Cinta Gila Sang Aktor

Cinta Gila Sang Aktor
Bagian 64 : Berpisah 2


__ADS_3

“Hari ini terapi seperti biasa kan?” Syila bertanya karena Andi baru datang. Semenjak Syila sakit, Ando yang paling sering temani, karena kalau Alzam dan Papi mereka sibuk bekerja, dunia tetap berputar meski rasanya Syila merasa dunianya berhenti sejak tidak menulis selama beberapa minggu ini.


Kalau Mami, Syila tak terlalu suka jika mami yang damping, mami cengeng, Syila sering melihat mami menangis, itu membuat Syila semakin frustasi, makanya Syila tetap ingin Andi yang menemaninya, semua terasa mudah jika saja Andi yang ada di sisinya, Andi tak cengeng dan selalu menemaninya bercanda.


“Iya, habis terapi kita ke kafe ya, udah lama nggak ngopi.”


“Nggak mau, mau langsung pulag aja.”


“Mampir bentar aja, nggak minum di sana, tapi ambil minuman pesananku aja.”


“Yasudah, tapi aku di mobil saja ya.”


“Ya, boleh kalau begitu.”


Lalu mereka berdua akhirnya pergi ke tempat terapi dan melakukan serangkaian terapi di sana, hasilnya seperti biasa, masih butuh waktu yang banyak untuk bisa mengembalikan fungsi tangannya Syila seperti semula, tindakan operasi perlu untuk dilakukan lagi sebagai tindakan lanjutan.


Setelah selesai terapi, Andi mengarahkan mobil mereka ke kafe langganan, Syila menunggu di parkiran saja, dia tak ingin turun, malas bertemu siapapun, ada rasa tak percaya diri karena tangannya.


Syila melihat Andi masuk ke dalam kafe, lalu Syila hanya memperhatikan sekitar, dia melihat ke arah jendelanya saja, yang berarti pandangannya membelakangi bangku supir.


Tak lama setelahnya, Syila merasa bahwa Andi sudah masuk ke dalam mobil karena pintu mobil terdengar dibuka dan ditutup kembali.


“Udah belinya?” Syila lalu kembali melihat ke arah bangku supir dan terkejut.


“Kau mau apa?” Syila bertanya, sementara mobil sudah dilajukan dengan begitu cepat, seolah kabur dari sesuatu.


Sementara Andi yang melihat mobilnya dilajukan buru-buru berlari dari dalam dan berteriak-teriak maling, dia gemetar karena teringat kejadian terakhir dengan Aldo, di mana Syila dibawa kabur.


“Aku hanya ingin bertemu denganmu.”


“Za ....” Syila menjadi lebih lembut, rasanya dia tak punya cukup tenaga untuk berkelahi lagi.


[Tenang aja Ndi, ini izraa yang bawa, lu pulang aja, jangan kasih tahu mami ya, nanti dia marah besar ke Izraa dan keluarganya.] Syila menerima telepon Andi, sementara dia dan Izraa sudah ada di pantai, mobilnya sudah terparkir di pantai.


“Apa kabar?” Izraa memulai percakapan, Syila tak menjawab, tapi membuka pintu mobil, hanya agar udara masuk, dia tak ingin lari apalagi kabur, tangannya tak punya cukup tenaga untuk melakuakn hal semacam itu.


“Apa tanganmu masih ....” Izraa kembali bicara, tapi langsung dipotong Syila.


“Seperti yang kau lihat, masih cacat.” Syila berkata dengan tajam.

__ADS_1


“Aku minta maaf ....”


“Aku ingin sekali marah padamu, mencari orang untuk disalahkan rasanya lebih mudah dibanding menerima, bahwa ... aku juga ikut andil dalam kesalahan itu. Kalau aku memutuskan untuk menerima saran Juna dari awal, bahwa dia ingin menelpon Polisi tanpa kami masuk, pasti takkan seperti ini kejadiannya.


Aku yang menerjang Fenita untuk menyelamatkanmu, bukan kau yang minta atau Fenita yang mengarahkan pisau itu, sejak awal memang aku yang memutuskan dan aku harus tanggung resikonya.


Jadi kau tak perlu merasa bersalah.”


“Tapi kenapa kau tak ingin bertemu denganku?” Izraa bertanya.


“Bukan hanya kau, banyak orang tak ingin kutemui.”


“Tapi Juna tetap kau temui.”


“Karena dia bisa menerima keadaanku dengan baik, bisa dibilang, dalam hatiku, Juna bagian keluarga.”


“Aku juga bisa menerimamu dalam keadaan apapun dengan baik.”


“Kita tidak dalam tahap itu Za, aku sedang tak ingin bermain hubungan palsu lagi. Toh aku menjalani hubungan palsu denganmu karena film, lalu orang tua kita dan sekarang ... film berantakan, orang tua kita juga sudah saling membenci, Jadi, aku kira tak perlu lagi bermain hubungan palsu, kita bisa berteman dengan normal sekarang.”


“Tapi aku belum bisa selesai, Syil.”


“Kau tidak bisa memaksa seseorang mengikuti permainanmu, Za. Aku tidak nyaman dengan hubungan pura-pura ini, aku hanya ingin fokus terapi, fokus melakukan semua pengobatan dan apapun itu agar aku bisa kembali menulis Za. Tak menulis selama berminggu-minggu rasanya otakku tumpul dan hampir menghilang. Aku merasa tak berguna dan depresi.


“Aku tidak bisa Syil.”


“Apa ini karena penyakitmu? Maka seperti yang kau katakan padaku ketika Fenita sakit, Za. Kau bilang ini kaitannya dengan nyawa seseorang, maka aku tidak boleh egois, filmku tidak sebanding dengan nyawa Fenita, maka seperti itulah aku sekarang akan katakan, jangan egois Za, ini kaitannya dengan diriku yang mungkin bisa saja cacat permanen, aku akan hancur dan mungkin sulit bertahan jika saja tak bisa menulis lagi, maka aku mohon padamu, jangan egois, Za.


Aku harap kau paham, aku tidak bisa fokus menyelamatkanmu dari penyakit itu, karena aku sendiri pun sedang bertahan dari penyakitku.


Jadi, jangan egois Za. Aku mengatakan ini bukan untuk membalas dendam atas perkataanmu, tapi aku mengatakan ini hanya untuk memberimu pandangan, pandangan bahwa, saat ini aku butuh ruang dan waktu untuk sendiri.”


“Aku antar pulang ya, aku cuma mau kasih kamu ini, ini adalah brosur rumah sakit di luar negeri yang sudah aku cek, semua rumah sakit itu kompeten untuk membantumu pulih, aku akan menemanimu jika harus ke sana.” Izraa memberikan brosurnya.


“Terima kasih.” Tanpa membantah, Syila hanya mengambil brosur itu dan Izraa mulai mengemudi lagi.


Tak lama kemudian mereka sampai, Izraa keluar dari mobil, mami yang sedang berada di luar terkejut, karena bukan Andi yang keluar dari mobil itu, tapi Izraa.


Mami buru-buru berlari dan mengambil Syila yang sedang dipapah Izraa untuk ke arah pintu masuk rumah.

__ADS_1


“Biar saya saja, terima kasih karena sudah mengantar anak saya.” Mami mengambil Syila dengan kasar dari Izraa.


“Tante maaf, saya sudah kasih brosur ke Syila soal pengobatan di luar negeri, kalau nanti ada yang mau ditanyakan ....”


“Tidak perlu, saya kira, suami saya lebih kompeten untuk menilai keadaan putrinya, terima kasih dan tolong ... jangan datang lagi, saya berharap kamu paham, kami sedang mengusahakan pengobatan Syila, kami harap kau juga fokus pada hidup dan kesehatanmu. Jangan datang lagi, saya mohon.” Tak ada satu pun kata yang hangat datang dari maminya Syila, semua perkataan itu adalah perkataan yang tegas dan tajam.


“Baiklah, saya pamit tante, Syila aku pamit ya, kalau ada apa-apa ....”


Maminya Syila buru-buru membawa Syila masuk tanpa mendengar Izraa menyelesaikan perkataannya dan menutup pintu dengan keras.


“Kenapa kau bersamanya!” Mami snagat marah.


“Tadi kami ketemu di kafe, Andi mau ambil kopi pesananku dan dia di kafe langganan, lalu dia minta bicara, aku izinkan, Mi.” Syila berbohong, hanya agar tidak memperkeruh suasana saja.


“Dia bicara apa?”


“Hanya ingi minta maaf dan memberi brosur ini.”


“Dia minta balikan sama kamu?”


“Mi, dia hanya ingin menunjukkan rasa bersalah dan bela sungkawa atas apa yang menimpaku, hubungan kami sudah berakhir, bahkan jauh sebelum ini Mi, tenang saja.” Syila hendak ke kamar.


“Syil, apa kamu masih ... mencintainya?” Mami bertanya dengan hati-hati, perasaan seorang ibu cukup lembut, dia takut telah menyakiti Syila yang sedang rapuh, dia takut Syila sebenarnya ingin bersama Izraa.


“Nggak tau Mi, saat ini, Syila hanya ingin tangan Syila sembuh. Tidak bisa memikirkan yang lain Mi, jadi jangan tanya hal yang sulit Syila jawab ya.”


“Iya Nak, maaf ya, mau mami buatkan apa untuk makan?”


“Tidak usah, Syila mau istirahat saja.”


Lalu Syila masuk ke kamar, kamarnya sudah pindah ke lantai 1, dia tidur di kamar tamu, karena kamar sebelumnya ada di lantai 2, orang tuanya merasa Syila akan kesulitan naik turun tangga, walau kakinya baik-baik saja, tapi kan tangannya tidak baik-baik saja, makanya kamar Syila pindah.


Setelah Syila masuk kamar, mami duduk di meja makan sembari memandang pada telepon pintarnya, ada sebuah pesan singkat masuk, pesan itu dari calon besan yang gagal jadi besan, maminya Izraa mengirim pesan singkat setelah teleponnya tidak diangkat berkali-kali oleh maminya Syila.


Pesan itu adalah ajakan untuk bertemu, maminya Syila sudah mengabaikan pesan itu, tapi banyak ibu-ibu sosialita yang lain membujuknya untuk bertemu, maminya Izraa paham menggunakan koneksi untuk membuat maminya Syila tak enak dan akhirnya mau bertemu.


Saat ini maminya Syila masih menahan diri, dia tidak ingin bertemu dulu dengan wanita itu, karena takut masih emosi, dia hanya butuh waktu sampai siap membicarakan ini semua.


Karena yang diinginkan maminya Izraa pasti hubungan ini lanjut, tapi maminya Syila sudah yakin untuk tidak lagi melanjutkan perjodohan ini.

__ADS_1


Dia tak mampu melihat Syila bisa bahagia dengan lelaki yang begitu kasar padahal belum juga menikah, tak terbayang dalam benaknya, jika kelak sudah menikah, akan seperit apa Izraa menyakiti Syila.


Tak heran, bagi orang tua, anak adalah segalanya, siapapun yang menyakiti, pasti akan dihadapi.


__ADS_2