Cinta Gila Sang Aktor

Cinta Gila Sang Aktor
Bagian 10 : Tidak Dewasa


__ADS_3

"Pagi semua." Syila datang dengan wajah sumringah.


"Za, nih kopi hitam manis dingin. Sesuai pesanan." Syila memberikannya pada Izraa yang sedang baca naskah.


"Hmm." Hanya itu jawabannya.


"Makasih ya, semalem udah bantuin." Syila tadi pagi sengaja menanyakan apakah Izraa mau dibelikan kopi, karena Syila juga mampir ke kafe, tempat dulu dia sering mengintai Izraa. Ini adalah ucapan terima kasihnya, tidak seberapa tapi cukup personal.


"Ya." Masih dengan dingin, seperti biasa, Syila tidak tersinggung, karena dia tahu Izraa memang begitu.


"Ada apa nih? Seru banget kayaknya." Hanum lagi-lagi datang seperti hantu.


"Za, gue ke Bang Aryo ya." Syila tidak mau berbagi masalah pribadi pada orang asing, Izraa paham itu.


"Tumben baik bener." Hanum mulai dengan mulut bisanya.


"Siapa?"


"Itu, Mbak Syila."


"Oh." Izraa tidak peduli.


"Dia kasih lu kopi?" Hanum tidak puas dengan tanggapan Izraa makanya dia mencari celah lagi.


"Ya." Izraa mencoba fokus dengan skrip walau banyak gangguan.


"Kok ga diminum?"


"Kenapa? Mau?" Izraa bertanya.


"Boleh emang?"


"Ambil aja." Hanum senang lalu dia mengambil kopi itu.


Sementara Syila sedang diskusi adegan bersama dengan Bang Aryo, Sutradara.


"Bang, aman, kan. Masih bisa dong kejar sesuai target?" Syila bertanya.


"Bisa, asal lu berdua jangan ijin mendadak."


"Iyaaa, soryyy."


"Bang, Mbak." Hanum mendekati mereka.

__ADS_1


"Num, siap adegan berat hari ini?" Bang Aryo bertanya dengan manis.


"Siap lah, kan udah bangun chemistry sama Izraa." Syila membaca skrip di samping dan tidak peduli dengan perkataan Hanum.


"Mbak Syila, ini kopinya enak banget loh. Beli dimana sih?" Karena merasa Syila tidak mempedulikannya membawa kopi pemberian Izraa yang sebenarnya dibelikan Syila, Hanum akhirnya memancing keributan.


Syila sempat menengok ke arah gelas kopi itu, tersadar itu memang kopi yang dia belikan untuk Izraa.


"Di kafe langganan." Syila mencoba menjawab dengan tenang. Tapi Hanum tahu, Syila kesal.


Hanum tersenyum dalam hati, tidak sia-sia mengambil gelas kosong kopi dingin ini, tadi Izraa ternyata menawarinya hanya mengerjai saja, begitu Hanum mengambil gelas kopi itu, ternyata sudah habis.


Gelas kopi ini memang terbuat dari bahan plastik yang tidak transparant, jadi kita tidak akan tahu isinya saat sudah habis atau masih ada. Izraa buru-buru meminum kopi pemberlian Syila, karena mereka akan segera masuk ke adegan selanjutnya, dia tak ingin kopi itu jadi hambar karena es yang mencari.


Hanum tanpa tahu malu membawa gelas kopi kosong itu dan pamer pada Syila, hanya ingin membuat Syila kesal. Dalam keadaan ini, siapa yang nggak kesal, memberi sesuatu tapi diberikan lagi ke orang lain.


Dalam hatinya Syila bersumpah tidak akan memberikan Izraa kopi lagi.


Pengambilan gambar dimulai, Hanum dan Izraa masuk adegan bertarung, walau hanya Izraa yang melakukan adegan berat, tapi Hanum di dalamnya ikut melakukan beberapa adegan yang cukup bahaya.


Izraa tidak pernah menggunakan stuntman untuk menggantikannya pada adegan bahaya, Izraa memang memiliki dedikasi tinggi untuk pekerjaannya. Ditambah dia memang mampu karena kemampuan bela dirinya itu.


"Syil, kayaknya si Izraa sama Hanum cinlok deh, liat chemistrynya dapet banget." Bang Aryo berbicara di tengah syuting.


"Bagus kalo gitu, asal jangan pas berantem jadi nggak profesional aja."


"Cemburu? cemburu ke siapa?"


"Hanum sama Izraa."


"Hah? Kenapa gue harus cemburu?" Syila benar-benar bingung.


"Lu bukannya keras kepala milih Izraa sebagai peran utama karena kagum dan ngefans sama dia? Jadi ...."


"Lu bikin tabloid gosip? Ngarang aja! Penilaian gue ke Izraa cuma soal profesionalistas kerja dan kemampuan aktingnya, nggak lebih."


"Masa."


"Dih, ok, gue buktiin ya, gue bakal dukung hubungan mereka berdua, gue bakal kasih selamet mereka untuk hubungan mereka. Itu cukup?"


"Hmm." Sutradara masih saja ragu.


Begitu proses pengambilan gambar selesai, semua pemain berkumpul untuk makan siang, saat semua sudah dapat nasi kotak makan siang. Seperti biasa semua berkumpul. Syila bilang pada Bang Aryo akan menepati janji untuk membuktikan dia tidak ada perasaan terhadap Izraa.

__ADS_1


"Za! Num! Nggak yangka gue, PJ ya. Cie cie ...." Syila langsung mengatakan itu dengan lantang, PJ yang dimaksud adalah 'pajak' jadian, budaya yang dilestarikan, ketika seseorang ketauan berpacaran, mereka akan dipaksa menraktir pasangan baru itu.


Hanum terlihat malu tapi senang, dia merasa Syila ternyata benar tidak suka pada Izraa, sementara Bang Aryo tertawa karena dia sempat mengira Syila suka dengan Izraa, sementara Izraa menatap Syila dengan tatapan sangat marah.


Dia berdiri dan dengan kasar berkata, "Gue nggak nyangka kalo lu sebocah ini, gue pikir novel hebat lu itu, karena emang lu cerdas, tapi ternyata yang ada di sini cuma anak kecil!" Izraa menunjuk bagian samping kening Syila, dia menghina Syila bersikap kekanak-kanakan.


Syila kaget dengan sikap Izraa yang terlihat berlebihan.


Hanum juga kaget dengan sikap Izraa yang marah, seolah tidak suka dengan kabar bahwa mereka berdua jadian. Hanum tahu Izraa tidak tertarik dengan Hanum, tapi Hanum berusaha agar Izraa tertarik padanya. Tapi apa yang Izraa katakan tadi membuat Hanum sadar, cintanya bertepuk sebelah tangan. Hanum mulai percaya, gosip diluar benar. Izraa tidak suka wanita.


Izraa meninggalkan lokasi setelah membentak Syila, Syila merasa dia juga keterlaluan hingga membuat Izraa kesal, tapi apa? Kan kalau mereka jadian bagus, Syila mendukung itu. Tapi kalau mereka tidak jadian, Syila baru menyadari sesuatu. Ah, pantas saja Izraa marah. Kemarin dia menolong Syila dari jebakan keluarga, sekarang Syila malah menjebaknya. Syila merasa bodoh sekali. Seharusnya dia tidak terpancing dengan ucapan Sutradara.


"Bang! Lu jahat!" Syila kesal.


"Elu yang salah, ambil kesimpulan sendiri, kan gue baru bilang kemungkinan." Bang Aryo membela diri.


Syila merasa memang sikapnya kekanak-kanakan.


"Kenapa?" Andi yang baru datang melihat Syila murung duduk menghadap laptopnya, menulis tidak, memikirkan sesuatu juga tidak. Dia hanya bengong saja.


"Gue udah lakuin kesalahan deh, cukup fatal Ndi."


"Apa? Elu hamil?"


"Heh, jaga tuh mulut."


"Lah, gue kan tanya."


"Tadi tuh gue salah ucap ke Izraa, gue malak dia buat PJ, gue cie-ciein dia sama Hanum, trus dia marah besar."


"Lah lu gila, orang nggak suka cewek, lu malah nuduh die jadian ama Hanum, pantes aja marah, lu udah ngelukain harga diri dia."


"Emang gitu Ndi? Serius?"


"Iyalah. Seksual orientasi itu harga diri buat orang macem dia. Elu nuduh kredibilitas dia sebagai identitas yang salah, makanya dia ngamuk, wajar. Minta maaf gih."


"Iya, ntar gue minta maaf. Dih gue beneran nggak maksud melukai harga dirinya. Gue lupa tentang gosip itu."


"Makanya jangan nulis mulu, baca tuh akun gosip."


"Bawel." Syila menerawang jauh, kira-kira apa yang dia bisa lakuin untuk meminta maaf. Suasana lokasi syuting udah mulai menyenangkan karena Izraa sudah mendeklarasikan perdamaian. Tapi, Syila membuat semuanya hancur dalam sekejap karena kebodohan.


"Mau kemana lu?" Andi bertanya pada Syila yang tiba-tiba berdiri.

__ADS_1


"Gue ke kafe dulu ya, ntar gue balik lagi, kalau kemaleman tahan Izraa dulu ya, gue mau minta maaf."


Tanpa menunggu jawaban Andi, Syila langsung pergi dari lokasi syuting itu.


__ADS_2