
Izraa datang ke ruangan maminya, dia sudah sendirian di sana.
“Bagaimana calon menantuku? Sudah baikan?” maminya Izraa bertanya, sementara dia sedang berdiri di dekat jendela besar yang memperlihatkan suasana senja dari ibu kota.
“Kau melebihkan insentif Jane untuk mengerjai menantumu?” Izraa bertanya.
“Mana mungkin, aku tidak pernah punya pegawai khusus berjenis kelamin wanita, mereka merepotkan, makanya semua pegawai khususku selalu laki-laki.” Maksud maminya adalah pegawai yang jobdesknya bukan di kantor, tapi dibanyak tempat dan tidak tercatat sebagai pegawai resmi, bahkan catatan kepegawaiannya dipegang sendiri oleh maminya Izraa, karena pegawai khusus memang mengerjakan pekerjaan khusus juga, hingga identitas mereka tak boleh terungkap.
“Lalu siapa yang membayarnya untuk mengerjai Syila?”
“Tak selalu soal uang Za, ini yang harus kau pelajari, loyalitas terkadang lahir karena … agenda yang dia usung.”
“Apa niatnya?”
“Posisi yang lebih tinggi, misalnya istrimu, seperti menjadi istrimu mudah saja.” Maminya tertawa, karena lalat macam Jane tidak mungkin manjat setinggi itu, dia tipikal wanita yang menggunakan tubuhnya untuk mendapatkan yang diinginkan, aku tahu track recordnya, tentus saja aku takkan menggunakan cara remeh seperti itu.”
“Berarti dia variable lain?” Izraa bertanya.
“Ya, apa kau ingin aku menyingkirkannya?” Mami bertanya.
“Jangan, kalau kau singkirkan dia, Syila akan marah, kau tahulah, di aitu gadis dengan pemikiran kepahlawanan yang tinggi, dia akan merasa Jane adalah wanita yang tersakiti, biarkan dia yang mengusirnya sendiri.
Tapi tetap saja, menjebak Syila masuk ke restoran itu dan ditodong dengan salaman, adalah hal yang sangat jahat.” Izraa jadi ingat tujuan dia datang ke ruangan ibunya.
“Memang jahat, tapi … membuat target sekali lagi terpojok, tujuanku bukan menghinanya, lagi pula siapa yang berani menghinanya di sini, segera setelah semua orang tahu kalau dia calon menantuku.”
“Kau ingin menjebaknya mengumumkan hubungan kami secara tidak langsung?” Izraa bertanya dan baru paham.
__ADS_1
“Otak manusia itu sangatlah kompleks dan jenius, setiap kali tubuh terasa terancam, otak akan langsung melakukan langkah pencegahan agar tubuh tidak terluka terlalu dalam, ini kondisi paling rentan pada tubuh manusia, yaitu ketika dia merasa terancam. Jadi, ketika kau merangkulnya, tapi aku berharap adegan lebih dramatis, misal dengan menggendong, maka Syila takkan menolak sama sekali.
Dengan adegan dramatis ini, tak perlu mengumumkan hubungan kalian secara resmi, maka semua orang akan paham siapa Syila, calon menantuku tentu saja.
Aku perlu pengakuan seluruh karyawanku, agar ….”
“Syila terpojok, karena dia kelak tak mungkin menjelaskan kalau kami tak punya hubungan, akibat dari sikapku padanya dan perhatianmu secara langsung, Syila harus ikut terus menjaga perkiraan semua orang tentang hubungan kami untuk lepas dari rasa malu, karena saat ini ….”
“Rasa malu adalah apa yang Syila paling takuti saat ini, karena Syila dalam kondisi merasa rendah diri, maka dia harus pastikan tak malu lagi, maka jika rumor itu beredar, maksudku tentang hubungan kalian, dia tak akan mungkin menyangkalnya, dengan rumor itu aku pastikan dia akan mendapatkan begitu banyak keistimewaan di sini.”
“Oh, jadi itu yang menjadi alasanmu menariknya ke sini, ke perusahaan ini, kau mencoba menciptakan ruang yang terbatas untuknya, untuk mengendalikannya?” Izraa baru sadar.
“Kau bilang butuh pertolonganku kan, Nak? Aku hanya seorang ibu yang ingin anaknya bahagia, maka aku memastikan, target terkunci dengan sangat erat, hingga akhirnya dia menyerah dan melakukan apa yang kita inginkan. Prinsip dasar dari pertarungan adalah, membawa musuh ke dalam areal yang sangat kita kuasai, dengan begitu, kita akan bisa mengendalikannya dari semua sisi.”
“Aku takkan ikut campur jika tidak membahayakan jiwanya, tapi kalau sampai kau keterlaluan, aku tidak akan tinggal diam, aku harap kau mengerti itu.”
“Nak, percayalah, aku melakukan semuanya hanya agar kau tetap bahagia, keselamatan Syila segalanya bagiku, seperti aku dan papimu menjaga Sofia, memberikan apa yang dia sukai, termasuk Kevin ... maka kami akan pastikan, Syila menikah denganmu, jadi ... jangan ragukan aku.” Ibunya berkata dengan lembut tapi Izraa tak membalas, dia hanya berlalu pergi begitu saja, dia harus kembali ke ruangan, melihat keadaan Syila, perempuan obatnya.
“Hei, kau mau pulang jam berapa?” Izraa bertanya.
“Aku akan pulang dengan Andi.” Syila menjawab tanpa menoleh, dia sibuk dengan laptopnya, Izraa meliaht ruangan Syila sudah ada meja dan bangku kerja, serta sofa yang estetik di sana, sofa yang duluan mengisi ruangan ini.
“Andi sudah pergi, dia bilang harus mengecek beberapa hal soal wallpaper kantor kita, dia takkan kembali ke kantor lagi.”
“Hah, kok bisa? Kok ngga bilang?”
“Dia bilang tadi.”
__ADS_1
“Kapan? Aku tak dengar.”
“Dia bilang padaku, bukan padamu, aku bilang ok, makanya aku bertanya kau mau pulang jam berapa, karena aku tadi bilang pada Andi akan mengantarmu pulang, makanya dia bisa pergi untuk cek.”
“Kau!” Syila kesal karena tahu, Izraa sengaja membiarkan Andi untuk pergi, padahal tadi Syila bisa ikut Andi saja jadi sekalian pulang, menyebalkan!
“Kok marah? Aku akan menawarkan jasa.”
“Kau tahu kan aku tak bisa naik taksi karena takut, kau sengaja ya!” Syila kesal.
“Tidak, mungkin takdir saja yang mulai mendukungku.”
“Ayo kita pulang sekarang, sudah mulai sore, aku tadi bilang sama mami kalau hanya sebentar untuk cek furniture dan melihar sejauh mana ruanganku sudah dirapikan.”
“Yasudah, ayo pulang.” Izraa lalu membantu Syila untuk bangun, walau Syila memang terbiasa dibantu untuk bangun, tapi kalau Izraa yang bantu, dia masih saja merasa risih.
Maka benar seperti yang maminya Izraa bilang, jika dalam keadaan terpuruk, Syila bahkan merasa nyaman dalam dekapan Izraa, dia tersenyum karena maminya ternyata memang seorang pebisnis yang ulung, walau dia harus hati-hati, takut kalau maminya kebablasan menyiksa calon istrinya.
Mereka keluar lift VIP, lalu bertemu dengan Jane yang bersiap untuk membantu mereka kelaur dari pintu putar setelah lift, pintu yang harus di tap dengan kartu pegawai, Jane bersiap di sana karena Syila menolak mengambil kartu itu, menolak dianggap pegawai saja.
Jane lalu menyapa Izraa duluan, tentu saja baru Syila dan mengetap kartunya agar pintu putar bisa terbuka, Izraa yang pertama, lalu setelah Izraa keluar, dia berbalik, menunggu Syila melewati pintu putar dan saat Syila berjalan melewati pintu puar, Izraa memegang tangan Syila yang sakit, hanya agar tangan itu bisa tetap aman, Jane melihatnya ada rasa iri, sangat hangat sekali Izraa pada Syila. Tapi pada dirinya sangat kasar, Jane merasa sedih juga, karena seharian ini, rumor tentang Syila calon istri Izraa semakin santer terdengar, bahkan sekertaris junior berlomba untuk bisa ditempatkan bersama Syila, hanya agar bisa mendapat secuil keistimewaan.
“Hati-hati di jalan, Pak ... Bu ....” Jane seperti berat menyebut panggilan bu untuk Syila, padahal dia sudah jelas kalah perang, masih saja ngotot.
Tapi satu hal yang Jane tidak tahu, kalau Izraa dulu saat bertemu pertama kali dengan Syila pun, sangat amatlah dingin dan kasar, sebelum Izraa melihat kakinya, Syila sama seperti yang lain, sangat mengganggu dan menyebalkan bagi Izraa, sikapnya kasar tak beda seperti sikapnya sekarang pada wanita manapun.
Maka karena takdirlah, Izraa mampu bersikap hangat, pada obatnya.
__ADS_1
Jane dan yang lain, bahkan orang tua mereka, tak tahu itu.a