
Masih di kafe yang sama, dua insan yang mempunyai luka saling menatap kosong ke depan, menikmati lagu yang sedang diputar oleh kafe, lagu lawas yang membuat mereka semakin tengelam dalam kenangan masing-masing.
Setelah 2 jam saling diam, Syila menutup laptopnya, Izraa menutup bukunya, Syila baru tersadar kalau ternyata dia sedang tidak sendirian, dia sedang bersama Izraa.
“Buset, gue nggak sadar loh kalau elu masih di sini. Sorry, sorry ya.”
“Gue juga lupa kalau lagi duduk bareng lu.” Izraa mengatakannya dengan dingin.
“Sorry ya.”
“Ngapain minta maaf sih, gue beneran tadi tuh juga fokus banget baca buku, gue nggak basa-basi ngomongnya. Beberapa bulan kenal, udah tau dong gimana gue.”
Syila tersadar, memang Izraa bukan pria yan penuh basa-basi, yang membuat Syila takjub, baru Izraa pria yang nggak rewel berada di samping Syila tanpa berkata dan sibuk dengan dunia masing-masing, bahkan Andi dan kakaknya, mereka selalu rewel kalau Syila sudah tenggelam dengan tulisannya.
“Gila, lu partner yang tepat banget kalau gue butuh teman saat mau nulis.” Syila tersenyum.
“Kok gitu?”
“Ya, elu nggak rewel bahkan elu nyaman dengan kesunyian barusan, dua jam loh, Za.” Syila melihat jam sambil ngomong.
“Gue malah takjub sama lu, bisa nggak cerewet saat duduk samping seseorang, nggak sok cari bahan pembicaraan, jujur, gue suka pusing kalau ngeliat perempuan terlalu banyak bicara.”
“Berarti untuk yang satu ini kita bisa dikatakan sepaham ya, Za. Tapi, kalau di lokasi syuting, gue kan cerewet, pantes elu nggak suka ama gue.”
“Hah, gue nggak suka ama lu? Biasa aja kok, maksud gue, emang gue gini, sama aja, kayak ke perempuan pada umumnya, gue nggak suka basa-basi. Soal kecerewetan lu di lokasi syuting emang ganggu, tapi karena kebanyakan karena pekerjaan, gue sih bisa terima, kalau gue masih tanggepin berarti itu emang penting.”
“Makasih ya, Za.”
“Lu udah ngomong sorry dan makasih terlalu banyak, udah pulang gih, udah malem banget.”
“Iya.” Syila tersenyum. Lalu pamit pulang.
[Kenapa manis sekali dia?] Izraa mengatakannya dengan aneh, walau perasan itu masih tidak cukup membangkitkan gairah yang lelaki rasakan pada seorang wanita, tapi melihat senyuman itu membuat Izraa ikut tersenyum.
…
Hari ini syuting dilakukan di luar kota, Syila ikut, tadinya tidak karena dia malas karena deadline tulisan membuatnya malas kemana-mana. Tapi Andi bilang mau ikut dan Syila harus ikut, Andi mau Syila bisa lupa sedikit masalahnya.
Syila naik bis bersama yang lain, tapi Syila minta duduk di barisan bangku belakang satu bangku sebelum barisan terakhir, Andi minta duduk di depan, sisanya kru dan Pemain, Izraa duduk di depan Syila, sementara Hanum di sebrangnya.
Syila tetap sibuk dengan tulisannya.
Rencananya akan ke Puncak dan perjalanan sekitar 3 sampai 4 jam tergantung kondisi jalan.
Izraa baca buku, sementara yang lain ada yang nyanyi untuk mengusir kebosanan karena perjalanan.
“Main tebak-tebakan yuk.” Bang Aryo berdiri dan mengajak semua orang untuk memperhatikannya.
“Ada hadiah nggak, males ah kalau enggak.” Seorang Kru bertanya.
“Ada dong, mau ada yang donasi?” Bang Aryo kembali bertanya.
“Aku Bang, kasih gope tuh ke Bang Aryo.” Hanum meminta Asistennya untuk memberi Sutradara uangnya untuk donasi tebak-tebakan.
“Ada lagi yang mau donasi?”
Asisten Izraa mendekat, ternyata memberikan uang satu juta, Izraa cukup loyal, walau dia tidak seperti Hanum yang terang-terangan ingin terlihat memberi donasi.
“Syil, nggak mau donasi?” Bang Aryo memanggil Syila.
Tapi Syila tidak menjawab.
“Syil!” Bang Aryo mengulang.
__ADS_1
Izraa berdiri dan melihat Syila sedang pakai headset, Syila melihat Izraa yang melongok langsung melepas headsetnya.
“Napa?” Syila bertanya.
“Lu mau ikut donasi tebak-tebakan nggak?”
“Hah? Oh, iya. Andi!!!” Syila berteriak.
“Iye, ntar gue kasih.” Andi berteriak dan menyiapkan uang.
“Gue nggak pegang uang sendiri, yang pegang Andi.” Mendengar itu, Izraa merasa Syila manja, karena tidak memegang uangnya, Izraa tidak tahu, bahwa Syila membiayai kehidupan keluarganya dulu dari penghasilan menulis.
“Ok yang menang dapat seratus ribu atau dua ratus ribu, tergantung dengan pertayaannya.”
“Ayo mulai, jangan kelamaan intro.” Kru sepertinya senang sekali.
“Pertanyaan pertama, siapa bapak penemu WiFi.”
“Bang!!! Susah amat.” Yang lain protes.
“Cepet, dilarang cari di internet ya, awas kalau curang.” Bang Aryo tidak perduli dengan complain.
“Sudah Bang!” semua protes.
“Satu, dua, tiga ….”
“Bang! Bukan bapak, tapi ibu.” Syila berdiri dan menunjuk tangan, dia mau menjawab pertanyaan Bang Aryo.
“Hah?” Bang Aryo bingung.
“Salah satu Penemu WiFi itu namanya Hedy Lamar, dia itu perempuan. Bukan lelaki jadi ibu bukan bapak, ibu Penemu. Dia seorang artis juga pada jamannya, bahkan filmnya puluhan. Dia itu representasi dari kata cantik dan pintar, sehingga bisa meng-counter kata-kata 'cantik sih tapi bego', cuma dia ini yang bisa counter kata itu.”
“Iye, iye, salah sedikit, panjang amat jawaban lu.” Bang Aryo mengeluh karena di koreksi oleh Syila, sementara Izraa tertawa dengan spontan mendengar jawaban Syila.
Dalam hatinya Hanum tahu, bahwa dia yang berusaha, tapi sepertinya Syila yang akan menang.
Padahal untuk ukuran seorang wanita dia wanita yang cantik, Hanum juga cukup cerdas, sayang dia tidak memiliki kharisma dalam dirinya yang bisa membuat seseorang tertarik. Izraa adalah pria yang mampu membuat Hanum jatuh cinta tapi tidak bisa dibuat jatuh cinta oleh wajah cantik saja.
…
Setelah 4 jam perjalanan, mereka sampai tujuan, sebuah vila yang cukup besar, total Tim Produksi menyewa 5 vila, satu vila berisi 4 kamar yang berhadapan, satu kamar diisi oleh 4 orang kru, 3 orang pemain figuran dan 1 orang pemeran utama.
Syila mendapatkan kamar untuk satu orang, karena dia membayar biaya menginapnya sendiri, dia tidak ingin ikut jadi beban Tim Produksi karena tadinya tidak terhitung sebagai orang yang akan diikutsertakan.
Syila satu vila dengan Izraa, Hanum dan Bang Aryo. Bisa dibilang masuk ke Tim inti produksi, beberap kru yang selalu Bang Aryo cari ada di vila utama, karena jumlahnya cukup banyak, jadi ada yang gelar kasur di ruang tamu vilanya.
Semua bersiap untuk scene take malam, Syila juga sudah siap duduk dekat dengan Bang Aryo, sementara Izraa dan Hanum sedang di-make up.
Syuting dimulai, Izraa sudah bersiap di depan kamera bersama Hanum.
Lalu mereka mulai berdialog.
“Tidakkah kau perih? Bukankah menungguku terasa akan sangat menyakitkan.” Izraa memulai semua dengan emosi yang terasa pas, bahkan semua kru terlihat tenggelam dengan kalimat pertama darinya, sama seperti Syila.
“Aku memilih untuk melewati perih itu dibanding dengan kehilanganmu, karena hidup pasti jauh terasa berat, jika tak bersamamu.” Hanum menyentuh wajah Izraa, tangan Izraa menyambut tangannya. Dialog ini sangat intim sekali.
“Tapi aku tidak bisa berjanji, berjanji untuk kembali.” Izra melanjutkan dan memilih untuk tidak melihat ke arah Hanum agar terasa efek dramatisnya.
Saat dia sedang menghayati peran itu, Izraa melihat Syila menangis, dia mengeluarkan air mata, entah kenapa itu membuat Izraa gusar hingga hilang fokus.
“Tidak masalah, tapi kau harus berusaha sekuat tenagamu untuk kembali, setidaknya aku akan menjadi bebanmu, kembalilan dalam keadaan apapun, karena aku tidak akan pernah berhenti menunggu.” Dialog Hanum selanjutnya.
“Jangan menungguku.” Semua kaget, kenapa Izraa mengubah dialognya, Syila menatap aneh pada izraa, kenapa tatapannya terasa lembut sekali.
__ADS_1
Hanum tidak tahu harus berbuat apa, karena itu bukan dialognya dan dialog lanjutan Hanum pun tidak nyambung, maka Hanum ikut berimprovisasi karena sudah sangat bagus sekali emosinya, dia tidak mau bagian ini diedit.
“Aku akan tetap menunggumu.”
“Perempuan bodoh.” Izraa masih menatap Syila.
Syila menangkap itu sebagai kata-kata yang Izra tujukan padanya.
Lalu Bang Aryo berteriak, “Cut!!!”
Semua berkumpul, “Gila keren banget penambahan dialognya, Syil yang ini boleh ya, please ….” Bang Aryo memohon karena emosinya sangat dalam, Syila hanya mengangguk. Lalu Syila berjalan ke toilet, syuting pun selesai, karena memang hanya mengejar malam hari dan beberapa scene saja.
Saat Syila keluar dari kamar mandi, dia melihat Izraa sedang duduk di ruang tamu. Dia membaca buku lagi.
Syila duduk di samping Izraa,” Memang kalau perempuan menunggu itu, namanya perempuan bodoh?” Syila berkata dengan santai sambil bersandar pada sandaran sofa.
“Maksudnya?”
“Kenapa tadi kepikiran kata-kata itu? improvisasi itu, itu memang bagus, tapi biasanya kalau spontanitas, itu berasal dari dalam hati dan pemikiran yang diyakini, apakah kau merasa perempuan yang menunggu kekasihnya itu sebagai perempuan bodoh?”
“Tentu saja, apalagi namanya?” Izraa menatap Syila dengan lekat.
“Cinta, itu namanya.” Syila juga menatapnya tidak mau kalah, tapi posisinya tetap bersandar, sementara Izraa tegak tapi menghadap Syila.
“Cinta tuh, apa sih Syil?” Izraa menanyakan hal yang memang tidak dia pahami, dia benar-benar bertanya, bukan sedang menantang.
“Cinta itu ketika kau terus memikirkannya, walau jarak, waktu dan ….”
“Dan orang lain telah mengisi hatinya?” Izraa menebak.
“Bisa juga.”
“Kalau menurutku, cinta adalah sesuatu yang kosong, ilusi, hanya kata yang diciptakan untuk membuat seseorang merasa nyaman.”
“Hah?”
“Loh iya dong, kau tahu cinta itu tidak ada, ini hanya tentang hasrat Syil, hasrat yang nyata, secara alamiah kita butuh itu, hasrat itu dibalut kata cinta agar terasa sopan dan nyaman, padahal jatuhnya ke sana lagi.”
“Lu bicarain nafsu?” Syila merasa Izraa mesum sekali. Dia pasti playboy, bukannya tidak suka dengan wanita atau keduanya. Cara berpikirnya sangat rendah sekali tentang cinta.
“Apalagi Syil? Kecuali … orang yang sakit.” Izraa menerawang jauh.
“Kalau semuanya tentang nafsu, tentu tidak akan ada wanita yang menunggu dalam ketidakpastian hanya untuk cintanya.”
“Memangnya ada?”
“Ada!” Syila ngotot.
“Sebutkan satu.” Izraa menantang.
“Majnun yang menunggu Layla, kau tahu, dia bahkan menjadi gila karena kekasihnya, kekasihnnya menikah dengan orang lain! Dia masih menunggu dan ketika akhirnya seseorang membuat negeri Layla tumbang karena peperangan agar Majnun bisa menikahi Layla, kau tahu apa yang dilakukan oleh Majnun? Dia menolong semua korban peperangan itu, kau tahu apa katanya? Bagaimana aku bisa melihat orang-orang yang tinggal di negeri dimana kekasihku tinggal ini terluka.” Syila mengatakannya dengan emosi, dia menangis dan berteriak, Izraa hanya menatapnya tenang. Izraa tahu, Syila sedang melakukan pembenaran atas kesalahan yang dia lakukan.
“Tapi akhirnya Majnun meninggal dalam kesia-siaan, dia tidak bersama kekasihnya sampai mati. kekasihnya datang setelah beberapa waktu dia telah tiada! Mereka berdua mati dalam kesia-siaan.”
Syila menatap Izraa dengan air mata yang terus jatuh.
“Aku ingin melupakannya, jika aku mampu sudah kulakukan bertahun yang lalu, tapi aku tidak mampu, kalaupun aku memang harus berakhir seperti Majnun, tentu itu akan terasa indah.” Syila berdiri dan pergi ke kamarnya. Menangis sejadinya.
[Jika aku mampu, aku ingin mencintaimu, tapi aku tidak bisa, aku tidak bisa merasakan apapun baik kepadamu ataupun wanita manapun, kasihan sekali kau, gadis cerdas yang terluka.] Izraa menatap ke pintu kamar Syila yang tertutup rapat dan terkunci, hatinya mengatakan itu.
Izraa merasa iba pada Syila, tapi dia tidak bisa mengulurkan tangannya, karena Syila akan seperti lepas dari buaya masuk ke kandang harimau, karena Izraa tidak bisa menawarkan cinta yang penuh gairah, bukannya tidak mau, tapi Izraa tidak mampu, saat seperti ini Izraa benci penyakitnya!
Kalau dia mampu, dia akan melakukannya untuk Syila, karena dalam pemikirannya, Syila wanita yang sepadan dengan semua pemikirannya, tapi jika Syila bersamanya, Izraa hanya akan memberikan kehampaan lainnya, karena ketidakmampuannya merasakan hasrat itu.
__ADS_1