
Syila mampir ke kafe langganan Izraa, dia kembali membeli kopinya, kan yang tadi pagi diminum sama Hanum.
Ini adalah rangkaian usaha untuk meminta maaf pada Izraa.
Setelah kopinya jadi, Syila buru-buru balik ke lokasi syuting, sudah agak malam, rencananya memang hari ini hanya sampai jam 10, sekarang sudah jam setengah sebelas malam, Andi terus saja menelpon.
“Mana?” Syila sudah sampai di lokasi lagi, Andi buru-buru menarik Syila agar mendekati mobil Izraa, sebenarnya bukan mobilnya, tapi mobil perusahaan, mobil yang tipenya mini van yang cukup besar, fasilitas ini bagian dari kontrak yang biasa Izraa syaratkan jika dia akan ikut suatu project.
“Bentar aja bentar.” Syila memohon kepada Manager Izraa untuk mengijinkannya naik ke mobil Izraa.
“Dia badmood Mbak Syila, jangan deh meningan.”
“Iya tahu, justru dia begitu gara-gara gue, please ya.” Syila memohon.
“Boleh sih Shay, ntar gue bagi link ke artis-artis lain deh, elu lagi cari tambahan, kan?” Andi membujuk, maklum Manager Izraa hanya memegang Izraa, padahal biasanya Manager artis bisa memegang beberapa artis untuk dibantu publish.
“Bener ya, linknya bagi. Yaudah, bentar aja loh, Mbak Syila.”
“Iya, janji.” Lalu pintu mobil dibuka dengan cara digeser, Syila buru-buru masuk tanpa permisi ke Izraa. Ada Asistennya sedang duduk di sampingnya, Syila meminta Asisten itu untuk keluar sebentar, Izraa melihat dengan tajam, beraninya Syila mengusir asistennya.
“Za.” Syila berusaha sesumringah mungkin, hal yang tidak pernah Syila lakukan selain pada kakaknya.
“Ngapain lu.” Udah langsung bertanduk aja tanggapan Izraa.
Syila duduk di bangku samping Izraa, mereka terpisah jarak yang biasanya digunakan untuk orang bisa lewat ketika akan duduk di bagian belakang mobil, bangku mobilnya memiliki sandaran tangan.
“Nih.” Syila memberikan kopi kesukaan Izraa.
“Kopi lagi? Lu mau buat asam lambung gue naik!” Izraa kesal.
“Ini gue beli sendiri loh, nggak pake kurir, lagian, kopi tadi pagi diminta Hanum, kan, makanya gue beliin lagi, itu yang buat gue salah sangka, gue pikir ….”
“Jadi karena kopi kosong yang gue kasih ke Hanum, elu mikirnya gue sama dia jadian?!” Izraa kesal lagi.
“Hah kopi kosong? Ok-ok sorry banget ya, tadi gue kekanak-kanakan. Jadi gini Za, Bang Aryo bilang kalau ada gosip tentang gue yang suka sama lu, jadi gara-gara gue kekeh minta lu jadi peran utama, mereka bilang gue tuh fansnya lu, terus sengaja nyiapin karakter ini supaya bisa deket-deket sama lu, itu kan fitnah jatuhnya, jadi gue bilang nggak ada perasaan apapun, hubungan kita murni profesional dan gue pilih lu jadi peran utama murni karena kemampuan lu dalam berakting.
Lalu abis itu Bang Aryo bilang gue cemburu sama Hanum, padahal kan enggak, makanya gue bilang kalau gue nggak masalah kalian jadian, sama sekali nggak masalah, makanya gue tadi ngomong gitu ke elu, Za, maaf ya, maaf banget, gue nggak tahu kalau lu nggak suka Hanum.”
“Udah?” Izraa mengatakan dengan mimik tidak peduli.
“Gue coba lurusin aja, Za, gue nggak mau hubungan kita tuh jadi kayak canggung karena kesalahan gue. Jadi please ya, terima permohonan maaf gue.” Syila menyodorkan kembali kopi dinginnya.
“Gue udah minum kopi lu pagi tadi dan gue nggak mau ada budi karena kopi ini, jadi bisa keluar sekarang?”
Sepertinya tidak mudah mendapatkan maaf dari Izraa.
“Tapi, kan, ini permintaan maaf gue, Za.”
“Kita juga nggak sedeket itu sampai harus maaf-maafan hanya karena hal sepele. Keluar!”
Syila menatap Izraa dengan tatapan kecewa dan sedih. Dia lalu hendak beranjak pergi, membuka pintu mobil, tapi sebelum itu, “Sini kopinya.” Izraa menarik kopi dari tangan Syila, sebelum dia benar-benar keluar dari sana.
“Hah?”
“Sini kopinya!” Izraa kesal karena Syila tidak mendengar, Syila lalu memberikan kopi itu dan dia tahu, permintaan maafnya sudah diterima.
__ADS_1
“Makasih ya udah mau maafin gue.” Syila tersenyum. Izraa hanya mengangguk, lalu Syila benar-benar turun dari mobil.
“Heh, tangan lu dingin banget tuh, lain kali kalau bawa minuman dingin pake tissue kertas, tutup pintunya!”
Syila tersenyum, dalam hatinya dia tahu, ada hati yang hangat di dalam kekasaran itu.
Karena begitu panik dengan kemarahan Izraa dan terburu-buru membeli kopi, Syila tidak sadar kalau tangannya dingin karena gelas kopi dingin yang dia bawa tanpa tissue kertas, sekarang baru terasa, dingin sekali rasanya pada bagian telapak tangan Syila.
“Gimana?” Andi bertanya.
“Udah dimaafin dong.”
“Lu kenapa sih?” Andi bertanya lagi.
“Kenapa apa?”
“Kenapa sepenting itu mendapatkan maaf dari Izraa?”
“Hah? Ya, kalo gue salah, wajar dong gue minta maaf.”
“Masa? Sama kakak lu, sama gue, sama Juna sekali pun, nggak pernah tuh elu meminta maaf segitunya kalau salah, malah seringnya elu nggak nyadar kalau salah.”
“Ya bedalah sayangku, elu itu keluarga, Juna juga keluarga, sedang Izraa orang asing, gue mempermalukan dia, loh, tadi. Trus gue masa nggak dewasa minta maaf, kan elu juga yang bilang, kalau orientasi **** dia berbeda, jadinya makin lengkap, deh, alasan meminta maaf. Elu juga tadi nyuruh gue minta maaf kan?” Syila menjelaskan.
“Gitu ya, karena dia orang asing, bukan karena dia orang yang istimewa?”
“Hah! Gila lu! Nggak kepikiran sejauh itu gue! Udah jangan ngaco! Balik yuk?”
“Yakin balik? Ke rumah apa apartemen nih?”
“Dasar anak pembangkang.”
…
Syila mendapatkan undangan untuk mengisi acara sebagai pembicara pada suatu acara di kampus ternama Jakarta.
Materinya adalah membedah buku Syila yang pernah masuk sebagai best seller 3 tahun berturut-turut.
Syila sudah menanti-nanti hari ini sebenarnya, karena dia akan menjadi pembicara pada kampus terbaik di Jakarta dan juga di depan orang itu.
Orang yang sangat Syila kagumi, Dokter Kevin Muhammad.
“Assalamualaikum Dok.” Syila menyapa Dokter Kevin, dia kebetulan juga jadi pembicara dalam acara ini. Karena sesinya tentang Psikologi dan medis, buku Syila yang best seller tersebut memang tentang kehidupan seseorang yang memiliki penyakit mental. Sedang Dokter Kevin akan membahas tentang obat-obatan yang diperlukan dan tidak pada penderita penyakit mental.
“Waalaikumsalam Syila, sudah siap?” mereka berbicara di ruang tunggu para pengisi acara.
“Sudah siap, Dok. Kalau Dokter bagaimana?”
“Sudah sangat siap, saya juga sudah baca ulang buku Syila, sungguh saya merasa seperti membaca buku dari seorang Psikolog dengan banyak pengalaman.” Dokter Kevin memuji.
“Padahal mah, yang buat novel cuma anak ingusan, ya Dok?” Syila merendah.
“Masa anak ingusan, orang jenius begini.”
“Ah Dok, bisa aja.”
__ADS_1
“Gimana S2? Kapan lanjut?” Dokter Kevin bertanya lagi.
“Hmm, belum tahu, Dok.” Syila menggaruk kepala yang tidak gatal dan ditutup jilbab itu.
“Syila lagi kerjain apa?”
“Lagi filming film action, Dok.”
“Wah hebat, sudah banyak progress ya ternyata." Dokter Kevin adalah salah satu pendukungnya saat memutuskan tidak meneruskan kuliah kedokteran.
"Alhamdulillah, Dok."
Telepon genggam Dokter Kevin berdering.
"Angkat aja dulu, Dok. Kan, belum mulai."
"Iya Syil, dari Winda."
"I-iya Dok." Nama yang selalu membuat Syila terasa perih.
Dokter Kevin mengangkat telepon genggamnya.
[Sayang, aku baru akan mulai.] Sayup Syila mendengarnya. Sayang yang pernah untuknya, dulu.
Acara segera dimulai, Syila bergegas naik ke atas panggung, Dokter Kevin juga ikut naik, mereka duduk berdampingan, Pembawa Acara memulai pembukaan, Syila bersiap intuk pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan terkait dengan bukunya dan juga dirinya sendiri.
"Ok kita akan masuk ke sesi tanya jawab ya, waktu dan tempat dipersillahkan kepada Mbak Asyila."
Pembawa Acara memanggil Syila untuk maju ke depan, Syila maju dan mengambil microphone yang diberikan Panitia padanya.
"Pertanyaan pertama, silahkan Mas yang di ujung sana." Seorang lelaki berdiri dan mengajukan pertanyaan setelah dipanggil oleh Pembawa Acara.
"Mbak Syila, perkenalkan nama saya Agus, saya fans berat buku-buku, Mbak. Bukunya sangat memotivasi sekali, setiap buku Mbak Syila pasti peran utama wanitanya kuat dan tegar, kurang lebih seperti Mbak Syila. Pertanyaan saya, apakah Mbak Syila punya pacar?"
"Wah pertanyaannya berat sekali ya, kalau yang ini terserah Mbak Syila, mau jawab atau tidak." Pembawa Acara sangat bijak.
"Baik, sebelumnya terima kasih Mas Agus sudah suka dengan karya saya, tapi biasanya tokoh utama yang diciptakan oleh seorang Penulis adalah apa yang dirinya tidak mampu lakukan di dunia nyata, makanya dia menuangkan itu semua untuk membantunya menjadi seperti yang dia inginkan dalam tulisan, jadi kalau harapan Mas Agus saya seperti tokoh utama pada buku, Mas Agus salah, saya jauh dari itu.
Soal pacar, saya tidak pacaran." Jawaban yang terdengar ambigu.
"Sudah cukup Mas Agus? Apa masih ada lagi?" Pembawa Acara bertanya.
"Mbak Syila, kalau misal saya ngelamar boleh?"
Ruangan bergemuruh karena para pengunjung acara berteriak atas keberanian lelaki itu, tentu Syila dan semua orang tahu, lelaki itu hanya sedang bergurau.
"Boleh, kebetulan saya lagi buka lowongan buat editor." Semua orang tertawa karena Syila menjawab dengan cerdas dan masih santun, dia tak ingin menghina orang lain.
Mas Agus tertawa dan dilanjutkan dengan pertanyaan berikutnya. Syila tidak sengaja melihat ke arah Dokter Kevin, dia terlihat sedang tersenyum karena sesi tanya jawab ini.
Syila perih melihat senyum yang sangat manis itu. Satu-satunya pria yang tahu akan jati dirinya yang sebenarnya dan menerima dia apa adanya, harus bersama wanita lain.
_____________________________
Catatan Penulis :
__ADS_1
Andai aku tahu mencintaimu semenyakitkan ini, tentu aku lebih baik tidak mengenalmu sedari awalnya. (Asyila Sabil)