
“Syila sudah sehat?” Maminya Izraa datang ke rumah sakit, dia sudah meminta papi mengamankan Bodyguard yang diutus oleh Izraa menjaga Syila untuk pergi, sementara mami bicara.
“Sudah enakan tante, tapi tangan masih sakit, kan patah.”
“Kok panggilnya Tante, panggil Mami aja ya.”
“Eh, nggak apa-apa Tan … Eh, Mi.”
“Nggak apa-apa kok, kan cepat atau lambat juga bakal panggil Mami, jadi kenapa harus nanti kalau bisa sekarang.”
“I-iya Mami.” Syila terpaksa untuk sopan santun saja.
“Mami ke sini untuk jenguk Syila, Mami dengar Izraa bawa senjata api ya waktu selametin Syila, katanya dia juga sempat mau menembak penjahat itu tapi berhasil Syila halangi?”
“Iya, Alhamdulillah Izraa udah selametin Syila.”
“Ada satu hal yang Mami belum cerita ke Syila, bahwa Izraa belum pernah punya pacar, tidak ada satupun perempuan yang dia bawa ke rumah sejak dulu, sampai kami mengenalmu. Dulu bahkan karena Izraa tidak pernah membawa perempuan ke rumah, kami hampir percaya dia itu suka … lelaki.”
“I-iya Mi.”
“Syila percaya gosip itu?”
“Nggak kok, nggak gitu, Syila tahu.” Syila bahkan lebih tahu, bahwa Izraa sebelumnya tidak suka lelaki ataupun perempuan.
“Waw kau berarti cinta juga ya sama Izraa, karena sangat percaya padanya, dalam hidup Izraa cuma pernah dua kali berkorban untuk wanita, pertama pada Sofia kedua padamu, tentu pada Sofia tidak bisa dihitung sebagai seseorang yang dia anggap istimewa, karena dia adiknya, berarti bagi Izraa saat ini hanya kamu wanita paling istimewa, Syil.”
Syila hanya mengangguk karena dia tahu, bukan itu, bukan karena Izraa cinta, tapi karena hal lain.
“Mami ke sini hanya ingin Syila tahu, bahwa Mami dukung Syila sepenuhnya, pokokknya Syila harus semangat sehat dan dampingi Izraa terus ya sayang.” Maminya Izraa memegang tangan Syila.
__ADS_1
“Ya Mami, Insyaallah.” Syila menjawab masih dengan alasan sopan santun.
Setelah berbincang cukup lama, maminya Syila lalu pergi dan Andi serta Bodyguard kembali ke kamar Syila.
“Tadi dia ngomong apa Syil?”
“Mami?”
“Buset, belum nikah woy, kok pake panggil mami segala?”
“Eh iya, dia yang suruh, cuma ya biasa aja, jenguk.” Syila malas membahasnya, karena memang Syila tahu, hubungannya dengan Izraa akan berakhir setelah produksi film berakhir.
“Yaudah, pokoknya inget, dalam perjodohan ini, elu punya hak menolak ya, jangan pernah menikah karena disuruh orang, menikahlah karena cinta.”
“Gue juga dulu mikirnya gitu, tapi orang yang gue cinta kan, ninggalin gue.”
“Yaelah masih aja belum move on.”
“Ati-ati mulut, ntar bisa kejadian, amit-amit.”
“Eh iya, amit-amit.” Setelahnya Syila istirahat dan hanya ada Andi di kamarnya saat ini.
…
Hari ini jadwal Polisi datang ke rumah sakit, karena Syila masih dalam perawatan makanya Petugas Kepolisian yang akan datang ke rumah sakit, bukan Syila yang ke kantor Polisi. Ini juga karena faktor orang tua Syila bukan orang tua biasa, sehingga kasus Syila ditangani dengan baik, kalau Syila hanya anak orang biasa bahkan mungkin miskin, mungkin kasusnya akan diabaikan begitu saja.
Syila harus memberikan keterangan terkait penculikan dirinya, sekarang Petugas Polisi telah sampai di kamar perawatan Syila, mereka tiga orang, serta semua orang berkumpul, ada Izraa, mami dan papi Syila, Alzam dan Andi. Mereka berkumpul untuk mengetahui, apa yang terjadi saat kemarin dia diculik.
“Silahkan ceritakan semua, kami akan merekam Mbak Syila, apakah boleh?” Seorang Polisi wanita bertanya.
__ADS_1
“Iya, saya mengerti.” Sebagai seorang Penulis yang pernah menulis tentang cerita kriminal, Syila tahu prosedurnya, walau dia tidak menyangka akan benar-benar melaluinya.
“Baik kita mulai semuanya dari awal, jika kesulitan mengingat atau terasa berat, kamu boleh berhenti kapan saja.” Ucap Polisi Wanita itu lagi.
“Baik, jadi waktu itu saya menerima telepon dari Andi sepupu saya, saya langsung angkat karena memang seharusnya dia jemput saya untuk pulang, tapi saat saya bicara, ternyata bukan Andi, yang menelpon itu Aldo, dia mengancam akan menyakiti Andi jika saya tidak keluar dari lokasi syuting segera dan masuk ke mobil itu.
Saya takut Andi celaka, makanya saya keluar dan masuk ke dalam mobil bagian belakang, sementara Andi ada di samping kursi supir, saat saya sudah masuk mobil, Aldo menyalakan mobil, menendang Andi keluar dari mobil, saat itu posisinya Andi masih tidak sadarkan diri, lalu menutup pintu dengan cepat dan mengemudi dengan kasar.
Saya terus memohon agar dia melepaskan saya, bahkan saya sempat menyerangnya, tapi dia akhirnya menepikan mobil saya dan me … meninju wajah saya, saat itu saya masih sadar, tapi karena pukulannya sangat keras dan rasa sakitnya tak tertahankan, saya jadi lemas, sesaat sebelum kehilangan kesadaran, saya melihat dia mengeluarkan sapu tangan lalu membekap wajah saya dengan sapu tangan itu dan setelahnya semua gelap.” Syila melihat ke arah Izraa, Izraa terlihat diam dan tenang, jujur diam dan tenangnya Izraa ini membuat Syila takut, takut kalau Izraa masih sangat dendam dan marah pada Aldo.
“Lalu?”
“Lalu saya terbangun, saat bangun saya melihat kanan kiri gelap, tidak tahu apa, seperti perkebunan, posisi duduk saya sudah berubah, saya duduk di samping supir, di samping Aldo, saya juga memakai gamis panjang berwarna hitam dan juga cadar, entah kenapa Aldo mendouble pakaian saya dengan gamis.”
“Itu agar dia lolos di pintu tol, karena fotomu dan Aldo sudah tersebar di grup kepolisian dan kami melakukan pemblokiran jalan di pintu keluar tol, dia cukup licik dengan memakaikan kamu gamis serta cadar seolah dia sedang membawa istrinya yang sedang tertidur, mana berani Polisi membuka cadar seorang istri, tentu Aldo jadi lolos.” Polisi Wanita itu geram.
“Ya, masuk akal Bu, lalu setelah itu mobil berhenti dan Aldo keluar dari mobil, dia membuka pintu di samping saya dan menarik tubuh saya, saya menolak, hingga terjadi pemukulan lagi, dia memukul saya bertubi-tubi di tubuh dan wajah, lalu setelahnya dia menendang perut saya, tapi saya halangi dengan tangan, karena tendangan itu tangan saya patah.” Syila melihat lagi ke arah Izraa, Syila melihat Izraa mengepalkan tangannya, walau ekspresinya dingin.
Sementara papinya terlihat lebih emosional, dia mengusap air mata mendengar putrinya dipukuli seperti itu, mami terlihat lebih tegar.
“Lalu saya lemas, dia menggotong tubuh saya masuk ke gubuk, dia mulai menarik cadar saya, saya pikir dia mencoba ingin melecehkan saya, lalu saya berontak lagi, tidak lama kemudian Izraa dan Andi datang, mereka berhasil meringkus Aldo dan setelahnya Polisi, papi, kak Alzam, semua berdatangan, saya pingsan dan tidak ingat apa-apa lagi.”
“Baik, laporan ini kami sudah rekam, saat ini Aldo masih di penjara, kami menolak pembebasan dengan uang jaminan karena ini penculikan, mungkin kasus ini akan naik ke pengadilan, makanya kamu harus bersiap ya, kamu akan menjadi saksi jika dibutuhkan nanti.”
“Iya Bu, saya akan mengawal sampai dia dihukum dengan seadil-adilnya.”
“Baik kalau begitu kami pamit, semoga kamu cepat sembuh.” Para Polisi itu lalu pergi, Izraa juga ikut pergi, Syila merasa aneh, mau kemana ya dia? Syila takut dia pergi menemui Aldo dan berbuat gegabah.
"Ndi ...."
__ADS_1
Andi seperti tahu apa yang Syila takutkan, dia langsung mencoba menenangkan Syila, karena jujur, Andi mendukung apapun yang hendak Izraa akan lakukan, jika saja hukum tak ada, pasti orang itu sudah dihabisi oleh keluarga Syila, tak tahu saja Aldo, bahwa dia berbuat masalah dengan orang yang salah.
Tak ada yang lebih menakutkan dari seorang kekasih yang sangat marah pada orang yang menganiaya orang yang paling dicintai, mungkin lebih dari hidupnya sendiri.