
(SAAT IZRAA BERUMUR 25 TAHUN)
Wanita itu melucuti seluruh kain yang membalut tubuhnya dari rasa malu, tidak ada sehelai pun yang menjadi batas bagi Izraa untuk menikmatinya.
Setelah itu dia mencoba menghujani kembali tubuh Izraa dengan kecupan yang sensual, izraa masih terdiam dengan dingin.
Setelah 20 menit, Izraa masih saja terdiam, tidak bergerak sedikit pun, tatapannya bahkan tak bermakna, beberapa kali dia menguap dan akhirnya ditutup dengan suara ngorok yang cukup besar.
“Brengsek! Lu nggak suka perempuan ya!” Wanita itu segera memakai bajunya dan keluar, sementara Izraa masih terlelap, bukan salahnya, dia sudah bilang pada Managernya bahwa saat ini dia sedang lelah, tidak heran akhirnya tertidur di saat yang biasanya setiap lelaki akan merasa kepanasan.
...
“Lu sih kurang waras ya, lagi di tengah pertempuran malah ngorok.” Izraa dan Managernya sedang makan malam di hotel, Izraa sudah mandi dan tidak menyadari bahwa perempuan itu telah pergi dengan perasaan yang marah.
“Kan, gue udah bilang, gue capek, elu maksa.”
“Za, elu nggak suka cewek?” Managernya bertanya dengan hati-hati.
“Nggak.” Izraa berkata dengan datar.
“Kalau gitu, ada groupies laki, mau?”
“Terserah lu.” Izraa juga penasaran, apakah seorang lelaki bisa mendatangkan perasaan itu, dia belum pernah mencobanya. Kalau ya, tidak masalah, yang penting dia bisa merasakan hasrat itu.
“Serius?”
“Hmm.” Izraa serius.
Mereka melanjutkan makan malam lalu setelahnya pergi istirahat tidur.
Pagi hari Izraa bangun, Managernya bilang hari ini seharusnya jadwal mereka pulang, tapi Izraa akan menerima tamu, ‘sesuatu’ yang dijanjikan oleh Managernya.
“Za, ini Rey, kenalin dulu.” Seorang lelaki tampan dengan kulit putih dari wajah hingga kaki, tidak terlihat gemulai, aura lelakinya terpancar sempurna.
“Hei Za, gue Rey, gue fans lu, semua film lu gue tonton loh.”
“Oh ya.” Lagi-lagi hanya sikap dingin, Izraa masih tidak merasakan apapun.
Mereka bertiga mengobrol sekitar satu jam, Rey mencoba mencari perhatian Izraa dengan sedikit menyentuh kepalanya Izraa seperti mengusap, lalu mengelap keringat dan saat makan bersama karena itu adalah pagi, jadi sarapan, Rey membersihkan mulut Izraa yang kotor karena makan dengan jarinya sendiri, mengusap biir Izraa dengan jarinya secara sensual.
Izraa risih, dia tidak merasakan ketertarikan sama sekali, sentuhan-sentuhan kecil itu tidak membuat izraa merasakan hasrat, ini kali kedua dia mencoba mencari jati dirinya, dulu saat sekolah dia pernah mencoba dengan seorang lelaki, tapi tidak berhasil, lelaki itu bahkan sempat depresi karena begitu dinginnya Izraa, sekarang dia ingin mencoba lagi, rasanya menyukai lelaki jauh lebih baik dibanding tidak berhasrat pada siapapun.
“Gue ke lobby dulu urus check out ya, kalian berdua santai aja.” Manager Izraa meninggalkannya.
Setelah hanya tinggal berdua, Rey mulai melancarkan ‘serangan’ sensual pada Izraa, dia menyentuh telinga Izraa dengan lembut, mendekatkan wajahnya ke wajah Izraa, semakin lama Rey terlihat semakin kemayu, Izraa masih terasa aneh, tidak merasakan apapun.
“Za, lu mau gue bantuin?” Rey mengatakan hal yang membuat Izraa tertawa kecil.
“Gue nggak yakin lu bisa.” Izraa berkata.
“Sini gue coba.” Rey mulai jongkok, mendekati areal pribadi Izraa, saat melancarkan serangan, Izraa tertawa, sudah cukup, kau sudah berusaha.
Rey mengernyitkan dahi, kau tidak bisa … bangun?” Rey bertanya karena depresi, dia tidak melihat ada tanda ketertarikan dari Izraa padanya.
“Bisa dibilang begitu, kau bukan orang yang tepat saja.” Izraa mengatakannya dengan tenang, Rey pamit dengan wajah bingung.
“Jadi, gimana? suka sama Rey?” Manager Izraa datang dengan wajah penasaran, dia bukan orang yang bisa dibilang baik.
“Biasa aja, seperti sebelumnya.”
“Yaudah, yuk siap-siap, kita balik ke Jakarta sekarang.”
__ADS_1
Mereka berdua kembali ke Jakarta.
Izraa masih memandang langit dengan tatapan kosong saat menaiki pesawat terbang untuk kembali. Dia berpikir, kenapa begitu sulit untuk menjadi orang normal, apakah dia harus tidak pedulikan saja tentang penyakit ini dan fokus pada karir, rasanya itu bisa menjadi pelampiasannya dari rasa kecewa pada dirinya sendiri.
Kenapa semua orang terlihat sama, tidak ada yang terlihat lebih cantik atau tampan, mereka terlihat seperti sekumpulan orang yang terlihat sama bagi Izraa, laki-laki dan perempuan.
Apakah selamanya Izraa akan merasakan kesepian dalam kesendirian karena tidak mampu merasakan cinta apalagi nafsu dunia.
Izraa menatap langit yang luas, betapa luas langit tapi betapa kosong rasanya hati Izraa, semua terasa sepi dan datar saja.
Mereka sudah mendarat di Jakarta dengan selamat, begitu sampai pintu bandara, ada sesuatu yang terasa berbeda.
Kenapa begitu banyak Wartawan, semua menyorot Izraa, sebenanya dia sudah terbiasa dengan seluruh Wartawan tersebut, tapi kali ini terlalu banyak, tidak mungkin jika tidak ada sesuatu.
Security bandara segera berlarian menyelamatkan Izraa dari himpitan Wartawan, Managernya sudah memerintahkan beberapa personil bandara juga untuk menyelamatkan Izraa, dia tidak bisa keluar jadi mereka ke ruangan istirahat private di Bandara ini.
“Za, ada berita yang beredar di internet, seorang wanita memberitahu bahwa kamu … suka lelaki! Dia mengatakan bahwa dirinya adalah mantan pacarmu yang kecewa.”
“Pasti perempuan yang kemarin di hotel itu, nggak heran sih.”
“Elu nggak kesel, Za? Kenapa lu datar aja?” Managernya bertanya.
“Ya harus apa? mau ngomong apa juga mereka lebih suka sensasi daripada kebenaran, biarkan saja, kita tidak usah melakukan konferensi pers, biarkan saja, nanti juga beritanya berhenti.”
“Tapi proyek-proyek lu bisa batal, kita harus menyelamatkan nama lu Za.”
“Nggak perlu, malah sebenarnya gue lebih suka begini, yang perempuan males deketin gue dan yang laki-laki akan tertolak dengan sendirinya, percaya sama gue, nanti juga gosipnya reda, selama kita nggak membuat pernyataan apapun, semua akan baik-baik saja, itung-itung promosi nama gratis, selama ini buat naikin nama gue elu harus banyak bayar sana-sini, kan? gue pinjem topi lu ya, sama jaket, gue mau lewat belakang, elu aja yang lewat depan.”
Izraa lalu buru- buru lari lewat belakang, dia berhasil menaiki taksi dan bergegas ke apartemennya.
Kehidupan berjalan dengan baik, keputusan untuk mendiamkan saja gosip itu malah membuat namanya semakin melambung, ada haters yang menghina tapi ternyata fansnya tidak langsung percaya, mereka akhirnya bahu membahu membela idolanya, bahkan identitas wanita yang berkata bahwa Izra suka lelaki terekspos dengan mudahnya.
Wanita itu bahkan katanya depresi karena semua aibnya terbuka, izraa tertawa. Dengan melakukan langkah diam, semua orang akan berada di garis abu-abu, kalau Izraa melawan tentu itu akan seperti pembelaan, kalau dia bilang itu benar, habis sudah karirnya, kalau dia diam, maka fansnya yang akan bertindak.
Mudah sekali mereka di mata Izraa, mereka termanipulasi dengan semua kebohongan itu, tentu saja itu bohong, Izraa bukannya tidak menyukai perempuan, tapi dia memang belum menemukan yang tepat, akhirnya menerima bahwa dia sakit jauh lebih mudah.
…
SAAT INI
“Jadi gimana Ndi? Bisa solusi lu?” Syila bertanya, mereka sudah di apartemen Syila.”
“Nggak, ditolak, katanya dia udah pernah mencoba baik dengan lelaki ataupun perempuan, tidak ada yang mampu seperti kakimu.” Andi mengatakannya dengan kesal.
“Mampus gue!”
“Cil, mundur aja dari proyek ini ya, lanjut kuliah di luar negeri aja, gue temenin, nulis dari sana, pokoknya kita pergi jauh dari negeri ini.”
“Kabur? Kayak pengecut? Sorry, bukan Syila itu.”
“Ini kita bukan lagi menghadapi Hanum, kita lagi menghadapi seorang monster Cil. Terlalu bahaya, dia bisa menerkam lu kapanpun elu lengah. Bahaya Cil, dia tuh monster kelaparan, elu tuh makanan lezat di tengah gunung es dan minuman segar di tengah gurun pasir saat dia tersesat, elu pikir berapa lama dia bakal bertahan tidak melakukan apapun?”
“Gue mau coba ngomong pelan-pelan ke dia aja, gimana?” Syila menawarkan solusi.
“Lu yakin? Yaudah gue temenin.”
“Nggak, jangan, gue mau terbuka sama Izraa, gue tahu, di dalam hatinya dia orang baik kok, cuma saat ini dia sedang khilaf, gue mau bangkitin kebaikan hatinya lagi, gue yakin gue bisa ngomong pelan-pelan.”
“Yakin sendirian? Bahaya Cil.”
“Yakin, gue pasti bisa yakinin dia.”
__ADS_1
Syila menghubungi Izraa, dia bilang akan menemuinya besok, mereka janjian di apartemen Syila, lebih aman jika di tempat Syila, Izraa kemungkinan tidak akan melakukan kejahatan, karena ini tempat tinggal Syila.
Andi akhirnya pulang walau sebenarnya dia merasa ini tidak benar, tapi dia yakin saja bahwa adiknya mungkin mampu.
…
“Masuk, Za.” Syila membukakan pintu, Izraa masuk ke apartemen Syila yang memiliki 1 kamar itu.
Izraa duduk di ruang tamu, Syila langsung memberinya minuman kemasan, dia memang hanya menyetok makanan ringan dan minuman kemasan, supaya tidak terlalu banyak cucian, kecuali jika dia sedang deadline dengan tulisannya, maka dia akan menyetok bahan masakan.
“Sorry gue jarang masak, udah makan belum?” Syila berusaha bersikap baik, ini adalah jam dua belas siang, seharusnya jam makan siang.
“Nggak apa-apa, ini saja cukup.” Izraa tersenyum manis, hal yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya pada siapapun, dia datang dengan pakaian yang sangat keren, walau hanya kaus dan juga jeans, tapi terlihat bahwa dia berdandan untuk bertemu dengan Syila, sementara Syila mengenakan gamis yang sangat besar dan panjang, dia memastikan bahwa tidak ingin memprovokasi Izraa dengan tubuhnya lagi.
“Gue langsung aja ya, Za.”
“Silahkan.” Izraa masih terus tersenyum, bagi Syila rasanya aneh melihat Izraa penuh senyuman, walau dalam hatinya tidak menapik bahwa Izraa sangat tampan saat tersenyum.
“Za, gue ngerti tentang penyakit lu, tapi elu tahukan Za, gue seorang muslimah, gue nggak bisa memenuhi keinginan liar itu, apakah elu nggak merasa bahwa ini terlalu nggak adil buat gue, elu nggak bisa datang tiba-tiba dan memaksa gue untuk melakukan hal yang rendah seperti itu.” Syila langsung pada intinya.
“Lalu lu fikir ini adil buat gue?” izraa menumpangkan kaki kanannya ke kaki kiri lalu duduk dengan santai bersandar pada sofa? Wajah dinginnya kembali, dia terlihat cukup menakutkan, kalau biasanya mereka yang ‘menyerang’ Izraa dengan semua kesensualan itu, tapi sekarang Izraa rasanya tidak bisa tidak memanfaatkan situasi yang begitu menguntungkan ini. Mereka hanya berdua saja.
“Tapikan, bukan salah gue Za, penyakit itu datangnya dari Tuhan.”
“Jadi, gue harus salahin Tuhan?”
“Bu-bukan itu, maksud gue elu harus tawakal dan menerima dengan ikhlas.”
“Gue terima dengan Ikhlas kok, gue dari lahir dengan penyakit ini Syil, gue bahkan sudah dititik menyerah untuk terapi dan menerima penyakit ini sebagai bagian dari hidup gue. Tapi, elu datang ke hidup gue, saat karir gue redup, elu yang paksa mereka menerima gue sebagai peran utama. Elu yang datang dengan barbar, lalu sekarang mau kabur gitu aja? Seolah gue yang salah? Sejak awal, elu yang datang ke gue Syil, elu yang maksa masuk ke hidup gue, sekarang elu yang malah minta gue pergi?”
“Bukan begitu, lu telaah dulu deh kata-kata gue,” Syila mengusap wajahnya beberapa kali karena dia merasa bingung harus bicara apa lagi, Izraa tahu bahwa Syila memang suka sekali mengusap muka saat sedang merasa bingung.
“Maafin gue, karena gue ngerasa Tuhan kasih gue kesempatan buat sembuh dengan mendatangkan elu ke hidup gue, gue cuma minta satu hal, nggak banyak Syil, hanya satu kali, ijinin gue buat melakukannya, sekali saja, gue mau merasakan itu dalam hidup gue, sekali saja.”
“Za! Jangan bicara menjijikan itu lagi!” Syila kesal.
“Maaf Syil, kalau memang lu nggak mau kasih, terpaksa gue yang ambil.”
“Apa maksud lu Za!” Syila berdiri, tapi saat berdiri dia merasa sangat pusing, lalu terjatuh duduk di sofanya, dia memegang kepalanya, terasa berat sekali, matanya juga, kenapa dia merasa mengantuk sekali.
Sama Syila melihat Izraa perlahan mendekatinya, dia lalu bersujud sehingga posisi wajahnya ada di depan Syila. Syila mencoba untuk mendorong tubuh Izraa, tapi dia tidak mampu, terasa lemas sekali.
“Maaf, gue janji bakal bertanggung jawab, gue janji bakal kasih apapun yang lu mau, apapun itu, cuam satu kali Syil, satu kali saja, gue janji.”
“Za, enggak Za.” Syila menangis mencoba menghalau tangan Izraa yang mencoba menggapai tubuh Syila, dia merasa Izraa mengangkat tubuhnya dan menggendongnya, semua terasa samar, lalu Syila merasa tubuhnya di tidurkan di tempat tidur, apa yang akan dilakukan oleh Izraa, Syila terus menangis sejadinya, dia memohon dengan suara yang sangat lemah.
“Za … gue mohon.” Syila memohon dengan suara yang lemah.
“Gue yang mohon sama lu, maafin gue.” Izraa memegang wajah Syila, dia mengecup kepala Syila yang tertutup jilbab.
“Enggak! Enggak!!!” Syila berontak dengan sisa tenaganya, izraa mengencangkan pegangannya, dia terus menahan tubuh lemah Syila agar tetap di dalam dekapannya.
“Syil, rasanya nikmat sekali pelukan ini, aku tidak tahu bahwa ketika seseorang yang kita peluk adalah seseorang yang kita inginkan, maka pelukan itu terasa berbeda, rasanya darah gue mengalir dengan deras, terasa panas tapi nyaman, detak jantung ini serasa berfungsi kembali, Syil aku nggak tahu bahwa pelukan saja terasa nyaman sekali.” Syila merasakan ada air menetes dari mata Izraa, Syila juga menangis, bagaiman dia bisa lepas dari situasi ini, Izraa telah sepenuhna menjadi Srigala atau monster yang kelaparan, seharusnya dia bersama Andi, lagi-lagi Syila salah mengambil langkah, ini semua karena kecerobohannya atau seperti yang diikatakan Tuhan, bahwa Syila memang untuk lelaki itu?
_____________________________________
Catatan Penulis :
Ada yang bisa tebak, apa yang bakal dilakukan Izraa? Apakah Syila akan kehilangan kehormatannya?
Tunggu part selanjutnya ya.
__ADS_1