Cinta Berselindung Risau

Cinta Berselindung Risau
kesedihan


__ADS_3

Hari baru datang...


Satu momen yang sebenarnya tak ingin ada. Hari dimana Farah dan juga Aiman pulang kerumah mereka. Andai saja rumah keduanya tidak jauh, pasti tidak akan masalah.


Merr masih betah menggendong Umar. Sementara Aiman, Bilal, dan juga Hafiz bekerja sama menata barang mereka yang jadi lebih banyak.


"Ini strollernya A'..." Hafiz menyerahkan itu pada Aiman, yang sigap menerimanya lantas di letakkan di atap mobil, bersama barang yang lain. Antara Bilal dan Aiman bekerja sama mengikat barang-barang di atas dengan tambang yang kuat.


"Udah tinggal barang kecil-kecil, 'kan?" Tanya Bilal.


"Iya, ini cuma tinggal tas-tas baju aja," jawab Aiman sembari mengibaskan kedua tangannya yang sedikit kotor.


"Ya udah, kalau begitu." Bilal menata ulang bagian jok belakang. Di mana ada ember kecil, dan beberapa keranjang, juga tas yang lumayan banyak berisi perlengkapan bayi. "Semua udah masuk 'kan, Far?"


"Iya, A'..." Farah sudah siap, memasukkan tas berukuran sedang di kursi depan. Setelah itu menghampiri Merr. "Teteh, terimakasih ya. Selama aku di rumah sakit, sampai aku bisa sembuh di rumah ini. Teteh banyak membantu merawat Umar."


Mata Maryam kembali menganak sungai, ia mengangguk.


"Aku senang, Far. Bisa merawat Umar selama beberapa bulan ini. Apalagi sebentar lagi, Umar mulai mengkonsumsi MPASI." Setitik air matanya menetes, menghiasi senyum getirnya.


"Teteh jangan sedih, aku minta maaf ya Teh." Farah menghapus jejak air mata di pipi Kakak iparnya.


"Jangan minta maaf, Umar kan anak kamu. Lebih berhak kamu yang membawanya," Merr mencium anak itu cukup lama. Bahunya berguncang sebab terisak. Bersamaan dengan Isti yang turut menitikkan air mata. Setelah puas mencium Umar, Merr pun menyerahkan anak itu pada ibunya. Namun baru di gendong Farah sebentar, Umar malah justru menangis. Membuat Maryam kembali mencium anak itu. "Sama Ummi kamu dulu, ya. Besok ibu main ke rumah Umar."


Farah tersenyum. "Janji, ya? Ibu besok main dan menginap di rumah Umar–" tutur Farah dengan nada di buat seperti anak-anak. Maryam pun tertawa sembari mengusap air matanya.


"Sehat-sehat, ya sayang. Ibu sangat menyayangimu," gumam Maryam sembari memegangi tangan yang tengah menggenggam erat jari telunjuknya.


"Ya Allah, Teteh..." Farah tidak bisa untuk tidak ikut menangis. Sebenarnya ia tidak tega dengan kakak iparnya. Namun mau bagaimana lagi?


Ia hanya berharap; kakak iparnya bisa mendapatkan kebahagiaan berupa hadirnya buah hati di tengah-tengah mereka berdua.


***

__ADS_1


Selama beberapa jam memang Maryam nampak tegar. Ia biasa saja, tak menunjukkan kesedihan seperti tadi.


Pada sore harinya, di waktu ashar. Wanita itu meminta izin untuk tidak ikut jama'ah. Tiba-tiba saja tubuhnya merasakan tidak nyaman. Rasa pusing juga lemas yang mendadak menyerang tubuh membuatnya ingin istirahat di kamar.


Setelah empat reka'at ia jalani, berdzikir, setelahnya membaca surat Al waqiah, lalu di susul dzikir petang. Merr meletakkan tasbihnya. Setelah itu melamun sejenak, suara rengekkan Umar tiba-tiba terngiang. Jelas hal itu membuatnya kembali menangi.


"Astagfirullah al'azim..." Merr merubah posisinya, memeluk kedua lututnya. "Hiks, tenanglah Merr. Kamu akan terbiasa lagi, itu pasti..." Maryam berusaha menenangkan dirinya sendiri, dan kembali beristighfar. Namun Isak tangisnya malah justru semakin menguat. "Umar..."


Tak berselang lama, Bilal membuka pintu kamarnya, melihat Maryam tengah menangis memeluk lutut. Dengan kain mukenah masih membalut tubuhnya.


Ia mendekati, lalu bertumpu kedua lututnya merengkuh tubuh Maryam.


"A'a?" Lirihnya, saat mendapati kepala Bilal bersandar di bahunya.


"Nangis aja, nggak papa."


Maryam kembali terisak, "maaf A', seharusnya aku nggak seperti ini... Karena bagaimanapun juga, Umar anaknya Farah. Tapi, di rasa kaya berat. Hati ku udah jatuh hati sama anak itu. Aku amat senang bisa ngurus bayi dengan kedua tanganku sendiri. Karena selama bertahun-tahun, baru kali ini aku bisa merasakan peran seorang ibu yang sesungguhnya."


"A'a faham sayang... sabar, ya?"


Bilal membiarkan Maryam merancau. Menangis sesenggukan dalam dekapannya. Dia paham betul, seberapa besar keinginannya untuk memiliki anak. Namun mau bagaimana lagi, rezeki belum berpihak.


"Aku kesel kalau mikir gini– aku takut... takut A'a?" Merr tidak bisa melanjutkan.


"Istighfar Merr... udah berkali-kali A'a bilang, untuk nggak memikirkan sesuatu yang sejatinya nggak perlu terlalu dijadikan beban. Yang ada bikin hatimu berantakan."


Maryam terdiam. Tubuhnya tak bisa bergerak karena pelukan erat Bilal yang melingkar di bahu sampe ke depan dadanya.


"Udah sayang, jangan terlalu meratapi. Lagi pula Farah bilang nggak papa kalau nanti setelah agak gedean Umar tidur di rumah ini secara bergantian. Kamu tetap bisa dekat dengan anak itu, bahkan tadi Farah bilang apa? Umar akan memanggil mu ibu." Bilal berusaha terus menenangkan, "dengar! aku mau kamu kembali bangkit. Hilangkan pikiran takutmu, cintaku tidak akan berkurang. Aku akan tetap meminta mu menjadi satu-satunya pendamping hidupku."


"Tapi, A'a sendiri masih muda."


"Kenapa memangnya kalau aku masih muda, kamu juga sama. Kita akan menua sama-sama..."

__ADS_1


"A'..."


"Merr, percaya sama aku. Aku memang nggak bisa menjanjikan apapun. Tapi aku akan berusaha, kita tetap akan bahagia. Aku sayang sama kamu. Jangan takut walaupun seumur hidup kita hanya akan berdua. Itu nggak akan mengurangi keharmonisan. Nggak akan mengurangi cinta A'a ke kamu... Wallahi, Merr. Ayo, kita saling menguatkan hati. Jangan pundung hanya karena ini, karena nggak cuma kamu yang merasa kehilangan. A'a juga sama, Umar sudah kita rawat selama beberapa bulan ini. A'a juga ngerasa Dia anak A'a."


Merr sesenggukan. Ia masih berusaha meredam tangisnya. Dengan mencengkeram kuat kedua lengan suaminya di depan dada.


"Istighfar sayang... Ayo semangat! jangan kalah karena ini. Sabar, ya." Bilal mengecup pundak sang istri sementara Maryam hanya mengangguk pelan. "sekarang, A'a mau kita menikmati kehidupan ini dengan apa saja yang kita miliki. Akan banyak hal yang bisa kita lakukan setelah ini. Kita bisa jalan-jalan berdua, olahraga berdua. Kamu juga bisa terus ngaji sama A'a, belajar kitab, lalu belajar hadits, serta menyempurnakan hafalan kamu."


Maryam mengiyakan, dalam diamnya. hanya tersisa isak lirih tangisnya tadi.


"dan lagi, bulan depan kita akan tumpahan doa kita berdua di depan Ka'bah..." desir angin seolah turut menyejukkan hati, tatkala ia mendengar kata yang terakhir.


"Apa?" Tanyanya lirih, dengan pandangan kosong. Bilal lantas tersenyum.


"Iya Sayang... alhamdulillah A'a dapat paket umrohnya. Kita akan umroh, sayang."


Merr menoleh ke sisi samping di mana Bilal langsung memberikan kecupan di pipi.


"Umroh?" tanyanya lagi, hanya untuk meyakinkan pendengarannya.


"Iya, kamu mau kan? Sekaligus jalan-jalan ke bukit Thaif."


Merr mengangguk cepat "Mau A'..."


"Nanti di sana kita berdoa bersama. Berharap, Allah mengabulkannya lantas mengkharuniai kita dengan hadirnya anak."


"Bisakah aku berharap, dengan kondisi ku ini." Bilal melepaskan dekapannya, lalu memegangi kedua pipi Maryam. Menghapus air matanya.


"Allah itu Ar Rahman, Merr. Allah itu Al Wahhaab... percaya itu 'kan?"


Merr kembali menitikkan air mata, lalu mengangguk.


"konon katanya, setiap doa akan lebih cepat terkabul jika kita khusyuk memintanya. Jadi, tidak ada salahnya jika kita berusaha. Kita maksimalkan Doa kita di sana, ya."

__ADS_1


"iya, A..." jawabnya, setelahnya Bilal langsung memberikan kecupan di bibir cukup lama, dan memeluknya kemudian.


__ADS_2