Cinta Berselindung Risau

Cinta Berselindung Risau
hasil yang menyesakkan


__ADS_3

Dua pekan kemudian.


Semenjak hasil tesnya keluar, hari-hari Maryam seolah di geluti awan tebal.


Tidak ada lagi senyum yang menghiasi, sebaliknya; kesedihan serta rasa takut turut merejam-rejam jiwanya.


Memang tidak ada yang salah dari Bang Akhri. Dia sehat dan tak memiliki masalah apapun.


Berbeda dengan Maryam ... gangguan Tiroid yang membuatnya di vonis tak bisa memiliki keturunan. Membawanya pada kekhawatiran, serta takut, jika Ummi akan amat kecewa saat tahu kondisi yang sesungguhnya.


Kecupan manis mendarat di bahu. Bang Akhri memeluknya dari belakang, seraya mematikan keran air di wastafel. Dia paham betul bagaimana perasaan istrinya saat ini, juga berusaha untuk selalu menenangkannya dengan sentuhan-sentuhan kasih sayang.


"Jalan-jalan, yuk. Hari ini Abang kan libur. Adik mau kemana aja ... Abang yang anterin, mau beli apa aja juga boleh," bujuknya dengan tatapan hangat.


Senyum tipis Maryam tersungging, di depan cermin. Maryam tak menjawab, ia hanya mengangguk pelan sembari melepaskan pelukannya.


"Dik..." Akhri menahan sang istri yang hendak keluar dari kamar mandi, lalu memeluk lingkar pinggangnya dengan kedua tangan. "Abang bilang apa sama kamu? Jangan murung terus karena masalah kemarin. Ini bukan perkara besar, sayang."


Maryam tersenyum kecut, kedua matanya menganak sungai.


mungkin memang bukan masalah besar bagi Abang? Tapi bagiku, ini bencana. (Maryam)


"Jangan khawatirkan apapun. Seperti janji kita, yang akan tetap bahagia dan menua bersama walau hanya berdua." Ucapan bang Akhri yang lembut itu cukup membuat Maryam tenang. Walaupun tetap saja tak bisa sepenuhnya. Yang paling ia khawatirkan saat ini adalah sang suami bisa menerimanya atau tidak. "Masalah Ummi yang ingin punya cucu, Abang bisa bicara pelan-pelan. Lagipula ini hanya vonis, kita masih bisa berusaha untuk berikhtiar. Kalaupun memang tetap tidak bisa? Abang tidak apa kalau harus adopsi anak."


Bang Akhri mengecup keningnya lembut, membuat mata Merr terpejam, bersamaan dengan bulir bening yang mengalir pelan ke pipi.


"Terimakasih, Bang ..." Bisik Maryam, yang lantas di rengkuh tubuhnya oleh sang suami sembari mengangguk.


"Kita akan berusaha lagi, sayang. Dokter bilang masih ada peluang."


Maryam hanya mengangguk, walaupun dokter bilang masih ada peluang namun itu amatlah kecil dan hampir tidak ada. Dalam garis besarnya; ia sudah di vonis mandul. Itu yang ia tangkap.


Dua kali mencoba menjalani program bayi tabung, bahkan sampai mencoba ke klinik alternatif, hasilnya tetap nihil. Ia tak kunjung merasakan adanya tanda-tanda kehamilan, padahal segala makanan yang dijadikan pantangan sudah ia hindari, tetap saja alat tes kehamilan tak menunjukkan dua garis.


Walau demikian semangat Maryam tak pernah terpatahkan, di belakang masih ada Akhri yang akan selalu mendukungnya. Dengan kata-kata manis serta janji setianya untuk tetap menjadikan Maryam satu-satunya istri dalam hidup.


Hingga kabar kemandulan itu pun tersampaikan ke telinga Ummi. Sudah beberapa bulan Akhri mencoba menutupi, yang akhirnya ia pun berbicara. Karena tidak tahan ketika terus-terusan di desak oleh sang ibu. Menanyakan perihal kondisi Maryam.


"Jadi dokter bilang Maryam punya masalah Tiroid, dan kamu baru bilang sekarang sama Ummi," tanya Ummi setengah tak percaya.


Akhri mengangguk pelan, "maaf Ummi. Menurut Akhri ini bukan satu masalah yang besar. Jadi untuk apa berbicara tentang hasilnya, kita masih akan terus ikhtiar kok."


"Astagfirullah al'azim..." jawaban itu membuat Ummi seketika menjadi lemas. Segera Akhri memegangi tangan sang ibu.


"Ummi, tidak apa-apa, ya? tidak masalah jika istriku tidak bisa memberikan ku anak."

__ADS_1


Ummi melepaskan tangan sang anak. Bulir beningnya menetes seketika.


"Berarti Ummi tidak akan bisa membahagiakan Abahmu seperti Ummi kamu yang lain, sebab tak bisa memberikan Beliau cucu?" gumamnya lemas.


"Ummi jangan bicara seperti itu. Abah tetap akan bahagia dengan apa yang Ummi berikan. Kasih sayang, juga perhatian Ummi ke Abah itu sudah cukup."


Ummi Salma menggeleng. "Nggak, kamu nggak ngerti Akhri. Nggak akan pernah mengerti."


"Akhri mengerti perasaan Ummi. Tapi, sebuah pernikahan itu di langsungkan tidak hanya demi bisa memiliki keturunan. Ada tanggung jawab khusus yang perlu di perhatikan selain sekedar punya momongan."


"Memang itu benar, tapi tidaklah salah jika seorang ibu menikahkan anaknya demi memperpanjang garis keturunannya?"


"Maafkan kami Ummi, bagaimanapun juga kita hanya manusia biasa. Tidak akan bisa menentukan takdir apalagi menolaknya. Kalau rupanya tetap tidak bisa, mau bagaimana lagi?"


Ummi diam saja, ia menghembuskan nafasnya kasar lalu memijat keningnya sembari memejamkan mata.


"Kami akan tetap ikhtiar, bahkan mungkin jika tetap tidak berhasil? Kami bisa pakai alternatif lain, Ummi."


"Alternatif lain apa? Kalian itu sudah dua kali mencoba bayi tabung tapi masih gagal!"


"Ummi, Akhri sudah berunding. Kita akan mengadopsi anak. Ada salah satu panti yang berkerja sama dengan yayasan milik Abdul Aziz. Ada bayi baru lahir, yang ibunya meninggal dunia."


Ummi Salma menggeleng cepat. "Nggak! Ummi nggak setuju."


"Kenapa? Anak itu jelas keturunannya Ummi, karena masih ada kerabat dengan sang pemilik panti."


"Ummi, tolong jangan seperti ini. Akhri nggak mungkin bisa memaksa Maryam untuk memberikanku keturunan. Sementara Akhri sendiri tahu kondisi Dia."


"Nggak harus dengan Maryam, kan? Kamu bisa mendapatkan anak dari wanita lain? Islam tak melarang seorang laki-laki memiliki lebih dari satu istri."


Deg...!


Akhri mematung, pria itu tak mampu lagi mengeluarkan suaranya.


"Ada banyak santriwati yang Soleha. Kamu bisa memilih. Jika jodoh? Kamu bisa menikahinya."


"mereka bukan hidangan untuk di pilih Ummi. bagiku hanya memiliki satu istri tidak akan mengurangi syukurku, dan Maryam sudah lebih dari cukup untuk membuat ku bahagia walau seperti apapun kondisinya."


"Akhri..."


"Maaf, Ummi. Bukan bermaksud untuk melawan. Semoga Ummi tidak terluka karena Akhri harus menentang ini. Tapi aku tidak mau poligami!" Tegas Akhri menolak keinginan Ummi.


"Kenapa kamu seperti ini? Kamu tidak memahami perasaan Ummi, kah? Kamu tidak sayang Ummi?"


"Bukan seperti itu, Ummi. Akhri menyayangi Ummi, dan sangat paham perasaan Ummi. Akhri juga ingin membahagiakan Ummi, dengan cara memberikan cucu. Hanya saja aku tidak mungkin sanggup menduakannya demi bisa mendapatkan seorang anak, Akhri itu sangat mencintai Maryam. Wallahi, Ummi." Pria itu mencium tangan ibunya memohon untuk mengendurkan keinginannya yang kuat itu.

__ADS_1


"Dia pasti terima Akhri. Ummi saja terima kok. Walaupun berat, lambat laun Dia pasti bisa menerimanya. Yang terpenting kan, Dia tetap menjadi istri pertamamu."


Akhri menggeleng, "nggak Ummi. Maaf, Akhri nggak bisa! Keputusan kami sudah bulat. Hanya dua pilihan: Adopsi anak, atau tetap menua berdua dengan Maryam." Akhri beranjak, pria itu lantas melenggang pergi setelah berpamitan sembari mengecup punggung tangan ibunya, lalu memberi salam.


***


Hari-hari berikutnya, Ummi sering jatuh sakit. Sebab penyakit darah tingginya yang terus saja naik, membuatnya jarang melakukan perjalanan tausiyah atau seminar jauh selama hampir dua pekan ini.


Salah satu asisten rumah tangga di rumah Ummi menghampiri beliau yang sedang membaca kitab suci Al-Qur'an di ruangan baca. Mengabarkan jika ada santriwati yang datang berkunjung.


"Ada urusan apa?" Tanya beliau.


"Tidak tahu, Bu Nyai. katanya sih mau berkunjung saja."


"Suruh masuk."


"Iya, Bu." Sang asisten rumah tangga itu berjalan, dengan sedikit membungkukkan tubuhnya keluar dari sana. Sementara Ummi kembali melanjutkan tilawahnya hingga beberapa ayat baru beliau keluar.


Di ujung anak tangga, ia memicingkan matanya. Memastikan siapa gadis yang datang itu.


"Assalamualaikum, Ummi," sapanya santun. Sebelum Ummi Salma semakin mendekati.


"Walaikumsalam warahmatullah, kamu?"


"Kania, Ummi."


"Oh, iya ... ya Allah Ummi lupa terus nama kamu."


"Nggak apa-apa," jawabnya sebelum meraih tangan Ummi Salma serta menciuminya beberapa kali. "Ini, saya mau mengantarkan kiriman Ummi saya. Sebab, kemarin tuh kakaknya Nia baru pulang dari Madinah. Bawa kurma ajwa."


"MashaAllah ... kurma kesukaan Ummi. Terimakasih ya cantik padahal bisa di titipkan ke-pengurus pondok, loh."


"Nggak papa. Nia senang kok, ngasih langsung ke Ummi. Sekalian nengok Ummi, katanya sedang sakit."


Ummi tertawa kecil. "Hanya nggak enak badan, tapi sudah mendingan. Duduk dulu sini, ngobrol yuk."


"Terimakasih banyak, Ummi. Tapi maaf, hari ini para santri mau ada muroja'ah surat dengan Ustadz Akhri di majelis. Ini saja saya kabur duluan demi bisa menyampaikan amanah Ummi-nya Nia."


"Oh begitu, ya. Ya sudah, sekali lagi terimakasih ya. Sampaikan ucapan terimakasih Saya sama Ummi kamu."


"Walaikumsalam warahmatullah, nanti saya sampaikan Ummi. Kalau begitu saya permisi. Assalamualaikum."


"Walaikumsalam warahmatullah."


Setelah Nia mengecup punggung tangan Ummi Salma, gadis itu melangkah keluar dengan sopan. Membuat Ummi termenung memandangi gadis itu.

__ADS_1


Sepertinya Dia cocok dengan Akhri. Gadis itu nampak subur, baik, ramah, dan juga Soleha. Keturunan ulama pula. Aku harus sampaikan ini pada Maryam langsung, kalau Dia yang membujuknya pasti Akhri tidak akan menolak.


__ADS_2