
“Kok lama banget anter keluarnya?” Tanya Syila pada Izraa setelah dia masuk. Izraa baru saja mengantar Kevin keluar.
“Ya namanya anter, kenapa sih? khawatir dia bakal aku apa-apain?”
“Nggak, sih, terserah aja.” Syila berkata dengan santai, lebih tepatnya mencoba untuk santai.
“Lu besok masuk syuting aja ya, jangan sampai bolos lagi loh.” Syila mengingatkan lagi.
“Iya bawel.” Izraa menjawab.
Izraa kembali menunggui Syila dengan rutinitas pasien, makan tepat waktu, menemani kunjungan Dokter, yang tentu saja Dokter itu adalah ayah atau kakaknya, terkadang ada beberapa orang yang menjenguk seperti saat ini.
Berita soal Syila masuk rumah sakit karena disekap sudah ada di beberpa flatform berita online, teman-teman lamanya ada yang menjenguk, walau saat akan masuk bodyguard akan menyaring yang memang Syila izinkan masuk, tidak sembarangan orang yang mengaku teman dipersilahkan masuk.
Saat ini sudah ada 3 orang teman yang datang, mereka adalah teman kuliah Syila yang dulu cukup dekat, tapi karena ada yang sudah menikah dan ada juga yang lanjut kuliah ke jenjang yang lebih tinggi, jadilah mereka jarang sekali bertemu.
Syila mengizinkan tiga orang ini masuk karena memang mereka dulu sangat dekat.
"Halo." Semua orang menyapa Izraa, siapa yang tak sumringah melihat lelaki tampan ini sedang duduk di sofa sebrang ranjang pasien yang berdekatan dengan jendela, wajah Izraa yang terkana matahari senja sungguh membuat siapapun terpana, dia sangat tampan.
Izraa tersenyum ramah, karena ingin menimbulkan kesan baik di hadapan teman-teman lama Syila, padahal sebelumnya Izraa adalah orang yang sangat dingin, tak kenal etika bergaul, yang dia utamakan adalah kenyamanannya sendiri. Tapi jika soal Syila, maka akan berbeda, tentu saja.
"Syil! kok nggak ngabarin sih!" Seorang teman wanita bernama Rani berkata, dia adalah teman Syila yang paling pintar di antara mereka semua.
"Nggak lah, masa nggak pernah berkabar, sekalinya ngabarin berita duka." Syila yang memang suka berbicara terbuka dimaklumi teman-temannya, apalagi mereka memang dulu bersahabat dan hapal dengan kebiasaan masing-masing.
"Ya paling enggak kasih tahu lah, Syil." Zaki yang saat ini merupakan atlet bola ikut obrolan, dia memang si tampan yang tidak pernah terjebak percintaan antara sahabat.
"Udah sih, orang sakit masih aja disalahin, ntar kalau tanduknya udah keluar, pada dilahap luh ama dia. Kayak baru kenal satu dua hari aja ama kelakuan anak ini, kalau seneng bagi-bagi, kalau susah ilang sendiri. Nggak inget dulu pas putus ama si Kevin, gimana dia ...."
"Sssttt!" Semua teman Syila meminta Eni untuk berhenti bicara, dia kadang suka lupa melihat situasi kalau berbicara, seolah tak paham ada siapa di sana.
"Eh iya maaf, itu mah masa lalu ya Syil, masa depan kan, emang udah di depan lu." Eni berusaha untuk memperbaiki situasi, tapi sayang, perkataannya malah membuat suasana semakin kikuk.
"Eh iya, kenalin itu Izraa. Za, sini dulu bentar, ini temen-temen kuliah gue, dulu kami sering saling nginap di rumah masing-masing, saking banyaknya tugas." Syila memperkenalkan Izraa pada teman-temannya, maksudnya hanya untuk sopan santun, tapi Izraa terlihat senang.
Izraa mendekati mereka dan berkata, "Izraa, pacarnya Syila." Tanpa ragu lelaki itu memperkenalkan statusnya pada teman-teman Syila, padahal Syila hanya memperkenalkan namanya.
Mendengar itu, muka Syila merah padam karena malu.
"Oh iya, halo pacarnay Syila." Rani menyapa dengan iseng, karena dia tahu, Syila malu.
"Nah, kayak gini kalau cari pacar Syil, yang nggak malu ngenalin dirinya siapa dan nggak malu kenalin pacarnya, bukan disembunyikan kayak peliharaan aja! udah high quality, good looking dan good etitude, udahlah, kami siap kalau jadi pager ayu sama pager bagus ya." Si Eni masih saja kesal dengan kelakuan Kevin dulu, yang tidak mau jika dikenalkan pada teman-teman Syila, padahal Syila sudah memberi tahu semua temannya kalau Kevin adalah pacarnya.
"Itu udah masa lalu lagi, En. Jangan dibahas lagi." Zaki mengingatkan.
Izraa langsung suka pada Zaki, tentu sabagai teman Syila, karena Zaki orang yang pandai melihat situasi.
"Sini duduk, ngobrol, aku kangen sama kalian."
"Kangen sih paling susah ditemuin, iya-iya tahu, Penulis kita ini memang si paling pekerja keras, pokoknya 1 buku satu tahun ya." Rani menyindir teman yang sangat dia hapal kelakuannya.
"Udah, cerita aja kejadian elu dikuntit, Syil." Zaki penasaran.
"Iya nih, elu tuh langganan banget sih dikuntit sama penggemar." Eni keceplosan lagi, itu membuat Syila langsung menatap Izraa, seperti yang Syila takuti, Izraa melihat mereka dengan tajam.
"Tapi dulu mah nggak parah, di kuntit juga masih sopan, kita kasih tahu atau kita datangi, orang itu langsung nggak berani lagi nguntit." Rani meluruskan, dia paham kalau Syila sepertinya menjaga perasaan kekasihnya.
"Memang siapa yang mengunti Syila?" Izraa langsung bertanya, padahal Rani sudah mencoba untuk meluruskan.
"Tidak banyak, hanya orang iseng Za, tenang saja, mereka tidak berani lagi setelah kita datangi, iya kan." Zaki mencoba menenangkan. Izraa hanya mengangguk, tapi dalam kepalanya sudah tahu apa yang akan dia lakukan, daftar pekerjaan selanjutnya yang akan dia pastikan tak melakukan hal itu lagi, dia tak mau kecolongan lagi.
__ADS_1
Para teman lama itu lalu berbincang dan Izraa memberikan waktu pada mereka untuk berbicara dengan santai, sementara dia bilang akan minum kopi.
...
Setelahnya Izraa menepati janji untuk tetap syuting pada keesokan hari, yaitu hari ini dan setiap pulang syuting dia akan pergi ke rumah sakit menemani Syila.
Beberapa hari kemudia Syila sudah boleh pulang, ke rumah tentunya, Papi tidak izinkan Syila pulang ke apartemen lagi, pasti akan sulit mendapatkan izin tinggal di tempat lain setelah ini, papi sangat over protectif pada Syila.
Lalu seperti biasa, Izraa akhirnya pulang syuting pergi bertemu Syila hanya berganti tempat dari rumah sakit, ganti ke rumah orang tua, Mereka biasanya akan duduk di ruang keluarga.
“Za, Tante bikin es buah tuh, kamu suka kan, kata Syila kamu suka.”
“Lu tahu gue suka es buah?” Izraa terlihat kaget, Syila terlihat cuek dan tidak peduli.
“Tahulah, lu suka pesen itu kalau di lokasi ataupun kafe langganan kita.”
“Oh gitu.” Izraa lalu ke dapur, dia mengambil es buahnya, memang rumah Syila sudah seperti rumah sendiri, Izraa membiasakan diri mengambil apapun sendiri.
Saat sedang di dapur, dia bertemu dengan papi, papi selesai buat kopi, dia lalu mengajak Izraa duduk di meja makan, entah apa yang ingin dia bicarakan.
“Izraa maaf Om mau tanya, apakah Izraa serius dengan anak Om?” papi benar-benar langsung pada tujuan obrolannya.
“Maksudnya?” Izraa bingung.
“Ya, maksudnya apakah hubungan kalian akan sampai pelaminan?”
“Kalau soal itu, mungkin sebaiknya Syila juga diikutsertakan dalam perbincangan ini Om.” Izraa menjawab dengan sangat bijaksana, karena dia tahu baik dia maupun Syila belum sampai tahap itu, terlebih Izraa tidak percaya pernikahan.
“Syila pasti belum menginginkan hal itu ya Za? Apakah dia menolak lamaranmu?”
“Kami belum membicarakan hal itu Om.”
“Baiklah kalau begitu, tapi soal … maaf kalau ini agak menyinggung, apakah gosip tentangmu di luar sana benar?”
“Gosip yang mana ya Om?” Izraa hanya takut salah sangka, makanya bertanya.
“Soal kalau kamu … suka dengan lelaki.”
“Hmm, kalau aku bilang tidak, apakah Om percaya?”
“Ya, Om akan pegang omongan itu.”
“Baiklah Om, saya tidak pernah suka lelaki ….” Izraa berkata dalam hari kata sambungannya, tidak suka perempuan juga sebelumnya, sampai Syila datang, si jenis kelamin ketiga.
“Alhamdulillah kalau begitu, maaf kalau Om harus bertanya seperti ini.”
“Tidak mengapa Om, tapi karena Om sudah membuka pintu untuk hubungan kita lebih dekat lagi, bolehkah saya bertanya?” Izraa yang dingin dan tegas memang tidak jago menjilat orang, siapapun itu, ketika dia merasa ada yang salah, maka dia akan bertanya langsung.
“Silahkan.”
“Kenapa Om tidak suka Syila jadi Penulis?”
“Hmm, pertanyaan yang pasti Syila selalu ingin tahu jawabannya, bahkan dia mengeluh padamu soal ini.”
“Tidak, aku hanya pernah dengar kalau Om tidak suka dia jadi Penulis, Syila tidak pernah bicara yang menjatuhkan Papinya.”
“Bagus kalau begitu, Om bukannya tidak suka dia jadi Penulis, hanya dia sebenarnya mampu jadi Dokter, jadi kenapa harus jadi Penulis?”
“Setiap orang tua pasti merasa anaknya lebih hebat dari itu, sama seperti Papi yang memintaku menjadi pebisnis seperti dia, tapi aku menjadi aktor, papi akhirnya menerimaku.”
“Saya tidak pernah tidak menerima Syila, saya hanya merasa bahwa, Syila lebih dari itu.” Papi menggunakan kata sapaan lebih formal.
__ADS_1
“Kalaupun dia bisa menjadi Dokter, apakah dia akan sebahagia menjadi Penulis Om? Aku selalu melihat wajah tersenyumnya, semangatnya dan begitu berbinarnya mata itu saat menulis, aku merasa jadi semangat mengerjakan pekerjaanku karenanya.”
“Za, percayalah, saat kau menjadi ayah, kau akan tahu, apa yang saya rasakan, tapi terima kasih sudah berusaha meyakinkan saya untuk menerima Pekerjaan Syila ya, kau sangat perhatian.”
Lalu mereka berdua kembali ke ruang keluarga, tidak terasa, waktu berjalan, semua orang sudah tidur, Izraa pamit pulang, Syila mengantar ke luar.
“Hati-hati ya, jangan lupa besok dateng syuting.”
“Lu ingetin itu mulu, kesel ah.” Izraa pura-pura marah.
“Iya, sorry ya.”
“Yaudah gue pulang, jangan lupa minum obat, besok mulai terapi kan?”
“Iya Za, makasih ya.”
Izraa lalu pamit dan berkendara, sudah lumayan malam, jam sepuluh malam tepatnya, jalan komplek Perumahan Syila sepi, saat dia keluar komplek dia melihat dua motor mendekati mobilnya, Izraa melajukan mobilnya lebih kencang, dia takut kalau itu begal, dia tidak membawa senjata api, Syila menyitanya beberapa hari yang lalu.
Saat hendak berbelok, motor itu menghadangnya, Izraa terpaksa berhenti, motor itu menggedor-gedor pintu mobilnya, Izraa mengambil kunci setir dan membuka pintu mobil, sialnya, ternyata dua orang ini membawa senjata api, Izraa pasti kalah, jalanan sepi, gelap juga karena lampu jalan rusak, Izraa berusaha mencari celah untuk kabur, tapi sulit, akhirnya dia berlari, tapi gagal, bahunya di tembak.
Izraa jatuh, dia berusaha bangkit, tapi ditendang dari belakang, Izraa tersungkur kembali, salah satu orang itu menginjak bahu Izraa dengan kencang dari belakang karena dia dalam posisi tersungkur, izraa masih berusaha untuk bangun dan lari, tapi dia tidak sanggup, saat berusaha itu, dua orang ini tiba-tiba menodongkan senjata apinya ke kepala Izraa, saat akan meledakkan senjata api itu, ada seseorang yang memencet klakson dengan kencang dan berteriak minta tolong sambil bilang, “Maling!! Maling!!!” Otomatis dua orang itu langsung kembali ke motornya dan kabur dengan sangat cepat.
Izraa lemas, dia cukup banyak kehilangan darah.
“Lu nggak apa-apa?” seseorang bertanya, seorang wanita.
“To-tolong.” Izraa meminta tolong, wanita itu lalu menelpon Polisi dan Ambulans, wanita itu sedang berkendara di sekitar situ, melihat mobil Izraa di pinggir jalan dalam keadaan terbuka, dia merasa curiga makanya dia buru-buru keluar dari mobilnya dan melihat itu, dia akhirnya menekan klakson mobilnya dengan kencang dan berteriak meminta tolong agar menimbulkan kegaduhan, cara itu berhasil menolong Izraa.
“Anda siapa?” tanya salah satu Petugas ambulans.
“Saya yang nolong dia, saya ikut ya, nanti saya bantu hubungi keluarganya, sekalian jadi saksi.” Jawab perempuan itu.
“Yasudah, silahkan.” Akhirnya perempuan itu ikut masuk ke ambulans.
Saat sudah di ambulans, Izraa terdengar bergumam, “Syil … syil.” Katanya.
“Tenang, elu baik-baik aja kok, lu harus kuat ya.” jawab perempuan itu.
Namanya Fenita, seorang perempuan dari keluarga kaya raya dan baru saja pulang ke Indonesia setelah sekolah di Australia selama empat tahun. Dia bukan wanita biasa, selain cantik, pintar dan sangat hebat dalam bermain piano, dia juga seorang penyanyi dengan suara seperti malaikat.
Satu hal yang membuat siapapun yang dekat dengannya akan suka dia, dia memiliki hati hangat yang baik, jiwanya lembut tapi kalau sudah menolong orang tidak pernah setengah-setengah.
Seperti saat ini menolong Izraa, dia ikut sampai rumah sakit, lalu mencari dompet Izraa dan menghubungi keluarganya, tentu papi dan maminya kaget, langsung menuju rumah sakit.
Izraa masih di ruang operasi, papi sudah menghubungi pihak rumah sakit untuk memberi pernyataan persetujuan operasi melalui telepon, tidak perlu menunggu tanda tangan lagi agar tindakan cepat dilakukan.
Izraa sempat kritis karena lubang yang diakibatkan peluru itu membuat Izraa hampir saja kehabisan darah, tapi dia bisa bertahan.
Wanita itu menungguinya di luar ruang operasi.
Sementara di tempat lain Syila merasa khawatir, sudah jam dua belas malam tapi Izraa belum juga ada kabar, akhirnya dia mencoba menelpon Izraa, tidak dijawab, dia mencoba lagi, belum dijawab juga, Syila terus menelpon, dia benar-benar khawatir, setelah sekian lama menelpon, akhirnya telepon Syila diangkat.
[Halo.] Syila yang tadinya ingin marah, tidak jadi, karena dia mendengar suara perempuan dari telepon Izraa.
[Siapa ini?] Syila bertanya dengan hati-hati.
[Ini siapa?] Perempuan itu malah tanya balik.
[Ini Syila.] Syila merasa canggung menjawab bahwa dia adalah kekasihnya, Syila tidak ingin terlihat dia kahwatir atau cemburu, karena hubungan ini memang belum pada tahap sejauh itu.
[Oh ini Syila, ke rumah sakit ya, Izraa lagi dioperasi, dia dibegal, nanti alamatnya gue chat.] Jawab perempuan itu, seketika Syila lemas, baru saja keadaan tenang, kenapa sekarang Izraa yang celaka.
__ADS_1
Syila bergegas mencari mami, papinya, dia ingin diantar ke rumah sakit yang alamatnya telah dikirimkan oleh perempuan itu yang entah siapa.