Cinta Gila Sang Aktor

Cinta Gila Sang Aktor
Bagian 116 : Wanita itu 2


__ADS_3

“Kau yakin Izraa tak perlu tahu?” Andi bertanya. Mereka sudah bersiap untuk melakukan rekaman permintaan maaf yang akan disiarkan secara terbuka pada layar-layar di kantor ini, teks permintaan maaf sudah Syila susun dan sudah disetujui oleh pihak perusahaan keluarga Izraa.


“Tidak perlu, hidupku tidak selalu harus ditolong dia kan? baguslah dia tak ada di kantor saat ini.” Syila tetap berjalan tanpa ragu.


“Kau tidak malu?”


“Untuk apa? Lagi pula ini bukan lingkunganku, jika readerku tahu, tentu saja aku takkan malu, karena aku bertanggung jawab atas semua kesalahan dalam kelompokku, kalau ada orang yang tak suka padaku karena aku bertanggung jawab, maka artinya dia bukan teman yang baik.”


“Aku hanya tak suka kalau kau dipermalukan.”


“Andi, kau tahu nilaiku, kau tahu aku seperti apa, lalu kenapa peduli dengan penilaian orang lain, yang penting apa yang ada di hati dan pikiranmu tentangku. Itu saja.”


“Baiklah, pokoknya aku akan terus mendampingimu, tak peduli apapun.”


“Aku tahu, kau akan selalu begitu, walau aku banyak mengecewakanmu.”


Tak lama kemudian mereka sampai ke sebuah studio yang memang milik perusahaan ini, studio itu dipersiapkan untuk banyak hal, jika ada pengumuman untuk seluruh karyawan, biasanya dibuat di studio ini lalu rekaman pengumuman yang dibacakan oleh seseorang akan disebar melalui semua jenis layar di perusahaan.


“Baik Bu Syila boleh duduk di sini, ini kameranya dan kalau sudah siap, kami akan mulai menyalakan kameranya.” Citra si HRD itu menemani, Andi ada di hadapannya, walau studionya tak begitu besar, tapi cukup lengkap.


“Saya sudah siap.” Syila berkata, lalu kamera dinyalakan dan Syila menatap kamera dengan kedua tangan di bawah meja.


“Perkenalkan nama saya Asyila Sabil, saya adalah pemilik perusahaan bernama PT. Citra Sraya Walgita, yang merupakan tenant di perusahaan ini, izinkan saya untuk mengakui kesalahan pegawai saya, yaitu mengambil yang bukan haknya dengan mengambil jatah makan siang karyawan lain di perusahaan ini, maka dari itu, saya mohon kebesaran hatinya kepada pemilik perusahaan untuk memaafkan kekhilafan kami sebagai tenant yang telah melakukan kesalahan, mohon dibukakan pintu maaf yang sebesar-besarnya dan kami berjaji bahwa kejadiann serupa takkan pernah terjadi lagi.


Untuk denda yang harus kami tanggung, akan kami selesaikan sesegera mungkin, atas perhatian seluruh karyawan dan juga pemilik perusahaan, saya ucapkan terima kasih.” Syila lalu membungkuk sebagai akhir dari pernyataan maafnya. Setelah selesai, Syila lalu berpamitan pada Citra dan kembali ke lantainya.


Semua karyawannya berdiri untuk meminta maaf pada Syila, tapi Syila hanya tersenyum dan meminta semua orang untuk kembali bekerja saja, ini kesalahan yang tidak besar dan dia tak peduli sama sekali bahwa, dia sudah jatuh harga dirinya.

__ADS_1


Yang paling parah adalah, Syila tak sadar, bahwa bukan harga dirinya yang diincar, tapi … statusnya yang sudah diperkuat, akan menjadi lemah kembali.


Sore hari tiba, Izraa tak kunjung datang, siaran permintaan maaf sudah disiarkan begitu selesai diedit, saat jam pulang kerja ketika semua orang bisa melihat layarlah, waktu yang dipilih untuk meyiarkan permintaan maaf itu pertama kalinya, bahkan saat Syila keluar dari lift untuk pulang, siarannya sedang berlangsung, semua orang menatapnya, Syila hanya berjalan gontai keluar, dia merasa malu karena tepat dihadapannya permintaan maaf itu disiarkan, tapi dia mampu terus berjalan, ditemani Andi tentunya.


“Kau sedih?” Andi beratnya saat mereka sudah di dalam mobil.


“Tidak, aku hanya merasa sedikit malu saja, karena ternyata wajahku terpampang besar sekali saat aku lewat, aku cup terkejut, apalagi saat semua orang menatapku dengan tatapan menghakimi, kayak … oh ini nih bos yang nggak kasih makan siang ke karyawannya. Itu sih yang gue rasain, makanya gue perlu untuk menghitung ulang, apalah kita perlu untuk memberikan makan siang secara fisik kepada karyawan, bukan hitungan uang yang mereka terima bersamaan dengan gaji.” Syila memang sudah menghitung uang makan siang sebagai bagian dari insentif yang dibayarkan bersamaan dengan gaji, tentu uang makan siang tidak akan dibayarkan jika karyawan tidak masuk, itu adalah hal biasa di perusahaan manapun yang baru saja dibangun dan belum siap untuk menyediakan makan siang karyawan sebagai bagian dari tanggung jawab perusahaan.


Biasanya tetap akan ada perhitungan makan siang sebagai insentif, tapi jika karyawan tidak masuk, maka uang makan siang tidak akan dibayarkan sesuai hari tak masuk kerjanya, jadi sebenarnya karyawan sudah dapat haknya, hanya saja berupa uang, bukan makan siang secara fisik, itu juga memudahkan karyawan memilih makan siang yang sesuai dengan insentif, mungkin juga bisa untung kalau kau membawa makan siang dari rumah atau membeli makan siang di luar dengan harga yang lebih rendah dari uang makan siang yang diberikan, maka sebenarnya seharusnya kesalahan makan siang itu tidak pernah terjadi, kalau karyawan paham akan hak dan kewajiban hingga tak bisa lagi ditipu, tapi namanya pegawai baru, terkadang pikirannya mudah dipengaruhi sesuai dengan lingkungan yang mereka pikir orangnya jauh lebih senior dan lebih tahu, sampai tiba saatnya mereka sadar, telah dikerjai.


“Tapi ini jalan yang kau pilih kan, Syil, tentu kau paham resikonya.”


“Ya, tentu aku paham resikonya. Aku hanya mengeluh saja, tak menyesal sama sekali.”


“Maka besok kau harus siap, jika wajahmu kembali akan terlihat sebesar itu dengan permintaan maaf.”


“Baguslah kau masih bisa ketawa.”


“Ya lalu aku perlu apa? Menangis? Andi, aku sudah kehilangan fungsi tangan, apa yang lebih buruk lagi dari ini?”


“Yasudahlah, terserah CEO saja.” Andi lalu mengemudi mengantar tuan putri yang kadang nekat ini.


Malam harinya, Syila tertidur begitu saja, karena dia sungguh lelah dengan pekerjaan dan tekanan ini, walau bersemangat, tapi energinya tak sebanyak itu.


Syila tertidur tanpa sadar bahwa Izraa terus menelponnya berkali-kali, dia tak sengaja tidak mengangkatnya, dia lelah hingga tak sadar dering teleponnya sudah terus berbunyi tanpa jeda selama belasan kali.


__ADS_1


“Hanya dia yang bisa memanipulasinya untuk melakukan ini, kau tahu kan, ambisinya pada perusahaan ini sungguh besar.” Ibu Hansyar duduk di hadapan putranya yang baru saja sampai di rumah, mereka bertiga di ruang kerja Hansyar.


“Dia sudah menjadikan Syila target, itu bukan salahku, aku sudah memperingatkanmu kalau dia akan kembali dalam waktu dekat, kau hanya lengah saja.” Pak Hansyar mengingatkan.


“Perempuan itu sungguh ingin aku lumatkan, berani sekali dia melakukan itu.”


“Izraa, kau kalah strategi, di dunia bisnis, hal seperti ini tidak bisa diselesaikan dengan marah apalagi rengekan, balas kelakuannya dengan sikap yang tegas dan strategi yang lebih cerdas lagi.” Ibunya berkata dengan tenang, seolah ini bukan hal besar, padahal Izraa marah sekali begitu anak buahnya melaporkan siaran pertama tentang permintaan maaf Syila itu.


“Kalian sampai saat ini bahkan tak mampu untuk mengendalikannya?”


“Dia punya hak, ingat, ada bagiannya di perusahaan ini yang tidak bisa kita ganggu gugat.” Hansyar tidak terima disalahkan.


“Kau harus segera memikirkan langkah untuk menyelamatkan nama baik calon menantuku, ingat ini, Syila punya banyak kelemahan yang harus kau tutupi, kau harusnya paham dan tidak boleh lengah, ini kekalahanmu, bukan kekalahan kami.” Ibunya berkata dengan tegas, Izraa terlalu fokus pada investasi yang dia kerjakan, hingga lupa bahwa ini hanya taman bermain Syila saja, jadi dia tak seharusnya terus meninggalkan Syila.


“Masalah uang, tak seharusnya menjadi masalah besar bagimu, kau hanya tinggal mengambil dari perusahaan, kenapa harus repot mencari dana di luar sana?” Hansyar kali ini memojokkan Izraa.


“Syila tak ingin kalian mengendalikannya, maka dari itu aku ingin dia merasa aman dengan mendapatkan dana dari luar.”


“Kau tidak perlu terlalu polos dengan mengambil jalan memutar, ambil saja dana dari kami, tapi manipulasi dengan nama perusahaan lain, beres, kau masih bisa fokus menjaga calon menantuku.” Maminya memberikan solusi yang licik.


“Kalau ketahuan Syila, habislah kita.”


“Makanya pintarlah, jangan ketahuan, aku tahu kita menghadapi gadis yang cerdas, makanya kau harus lebih … pintar dan licik, kecerdasan tidak akan bertahan lama.” Maminya berkata dengan mengejek.


“Aku akan pikirkan langkah untuk mengalahkan wanita itu, tapi aku minta kalian untuk mempertemukan kami, agar Syila tahu siapa musuhnya, kepalanya jauh lebih hebat saat tahu dia dijebak dan tak lagi bodoh menerima umpan dengan begitu mudahnya seperti saat ini.”


Hansyar mengangguk dan bermaksud mempertemukan mereka besok.

__ADS_1


Syila akan bertemu musuh dalam selimutnya besok.


__ADS_2