Cinta Gila Sang Aktor

Cinta Gila Sang Aktor
Bagian 87 : Rekan Bisnis 3


__ADS_3

“Ini ruangan Bapak, Ibu Syila akan meeting di sini, silahkan masuk.” Lalu lelaki itu membuka pintu, Syila baru paham apa tujuannya lelaki itu ikut menjemput, ternyata dia yang mengantar Syila dan Andi sampai di sini.


Syila masuk dan saat dia masuk, dia melihat seorang pria duduk berdampingan dengan istrinya, itu adalah papi dan mami Sila, lalu di hadapan mereka ada seorang pria.


Tentu saja, anak mereka.


Syila tersenyum dan berkata dalam hati, [Aku sudah mempersiapkan ini.]


Mereka berdua lalu masuk dan menyapa semua orang yang dikenal.


“Duduk Syil, duduk di sana.” Maminya Syila meminta Syila duduk di samping Izraa sementara Andi duduk di sofa lain.


Mereka duduk berhadapan, lalu maminya Izraa mulai membagikan daftar yang perlu diperisapkan untuk membuat perusahaan.


“Ini adalah daftar untuk membuat perusahaan, kalau dokumen mah gampang ya Syil, kita bisa siapkan, lalu lokasi, kau akan diberikan tempat di salah satu lantai di gedung ini, kemungkinan sebelum lantai kami, tapi kamu lihat dulu yang mana yang kamu suka pemandangannya, ada beberapa optional, kita akan mulai di gedung ini dulu agar nantinya dana yang kau miliki, bisa fokus pada pengembangan perusahaan, bukan pada biayanya saja, soal tempat akan masuk ke bagian investor. Jadi sementara waktu tak ada dana yang akan kami tarik untuk sewa gedung.” Maminya Izraa terlihat seperti malaikat.


“Baik.” Syila terlihat tenang.


“Lalu ini, ini point penting lainnya dan merupakan prioritas, kau harus memikirkan nama yang bagus untuk perusahaan penerbitanmu.”


“Baik.” Syila masih belum menjawab apapun, dia hanya memastikan bahwa membaca semua yang sudah disiapkan maminya Izraa.


“Maka yang mewakili kami untuk mengurus perusahaan bersama kamu adalah, Izraa.” Mami langsung pada intinya, Syila terdiam sesaat, dia sudah menduga ini dengan sangat jelas.

__ADS_1


“Maksudnya mewakili mengurus perusahaan?” Syila bertanya dengan tenang dan sopan, nadanya tidak terlalu menggebu atau dingin, dia tetap menjaga intonasinya agar tetap sopan.


“Maksudnya adalah, Izraa akan ikut membantumu mengurus perusahaan itu bersama sebagai bagian dari kami, investor.”


“Tapi bukankah investor bisa menyerahkan semua tanggung jawab padaku sebagai penerima dana dan aku akan mempertanggungjawabkan dana yang kalian berikan dengan laporan keuangan? Bisa juga dengan laporan pertanggungjawaban? Tidak perlu ada orang yang stay untuk mengawasi.” Syila mencoba untuk membicarakan gagasannya yang menolak dengan halus, tidak ingin Izraa ikut dalam kepengurusan perusahaan ini.


“Tentu saja, ini bukan seabgai bentuk pengawasan Syila, Syila salah kalau anggap kami tak percaya padamu, dana itu kami berikan dengan penuh perhitungan, kami tahu kalai Syila bisa dipercaya, ingat ya, kami ini pengusaha dan kami tak pernah menaruh uang kami pada orang yang salah dengan sengaja, tapi kami meminta Izraa ikut membangun perusahaan itu karena kelak Izraa akan mengurus perusahaan kami, maka kami justru meminta bantuan Syila untuk ikut sama-sama belajar dengan Izraa agar kelak Izraa bisa mengurus perusahaan kami dengan baik karena sesi latihan di perusahaan yang kelak akan jadi milikmu.” Papinya Izraa berusaha bicara dengan bijak, walau kesannya jadi memaksa.


“Jadi ini bagian dari syarat atas suntikan dana yang akan diberikan? Jadi, perusahaan ini sebagai sarana bermain Izraa sebelum dia benar-benar mengurus perusahaan orang tuanya?” Syila menatap orang tua Izraa dengan lembut, tapi dia sengaja mengatakan hal yang tegas, agar mereka semua tidak perlu munafik dan langsung pada maksudnya.


“Bukan tempat bermain, kau tahu dengan jelas kalau aku tak pernah bermain-main jika itu hubungannya denganmu, tapi ini sarana untuk aku belajar, aku memang akan mewarisi perusahaan ini, maka tak ada salahnya belajar.” Izraa mencoba membantah perkataan Syila.


“Aku takjub, Za. Kau dulu sempat bilang kalau tidak pernah tertarik dengan perusahaan keluargamu, lalu sekarang kau menerima tanggung jawab itu, aku sungguh sangat kagum karena kau orang yang berani.” Tentu saja Syila sarkas.


“Baiklah, karena ini aku anggap syarat yang tidak terlalu berat, maka aku akan menerima, tapi aku pun memiliki hal-hal yang harus diperhatikan bersama antara pemberi modal dan juga penerima modal, yaitu, aku ingin hakku penuh dalam pengambilan keputusan, aku yang akan memiliki hak tertinggi dalam setiap keputusan yang akan diambil perusahaan, pemegang saham, baik pemberi dana dan petugas pengawas … hanya bersifat sebagai penasehat saja.” Syila menatap Izraa, karena petugas pengawas yang dimaksud Syila adalah Izraa.


“Itu hal yang baik, om dukung kok, justru bagus karena kau dan Izraa bisa ambil keputusan sendiri tanpa intervensi dan jika gagal kau akan belajar.” Papi terlihat senang karena mereka sepakat.


“Baiklah, kau bisa susun apapun yang dibutuhkan tante untuk legalisasi perusahaan selanjutnya, sekarang kau akan diantar oleh pegawai kami untuk melihat lantai yang akan kau gunakan sebagai kantormu, kau bisa pilih 1 dari 5 lantai yang sudah kami pilihkan, jadi kau dan Izraa bisa mulai dari sana dulu.” Papi dan Mami lalu bersiap untuk bekerja lagi, mereka bersiap untuk kembali ke meja mereka dan memanggil pegawai yang tadi mengantar Syila dan Andi dari sejak rumah pula.


Syila, Izraa dan Andi keluar didampingi oleh pegawai lelaki bersetelan jas hitam itu lagi, personel tambah satu, anak pemilik perusahaan.


Mereka diantar dulu ke lantai yang tepat ada di bawah lantai paling tinggi, lantai milik orang tua Izraa. Lantai dnegan view ibu kota yang indah dilihat dari kaca.

__ADS_1


Saat mereka ke lantai itu, ada seorang perempuan yang sangat cantik ikut mendampingi, pakaian perempuan itu terlihat sangat rapih dan cukup elegant, sementara Syila hanya pakai setelah formal yang tidak terlalu mewah.


Perempuan itu menjelaskan lantai yang kosong itu pada Izraa.


“Sebelah sini Pak, ini ada 5 ruangan dengan luas yang ….”


“Mbak, saya mau lihat ruangan yang paling besar.” Syila memotong perkataan wanita elegant itu, namanya Jane, dia adalah sekertaris umum di perusahaan itu, lulusan dari universitar negeri di kota ini, dia perempuan pintar dan dari keluarga yang berkecukupan, bekerja di perusahaan ini memang impian banyak orang, perusahaan yang cukup besar, apalagi kalau anak dari pemilik perusahaan bisa tergoda, itu makin impian banyak orang. Tapi Syila tahu caranya dianggap ada, dengan memposisikan dirinya lebih tinggi, melalui cara bicara, memotong omongan adalah salah satu cara menunjukkan posisimu.


Jane terlihat kesal karena diselak saat sedang bicara dengan Izraa, apalagi yang menyelak adalah perempuan berkerudung sederhana dengan pakaian tak bermerk.


“Sebelah sini.” Jane lalu menunjuk satu ruangan dengan sedikit ketus.


“Siapa nama kamu?” Syila bertanya, Jane sudah berjalan di sampingnya, sementar Izraa di sisi lain Syila dan Andi serta pegawai lelaki yang mendampingi sejak Syila dari rumah ada di samping Andi.


“Jane.” Dia masih menjawab dengan ketus.


“Jane, saya Syila, panggil saya Ibu Syila, apa posisi kamu di perusahaan ini?” Syila bertanya lagi, mereka berdua masih berjalan ke arah ruangan paling besar yang ingin Syila lihat.


“Sekertaris umum.” Dia menunjuk kartu identitas perusahaannya, biasanya mereka menyebut kartu itu ID card perusahaan yang menujukkan foto, nama dan jabatan karyawan, di perushaaan ini bahkan kartu itu akan digunakan sebagai kartu masuk untuk bisa mengakses lift saat di lobby perusahaan.


“Baiklah, Jane mohon bantuannya, saya dan Pak Izraa akan membangun perusahaan penerbitan kami di sini dan saya adalah CEO dari perusahaan tersebut, saya harap kamu bisa membantu saja kelak jika dibutuhkan.” Syila berhenti dan menatapnya, maksud dari perkataannya adalah, posisiku lebih tinggi, jadi jangan macam-macam, apalagi merendahkannya, dia tak cemburu tapi cara wanita itu tadi hanya menyapa Izraa, itu tak sopan.


“I-iya baik Bu Syila.” Jane paham, Syila bukan wanita sembarangan, kemungkinan dia adalah orang yang cukup dekat dengan keluarga pemilik perusahaan besar itu.

__ADS_1


“Tunjukkan jalannya sekarang.” Syila kembali meminta Jane untuk melanjutkan perjalanannya, karena masih ada 4 gedung lainnya yang harus mereka lihat.


__ADS_2