialis?" tanya Hamid pada Akhri.
"Nia yang selalu menolak, Bang."
"Ente jangan nurutin Nia, Tadz. Udah bawa aja, bila perlu paksa!"
"Niatnya besok, Bang. Saya akan atur jadwal pertemuan. Entahlah, Nia mau atau tidak. Saya akan tetap membawa Dia ke rumah sakit."
"Syukurlah, Ane kaga tega liatnya." Bang Hamid mengusap sudut matanya yang basah, lantas berjalan keluar kamar itu di susul Akhri kemudian, meninggalkan Ummi yang masih di kamar itu menemani Kania. Khawatir wanita itu terjaga.
Di salah satu kursi sudut yang berada di dekat tangga mereka duduk. Tatapan Hamid masih tertuju pada pintu kamar yang terbuka.
"Ane berharap, hanya penyakit biasa. Jangan sampai lah kena penyakit yang aneh-aneh." Gumamnya harap-harap cemas.
"Saya juga berharap demikian, Bang."
Hamid menghela nafas. "Tadz, boleh Ane tanya? Selama ini Nia bagaimana?"
"Syukurlah. Intinya Ane cuma berharap, Ente ridho dengannya. Dan memaafkan segala kekeliruan yang di lakukan Nia."
"inshaAllah, Saya ridho dengannya. Dan berusaha memahami Nia. Karena mau bagaimana pun juga, Dia sudah kasih saya tiga anak. Di samping itu, Nia juga ibu yang baik untuk anak-anak saya. Untuk masalah lain, Nia sudah mulai banyak berubah menjadi lebih baik."
"Alhamdulillah... syukurlah kalau begitu. Ane lega dengarnya."
Akhri tersenyum tipis. Menanggapi gumaman Bang Hamid. Baginya, perangai buruk Nia memang lebih banyak karena rasa cemburu wanita itu pada dirinya yang terkadang masih mengingat Merr.
Namun setelah dia sudah berusaha berdamai dengan kenyataan, dan berusaha menerima Nia sepenuhnya. Sikap Nia mulai membaik, walaupun tak bisa di pungkiri bengkoknya Nia memang masih ada, dan itu tidak parah. Mungkin karena semakin bertambahnya usia, membuat Nia jadi semakin dewasa.
Kini fokusnya adalah sang istri bisa di bawa ke dokter, menjalani serangkaian pemeriksaan lanjutan. Berharap, ibu dari anak-anaknya bisa kembali sembuh seperti sedia kala.
–––
pukul 02:00
Nia terjaga sembari meringis. Sakit di bagian p*yud*ra-nya sudah tak sesakit saat siang menjelang sore kemarin. Ya, sebab obat pereda nyeri yang ia konsumsi, itu akan bekerja selama delapan jam.
__ADS_1
"Bang," panggilnya menggoyangkan tubuh Akhri. Pria itu pun terjaga, menoleh ke arah sang istri.
"ya?" sahutnya sembari mengusap mata.
"aku haus," jawab Nia. Akhri segera menoleh ke meja dan mendapati botol minumnya kosong.
"Abang ambil dulu, ya."
"iya, Bang." Nia menjawab lirih. Setelah Akhri keluar dari kamar dia melihat bagian bajunya yang basah. Nia pun menggulung pelan pakaiannya sampai ke dada. Selama kelenjarnya membengkak Nia tidak bisa lagi memakai bra. Baginya itu malah justru membawa gesekan pada lukanya yang membuat semakin sakit.
Ia menunduk, melihat bagian pucuk buah dadanya yang seperti semakin masuk kedalam. Berbentuk cekungan kecil, seperti luka yang tak pernah mengering. bagi Nia itu sangat menjijikkan. Namun, hal yang lebih membuatnya tidak bisa tahan adalah rasa sakitnya.
ia menghela nafas, lalu menutupnya lagi. "Aku takut, sakit ini?" Nia tak berani melanjutkan. Ia lebih memilih mengusap air matanya yang menetes, terlebih saat mendengar langkah kaki sang suami yang sudah kembali.
pintu pun terbuka, Akhri segera masuk dan menyerahkan air minum untuk istrinya. "kamu lapar, nggak?"
"sedikit, Bang," jawab Nia setelah meminum airnya.
"mau makan? nanti Abang ambilkan."
Nia pun menggeleng. "makan roti aja."
"iya," Akhri tersenyum. Beliau meraih roti sandwich coklat milik brand asli Indonesia yang sudah tersedia di meja sisi ranjang mereka. Membuka bungkusnya lalu menyerahkannya pada Nia.
"Bang, anak-anak seharian ini ngapain?"
"mereka tadi main sama Nininya. Dan sekarang juga lagi tidur sama Beliau."
"Ummi masih di sini?"
"iya," jawab Akhri menyibak poni Nia yang berantakan lalu menyematkannya ke telinga. "Dik, Abang sudah atur pertemuan dengan seorang dokter wanita. Kamu mau ya, melakukan pemeriksaan lanjutan."
Nia terdiam, memilih untuk tidak menjawab selain menggigit rotinya.
"Dik, kamu nggak mau kan bikin kita semua khawatir karena sakitnya kamu? biar cepat di tangani." Akhri mengusap lembut pipinya. Tatapan Nia lantas bergeser.
"Nia takut, Bang."
"takut apa? kan hanya periksa... biar bisa segera di obati."
Nia kembali menggigit rotinya, melirik sang Suami lalu mengangguk pelan.
"Alhamdulillah– pokoknya Abang akan melakukan apapun, supaya kamu bisa sembuh."
__ADS_1
"terima kasih, Bang."
"sama-sama..." Akhri merasa lega ketika sang istri akhirnya mau untuk menjalani pemeriksaan demi mengetahui penyakitnya.