Cinta Berselindung Risau

Cinta Berselindung Risau
keluarga Isti


__ADS_3

Selesai berkunjung ke panti. Bilal membawa laju mobilnya menyusuri jalan ibu kota yang lumayan padat. Kendaraan yang saling salip pun tak jarang ia temui. Membuat Ummi Isti mengusap bahu sang anak.


"Pelan-pelan saja."


"Iya, Ummi." Bilal menjawab sembari menghela nafas. Mereka menyempatkan diri untuk mampir ke salah satu rumah makan untuk makan malam sebelum akhirnya benar-benar pulang ke rumah.


***


Paginya, Bilal menghampiri sang ibu. Membantunya dan juga Farah di dapur.


"Sini biar A'a aja yang angkat pancinya," ujar Bilal pada Farah yang sudah memegang dua lap di kedua tangannya. Menyerahkan itu pada sang kakak kemudian, sebelum kembali duduk memotong kentang.


"Udah selesai benerin keran di depan?" Tanya Ummi Isti pada Bilal.


"Udah Ummi, orang cuma ngganti doang. Cepet selesainya..." jawab Beliau seraya mengangkat panci berukuran besar, berisi nasi liwet yang baru matang. Memindahkannya ke bawah.


Isti yang mendengar itu tersenyum, masih sibuk memasak sambal teri di wajan. Wanita yang usianya sudah tidak muda lagi itu memang membuka usaha katering dua tahun kemudian setelah dirinya di tinggal wafat suaminya.


Walaupun sejatinya beliau sempat mengajar di madrasah, namun bagi Isti yang menghidupi tiga anaknya sendirian. Uang dari hasilnya mengajar itu masih belum bisa menutup semuanya.


Dan memang Allah sejatinya senantiasa mencukupi kebutuhan hamba-hambaNya. Usaha katering Isti semakin kesini semakin banyak peminatnya. Bahkan setiap hari Isti selalu menerima pesanan dari dua ratus bahkan sampai tujuh ratus box nasi liwet, yang paling banyak mencapai sembilan ratus.


Namun memang, semakin berumur. Bilal memintanya untuk membatasi pesanan perharinya. Semua demi kesehatan Umminya juga.


Si bungsu masuk sembari memberi salam. Membawa kantong keresek besar juga kertas bon.


"Ummi, ini semua udah Hafiz beli. Ada lagi nggak?"


"Coba Ummi cek, ya?" Isti memeriksa belanjaan yang di beli hafiz. "Alhamdulillah, sudah semua. Makasih ya, Soleh."


"Sama-sama, Ummi." Hafiz langsung duduk di kursinya menuangkan air kedalam gelas setelah itu menengguknya. Farah yang melihat itu menahannya.


"Baca bismillah dulu, Fiz..."


"Udah dalam hati, Teh. Teteh aja nggak denger."


"Masa? Bismillah itu di lafadz-kan."


"Iya ... iya ... Bismillah."


"Tiga kali tegukan, ya." Sambung Bilal yang turut duduk di kursi.


"Iya, A'..." jawab Hafiz yang langsung menuruti. Isti geleng-geleng kepala sembari tersenyum. Tak lama, dua orang yang biasa membantu beliau masak pun datang mengucap salam. Setelah itu langsung memegang pekerjaan tanpa perlu di beri tahu.


–––


Siang hari selepas Dzuhur, mobil sudah siap mengantarkan dua ratus nasi box itu ke tempat tujuan. Karena acara di mulai pukul tiga.


"Udah semuanya, ya?"


"Iya udah semuanya," jawab Bilal sembari menutup pintu belakang. Beliau mengangkat tangannya melirik jam tangan. "Sudah masuk jam dua kurang sepuluh menit. Cepat sekali jamnya."

__ADS_1


"Ya sudah sana jalan. Ibu yang pesan juga udah nelfon Ummi. Tapi tetap pelan-pelan loh jalannya."


"Iya Ummi." Bilal mencium punggung tangan ibunya. Bersamaan dengan itu ia menoleh ke arah Hafiz yang sedang memakai sendal jepitnya. "Mau ke mana?"


"Main A'..."


"Sebelum Azhar harus udah pulang loh! Jangan sampai A'a yang nyamperin kamu, ya."


"Iya ... iya ... Assalamualaikum!" Hafiz berjalan meninggalkan mereka setelah mencium punggung tangan ibunya.


Isti menoleh, "udah sana jalan."


"Eh... iya. Assalamualaikum..."


"Walaikumsalam warahmatullah, Bilal... Bilal..." Isti geleng-geleng kepala. Anak itu memang nampak lebih dewasa dari usianya. Mungkin karena anak pertama yang sudah yatim dari kecil. Sehingga nampak sekali tanggungjawabnya kepada ibu dan kedua adiknya.


–––


Waktu terus berjalan, saat jarum jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Bilal duduk bersama sang ibu di ruang tamu.


"Ummi, capek?" Bilal menyentuh kaki ibunya, memijat pelan.


"Sedikit, tapi nggak papa. Kan udah jadi pekerja Ummi... dan Ummi bersyukur."


"Jangan terlalu capek Ummi, besok masih ada pesanan lagi, nggak?"


"Iya, cuma dua ratus lima puluh. Alhamdulillah..."


"Ummi, kayanya harus membatasi lagi deh."


"Maksud Bilal, harinya. Misal dalam seminggu Ummi kasih libur."


"Memang ada kan, setiap hari Senin?"


"Jangan cuma satu hari. Di bikin selang seling. Misal Senin dan Kamis."


Isti terkekeh pelan. "Kaya puasa."


"Nggak papa, lagian Ummi juga puasa, kan?"


"Bilal... kadang, Kamis itu buat pengajian. Jadi mereka lebih banyak pesan untuk pengajian di hari kamis. Itu sebabnya kuota hari Kamis lebih banyak."


Bilal terdiam, gerakan tangannya masih pelan memijat kaki ibunya. "Ummi tambah kurus, Bilal jadi nggak tega."


"Jangan bilang gitu, Ummi emang udah dasarnya nggak bisa gemuk."


Anak sulung itu mengangkat kepalanya, lalu lebih mendekati sang ibu. Menyentuh pipinya.


"Doakan Bilal cepat punya pekerjaan, Ya Ummi. Supaya bisa membahagiakan Ummi. Jadi Ummi nggak perlu capek-capek lagi buka katering."


Isti tersenyum senang. "MashaAllah... Aamiin, semoga cepat dapat pekerjaan. Tapi kalau kamu mau seperti almarhum Abi, jadi pemimpin sholawat sekaligus berdakwah Ummi juga lebih bangga, dari pada melakukan pekerjaan lain. Gaji besar untuk apa? Ummi lebih suka kamu kerja sama Allah."

__ADS_1


Bilal mengangguk. "inshaAllah, Ummi. Mudah-mudahan Bilal bisa seperti almarhum Abi."


"Aamiin..."


"Ummi, kalau nanti Bilal sudah siap punya istri. Bilal mau menikahi janda saja."


"Eh... Astagfirullah al'azim. Kok ngomongnya begitu?"


Bilal terkekeh. "Habis, kasian. Kalau Dia harus ngurus anaknya sendiri. Kaya Ummi."


"Ya Allah, ngomongnya kok gitu sih."


"Niat Bilal itu baik, Ummi. Menikah ingin menolong. Kali saja Dia seperti Ummi... setidaknya, Bilal bisa meringankan beban itu."


"Tapi cukup satu, kan?" Khawatir.


Kembali Bilal tertawa. "Ya satu lah Ummi. Emang Bilal mau nikahin berapa janda?"


"Kirain... habisnya kamu tadi bilang nikah niat nolong." Isti turut tertawa.


"Ini cuma ungkapan aja, tapi tetap dari hati juga Ummi. Dan Bilal nggak mau mendahului takdir. Kalaupun Bilal ngomongnya mau nikahin janda, nggak tahunya dapat gadis? Siapa yang tahu..."


"Iya sih, Intinya Ummi cuma berharap kamu mendapatkan yang terbaik. Yang Sholehah, yang nggak cuma sayang sama kamu."


"Itu syarat wajib calon istriku. Untuk apa cantik dan keliatan syar'i. Tapi kalau cuma mencintai Bilal nggak kepada Ummi juga, berarti Dia bukan kriteria utama."


Isti tersenyum haru, ia mengusap-usap pipi anaknya lembut. "Kamu cepat sekali sih besarnya. Ummi jadi sedih..."


"Jangan sedih, Mi. Bilal juga udah janji lada diri Bilal sendiri. Menikahnya setelah Fara menikah. Dan nunggu Bilal sukses juga."


"MashaAllah, tapi kalau jodohmu dekat ya jangan di tolak."


"Iya Ummi. Besok kita jalan-jalan yuk..." mengalihkan.


"Kemana lagi?"


"Ya kemana, nyekar ke makamnya Abi juga boleh."


Isti tersenyum, lalu mengangguk. "Sore ya..."


"Iya Ummi. Sekarang Ummi tidur dulu aja. Jangan kemalaman. Besok masak pagi seperti biasa. Ummi harus tidur dengan cukup."


"Iya, Sulungku yang Soleh." Isti beranjak setelah itu berjalan masuk ke dalam rumahnya. Tertinggal Bilal di sana, membenahi bantal sofa setelah itu beranjak, menguci pintu, mematikan lampu ruang tamu dan berjalan ke dalam.


sesaat langkahnya terhenti di ruang tengah. melihat Hafiz yang masih asik menonton televisi.


"eh... Fiz. Tidur, udah malam!"


"bentar A', tanggung nih... tinggal sepuluh menit lagi Madrid menang."


"jangan begadang, ya? suka susah kamu di bangunin subuh."

__ADS_1


"iya, A'..." jawabnya, sembari membenahi bantal di kepalanya. sementara Bilal langsung berjalan mengecek Fara, mengetuk pelan dan memanggilnya. karena tidak ada sahutan ia pun yakin Fara juga sudah tidur. Setelah itu dia sendiri masuk kedalam kamarnya sendiri.


bersambung...


__ADS_2