Cinta Gila Sang Aktor

Cinta Gila Sang Aktor
Bagian 37 : Janggal


__ADS_3

Setelah pertemuan yang mendebarkan itu, Syila agak was-was untuk pergi ke luar sendiri, dia selalu menunggu Andi jika ingin kemana-mana, walau dia tidak menceritakan pada Andi apa yang terjadi sebenarnya, bahwa Aldo Si Penggemar itu tinggal di lantai yang sama, rasanya jika dia bilang ini adalah kebetulan, rasanya terlalu naïf.


“Syil kenapa sih sekarang manja banget?”


“Kenapa? nggak suka?” Syila ngambek, dia masih tidak ingin terbuka pada Andi karena takut Andi marah-marah dan suruh dia nggak di apartemen lagi sampai aman.


“Dih nape lu? lagi dapet ya?”


“Au.”


Mereka sedang di lokasi syuting, kecuekan Izraa masih saja menghiasi harinya Syila, pengabaian tidak pernah hilang, Syila mulai lupa karena fokus menulis dan berjaga-jaga jika Aldo lewat, yang Syila takutkan adalah Aldo akan mengetuk pintu apartemennya karena melihat Syila masuk ke unit miliknya yang asli, bukan di lantai sembilan.


“Izraa take tuh, fokus, ini adegan sulit, jangan sampai kurang, kasian kalau dia ngulang.” Andi mengingatkan.


Syila fokus melihat akting Izraa, lelaki itu benar-benar dingin, bahkan dia tidak pernah menyapa Syila sama sekali, seperti orang asing.


Hubungan sebentar itu ternyata cukup meresahkan.


“Syila gimana, udah bagus belum?” Bang Aryo bertanya.


“Bagus, cuma bagian akhir kurang dalem tatapannya Bang, tapi kalau lu pikir ok, gue nggak akan protes.”


“Sama Syil, gue ngerasa Izraa akhir-akhir ini agak lemah di eye contact, seolah dia tidak bisa merasakan apa yang seharusnya disalurkan melalui pandangan, ini adalah akting tanpa dialog, sebenarnya salah satu kekuatan akting izraa adalah di mata, tapi entah kenapa, dia jadi lemah sekarang.”


“Jangan tanya gue kenapa ya Bang, gue juga nggak tahu.” Daripada Syila ditanya dia menjawab duluan, bahwa dia tidak tahu.


“Yaudah makan dulu deh, gue pikirin buat adegan terakhir, perlu diulang apa engga.” Bang Aryo meninggalkan Syila, menunggu makanannya di kasih, dia akan mengetik dulu sedikit, Izraa lewat di sampingnya, Syila melihat Izraa, Izraa hanya melirik lalu pergi.


[Dia kenapa sih? aneh banget, selalu saja bikin orang bingung.] kata Syila dalam hati.


“Syil, Si Kakak lagi sibuk banget ya?” Hanum duduk di samping Syila dan bertanya, nasi kotak mereka sudah di tangan.


“Iya, dia lagi banyak observasi soal operasi katarak, katanya dia mau operasi katarak tapi umur pasien sudah sangat senja, jadi ada beberapa hal yang mesti diperhatikan.” Walau Syila sudah dua minggu tidak pulang, dia tahu informasi keluarga dari grup chat keluarga, pantas akhir-akhir ini Kak Alzam sulit dihubungi.


“Oh gitu.” Hanum ingin mengerti.


“Emang kenapa sih, lagi berantem ya? kenapa nggak tanya sendiri?” Syila bertanya.


“Nggak lagi berantem, cuma salah paham aja.”

__ADS_1


“Salah paham?” Syila penasaran, karena menurutnya kak Alzam orang yang paling melihat masalah dari berbagai sudut, tidak pernah menghakimi orang dan menilai orang seenaknya.


“Iya, jadi beberapa hari yang lalu gue kan nggak chat dia, nggak kasih tahu kalau selesai syuting, maksud gue tuh, gue nunggu dia buat chat gue duluan, gue nggak mau ganggu kerjaan dia, makanya gue tungguin dia chatting gue, eh tapi dia nggak chatting gue sampe malem, nah, ini masalahnya, pas malem, temen gue ada yang ajak ngopi di kafe, itu posisinya jam sebelas malam, temen perempuan kok, ya gue mau aja, karena gue juga bosen di rumah.”


“Trus?” Syila penasaran.


“Trus yaudah, gue nongkrong ama temen gue itu sampe jam satuan lah, balik rumah, trus katanya ternyata Kak Alzam nyariin gue, telepon ke rumah, gue heran kok dia nggak telepon ke HP gue, pas gue cek, ternyata HP gue tuh lowbett, yaudah dia ngamuk lah.”


“Ngamuk kenapa?”


“Yaitu salah paham, disangkanya gue itu abis syuting sengaja matiin HP biar bisa jalan ama orang, karena pas dia telepon ke rumah karena khawatir, mbak di rumah bilang gue nggak ada, abis syuting jalan, jadi dia curiga, gue pergi sama laki-laki gitu deh.”


“Hah? Serius? Kok kakak gue bodoh sih?” Syila heran.


“Ya itu sih kali pertama Kakak cemburu, ternyata lucu, tapi menakutkan, dia nggak tanya apa-apa loh ke gue, tiba-tiba ngilang aja, gue sadar dia cuekin gue, karena saat gue tanya dia telepon ke rumah dan gue jelasin ke mana, dia kayak nggak percaya, dia cuma bilang, ya, ok, hmm, trus dia matiin teleponnya. Sampe sekarang telepon gue nggak diangkat, makanya gue tanya ke elu, apa dia sibuk?”


“Kalau sibuk sih, iya sibuk banget dia, tapi masa iya nggak bisa hubungin lu sama sekali, itu dia ngambek sih. Cuma kayaknya bodoh aja, kok ngambek tanpa cari tahu dulu masalahnya.”


“Lu pfikir cinta sesederhana itu?”


“Lah ngapain dibuat rumit dengan asumsi nggak jelas, kalau lu merasa ragu, tanya, abis itu kalau masih curiga, cari tahu lebih dalam, jangan malah ngilang, cuek nggak jelas gitu, kayak anak kecil.”


“Syil, katanya sih begitu, cinta bisa buat orang pintar sekalipun menjadi bodoh, karena cinta itu biasnaya mengedepankan emosi dulu, karena perasaan cinta itu sendirikan luapan emosi.”


“Karena saat itu dia marah Syil, gue nih cewek yang berharga buat dia, mungkin saat itu dia kerja, lalu ingat belum ada kabar dari gue dan mulai khawatir, kekhawatirannya itu karena dia cinta sama gue, dia lalu berusaha hubungin gue, tapi gue yang dikhawatirkan malah ternyata asik nongkrong, jadinya dia marah karena rasa khawatirnya terasa dipermainkan, akhirnya yang kena harga dirinya, karena pikiran kalutnya membuat dia berasumsi yang tidak-tidak.


Setauku sih, kalau lelaki udah kena harga dirinya, dia akan malas berhadapan dengan pelaku yang merendahkan harga dirinya itu.”


“Astaga, kakak gue tuh yang begitu? kayak nggak kenal.”


“Nyatanya begitu kan?”


“Trus sekarang elu mau ngapain?”


“Paling nanti ke rumah, minta bantuan mami, soalnya kalau bujuk sendiri dia akan selalu menghindar, gue bakal deketin apa yang paling bisa mengendalikan kemarahannya, sejauh ini sih mami yang paling bisa nolong.”


“Wah elu manfaatin kasih sayang emak gue dong.”


“Ya gitu deh, udah ah, mau tidur dulu, masih break satu setengah jam lagi.” Hanum membereskan nasi kotaknya lalu bergegas ke mobil yang bagian tengahnya sudah dibuat datar sehingga Hanum bisa tidur nyaman di mobil.

__ADS_1


Harga diri? Apa Izraa dan Syila juga sedang merasakan masalah yang sama, apa Izraa merasa kesal karena Syila diundang ke rumah yang dia janji tidak akan pernah datangi lagi itu, akhirnya Izraa harus ke sana, makanya Izraa kesal karena dia merasa Syilalah yang menyebabkan dia melanggar janjinya, melanggar janji adalah bagian dari tercorengnya harga diri bukan?


Syila berpikir seperti itu, padahal bukan itu yang membuat Izraa marah, bungkamnya Syilalah yang membuat Izraa merasa tidak ada harganya setelah semua yang dia lakukan, termasuk memberitahu Izraa penyakitnya, yang bahkan orang tuanya saja tidak tahu.


Di tempat lain Izraa sedang make up untuk take berikutnya.


“Bang, kok akhir-akhir ini muka kusam, tidur kurang ya?” Tanya makeup artist, dia adalah wanita yang cukup profesional di bidangnya, cantik, muda dan memiliki keahlian.


“Nggak.” Izraa menjawab singkat.


“Kemarin kok nggak jogging sama Kak Syila?” orang itu bertanya lagi, dia bertanya sambil masih makeup wajah Izraa.


“Nggak ikut.” Izraa masih menjawab singkat.


“Aku juga kaget ketemu Kak Syila di taman kota, dia lagi jogging, berdua sama ….” Makeup Artist itu menahan perkataannya, sengaja supaya Izraa penasaran.


“Ya, dia memang suka jogging.” Izraa tidak kemakan omongan wanita ini.


“Sorry ya Bang, cuma mau infoin aja, kemarin Kak Syila joggingnya sama laki-laki, berdua aja.”


“Ya, itu Andi, Managernya, sepupunya juga.” Izraa menjawab agar wanita ini diam.


“Bukan, kalau Bang Andi mah saya tahu Bang, ini lelaki lain, tubuhnya tegap gitu, ganteng lagi, dia lagi jalan berdua sama Kak Syila di taman jogging.”


Izraa terdiam mendengar itu, masa iya wanita ini bohong, untuk apa? mungkin dia suka bergosip, tapi untuk fitnah orang rasanya terlalu jauh, Izraa semakin kesal karena mengira itu Kevin.


Karena Izraa tidak membalas perkataannya, wanita itu akhirnya tidak melanjutkan lagi.


Setelah selesai makeup, Izraa hendak keluar, tapi sebelum itu dia berbalik dan mengatakan sesuatu pada wanita yang telah mendandaninya.


“Jangan bilang pada siapapun apa yang kau lihat itu, aku tidak akan melepaskanmu kalau sampai ada gosip miring tentang kekasihku.” Wanita itu kaget dengan perkataan Izraa, karena mengatakannya dengan wajah dingin, aura kekejaman seketika muncul di wajah Izraa, wanita itu hanya mengangguk ketakutan.


Apa yang dikatakan wanita itu adalah apa yang dia lihat, benar yang dia lihat adalah ketika Aldo menyapa Syila dan Andi masih memarkir mobilnya, setelah itu wanita perias itu mengambil kesimpulan sendiri, dengan menciptakan rumor Syila mungkin saja berselingkuh, padahal tidak lama kemudian Andi datang lalu mereka berpisah, itu tidak dilihat oleh Si Perias itu.


Asumsi memang membuat banyak hubungan kandas, tapi daripada menyalahkan asumsi, lebih baik salahkan diri sendiri, yang lebih nyaman menerka-nerka ketimbang bertanya.


Karena kadang, menerka itu masih ada sedikit celah untu kecurigaan itu salah, kalau bertanya, ketika dijawab adalah hal yang paling tidak ingin kita dengar, maka tidak ada lagi celah untuk penyangkalan.


_____________________________________________

__ADS_1


Catatan Penulis :


Pada apa yang aku yakini, aku menikmati setiap rasa senang, sakit dan perih, terkadang memang melelahkan, tapi lebih menakutkan, jika tanpamu. Itu yang sulit aku sangkalkan.


__ADS_2